Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Penyadapan Getah Pinus di Laiya Disorot, Diduga Keluar Titik Koordinat hingga Kunci Mobil Pengangkut Disita

  • account_circle Sakti
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 13
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

 

Nulondalo.com, MAROS — Aktivitas penyadapan getah pinus di wilayah Desa Laiya, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, menuai sorotan dari kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Dugaan penyadapan di luar titik koordinat yang telah ditentukan disebut perlu mendapat perhatian dan penjelasan dari pihak terkait.

Sorotan tersebut disampaikan Abdul Malik dari LSM KIPFA RI Kabupaten Maros. Ia menduga terdapat aktivitas penyadapan yang dilakukan di luar titik koordinat yang telah ditetapkan dalam perizinan.

Menurutnya, apabila dugaan tersebut terbukti, aktivitas tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut karena berkaitan dengan pengelolaan kawasan hutan dan potensi dampak terhadap lingkungan.

“Saya akan kawal hingga mendapatkan penjelasan secara faktual terkait penyadapan getah pinus di Desa Laiya, Cenrana,” tegas Abdul Malik.

Pengelola Klaim Miliki Dasar Perizinan

Sementara itu, Kamaruddin selaku Ketua Kelompok Penyadap Getah Pinus di Desa Laiya membantah jika kegiatan yang dilakukan kelompoknya merupakan aktivitas tanpa dasar hukum.

Ia mengklaim penyadapan getah pinus dilakukan berdasarkan ketentuan dan perizinan yang telah diterbitkan oleh pemerintah.

“Ada surat keputusannya dari Kementerian Kehutanan. Kita tidak berani melakukan penyadapan di hutan kalau tidak ada surat izin keluar,” ujar Kamaruddin.

Namun demikian, klaim tersebut masih membutuhkan verifikasi terhadap dokumen perizinan, termasuk kesesuaian antara lokasi kegiatan di lapangan dengan titik koordinat atau areal yang tercantum dalam izin.

Kunci Mobil Pengangkut Getah Sempat Disita

Persoalan tersebut juga berkembang setelah sebuah mobil pengangkut getah pinus disebut sempat ditahan oleh masyarakat pada malam Sabtu. Kamaruddin membenarkan adanya peristiwa tersebut.

Menurut keterangannya, mobil pengangkut getah pinus miliknya ditahan oleh seorang warga yang disebutnya bernama A. Syamsuddin, yang menurut Kamaruddin merupakan adik kandung Kepala Desa Laiya.

“Iye betul Pak, mobil pemuat getah pinus saya ditahan oleh masyarakat. Dan masyarakat itu tidak lain adik kandung Kepala Desa Laiya sendiri, A. Syamsuddin,” ungkapnya.

Kamaruddin menyebut penahanan tersebut disertai dengan pengambilan kunci kendaraan. Ia mengatakan, tindakan itu dilakukan karena pihak yang menahan menduga getah pinus yang diangkut merupakan hasil penyadapan ilegal.

“Alasannya Pak A. Syamsuddin menahan mobil pemuat getah pinus dan bahkan kunci mobil ikut diambil, karena getah pinus yang dimuat dari hasil getah pinus ilegal,” katanya.

Peristiwa tersebut kemudian memicu adu argumen antara Kamaruddin dan A. Syamsuddin.

Kamaruddin mempertanyakan dasar kewenangan penahanan kendaraan tersebut. Menurutnya, jika memang terdapat dugaan pelanggaran hukum, seharusnya persoalan tersebut dilaporkan kepada aparat atau instansi berwenang untuk dilakukan pemeriksaan.

“Saya sempat bersikap tegas dengan dia karena saya mempertanyakan apa dasar hukumnya mobil saya ditahan. Karena dia bukan polisi juga. Kalau memang ilegal, kenapa bukan polisi yang turun tahan mobilku,” tutur Kamaruddin.

Minta Persoalan Dibuka Secara Terang

Munculnya dugaan penyadapan di luar titik koordinat serta insiden penahanan kendaraan membuat persoalan aktivitas penyadapan getah pinus di Desa Laiya perlu mendapatkan penjelasan secara terbuka dari pihak-pihak yang berwenang.

Publik membutuhkan kejelasan mengenai legalitas kegiatan, batas atau titik koordinat areal penyadapan, pihak yang memiliki izin, serta kesesuaian antara aktivitas di lapangan dengan dokumen perizinan yang berlaku.

Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Desa Laiya maupun instansi kehutanan terkait belum memberikan keterangan resmi mengenai dugaan penyadapan yang disebut berada di luar titik koordinat tersebut.

Seluruh informasi mengenai dugaan penyadapan di luar titik koordinat dan dugaan hasil getah pinus ilegal dalam berita ini masih merupakan informasi yang perlu diverifikasi lebih lanjut. Media membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi Kepala Desa Laiya, A. Syamsuddin, kelompok penyadap, instansi kehutanan, maupun pihak terkait lainnya sesuai prinsip keberimbangan dan Kode Etik Jurnalistik.

  • Penulis: Sakti

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ungkap Curanmor Antar Provinsi, Polresta Gorontalo Kota Amankan 5 Motor di Sulut

    Ungkap Curanmor Antar Provinsi, Polresta Gorontalo Kota Amankan 5 Motor di Sulut

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 390
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Tim Gabungan Jatanras Polresta Gorontalo Kota bersama Unit Reskrim Polsek Kota Utara berhasil mengungkap sindikat pencurian kendaraan bermotor (curanmor) antar provinsi. Dalam operasi pengejaran hingga ke wilayah Sulawesi Utara (Sulut), petugas mengamankan lima unit sepeda motor berbagai merek, Selasa (13/1/2026). Kapolresta Gorontalo Kota melalui Kasat Reskrim AKP Akmal Novian Reza, S.I.K., menjelaskan pengungkapan tersebut […]

  • Lubdaka, Sang Pemburu Yang Mendapat Berkah di Siwa Ratri

    Lubdaka, Sang Pemburu Yang Mendapat Berkah di Siwa Ratri

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 255
    • 0Komentar

    Saya belum genap sebulan tinggal di Bali. Tugas negara menuntut saya menetap di sini dalam waktu yang tidak sebentar, memberi kesempatan untuk merasakan ritme kehidupan yang berbeda dari tempat asal saya. Setiap hari menghadirkan pengalaman baru: jalan-jalan yang ramai dengan upacara adat, aroma dupa dan bunga yang menghiasi pura, hingga langit yang memunculkan panorama yang […]

  • Menolak “Ramadan-nya” Gorontalo

    Menolak “Ramadan-nya” Gorontalo

    • calendar_month Jumat, 4 Mar 2022
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 301
    • 0Komentar

    Seminggu sebelum memasuki bulan Ramadan, kita melihat berbagai flyer, poster dan baliho, bertengger di sudut-sudut kota. Papan-papan iklan itu menampilkan wajah dari para elit yang tersenyum sumringah, mengenakan setelan jas atau baju koko, sarung, bahkan lengkap latar belakang partai politik yang memayungi mereka. Di tengah papan-papan iklan itu, tertulis ucapan menyambut Ramadan. Namun setelah dipikir-pikir, […]

  • PPATK, Rekening Dormant dan Gagal Nalar Instabilitas Ekonomi

    PPATK, Rekening Dormant dan Gagal Nalar Instabilitas Ekonomi

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Muh. Gifari Bachmid
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Penulis adalah Praktisi Perbankan/ Pengurus Lakpesdam NU Kota Gorontalo Sebelum dihebohkan oleh pemblokiran rekening berstatus dormant oleh PPATK, praktik tersebut ternyata lazim diterapkan didunia perbankan. Rekening yang tidak aktif atau tidak memiliki transaksi dalam kurun waktu 3 sampai 12 bulan maka status rekeningnya akan berubah menjadi status dormant. Jika rekening nasabah berstatus dormant, maka rekening […]

  • Catatan Dari Konferensi Indigenous Religions Di Yogyakarta

    Catatan Dari Konferensi Indigenous Religions Di Yogyakarta

    • calendar_month Jumat, 5 Jul 2019
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Untuk pertama kalinya, International Conference on Indigenous Religions resmi dihelat. Sejak pukul 08.00WIB pagi, terlihat pemandangan manusia berkerumun memenuhi barisan antre di University Club (UC) Hotel Universitas Gadjah Mada (UGM), untuk melakukan registrasi. Uniknya, para partisipan tidak hanya berlatar belakang peneliti atau speakers dalam konferensi, melainkan juga “sang Liyan”—mereka yang seringkali kita sebut sebagai “yang […]

  • Rajab dan Kepulangan yang Sunyi: Bayi, Pohon, dan Rahmat Tuhan Play Button

    Rajab dan Kepulangan yang Sunyi: Bayi, Pohon, dan Rahmat Tuhan

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Afidatul Asmar
    • visibility 263
    • 0Komentar

    Rajab selalu datang dengan sunyi yang disengaja. Ia tidak meminta sorak, hanya ruang untuk merenung. Di bulan inilah sebuah budaya tentang kematian bayi di Toraja yang belum tumbuh gigi dan “dipulangkan” ke pohon mengajak kita menimbang ulang makna hidup, iman, dan kemanusiaan. Rajab adalah bulan yang tidak riuh. Ia berdiri tenang di antara kalender hijriah, […]

expand_less