Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Membaca Sastra agar Tidak Kehilangan Kemampuan melihat nuansa dan kehilangan Rasa

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
  • visibility 157
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Belakangan ini saya semakin memahami mengapa Gus Dur begitu dekat dengan dunia sastra. Padahal beliau adalah seorang ulama dengan dasar keilmuan agama yang sangat kuat, seorang pemikir Islam, sekaligus tokoh bangsa yang sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk mengurus persoalan umat dan negara. Namun di tengah kesibukan membaca kitab, berdiskusi tentang agama, dan terlibat dalam berbagai urusan publik, Gus Dur tetap memberi tempat bagi novel, cerpen, puisi, dan berbagai karya sastra lainnya.

Saya kira itu bukan sekadar hobi.

Ada kesadaran bahwa manusia tidak selalu bisa dipahami hanya melalui ukuran benar dan salah. Kehidupan sering kali lebih rumit daripada kategori-kategori yang kita gunakan untuk menilainya.

Agama tentu memberikan arah yang jelas bagi kehidupan. Ia menjadi kompas moral yang membantu manusia membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Nilai-nilai agama penting agar manusia tidak kehilangan pijakan dan tidak mudah terombang-ambing oleh kepentingan, hawa nafsu, atau godaan kekuasaan. Tanpa pedoman moral, kehidupan akan berjalan tanpa arah.

Namun realitas manusia tidak selalu hadir dalam bentuk yang sederhana.
Tidak semua orang miskin karena malas. Tidak semua orang yang gagal berarti tidak berusaha. Tidak semua orang yang melakukan kesalahan adalah manusia yang sepenuhnya buruk. Ada sejarah yang membentuk seseorang, ada luka yang tidak terlihat, ada tekanan sosial yang memengaruhi pilihan hidup, dan ada keadaan yang kadang tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu kesimpulan singkat.

Karena itulah sastra menjadi penting.

Sastra tidak tergesa-gesa memberi vonis. Ia mengajak kita tinggal lebih lama di dalam pengalaman manusia. Ia memperlihatkan manusia dalam segala kerumitannya: yang rapuh, yang kuat, yang penuh harapan, tetapi juga yang dipenuhi keraguan. Dalam karya sastra, kita sering bertemu tokoh yang sulit dihakimi secara sederhana. Mereka bisa salah tetapi tetap layak dipahami. Mereka bisa jatuh tetapi tidak kehilangan kemanusiaannya.

Sastra mengajarkan bahwa hidup tidak selalu hitam-putih.
Kemampuan melihat nuansa seperti ini terasa semakin penting hari ini. Kita hidup di zaman yang serba cepat, ketika informasi bergerak lebih cepat daripada refleksi. Media sosial membuat kita terbiasa mengambil kesimpulan hanya dari potongan-potongan peristiwa. Seseorang mudah dicap baik atau buruk dalam hitungan menit. Persoalan yang sebenarnya rumit dipaksa menjadi pilihan sederhana: kawan atau lawan, pendukung atau pembenci, benar atau salah.

Akibatnya, kita semakin mudah berbicara tetapi semakin sulit memahami.

Padahal memahami membutuhkan kesediaan untuk mendengar cerita yang lebih panjang. Memahami membutuhkan kerendahan hati untuk menerima bahwa sudut pandang kita tidak selalu cukup untuk menjelaskan seluruh kenyataan. Dan sastra melatih kita untuk itu.

Membaca sastra pada dasarnya adalah latihan empati. Kita diajak masuk ke kehidupan yang berbeda dari kehidupan kita sendiri. Kita melihat dunia melalui mata orang lain. Kita memahami bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan, menghadapi ketidakadilan, mengalami kehilangan, atau bergulat dengan pilihan-pilihan sulit yang mungkin tidak pernah kita alami.

Karena itu, orang yang akrab dengan sastra biasanya lebih berhati-hati dalam memberi penilaian. Mereka sadar bahwa manusia tidak bisa diringkas hanya oleh identitasnya, pilihan politiknya, agamanya, atau satu kesalahan yang pernah ia lakukan. Manusia selalu lebih luas daripada label yang menempel padanya.

Kebutuhan terhadap cara pandang seperti ini justru semakin besar ketika seseorang berada di lingkaran kekuasaan.

Kekuasaan sering menciptakan jarak yang perlahan tidak disadari. Kehidupan masyarakat hadir dalam bentuk laporan, grafik, tabel, dan angka statistik. Semua terlihat rapi dan terukur. Namun pada saat yang sama, manusia yang sesungguhnya perlahan menghilang dari pandangan.

Padahal di balik angka kemiskinan ada keluarga yang sedang berjuang bertahan hidup. Di balik angka pengangguran ada anak muda yang setiap hari mengirim lamaran kerja tanpa kepastian. Di balik angka stunting ada seorang ibu yang harus membuat pilihan sulit karena keterbatasan yang dihadapinya. Di balik angka putus sekolah ada anak-anak yang perlahan kehilangan kesempatan mengubah masa depannya.

Data memang penting. Negara tidak bisa berjalan tanpa data. Tetapi data tidak pernah sepenuhnya mampu menggambarkan denyut kehidupan manusia.

Karena itu saya sering berpikir bahwa para pejabat, birokrat, dan elit politik perlu sesekali akrab dengan sastra. Bukan agar mereka menjadi penyair atau novelis, melainkan agar mereka tidak kehilangan rasa.

Sebab persoalan terbesar dalam kekuasaan sering kali bukan kurangnya kecerdasan. Yang lebih berbahaya adalah ketika empati mulai menipis.

Ketika seseorang terlalu lama berada di puncak, ia mudah merasa paling tahu. Ketika jabatan terus bertambah, ia mudah percaya bahwa cara pandangnya adalah satu-satunya cara pandang yang benar. Ketika politik hanya dipahami sebagai kalkulasi untung-rugi, manusia lain perlahan berubah menjadi angka, suara, atau sekadar instrumen untuk mencapai tujuan tertentu.

Kesombongan biasanya tidak datang secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, sering kali tanpa disadari. Ia lahir ketika seseorang terlalu lama hidup di dalam ruang yang hanya memantulkan suaranya sendiri.

Di tengah situasi seperti itu, sastra bekerja dengan cara yang tenang. Ia mengingatkan bahwa dunia tidak berputar di sekitar diri kita. Bahwa di luar ruang rapat, di luar podium, dan di luar panggung kekuasaan, ada banyak kehidupan yang berjalan dengan segala kesulitannya. Ada orang-orang yang mungkin tidak pernah masuk dalam statistik penting, tetapi tetap memiliki martabat yang sama sebagai manusia.

Pramoedya menghadirkan mereka yang disisihkan sejarah. Ahmad Tohari menulis tentang orang-orang kecil yang kerap luput dari perhatian. Banyak sastrawan melakukan pekerjaan yang serupa: menjaga agar manusia tidak hilang dari percakapan kita.

Mungkin itu yang sedang semakin langka hari ini.

Kita memiliki banyak orang cerdas, tetapi belum tentu cukup banyak orang yang mau mendengar. Kita memiliki banyak ahli strategi, tetapi tidak selalu memiliki pemimpin yang mampu merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Kita memiliki banyak pejabat, tetapi belum tentu memiliki cukup negarawan.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Layanan Imigrasi Menunjang Terbentuknya Embarkasi Haji Gorontalo

    Layanan Imigrasi Menunjang Terbentuknya Embarkasi Haji Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Kota Gorontalo, – Sekretaris Daerah Provinsi Gorontalo, Sofian Ibrahim, menyatakan dukungan penuh terhadap penguatan layanan imigrasi dan pemasyarakatan di daerah. Hal ini disampaikannya saat mendampingi kunjungan kerja Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan di Kantor Imigrasi Kelas I Gorontalo, Senin (30/6/2025). Kehadirannya menjadi momentum penting dalam mempercepat reformasi kelembagaan dan pelayanan publik, khususnya di sektor keimigrasian […]

  • Kapolres Sleman Dinonaktifkan, Polri Merespons Kritik Publik soal Kasus Korban Penjambretan

    Kapolres Sleman Dinonaktifkan, Polri Merespons Kritik Publik soal Kasus Korban Penjambretan

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 181
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gelombang kritik publik terhadap penanganan kasus hukum yang menjerat Hogi Minaya, seorang suami korban penjambretan, akhirnya berujung pada keputusan tegas dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Kapolres Sleman Kombes Pol Edy Setyanto resmi dinonaktifkan sementara dari jabatannya. Keputusan tersebut diambil menyusul polemik penetapan status tersangka terhadap Hogi Minaya, yang justru diproses hukum setelah berusaha […]

  • Misranda: Mewujudkan Desa Anti-korupsi Tidak Gampang

    Misranda: Mewujudkan Desa Anti-korupsi Tidak Gampang

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Monitoring dan Evaluasi (Monev) Percontohan Desa Anti Korupsi Tingkat Provinsi Gorontalo digelar di Desa Toto Utara, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Rabu (2/7/2025). Kegiatan ini dibuka langsung oleh Asisten 3 Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Gorontalo, Misranda Nalole. Monev ini merupakan bagian integral dari upaya pemerintah provinsi Gorontalo dalam memperkuat integritas dan transparansi di tingkat pemerintahan […]

  • Mahasiswa KKN Unhas Angkatan 116 Gelar Penanaman Mangrove di Desa Pajukukang

    Mahasiswa KKN Unhas Angkatan 116 Gelar Penanaman Mangrove di Desa Pajukukang

    • calendar_month Rabu, 5 Agt 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 67
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM–MAROS–Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Perubahan Iklim Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) melaksanakan program kerja Penanaman Mangrove di kawasan pesisir Desa Pajukukang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sabtu (1/8). Kegiatan ini merupakan bentuk aksi nyata mahasiswa dalam mendukung pelestarian ekosistem pesisir sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya menjaga kawasan mangrove. Penanaman dilaksanakan melalui sinergi dengan […]

  • Api yang Tak Pernah Padam: Menjaga Tujuan, Merawat Sejarah, dan Menyemai Masa Depan Himpunan Mahasiswa Islam

    Api yang Tak Pernah Padam: Menjaga Tujuan, Merawat Sejarah, dan Menyemai Masa Depan Himpunan Mahasiswa Islam

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle Dr. Husin Ali
    • visibility 457
    • 0Komentar

    Tujuh puluh sembilan tahun bukanlah bilangan kecil dalam kalender sebuah organisasi. Ia adalah rangkuman dari denyut generasi, dari tarikan napas para mahasiswa yang datang silih berganti, membawa kecemasan zamannya masing-masing, sekaligus memikul harapan bangsa yang tak pernah sederhana. Pada usia inilah HMI berdiri hari ini—bukan sekadar sebagai organisasi kemahasiswaan, melainkan sebagai sekolah peradaban yang telah […]

  • Going Concern Ibadah

    Going Concern Ibadah

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 356
    • 0Komentar

    Dalam dunia akuntansi, ada satu asumsi yang membuat laporan keuangan bisa tidur nyenyak setiap akhir tahun: going concern. Artinya, entitas diasumsikan akan terus berlanjut usahanya, tidak bangkrut besok pagi, dan tidak bubar jalan setelah RUPS bubar. Nah, dalam konteks Ramadhan, saya kira kita juga perlu satu asumsi serupa: going concern ibadah. Jangan sampai ibadah kita […]

expand_less