Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Titel Haji; Sejarah tentang Kemuliaan dan Perlawanan

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
  • visibility 165
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di antara sekian ibadah yang dilakukan oleh umat Islam, hanya naik haji ke Baitullah yang mendapatkan titel. Gelarnya melekat seumur hidup. Segera setelah seseorang pulang dari berhaji di Tanah Suci, masyarakat pun menyematkan titel mulia itu di depan namanya—Haji Fulan atau Hajjah Fulanah. Gelar ini bukan sekadar sebutan, tetapi simbol dari suatu perjalanan agung, kedalaman spiritualitas sekaligus napak tilas jejak historis.

Gelar ‘haji’ tak akan Anda temukan kecuali di beberapa negeri Melayu, yaitu Indonesia, Malaysia dan Brunei. Akan halnya Indonesia, gelar haji  memiliki sejarah tersendiri.  Informasi umum yang kita terima, gelar haji pertama kali muncul di seputar tahun 1916. Gelar itu, demikian dikatakan oleh Agus Sunyoto, secara sengaja diberikan oleh Kolonial Belanda kepada orang-orang yang telah berhaji. Bukan penghormatan, tetapi untuk  kepentingan pengawasan.

Mengapa harus diawasi? Karena para haji waktu itu bukan hanya pulang membawa oleh-oleh atau cerita manis dari Tanah Suci. Mereka membawa semangat perlawanan. Mereka adalah tokoh kunci dalam gerakan anti-kolonial. Ada tiga serangkai yang acap kali memimpin pemberontakan; haji, ulama-santri dan pemimpin tarekat. Lihat saja dalam Pemberontakan Petani Banten: ada Haji Marjuki, Kyai Haji Tubagus Ismail, Haji Ahmad, dan Haji Wasid—mereka adalah para ulama, haji, pemimpin tarekat, sekaligus pejuang yang ditakuti Belanda.

Ibadah haji bagi mereka bukan akhir, melainkan awal dari perjuangan baru. Di Tanah Suci, mereka khusyuk dalam ibadah sekaligus tenggelam dalam samudra ilmu. Di Tanah Haramain pula mereka  membangun jaringan, mengkonsolidasi gerakan sekaligus merancang siasat untuk membebaskan tanah air. Itulah sebabnya, sepulang dari sana, mereka tidak hanya asyik masyuk di mihrab Masjid, beribadah dalam sunyi dan asyik sendiri dengan dunia spiritualnya. Sebaliknya mereka tampil ke garis depan, memimpin perlawanan terhadap kolonialisme.

Menghadapi para haji tersebut, maka Belanda akhirnya mengeluarkan  Staatsblad Tahun 1903. Dalam staatsblad itu diatur pemberian gelar haji  dan sertifikat.  Di saat yang sama pemerintahan Belanda pun mengkhususkan Pulau Onrust dan Pulau Khayangan di Kepulauan Seribu jadi gerbang utama jalur lalu lintas perhajian di Indonesia. Semua itu maksudnya tiada lain adalah mempermudah pengawasan kepada para haji sehingga bisa mengontrol perlawanan yang dilakukan oleh mereka.

Berbeda dengan itu, satu pendapat lain dikemukakan oleh Emsoe Abdulrahman dalam “Hadji Tempoe Doeloe”. Ia menyebutkan gelar haji diberikan sebagai penghormatan kepada orang-orang yang telah  berhaji dan dianggap mumpuni ilmuannya-matang amalnya. Pada abad ke 16 hingga 19 orang-orang  berhaji untuk amal dan ilmu. Mereka datang ke Kota Suci demi menyempurnakan ibadah sekaligus menarikan pena menyerap ilmu dari ulama ternama.  Haramain kala itu menjadi pusat pendidikan Islam. Pada abad ke-16, telah ada Hamzah Fansuri yang naik haji sekaligus belajar tarekat Qadariyah. Sementara abad ke-17, tercatat nama-nama seperti Abdurrauf al-Fansuri, Syekh Yusuf al-Makassary. Di abad ke-18 terdapat nama-nama; Abdul Wahab Bugis, Nafis al-Banjari, Mahmud Imam Timurung Bone, Abdussamad al-Palembani, Abdurrahman Betawi dan lainnya. Pada abad 19, telah ada ulama-ulama nusantara yang mengajar di Masjidil Haram Mekkah, misalnya Nawawi al-Bantani, Ahmad Khatib Minangkabau dan Mahfudz Termas.

Jika merujuk pada Emsoe, maka gelar haji itu telah ada, jauh sebelum pemerintah kolonial Belanda mengatur pemberian gelar tersebut dalam staatsblad tahun 1903. Gelar pengormatan atas ibadah dan ilmu yang telah diraih.  Masyarakat memandang orang yang telah berhaji saat itu semakin alim.  Pandangan yang tentu saja beralasan, sebab memang ulama kala itu, melaksanakan haji sekaligus menuntut ilmu.

Sementara itu, Ahmad Baso, seorang peneliti naskah dari Nahdlatul Ulama, memiliki satu pandangan yang lebih unik tentang gelar haji ini. Menurutnya gelar haji telah hadir sebelum abad ke-16.  Rara Santang putri dari Prabu Siliwangi dan ibunda dari Sunan Gunung Jati, bersama saudaranya Walangsungsang, telah berhaji sekitar 1443. Kepadanya pertama kali gelar haji itu disematkan.  Dalam naskah Babad Cirebon, Rara Santang disebut sebagai ‘Haji Sunda’.  Istilah ‘Haji Sunda’ tidak berarti orang berhaji di Sunda, tetapi menunjukkan orang Sunda yang naik haji. Istilah ini sama dengan ‘Aji Ugi’ yaitu satu frasa yang menunjukkan  sisik melik dan budaya orang Bugis  naik haji ke Tanah Suci Makkah. Dalam naskah Babad Cirebon Br 36 dan Br 107 PNRI disebutkan:  “haji kang lewih becik atas dadalan Allah, ‘(berhaji itu) adalah mengikuti jejak utusan Allah’ (Ibrahim)”.

Titel ‘haji’, dengan demikian, bukanlah gelar sembarangan. Ia ibarat sebutan ‘Kiai’ atau ‘Anronggurutta’, gelar yang disematkan karena kemuliaan dan ketinggian ilmu. Bedanya, gelar haji khusus  disematkan secara kultural oleh masyarakat kepada orang yang telah berhaji. Mereka dianggap telah  mencapai derajat kemuliaan dengan berhaji. Mereka sudah mencapai maqam “To tongeng-tongeng” (Insan Kamil) atau bahkan To Mabettu (Manusia yang telah sampai pada ‘kebenaran’.

Kemuliaan diperoleh para haji,  karena, mereka telah menyempurnakan rukun Islam, sekaligus semakin mendalam pengetahuan dan pengamalan agamanya. Mereka telah melihat bayangan kematian (sebab haji adalah cermin kematian) dan karena itu mereka berusaha kerasa membersihkan dosa-dosanya. Dalam ungkapan orang Bugis disebutkan  ‘lao sala lisu mancaji topanrita’ (berangkatnya sebagai orang yang masih berdosa, pulang telah menjadi orang alim). Istilah ini juga direkam dalam tulisan Pelras, ‘The Bugis’.

Itulah sebabnya dalam tradisi masyarakat Bugis, sebelum resmi menggunakan songkok putih (songkok khas pria yang sudah berhaji) dan cipo-cipo (penutup kepala perempuan yang sudah berhaji, biasanya juga dilengkapi terispa yaitu kerudung yang dililit atau disungkupkan di cipo-cipo), mereka melakukan ritual mappatoppo (menaikkan dan menyungkupkan sesuatu di atas kepala). Ritual ini dilakukan di Tanah Suci oleh syekh,  atau jika tidak ada syekh maka dilakukan  orang yang dianggap ulama dari tanah air. Kadang pula hanya dilakukan pimpinan rombongan. Mappatoppo dilakukan dengan cara menyungkupkan songkok haji atau cipo-cipo di atas kepala para jemaah haji.  Ritual ini menunjukkan bahwa kini mereka tengah menjunjung satu gelar yang mulia, yaitu ‘haji’.  Gelar yang harus dijaga baik-baik dengan perilaku yang semakin mawas dan ibadah yang semakin ikhlas.

Jangan lupa, gelar haji juga menyiratkan satu semangat pembebasan. Pertama-tama membebaskan manusia dari belenggu duniawi, yang kedua menjadikan seseorang yang telah berhaji memiliki semangat untuk membebaskan manusia lainnya dari ketertindasan, kemiskinan dan kebodohan. Tengoklah sejarah para haji-haji tempo dulu, di sana ada Haji Ahmad, Haji Marzuki ataupun HOS Cokro Aminoto, yang terjun langsung membebaskan masyarakat dari penindasan kaum penjajah. Atau Syekh Yusuf, Al-Palembani dan lainya yang membebaskan masyarakat dari belenggu kebodohan dan penjajahan.

Seseorang yang telah bergelar haji, maka kemuliaan, semangat pembebasan dan keluasan  ilmu kini telah berada di pundaknya. Jika demikian, seyogianya tidak ada lagi cerita seorang haji hanya ingin memperkaya diri sendiri, tidak ada kisah seorang haji bertarung merebut kuasa dengan segala cara, dan tidak ada berita orang yang bergelar haji berlomba merebut pengaruh.

Dalam kehidupan kita ini, kalau masih ada yang berlomba merengkuh gelar haji hanya agar dalam salat disiapkan saf paling depan, di arena rapat suaranya ingin paling didengarkan, dalam pesta ingin duduk di panggung depan, maka jangan-jangan hajinya adalah ‘Haji Mardud’ atau ‘Haji Tambattu’, haji yang tak sampai dan tidak berkenan di sisi Allah. Ya Rabb, jauhkanlah seluruh jemaah haji, terutama dari Indonesia dari hal semacam itu.

Haji bukan sekadar gelar tersemat di dada

Melainkan cahaya yang menuntun langkah ke arah yang mulia.

Ia jejak para pejuang dan pecinta kebenaran

Yang pulang membawa risalah, bukan hanya kenangan dan ketenaran.

Haji bukan sekadar gelar untuk duduk di saf depan semata

melainkan amanah untuk merawat umat dan semesta.

Siapa berhaji, mestinya bersih dari angkara

sebab telah menyentuh langit dengan hati yang bercahaya.

Oleh : Ijhal Thamaona memiliki nama lengkap Dr. Syamsurijal Adhan, S.Ag., M.Si adalah Peneliti Khazanah Agama dan Peradaban di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kebakaran Hebat Hanguskan Empat Pabrik di Kawasan Industri Olak Lempit, Tiga Korban Ditemukan Tewas

    Kebakaran Hebat Hanguskan Empat Pabrik di Kawasan Industri Olak Lempit, Tiga Korban Ditemukan Tewas

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 193
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Kebakaran hebat melanda empat pabrik di kawasan industri Olak Lempit, Banting, pada Sabtu malam, 14 Maret 2026. Peristiwa tersebut menimbulkan kobaran api besar disertai asap tebal yang terlihat dari jarak jauh dan mengundang kerumunan warga di sekitar lokasi. Kebakaran terjadi di kawasan industri Olak Lempit yang berada di wilayah Banting, negara bagian Selangor, […]

  • DPR Dorong Sinergi Pusat–Daerah Demi Jaminan Kesehatan Warga Kurang Mampu

    DPR Dorong Sinergi Pusat–Daerah Demi Jaminan Kesehatan Warga Kurang Mampu

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 277
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita Runtuwene mendorong penguatan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah guna memastikan jaminan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu tetap terlayani secara optimal dan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan Kunjungan Kerja Reses Komisi IX DPR RI bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan di Kantor Gubernur, Makassar, Jumat (20/2/2026). […]

  • Kasus HIV/AIDS di Maros Terus Meningkat, Pemkab Perkuat Pencegahan hingga Tingkat Desa

    Kasus HIV/AIDS di Maros Terus Meningkat, Pemkab Perkuat Pencegahan hingga Tingkat Desa

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 314
    • 0Komentar

    nulondalon.com, Maros– Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Maros menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam lima tahun terakhir. Data Dinas Kesehatan Maros mencatat sebanyak 165 Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) menjalani terapi antiretroviral (ARV) sejak 2021 hingga November 2025. Peningkatan ini terlihat dari laporan tahunan. Pada 2021 terdapat 23 kasus, naik menjadi 32 kasus pada 2022. Tren terus berlanjut […]

  • UMP Gorontalo 2026 Naik Jadi Rp3,4 Juta, Pekerja Sambut Harapan Baru, Pengusaha Lakukan Penyesuaian

    UMP Gorontalo 2026 Naik Jadi Rp3,4 Juta, Pekerja Sambut Harapan Baru, Pengusaha Lakukan Penyesuaian

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 280
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Provinsi Gorontalo resmi menetapkan Upah Minimum Provinsi (UMP) Gorontalo tahun 2026 sebesar Rp3.405.144 per bulan. Keputusan tersebut diumumkan langsung oleh Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail pada Senin, 22 Desember 2025, di Rumah Dinas Gubernur. Penetapan UMP ini mengalami kenaikan sekitar Rp183 ribu atau 5,7 persen dibandingkan UMP 2025 yang berada di angka Rp3.221.731. […]

  • Dugaan Kelalaian Medis RS Multazam Disorot, DPRD dan Dinkes Minta Perbaikan Layanan

    Dugaan Kelalaian Medis RS Multazam Disorot, DPRD dan Dinkes Minta Perbaikan Layanan

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 171
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Dugaan kelalaian medis di Rumah Sakit (RS) Multazam Gorontalo menjadi perhatian publik setelah terungkap adanya perubahan metode persalinan dari yang semula direncanakan menggunakan Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS) menjadi operasi caesar konvensional tanpa persetujuan pasien. Pihak RS Multazam mengakui adanya perubahan metode tindakan medis tersebut. Namun hingga kini, belum terdapat sanksi hukum […]

  • Apa yang Tersisa dari Ied Al-Fitr untuk Kita Perjuangkan?

    Apa yang Tersisa dari Ied Al-Fitr untuk Kita Perjuangkan?

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 673
    • 0Komentar

    1 Syawal Hijriyah/31 Maret 2025 Masehi menjadi penanda berpisahnya kita dengan Ramadan dan menyambut hari baru. Hari ini kita berlebaran. Kumandang takbir yang agung bersahut-sahutan. Ada perasaan haru kembali ke fitr (suci); namun pada saat yang, ada perasaan tidak kuat menahan kepergian Ramadan yang berlalu begitu cepat. Sebab Ramadan, bagaimana pun juga, adalah bulan yang agung. Farid […]

expand_less