Breaking News
light_mode
Trending Tags

Membaca Sastra agar Tidak Kehilangan Kemampuan melihat nuansa dan kehilangan Rasa

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 47
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Padahal menjadi negarawan tidak cukup hanya dengan kemampuan mengelola kekuasaan. Ia membutuhkan kepekaan untuk memahami manusia, terutama mereka yang tidak memiliki akses terhadap ruang-ruang kekuasaan.

Sastra memang tidak akan menyelesaikan kemiskinan, memperbaiki jalan rusak, atau meredakan konflik politik dalam semalam. Namun sastra mengajarkan sesuatu yang sering luput dari perhatian: melihat manusia secara utuh. Ia mengingatkan bahwa di balik angka, laporan, target, dan indikator pembangunan, ada kehidupan yang sedang berlangsung.

Mungkin karena itu para pemimpin perlu membaca sastra. Bukan untuk menjadi sastrawan, melainkan agar tidak kehilangan rasa. Agar tetap mampu melihat wajah manusia di balik setiap kebijakan yang dibuat. Agar tidak terjebak pada keyakinan bahwa seluruh persoalan dapat diselesaikan hanya dengan kalkulasi, efisiensi, atau kepentingan politik.

Di tengah menguatnya cara berpikir yang serba individualistik dan oportunistis, sastra bisa menjadi ruang untuk menertibkan ego. Ia memaksa kita keluar dari diri sendiri dan melihat kehidupan melalui mata orang lain. Dari sana tumbuh kesadaran bahwa dunia tidak hanya berisi ambisi, jabatan, dan kepentingan pribadi.

Membaca sastra adalah cara sederhana untuk tetap waras ketika kekuasaan membuat orang merasa paling tahu, ketika politik membuat orang sibuk menghitung untung-rugi, dan ketika ruang publik semakin miskin empati.

Sebab yang paling sering hilang dari manusia bukan kecerdasannya, melainkan kemanusiaannya. Dan sastra, sejak lama, menjaga agar hal itu tidak sepenuhnya lenyap. Ia menjadi ruang untuk kembali mengingat bahwa sebelum menjadi pejabat, ulama, akademisi, aktivis, pengusaha, atau apa pun identitas yang kita banggakan hari ini, kita terlebih dahulu adalah manusia.

Dan setiap manusia selalu membutuhkan jalan untuk pulang kepada dirinya sendiri. Salah satu jalan itu adalah sastra. Ia tidak menawarkan kekuasaan, tidak menjanjikan kemenangan, tetapi mengajarkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: kemampuan untuk tetap melihat, mendengar, dan merasakan kehidupan orang lain sebagai bagian dari kehidupan kita sendiri. Di sanalah kemanusiaan menemukan tempatnya untuk tetap hidup.

Penulis Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gusdur Dalam Memori  Mbak Yenny dan Gus Mus

    Gusdur Dalam Memori Mbak Yenny dan Gus Mus

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Riski Hidayat
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Oleh: Riski Hidayat, Mahasiswa Pasca Sarjana UAC Mojokerto Tulisan ini Merupakan Refleksi Penulis pada saat Menghadiri Acara Peringatan Haul Gus Dur ke 16 dan Tasyakuran Penganugrahan Gelar Pahlawan Nasional K.H Abdurrahman Wahid di Tebu Ireng Pada 17 Desember 2025. Berangkat dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Mbak Yenny Wahid. Apa yang membuat Gus Dur begitu istimewa […]

  • Belum Genap Sebulan Menjabat, Hakim MK Adies Kadir digugat 21 Guru Besar ke MKMK

    Belum Genap Sebulan Menjabat, Hakim MK Adies Kadir digugat 21 Guru Besar ke MKMK

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 255
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sebanyak 21 guru besar, dosen, hingga praktisi hukum yang tergabung dalam Constitutional and Administrative Law Society (CALS) melaporkan Hakim Konstitusi Adies Kadir ke Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK). Laporan tersebut diajukan setelah Adies resmi mengucap sumpah jabatan sebagai hakim MK pada Kamis (5/2/2026). Perwakilan CALS, Yance Arizona, mengatakan pelaporan dilakukan untuk menjaga keluhuran […]

  • Halal Bihalal: Antara Simbolisme, Spiritualitas, dan Transformasi Diri

    Halal Bihalal: Antara Simbolisme, Spiritualitas, dan Transformasi Diri

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • account_circle Amsar A. Dulmanan
    • visibility 528
    • 0Komentar

    Pada konsep tersebut Halal Bihalal,  sebagai ekspresi keislaman Indonesia,  dibaca sebagai simbol-simbol kultural yang tidak hanya merepresentasikan keyakinan religius, tetapi juga mengkonstruksi realitas sosial yang sarat nilai kebersamaan, harmoni, dan keteraturan. Dengan demikian, kebudayaan Islam bukanlah entitas statis, melainkan hasil dari proses interpretasi yang terus-menerus antara teks keagamaan dan konteks sosial, di mana simbol menjadi […]

  • Jejak Abadi John Tobing Lewat Lagu Dara Juang

    Jejak Abadi John Tobing Lewat Lagu Dara Juang

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 530
    • 0Komentar

    Nulondalo.com- Di sebuah malam yang bising di kota Yogyakarta, kabar duka menyebar cepat, Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau yang akrab disapa John Tobing, dikabarkan telah berpulang pada Rabu, 25 Februari 2026, pukul 20.45 WIB, di Rumah Sakit Akademik UGM. Kabar kepergiannya dikonfirmasi oleh sahabat sekaligus Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM, Arie […]

  • Kompetisi Renang Provinsi Gorontalo Digelar di Lahilote

    Kompetisi Renang Provinsi Gorontalo Digelar di Lahilote

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Staf Ahli Gubernur bidang Kemasyarakatan dan SDM Yosef P Koton mewakili Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail memberikan sambutan dan membuka lomba Renang “Pinguin Aquatic Fun Swimming Competition Series 2 tahun 2025” di kolam Renang Lahilote Kota Gorontalo, Sabtu (28/7/2025). Kegiatan ini dihadiri Kepala Dinas Pemuda dan OIahraga Provinsi Gorontalo,  Pengurus klub renang se-Provinsi Gorontalo, pelatih, ofisial […]

  • Piagam Menara Gading

    Piagam Menara Gading

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Ruang berpendingin malam itu tidak kuasa menyingkirkan keringat yang terus merembes keluar dari pori-poriku. Adrenalin yang terpacu memaksa hormon-hormon dalam tubuhku memproduksi keringat dalam udara yang disemprot AC. Seiring dengan gemuruh aula megah itu, adrenalinku terasa makin bergerak cepat ketika namaku disebut. Dr. Maulana  Eka  Rasyid  Arfan  Saputra  Alamsyah  Taufik  Abdullah  Hafidz Umar, MA, M.Si, […]

expand_less