Breaking News
light_mode
Trending Tags

Khutbah Jumat : Kemenangan Hanya Dapat Diraih dengan Persatuan

  • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
  • calendar_month 8 jam yang lalu
  • visibility 63
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada satu ironi besar dalam tubuh umat Islam hari ini: kita sering berbicara tentang kemenangan, tetapi berjalan di jalan yang menjauhkannya.

Kita berdoa agar umat ini kuat, namun pada saat yang sama kita sibuk memperlemah satu sama lain. Kita berharap Islam kembali berjaya, tetapi energi kita habis untuk memperdebatkan hal-hal yang sejak dahulu telah diperselisihkan para ulama—tanpa pernah memutus ukhuwah di antara mereka.

Padahal, sejarah telah mengajarkan kita satu hukum yang tidak pernah berubah: tidak ada kemenangan tanpa persatuan.

Rasulullah ﷺ tidak hanya membangun individu yang saleh, tetapi juga membentuk masyarakat yang saling menguatkan satu sama lain. Bahkan, beliau mengibaratkan umat Islam laksana satu tubuh, yang bilamana salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka anggota tubuh lainnya turut merasakannya.

Namun hari ini, tubuh itu terasa mati rasa. Ketika satu anggota tubuh merasa sakit, anggota tubuh lainnya tidak merasakan lagi sakit yang sama. Ini isyarat bahwa, tubuh ini tidak sekedar sakit, bahkan mungkin ia sudah sekarat.

Di tengah realitas seperti ini, khutbah Jumat bukan hanya sekadar ritual mingguan, tetapi ia harus menjadi ruang kesadaran kolektif—mengembalikan umat kepada akar kekuatannya: yaitu persatuan.

Khutbah ini mengajak kita semua untuk merenung: bahwa perbedaan bukanlah sebuah ancaman, tetapi perpecahanlah yang menjadi bencana nyata.

KHUTBAH PERTAMA

الحمد لله الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

أما بعد، فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقون

قال الله تعالى:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
(QS. آل عمران: 102)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ—takwa yang tidak hanya menghadirkan kita di hadapan-Nya dalam sujud, tetapi juga menghadirkan kasih sayang di antara sesama hamba-Nya.

Karena takwa yang sejati tidak mungkin melahirkan perpecahan, justru seharusnya ia menghadirkan persatuan.

Allah ﷻ berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Artinya:
“Berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)

Dan Allah juga memperingatkan:

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

Artinya:
“Janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan.” (QS. Al-Anfal: 46)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Rasulullah ﷺ bersabda:

مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد، إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى

Artinya:
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam cinta, kasih sayang, dan empati mereka seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hari ini, kita perlu bertanya: apakah kita masih menjadi satu tubuh? Atau justru menjadi serpihan-serpihan yang mudah dipatahkan? Ibnu al-‘Arabi dalam kitab al-Washaya memberikan perumpamaan bahwa umat ini seperti sapu lidi. Ketika terikat, ia kuat. Ketika tercerai, ia lemah.

Dan hari ini—yang mengkhawatirkan— bukan karena kita sedikit, tetapi karena kita tidak lagi terikat satu sama lain dalam tali Allah.

Ma’asyiral muslimin,

Ada satu ironi besar dalam tubuh umat Islam hari ini: kita sering berbicara tentang kemenangan, tetapi berjalan di jalan yang menjauhkannya.

Kita berdoa agar umat ini kuat, namun pada saat yang sama kita sibuk memperlemah satu sama lain. Kita berharap Islam kembali berjaya, tetapi energi kita habis untuk memperdebatkan hal-hal yang sejak dahulu telah diperselisihkan para ulama—tanpa pernah memutus ukhuwah di antara mereka.

Padahal, sejarah juga telah mengajarkan kita satu hukum yang tidak pernah berubah: tidak ada kemenangan tanpa persatuan.

Kita lihat, bagaimana Rasulullah ﷺ mempersatukan antara kaum muslim Muhajirin dan Anshor. Saat itu, Rasulullah tidak hanya membangun individu yang saleh, tetapi juga membentuk masyarakat yang saling menguatkan satu sama lain. Bahkan, beliau mengibaratkan umat Islam laksana satu tubuh, yang bilamana salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka anggota tubuh lainnya turut merasakannya.

Namun hari ini, tubuh itu terasa mati rasa. Ketika satu anggota tubuh merasa sakit, anggota tubuh lainnya tidak merasakan lagi sakit yang sama. Ini isyarat bahwa, tubuh ini tidak sekedar sakit, bahkan mungkin ia sudah sekarat.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Jika kita ingin memahami makna hadis ini “seperti satu tubuh”, maka lihatlah realitas dunia Islam hari ini.

Mengapa rakyat Palestina menderita begitu lama? Bukan semata karena mereka lemah. Bukan pula karena mereka tidak memiliki keberanian.

Tetapi karena—dan ini yang paling menyakitkan— saudara-saudaranya tidak lagi mampu merasakan sakit yang mereka rasakan.

Padahal penderitaan di Gaza telah berlangsung lama dan menelan korban yang sangat besar, yang seharusnya menggugah persatuan dan solidaritas umat Islam.

Sebaliknya, mari kita belajar dari fenomena lain. Mengapa sebuah negara seperti Iran bisa bertahan kuat dalam tekanan global?

Salah satu sebab utamanya adalah: persatuan internal yang relatif solid.

Dari rakyat, pemerintah, hingga elit politik— mereka berdiri dalam satu garis besar kepentingan.

Dari kekuatan persatuan inilah yang membuatnya tetap berdiri tegap di tengah tekanan global, tidak mudah digoyahkan oleh tekanan luar.

Ia berdiri— bagai karang di tengah samudera, diterpa gelombang, namun tidak runtuh.

Ma’asyiral muslimin,

Dari dua realitas ini kita belajar bahwa, perpecahan hanya melahirkan penderitaan yang panjang, dan persatuan akan melahirkan ketahanan dan kekuatan.

Maka, jika umat ini ingin bangkit, hentikan memperbesar perbedaan, tetapi mulailah untuk menyatukan hati dan menyamakan persepsi.

Ma’asyiral muslimin,
Dalam aqidah Ahlussunnah wal Jamaah dikatakan bahwa:

عن زاهر بن خالد يقول لما قرب حضور أجل أبي الحسن الأشعري في داري ببغداد دعاني فأتيته فقال أشهد أني لا أكفر أحدا من أهل القبلة لأن الكل يشيرون إلى معبود واحد وإنما هذا كله اختلاف العبارات.

Diriwayatkan dari Zahir bin Khalid, bahwasannya beliau bercerita “Ketika telah dekat ajal Abu al-Hasan al-Asy’ari di rumahku di kota Baghdad, beliau memanggilku maka aku pun mendatanginya. Abu al-Hasan al-Asy’ari berwasiat “Aku bersaksi bahwa aku tak pernah mengkafirkan satu pun orang dari golongan ahlul qiblah (umat Islam), karena seluruhnya menghadap kepada Dzat yang disembah yang satu. Dan sesungguhnya perbedaan yang ada adalah perbedaan dalam penjelasannya saja.”

Oleh karenanya, jangan jadikan perbedaan sebagai alasan perpecahan. Karena yang mempersatukan kita jauh lebih besar daripada yang memisahkan kita.

  • Penulis: Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perkuat Metodologi Riset di UCR, Prof. Muhamad Ali Tekankan Menulis sebagai Akhlak Akademik

    Perkuat Metodologi Riset di UCR, Prof. Muhamad Ali Tekankan Menulis sebagai Akhlak Akademik

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 65
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Suasana akademik yang intens mewarnai kegiatan mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) di University of California, Riverside. Pada Kamis (2/4/2026), para mahasiswa mengikuti bimbingan akademik mendalam terkait penulisan tesis dan disertasi. Kegiatan yang berlangsung di ruang INTN 2009, CHASS Interdisciplinary Building ini menghadirkan Muhamad Ali sebagai pembimbing utama. Dalam sesi tersebut, ia […]

  • Bagaimana jika Ramadan Bukan Bulan yang Paling Istimewa?

    Bagaimana jika Ramadan Bukan Bulan yang Paling Istimewa?

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Adagium bahwa Ramadan sebagai bulan yang paling agung dalam Islam merupakan klaim yang diyakini mayoritas umat Islam dunia, tak terkecuali di Indonesia. Diyakini sebagai bulan paling agung lantaran Ramadan adalah bulan wajib untuk berpuasa selama sebulan; diturunkannya Al-Quran (Syahr Ramadan); namanya diabadikan di dalam al-Quran (Qs. 2: 185); bahkan pada bulan ini ada peristiwa Laylahal-Qadr (Qs. 30: 97) yang […]

  • Gempa Magnitudo 4,5 Guncang Barat Laut Luwu Timur, BMKG: Kedalaman 10 Kilometer

    Gempa Magnitudo 4,5 Guncang Barat Laut Luwu Timur, BMKG: Kedalaman 10 Kilometer

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 122
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,5 mengguncang wilayah barat laut Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Rabu (4/3/2026) dini hari. Informasi tersebut disampaikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui rilis resminya. Dalam keterangan itu disebutkan gempa terjadi pada pukul 02.10.29 WIB. BMKG mencatat lokasi gempa berada pada koordinat 2,35 Lintang Selatan (LS) dan 120,86 […]

  • Pagula: Ulama Pesisir dan Penemu Pukat Cincin dari Gorontalo

    Pagula: Ulama Pesisir dan Penemu Pukat Cincin dari Gorontalo

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Abdul Kadir Lawero
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Di tengah riak ombak pesisir Kota Gorontalo, sejarah mencatat nama seorang ulama yang hidupnya sederhana, namun penuh pengaruh. Sosok itu adalah KH. Nahar Akadji, yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Pagula—sebuah panggilan penuh makna yang mencerminkan kelembutan, kearifan, dan manisnya akhlak beliau. Di Gorontalo, penyebutan ulama memang berbeda. Tak ada istilah “Kiai” seperti di Jawa […]

  • Bupati Halmahera Timur Turut Resmikan Kursus Wasit Bola Voli Lisensi Dasar

    Bupati Halmahera Timur Turut Resmikan Kursus Wasit Bola Voli Lisensi Dasar

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 101
    • 0Komentar

    Bupati Halmahera Timur, Maluku Utara, Ubaid Yakub diwakili Nurdin Hadi Asisten ll Bidang Administrasi, dengan resmi membuak kegiatan Kursusu Wasit Bola Voli Lisensi Dasar. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Halmahera Timur di Aula Penginapan Rahmat, Desa Soagimalaha, Kecamatan Kota Maba, Rabu (26/11/2025). Dalam kesempatan tersebut. Nurdin Hadi dalam sambutannya mengatakan, atas […]

  • Membunuh ‘tuhan’ dengan Puasa

    Membunuh ‘tuhan’ dengan Puasa

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Secara tidak sadar, manusia telah merancang ‘tuhan’ di altar persembahannya, memuja ilusi yang lahir dari tangannya sendiri, dan puasa hadir untuk membunuhnya. Puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah ritual penyucian jiwa yang mendalam. Di balik setiap detik penantian dan keheningan, tersimpan makna esoterik memerangi dan memusnahkan segala bentuk penyembahan terhadap duniawi […]

expand_less