Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Waspada Normalisasi Kekerasan

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
  • visibility 129
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Akhir-akhir ini, konten media sosial dipenuhi fenomena yang menggelisahkan: domestifikasi kekerasan. Kekerasan, khususnya dalam rumah tangga, dikemas menjadi hiburan yang mudah dikonsumsi publik. Menariknya, latar rumah tangga dalam video-video ini sangat beragam, mulai dari keluarga mapan, keluarga miskin (terlihat dari kondisi rumah), hingga keluarga yang berpenampilan seperti tokoh agama. Meski biasanya korban kekerasan adalah suami, tidak jarang pula istri menjadi sasaran.

Video seorang istri menggebuk suaminya dengan wadah galon kosong, memukul dengan panci, mengancam dengan parang atau melempar sandal sering kali viral, dan masuk FYP. Penonton berbondong-bondong menonton, memberikan like, komentar, dan membagikan video tersebut. Bagi pembuat konten, cuan pun mengalir deras.

Di permukaan, fenomena ini tampak lucu, ringan, dan menghibur. Ada efek komedi slapstick yang membuat orang tersenyum, seolah-olah kekerasan hanyalah bagian dari lelucon sehari-hari. Meme dan video pendek mengemas situasi yang seharusnya serius menjadi tontonan yang “aman” bagi penonton muda maupun tua. Namun, di balik tawa dan hiburan, tersimpan bahaya serius: normalisasi kekerasan. Kekerasan yang seharusnya dianggap sebagai pelanggaran serius kini dipandang biasa, bahkan diterima sebagai bagian dari “keseharian” digital.

Teori Peter L. Berger tentang social construction of reality bisa digunakan untuk menganalisis fenomena ini. Berger menekankan bahwa realitas sosial bukanlah sesuatu yang secara alami ada, melainkan dibentuk melalui interaksi sosial, simbol, dan komunikasi. Realitas sosial terbentuk ketika individu dan kelompok saling menegosiasikan makna dari pengalaman sehari-hari. Dalam konteks media sosial, penggambaran kekerasan sebagai hiburan secara terus-menerus menciptakan sebuah konstruksi sosial baru: kekerasan tidak lagi dilihat sebagai ancaman atau pelanggaran, tetapi sebagai bagian dari norma yang bisa diterima.

Ketika video kekerasan menjadi viral dan mendapat ribuan like serta komentar yang menertawakan adegan tersebut, masyarakat—terutama generasi muda—mulai menginternalisasi bahwa kekerasan itu normal, wajar, atau sekadar drama yang bisa ditertawakan. Media sosial, dalam hal ini, berfungsi sebagai institusi yang memperkuat konstruksi realitas tersebut. Visualisasi viral, jumlah like, komentar, dan share bukan sekadar indikator popularitas, tetapi menjadi semacam “legitimasi sosial” bagi perilaku kekerasan. Berger menjelaskan bahwa proses institusionalisasi semacam ini membuat perilaku atau fenomena sosial tampak sah dan diterima, bahkan ketika secara etika atau hukum hal itu salah.

Lebih lanjut, apa yang dulunya tabu kini didesain ulang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan karena norma hukum atau moral berubah, tetapi karena interaksi sosial secara online menciptakan reality frame baru. Orang-orang cenderung menerima realitas yang dikonstruksi sosial tanpa pertanyaan kritis, terutama jika realitas itu terus-menerus muncul dalam lingkaran sosial mereka. Inilah yang terjadi pada kekerasan “lucu-lucuan” di media sosial: tawa menutupi pelanggaran, like menutupi trauma, dan FYP menutupi bahaya jangka panjang yang ditimbulkan pada korban maupun penonton yang terbiasa dengan kekerasan.

Selain itu, normalisasi ini memiliki efek yang lebih luas pada persepsi publik. Kekerasan yang direpresentasikan secara ringan dapat mengubah cara masyarakat melihat hubungan gender, kekuasaan dalam rumah tangga, dan batas-batas perilaku yang dapat diterima. Fenomena ini juga membentuk budaya digital di mana kekerasan dipandang sebagai hiburan, sehingga semakin sulit untuk menegakkan kesadaran kritis atau norma moral yang sehat. Konstruksi realitas semacam ini bukan hanya terjadi dalam kasus domestik, tetapi juga dapat menular ke ranah sosial lain: bullying di sekolah, kekerasan antar teman, dan bahkan perilaku kekerasan di masyarakat bisa mulai dianggap “biasa” karena telah diterima dalam ranah digital.

Maka, kita perlu waspada. Menonton, menertawakan, atau membagikan video kekerasan bukan sekadar hiburan—ia berpotensi menjadi partisipasi dalam normalisasi kekerasan. Kesadaran kritis menjadi kunci untuk menahan diri dari menyebarkan fenomena ini. Mengingat teori Berger, masyarakat harus mampu membedakan antara apa yang dikonstruksi sebagai realitas di media sosial dan realitas yang sehat secara etis dan sosial. Tidak semua yang viral mencerminkan nilai-nilai yang benar atau pantas dijadikan norma sosial, dan tidak semua yang lucu aman untuk dijadikan acuan perilaku.

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kasus Oknum Polisi Naik Penyidikan, Kapolres Maros Tegas: Tak Ada Perlindungan

    Kasus Oknum Polisi Naik Penyidikan, Kapolres Maros Tegas: Tak Ada Perlindungan

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 295
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros — Kepolisian Resor (Polres) Maros resmi menaikkan status dugaan kasus penganiayaan yang melibatkan oknum personel Polri ke tahap penyidikan. Langkah ini diambil setelah penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Maros melakukan serangkaian pemeriksaan saksi dan mengantongi alat bukti yang dinilai cukup. Kapolres Maros, AKBP Douglas Mahendrajaya, menegaskan bahwa institusinya berkomitmen penuh untuk menangani […]

  • Polda Bali Deportasi Buronan Interpol Asal Inggris, Pimpinan Sindikat Narkotika Internasional

    Polda Bali Deportasi Buronan Interpol Asal Inggris, Pimpinan Sindikat Narkotika Internasional

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 221
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Bali – Kepolisian Daerah (Polda) Bali resmi mendeportasi buronan internasional berinisial SL, warga negara Inggris yang diduga sebagai pimpinan sindikat kriminal transnasional. Deportasi dilakukan setelah tersangka ditangkap dalam operasi gabungan bersama Divhubinter Polri dan Imigrasi, Selasa (31/3/2026). Keterangan tersebut disampaikan oleh Kasubid Penmas Polda Bali, Rina Isriana Dewi, mewakili Kabid Humas Polda Bali. Ia […]

  • Veteran Marinir Protes di Sidang Senat AS, Insiden Pengamanan Picu Perdebatan

    Veteran Marinir Protes di Sidang Senat AS, Insiden Pengamanan Picu Perdebatan

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 288
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sebuah insiden terjadi dalam sidang Senate Armed Services Committee di Washington D.C. pada 4 Maret 2026, ketika seorang veteran Marinir Amerika Serikat, Brian McGinnis, melakukan aksi protes terkait kemungkinan keterlibatan militer Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran. Dalam sidang tersebut, McGinnis berdiri dan meneriakkan penolakan terhadap potensi perang yang menurutnya dipicu oleh dukungan […]

  • Banom NU Barru Gelar Kajian Aswaja, Hadirkan Syekh Asal Lebanon

    Banom NU Barru Gelar Kajian Aswaja, Hadirkan Syekh Asal Lebanon

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 380
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Barru – Badan Otonom Nahdlatul Ulama (Banom NU) Kabupaten Barru menggelar kajian Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) di Zam-Zam Center Barru, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan ini berlangsung khidmat dan mendapat antusiasme tinggi dari para peserta. Acara tersebut dihadiri Rais Syuriah PC NU Kabupaten Barru, AG. Dr. H. Husain Abdullah, serta seluruh Banom NU, di antaranya Muslimat […]

  • Israel Serang Jembatan Strategis di Lebanon, Dikhawatirkan Jadi Awal Invasi Darat

    Israel Serang Jembatan Strategis di Lebanon, Dikhawatirkan Jadi Awal Invasi Darat

    • calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 312
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pasukan Israel menyerang Jembatan Qasmiyeh pada Minggu, sebuah jalur vital yang menghubungkan wilayah selatan Lebanon dengan bagian lain negara itu, dalam eskalasi terbaru konflik di perbatasan kedua negara. Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyebut serangan tersebut sebagai “pendahuluan invasi darat,” sekaligus memperingatkan bahwa langkah itu bertujuan memutus konektivitas geografis wilayah selatan. “Ini adalah upaya […]

  • KH Rasyid Kamaru: Gorontalo Dibangun Dengan Dasar Pancasila

    KH Rasyid Kamaru: Gorontalo Dibangun Dengan Dasar Pancasila

    • calendar_month Minggu, 30 Jun 2019
    • account_circle Yusran Laindi
    • visibility 164
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Gorontalo, KH. Abd Rasyid Kamaru mengatakan bahwa Provinsi Gorontalo dibangun dengan dasar Pancasila. Hal tersebut disampaikan dalam ‘Ngaji Kebangsaan’ yang digagas oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PCNU Kota Gorontalo, Sabtu (29/6/2019). Dalam acara dialog yang di hadiri ratusan peserta dari berbagai lintas organisasi […]

expand_less