Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Membaca Sastra agar Tidak Kehilangan Kemampuan melihat nuansa dan kehilangan Rasa

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
  • visibility 196
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Belakangan ini saya semakin memahami mengapa Gus Dur begitu dekat dengan dunia sastra. Padahal beliau adalah seorang ulama dengan dasar keilmuan agama yang sangat kuat, seorang pemikir Islam, sekaligus tokoh bangsa yang sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk mengurus persoalan umat dan negara. Namun di tengah kesibukan membaca kitab, berdiskusi tentang agama, dan terlibat dalam berbagai urusan publik, Gus Dur tetap memberi tempat bagi novel, cerpen, puisi, dan berbagai karya sastra lainnya.

Saya kira itu bukan sekadar hobi.

Ada kesadaran bahwa manusia tidak selalu bisa dipahami hanya melalui ukuran benar dan salah. Kehidupan sering kali lebih rumit daripada kategori-kategori yang kita gunakan untuk menilainya.

Agama tentu memberikan arah yang jelas bagi kehidupan. Ia menjadi kompas moral yang membantu manusia membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Nilai-nilai agama penting agar manusia tidak kehilangan pijakan dan tidak mudah terombang-ambing oleh kepentingan, hawa nafsu, atau godaan kekuasaan. Tanpa pedoman moral, kehidupan akan berjalan tanpa arah.

Namun realitas manusia tidak selalu hadir dalam bentuk yang sederhana.
Tidak semua orang miskin karena malas. Tidak semua orang yang gagal berarti tidak berusaha. Tidak semua orang yang melakukan kesalahan adalah manusia yang sepenuhnya buruk. Ada sejarah yang membentuk seseorang, ada luka yang tidak terlihat, ada tekanan sosial yang memengaruhi pilihan hidup, dan ada keadaan yang kadang tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu kesimpulan singkat.

Karena itulah sastra menjadi penting.

Sastra tidak tergesa-gesa memberi vonis. Ia mengajak kita tinggal lebih lama di dalam pengalaman manusia. Ia memperlihatkan manusia dalam segala kerumitannya: yang rapuh, yang kuat, yang penuh harapan, tetapi juga yang dipenuhi keraguan. Dalam karya sastra, kita sering bertemu tokoh yang sulit dihakimi secara sederhana. Mereka bisa salah tetapi tetap layak dipahami. Mereka bisa jatuh tetapi tidak kehilangan kemanusiaannya.

Sastra mengajarkan bahwa hidup tidak selalu hitam-putih.
Kemampuan melihat nuansa seperti ini terasa semakin penting hari ini. Kita hidup di zaman yang serba cepat, ketika informasi bergerak lebih cepat daripada refleksi. Media sosial membuat kita terbiasa mengambil kesimpulan hanya dari potongan-potongan peristiwa. Seseorang mudah dicap baik atau buruk dalam hitungan menit. Persoalan yang sebenarnya rumit dipaksa menjadi pilihan sederhana: kawan atau lawan, pendukung atau pembenci, benar atau salah.

Akibatnya, kita semakin mudah berbicara tetapi semakin sulit memahami.

Padahal memahami membutuhkan kesediaan untuk mendengar cerita yang lebih panjang. Memahami membutuhkan kerendahan hati untuk menerima bahwa sudut pandang kita tidak selalu cukup untuk menjelaskan seluruh kenyataan. Dan sastra melatih kita untuk itu.

Membaca sastra pada dasarnya adalah latihan empati. Kita diajak masuk ke kehidupan yang berbeda dari kehidupan kita sendiri. Kita melihat dunia melalui mata orang lain. Kita memahami bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan, menghadapi ketidakadilan, mengalami kehilangan, atau bergulat dengan pilihan-pilihan sulit yang mungkin tidak pernah kita alami.

Karena itu, orang yang akrab dengan sastra biasanya lebih berhati-hati dalam memberi penilaian. Mereka sadar bahwa manusia tidak bisa diringkas hanya oleh identitasnya, pilihan politiknya, agamanya, atau satu kesalahan yang pernah ia lakukan. Manusia selalu lebih luas daripada label yang menempel padanya.

Kebutuhan terhadap cara pandang seperti ini justru semakin besar ketika seseorang berada di lingkaran kekuasaan.

Kekuasaan sering menciptakan jarak yang perlahan tidak disadari. Kehidupan masyarakat hadir dalam bentuk laporan, grafik, tabel, dan angka statistik. Semua terlihat rapi dan terukur. Namun pada saat yang sama, manusia yang sesungguhnya perlahan menghilang dari pandangan.

Padahal di balik angka kemiskinan ada keluarga yang sedang berjuang bertahan hidup. Di balik angka pengangguran ada anak muda yang setiap hari mengirim lamaran kerja tanpa kepastian. Di balik angka stunting ada seorang ibu yang harus membuat pilihan sulit karena keterbatasan yang dihadapinya. Di balik angka putus sekolah ada anak-anak yang perlahan kehilangan kesempatan mengubah masa depannya.

Data memang penting. Negara tidak bisa berjalan tanpa data. Tetapi data tidak pernah sepenuhnya mampu menggambarkan denyut kehidupan manusia.

Karena itu saya sering berpikir bahwa para pejabat, birokrat, dan elit politik perlu sesekali akrab dengan sastra. Bukan agar mereka menjadi penyair atau novelis, melainkan agar mereka tidak kehilangan rasa.

Sebab persoalan terbesar dalam kekuasaan sering kali bukan kurangnya kecerdasan. Yang lebih berbahaya adalah ketika empati mulai menipis.

Ketika seseorang terlalu lama berada di puncak, ia mudah merasa paling tahu. Ketika jabatan terus bertambah, ia mudah percaya bahwa cara pandangnya adalah satu-satunya cara pandang yang benar. Ketika politik hanya dipahami sebagai kalkulasi untung-rugi, manusia lain perlahan berubah menjadi angka, suara, atau sekadar instrumen untuk mencapai tujuan tertentu.

Kesombongan biasanya tidak datang secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, sering kali tanpa disadari. Ia lahir ketika seseorang terlalu lama hidup di dalam ruang yang hanya memantulkan suaranya sendiri.

Di tengah situasi seperti itu, sastra bekerja dengan cara yang tenang. Ia mengingatkan bahwa dunia tidak berputar di sekitar diri kita. Bahwa di luar ruang rapat, di luar podium, dan di luar panggung kekuasaan, ada banyak kehidupan yang berjalan dengan segala kesulitannya. Ada orang-orang yang mungkin tidak pernah masuk dalam statistik penting, tetapi tetap memiliki martabat yang sama sebagai manusia.

Pramoedya menghadirkan mereka yang disisihkan sejarah. Ahmad Tohari menulis tentang orang-orang kecil yang kerap luput dari perhatian. Banyak sastrawan melakukan pekerjaan yang serupa: menjaga agar manusia tidak hilang dari percakapan kita.

Mungkin itu yang sedang semakin langka hari ini.

Kita memiliki banyak orang cerdas, tetapi belum tentu cukup banyak orang yang mau mendengar. Kita memiliki banyak ahli strategi, tetapi tidak selalu memiliki pemimpin yang mampu merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Kita memiliki banyak pejabat, tetapi belum tentu memiliki cukup negarawan.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pengangguran, Ketimpangan, dan Ruang Hidup yang Kian Menyempit

    Pengangguran, Ketimpangan, dan Ruang Hidup yang Kian Menyempit

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 323
    • 0Komentar

    Pengangguran agaknya dijadikan media Reproduksi Ketimpangan, alih alih fokus pada Transformasi yang menyentuh Struktur. Belakangan ini, pembicaraan soal pengangguran kembali ramai. Ada yang menyebut anak muda sekarang terlalu pemilih, terlalu banyak gengsi, atau tidak tahan proses. Di sisi lain, generasi muda merasa hidup mereka memang sedang tidak baik-baik saja: biaya hidup naik, lapangan kerja makin […]

  • Saro-Saro Ternate Diakui KIK, Tradisi Gotong Royong Pecahkan Rekor di Busua

    Saro-Saro Ternate Diakui KIK, Tradisi Gotong Royong Pecahkan Rekor di Busua

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 485
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Tradisi Saro-Saro dalam perkawinan adat masyarakat Ternate, Maluku Utara, kini resmi terdaftar sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) dalam kategori Ekspresi Budaya Tradisional oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM. Pencatatan ini menjadi bentuk pengakuan negara atas warisan budaya yang telah hidup sejak masa pemerintahan Sultan Ternate pertama, Baab Mashur Malamo. […]

  • Senyum Manis Wahid Yasin, Pendonor Darah Peringati Hari Kemerdekaan

    Senyum Manis Wahid Yasin, Pendonor Darah Peringati Hari Kemerdekaan

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Faisal husuna
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Senyum manis Wahid Yasin, salah satu peserta donor darah, mewarnai kegiatan bakti sosial memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia yang digelar PKC PMII Gorontalo bekerja sama dengan PWNU Gorontalo dan PMI Provinsi Gorontalo, Sabtu (16/8/2025). Wahid mengaku, ini adalah pengalaman pertamanya mendonorkan darah. Perasaan campur aduk sempat menghantui, antara deg-degan, ragu-ragu, namun juga ingin […]

  • Dari Pesantren untuk Masa Depan Khatamun Nabiyyin dan BSI Bersinergi Tingkatkan Literasi Keuangan serta Investasi Emas Syariah

    Dari Pesantren untuk Masa Depan Khatamun Nabiyyin dan BSI Bersinergi Tingkatkan Literasi Keuangan serta Investasi Emas Syariah

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Asep Alfarizi
    • visibility 381
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Suasana pagi itu berbeda dari biasanya di Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin, Condet, Jakarta Timur. Deretan santri dan pengurus duduk rapi di auditorium pesantren, bukan untuk mengaji kitab kuning seperti hari-hari sebelumnya, melainkan untuk menyimak sesuatu yang selama ini jarang menjadi pembahasan di lingkungan pesantren: literasi keuangan syariah. Pada Sabtu, 9 Mei 2025, Bank […]

  • Annaungguru Haji Baharuddin (Niaga yang Menyemai Cahaya)

    Annaungguru Haji Baharuddin (Niaga yang Menyemai Cahaya)

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Hamzah Durisa
    • visibility 569
    • 0Komentar

    Di sebuah lekuk perbukitan yang bernama Buttu, yang lebih familiar dengan Buttu Da’ala,  pada tahun 1953, lahirlah seorang anak lelaki dari rahim perempuan sederhana bernama Ruhana. Anak itu diberi nama Baharuddin. Kelak, orang-orang akan mengenalnya sebagai AGH. Baharuddin bin Ta’nang bin Shahir, seorang guru yang tidak sekadar mengajar, tetapi menanam masa depan. Buttu adalah kampung […]

  • Menuju Moderasi Beragama Progresif

    Menuju Moderasi Beragama Progresif

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 206
    • 0Komentar

    Oleh: Pepi Albayqunie – (Jamaah GUSDURian tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah) Tulisan ini merupakan refleksi dari pengalaman mengelola program moderasi beragama, selama 3-5 tahun belakangan. Saya mengamati Dan merasakan gerakan moderasi beragama telah menemukan momentum yang tepat tetapi membutuhkan varian gerakan yang lebih progressif. Gerakan Moderasi Beragama di Indonesia telah berkembang melalui berbagai diskusi, […]

expand_less