Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Jakarta Bukan Indonesia: Menimbang Federalisme dan Otoritas Kharismatik

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
  • visibility 218
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Perdebatan mengenai bentuk negara tidak pernah benar-benar usai. Ia muncul kembali setiap kali ketimpangan pembangunan melebar, distribusi sumber daya dipersoalkan, atau hubungan pemerintah pusat dan daerah dipenuhi rasa saling curiga. Pertanyaan yang mengemuka bukan lagi sekadar apakah Indonesia harus tetap menjadi negara kesatuan, melainkan apakah pola penyelenggaraannya yang masih menyisakan watak sentralistik masih memadai untuk mengelola negara kepulauan yang terbentang ribuan kilometer, dihuni ratusan etnis, bahasa, dan kebudayaan.

Membicarakan federalisme tidak berarti mengajak Indonesia mengganti bentuk negara. Yang sedang diuji adalah apakah sistem politik yang ada masih mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks. Tidak ada bentuk negara yang berlaku universal. Amerika Serikat, Jerman, Kanada, Australia, Swiss, India, dan Malaysia memilih federalisme karena perjalanan sejarah, kondisi geografis, serta kemajemukan sosial mereka. Prancis dan Jepang bertahan sebagai negara kesatuan karena pengalaman sejarahnya mengarah ke sana. Bentuk negara selalu merupakan hasil kompromi antara sejarah, budaya politik, dan kebutuhan masyarakat, bukan sebuah doktrin yang berlaku untuk semua bangsa.

Indonesia menyimpan ironi yang unik. Kita memiliki satu konstitusi, tetapi hidup dalam ruang-ruang sosial yang sangat berbeda. Aceh memiliki pengalaman sejarah yang berbeda dengan Papua. Kalimantan menghadapi persoalan yang berbeda dengan Jawa. Sulawesi memiliki karakter sosial yang berbeda dengan Nusa Tenggara. Keragaman ini membuat kebutuhan setiap daerah tidak selalu dapat dijawab melalui kebijakan yang dirumuskan dari satu pusat kekuasaan.

Selama ini Jakarta bukan hanya menjadi ibu kota pemerintahan, tetapi juga pusat imajinasi politik Indonesia. Banyak kebijakan lahir dari ruang birokrasi yang jauh dari realitas masyarakat daerah. Bukan berarti pemerintah pusat tidak bekerja, tetapi jarak geografis sering kali berubah menjadi jarak sosial. Yang muncul kemudian bukan sekadar ketimpangan pembangunan, melainkan perasaan bahwa daerah hanya menjadi pelaksana keputusan yang dibuat oleh orang-orang yang tidak sepenuhnya mengalami persoalan mereka.

Federalisme menawarkan logika yang berbeda. Urusan yang menyangkut kepentingan nasional—pertahanan, hubungan luar negeri, kebijakan moneter, keamanan, dan konstitusi—tetap berada di tangan pemerintah pusat. Pendidikan, kesehatan, kebudayaan, tata ruang, pengelolaan sumber daya, hingga pelayanan publik lebih banyak diserahkan kepada pemerintahan yang paling dekat dengan masyarakat. Gagasan ini bertumpu pada prinsip subsidiarity: keputusan sebaiknya diambil sedekat mungkin dengan warga yang akan merasakan dampaknya.

berbagai literatur mengungkapkan bahwa demokrasi tumbuh dari kebiasaan masyarakat mengurus urusannya sendiri, bukan semata-mata dari pemilu. Montesquieu juga membaca bahwa kekuasaan yang terlalu terpusat selalu membawa risiko penyalahgunaan wewenang, ia juga memperlihatkan bahwa banyak persoalan publik justru lebih efektif diselesaikan melalui banyak pusat pengambilan keputusan yang saling bekerja sama daripada bergantung pada satu pusat komando.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Maksiat Digital

    Maksiat Digital

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 451
    • 0Komentar

    Di pesantren, judi itu haram. Di kampus, judi itu dilarang. Di negara, judi itu pidana. Tapi di gawai kita, judi online atau yang lebih akrab disebut judol, sering tampil seperti iklan sedekah: “modal kecil, hasil besar.” Gus Dur mungkin akan tersenyum getir sambil berkata, “Ini bukan soal untung atau rugi, tapi soal siapa yang paling […]

  • HUT-77, Garuda Online Travel Fair Tawarkan Diskon Tiket

    HUT-77, Garuda Online Travel Fair Tawarkan Diskon Tiket

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Moloneo Az
    • visibility 269
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM, Gorontalo – Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia menggandeng Bank Mandiri sebagai bank partner kembali menggelar Garuda Indonesia Online Travel Fair (GOTF) pertama di tahun 2026 dengan menghadirkan 140 ribu kursi untuk penerbangan domestik dan internasional diskon hingga 65%. Ajang penjualan tiket harga terbaik berbasis digital tersebut dapat diakses oleh masyarakat  mulai 29 Januari s.d […]

  • Wagub Gorontalo: Aspirasi Mahasiswa Pasti Kami Perjuangkan

    Wagub Gorontalo: Aspirasi Mahasiswa Pasti Kami Perjuangkan

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 143
    • 0Komentar

    Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail bersama Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie turun langsung menemui massa demonstran yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Merah Maron, Senin (1/9/2025), di Bundaran Hulondalo Indah, Kota Gorontalo. Suasana aksi menjadi lebih kondusif saat Gubernur, Wakil Gubernur, Kapolda, dan Ketua DPRD Provinsi Gorontalo duduk bersama di atas aspal untuk berdialog langsung dengan […]

  • Nuzulul Qur’an di Istiqlal Hadirkan Dai Tionghoa Koko Liem, Cerita Perjalanan Masuk Islam

    Nuzulul Qur’an di Istiqlal Hadirkan Dai Tionghoa Koko Liem, Cerita Perjalanan Masuk Islam

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 256
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Istiqlal berlangsung meriah dan penuh inspirasi. Salah satu momen yang paling menarik perhatian jamaah adalah kehadiran dai kondangan Tionghoa, Koko Liem, yang membagikan kisah perjalanan spiritualnya memeluk Islam dalam dialog inspiratif yang menggugah hati. Dalam paparannya, Koko Liem menjelaskan bahwa kekagumannya terhadap umat Islam berawal dari tradisi membaca […]

  • SAKTI Sentil Banyak Mahasiswa di Majannang: Pintar di Luar, Membisu di Kampung Sendiri 

    SAKTI Sentil Banyak Mahasiswa di Majannang: Pintar di Luar, Membisu di Kampung Sendiri 

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 232
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Desa Majannang kembali menjadi sorotan setelah salah satu tokoh pemuda desa, Sakti, melontarkan kritik keras terhadap kondisi sebagian pemuda di Dusun Taipa, Desa Majannang, yang dinilai mulai kehilangan kepedulian terhadap masa depan desanya sendiri. Menurut Sakti, banyak pemuda saat ini lebih memilih diam dan acuh terhadap berbagai persoalan sosial di desa. Bahkan, […]

  • Pseudo-Ramadan

    Pseudo-Ramadan

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 206
    • 0Komentar

    Ramadan akan segera berlalu. Bagai seorang perempuan, Ramadan tampak anggun dan suci. Ramadan cermin dari sebuah cahaya yang menyinari jiwa yang membutuhkan cahaya. Hanya jiwa yang suci yang dapat diterangi cahaya itu. Dalam Ramadan berisi deretan ritus persembahan bagi yang merasa harus menyembah. Salah satu aktifitas itu adalah puasa. Bukan saja untuk menahan haus dan […]

expand_less