Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Jika Ahmadiyah Mengakui Nabi Muhammad SAW, Maka Saya Ahmadiyah

  • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
  • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
  • visibility 345
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kira-kira pertama kali saya mendengar nama Ahmadiyah, itu sekitar tahun 1994 ketika masih duduk di bangku Madrasah Aliyah Limboto. Salah seorang guru saya menjelaskan tentang teologi pemikiran Islam. Guru  saya lulusan IAIN Alauddin Makassar jurusan aqidah filsafat.

Disela-sela ia menjelaskan  tentang pemikiran Islam, ia menyentil soal Ahmadiyah , selain Mu’tazilah, Khawarij, Murji’ah, Syi’ah dan Sunni.  Guru saya hanya menjelaskan sedikit tentang Ahmadiyah yang dianggap sebagai kelompok (jama’ah) yang meyakini akan datang diakhir zaman seorang Imam Mahdi dan itu adalah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908)1997.

Sontak saja penjelasan Guru saya membuat saya tercengang, karena hal ini berbeda dengan penjelasan yang saya terima dari ustadz ketika masih belajar di pesantren yang mengatakan bahwa Imam Mahdi itu adalah seseorang yang mengaku Nabi.  Jelas ini membuat saya bertanya-tanya apa benar Mirza Ghulam Ahmad adalah orang yang dijanjikan oleh Allah SWT bersama Nabi Isa, a.s yang akan menghancurkan Dajjal ketika hari kiamat tiba.

Sebagai orang yang pernah mondok (santri) saya harus sami’na wa’atho’na kepada Guru atau ustadz yang ada di pesantren. Saat itulah kebencian saya kepada Ahmadiyah mulai muncul.

Di tahun 1996, ketika saya masuk PMII, organisasi ini mengantarkan saya pada perjumpaan-perjumpaan lintas iman dalam kerangka membangun solidaritas  antar sesama dari berbagai agama dan kelompok keagamaan termasuk Ahmadiyah.  Saya dan sahabat-sahabat aktivis PMII Cabang Manado sering terlibat dalam kerja-kerja lintas iman sebagai konsekuensi dari pemahaman kami atas pluralisme agama.

Disinilah saya berjumpa dengan beberapa orang Ahmadiyah Manado dan Motoboi Besar, Kotamobagu. Kehadiran Ahmadiyah di daerah Sulawesi Utara khususnya di Motoboi Besar tahun 1925 tidak bisa dipisahkan dari sosok Yahya Pontoh.  Dari beliau, kehadiran Ahmadiyah mulai diterima di lingkungan keluarga, tetangga dan masyarakat sekitar Motoboi Besar.

Kemudian hadirlah nama-nama seperti Mansoor Ahmad Kadengkang, Abdul Karim P. Dorumeat, dan Abdul Hanan Komangki yang mengabdi dalam dakwah Ahmadiyah, termasuk kehadiran mubaligh muda Muhammad Yakub yang saat ini sebagai Mubda Wilayah Sulawesi Selatan yang pernah menjalankan pengabdiannya sebagai mubaligh di Kota Manado.

Perjumpaan saya berikutnya dengan Ahmadiyah ketika saya belajar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, konsentrasi pada program Religion and Cross Cultural Studies (CRCS) di tahun 2000.

Disinilah saya semakin intens berjumpa dengan saudara-saudara saya dari Ahmadiyah. Yang patut dicatat selama saya di Yogyakarta, saya tidak pernah mendownload tulisan-tulisan di internet, alasannya sangat sederhana karena saya ingin menghindari tulisan-tulisan yang memojokkan Ahmadiyah yang ditulis oleh para pembenci Ahmadiyah.

Artinya saya belajar langsung dari penjelasan, keterangan dan pengakuan dari saudara-saudara saya di Ahmadiyah mengenai siapa sebenarnya Mirza Ghulam Ahmad dan bagaimana ajaran-ajarannya dalam Ahmadiyah.  Dari mereka saya mulai memahami dan merubah cara pandang saya yang tadinya benci (1990), kemudian berubah menjadi cinta (2003) kepada Ahmadiyah.

Pada tahun 2004 setelah saya selesai dari CRCS-UGM,  kemudian saya kembali ke Gorontalo pada tahun 2005, saya berjumpa dengan Pak Nanang seorang Mubaligh Ahmadiyah Gorontalo. Saya bertemu beliau karena dipertemukan oleh Mas Fikri, beliau adalah direktur LKIS Yogyakarta di masa itu. Kami bertemu di salah satu hotel, namanya hotel Karawang di jantung Kota Gorontalo.

Melalui perjumpaan dengan Pak Nanang, saya mendapatkan buku terjemahan dari mereka yang ditulis langsung oleh pendirinya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, bukunya berjudul Filsafat Ajaran Islam yang judul aslinya Islami Ushul Ki Filsafat (bahasa Urdu) yang terbit pertama kali di tahun 1977.

Buku ini membahas soal keadaan jasmani, akhlak dan rohani manusia, keadaan manusia sesudah mati, tujuan hidup manusia dan cara mencapainya,  dampak perbuatan amal manusia di dunia dan akhirat, jalan dan saran untuk mendapatkan ilmu makrifat Ilahi. Buku ini menarik karena menggambarkan tentang kebenaran dan kebesaran agama Islam sesuai Al-Qur’an, Sunnah dan Hadits Nabi SAW.

Pada tahun 2022 saya berjumpa dengan Mubaligh Ahmadiyah Muhammad Yaqup, Pak Iwan, dan Pak Bambang ditemani sahabat saya Arfan Nusi ketua Rumah Moderasi Beragam IAIN Sultan Amai Gorontalo. Kami terlibat dalam diskusi sejak dari rumah makan Coto Daeng Tata, dilanjutkan ke masjid Ahmadiyah Kota Makassar (shalat Ashar berjamaah) sampai bersambung ke perkebunan milik Ahmadiyah di Kabupaten Gowa dan dipertemukan dengan Pak Nadzir Mubaligh Wilayah Gowa (sampai shalat magrib berjamaah).

Setelah shalat saya mengingat pernyataan sinis dari orang-orang yang membenci Ahmadiyah bahwa “jika shalat di tempatnya Ahmadiyah, maka setelah shalat sajadah yang dipakai oleh orang di luar Ahmadiyah dicuci karena dianggap bernajis”. Anggapan itu salah dan tidak terbukti.

Perjumpaan saya beberapa kali dengan para mubaligh Ahmadiyah dan terlibat dalam diskusi panjang melalui pertanyaan-pertanyaan kritis kepada mereka. Telah menjawab keraguan dan kebencian saya kepada Ahmadiyah. Jika ada persepsi atau pendapat dan bahkan anggapan bahwa Ahmadiyah adalah sesat, bukan Islam dan bukan kelompok jamaah yang tidak mengakui Nabi Muhammad SAW adalah Nabi, maka saya pastikan jawabannya adalah salah besar.

Tuduhan-tuduhan negatif dan menyesatkan pasti berasal dari sekelompok orang yang suka menyebarkan fitnah, kebencian, berita hoax dan memang tidak menghendaki adanya persaingan dalam rekrutmen jamaah atau anggota. Sebenarnya kelompok-kelompok atau pribadi orang dengan karakter dan pemikirannya seperti itu mengindikasikan bahwa sebenarnya mereka bukanlah kaum Muslim yang beriman kepada Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah Nabiyullah utusan Allah SWT.

Para pembenci dan tukang hasud adalah orang-orang atau kelompok yang tidak ingin hidup bertetangga dengan jama’ah Ahmadiyah ketika berada di surga, padahal belum tentu mereka (para pembenci dan penghasut) masuk surga. Karena cara atau sikap dan pandangan mereka tidak menunjukan akhlak Nabi SAW.

Mereka tidak ingin kalah bersaing dalam merebut hati ummat, padahal Allah SWT menekankan fastabiqul Khairaat “berlomba-lombalah dalam kebajikan”. Bukan untuk menghantam dan meracuni pikiran ummat dengan segala produk pemahaman yang  mengkonstruksi kebencian. Jelas I ni salah dan merupakan rangkaian perbuatan setan yang mendiami dan menguasai nafsu lawwamah (nafsu budak setan).

Sebagai orang yang belajar antropologi saya menyaksikan langsung praktek-praktek keagamaan mereka seperti shalat, bacaan-bacaan dzikir, adzan dan iqomah, termasuk simbol agama seperti mimbar khutbah jum’ah dan kalender Islam yang bertuliskan Laa Ilaaha Illa Allah, Muhammad Rasulullah.  Artinya mereka melaksanakan sholat 5 waktu (bahkan mereka sangat dianjurkan untuk melaksanakan shalat tahajud dan dhuhah) setiap harinya.

Mereka shalat dimulai dari niat dan takbir dan diakhiri dengan salam. Tidak ada yang berbeda dengan shalat umat Islam pada umumnya. Mereka mengumandangkan adzan, iqomah dan bahkan syahadat dengan lafaz Laa Ilaaha Illah Allah, Muhammad Rasulullah. Tidak seperti yang dituduhkan oleh orang lain melalui ceramah  dan tulisan-tulisan lepas yang mengatakan bahwa Ahmadiyah sahadatnya berbeda dengan umat Islam lainnya. Itu tidak benar, buktinya sahadatnya mereka sama dengan syahadat umat Islam lainnya dengan tidak melafazkan “wa asyhadu anna Mirza Ghulam Ahmad Rasulullah” seperti yang dituduhkan selama ini.

Jamaah Ahmadiyah sangat mencintai Nabi, bahkan pendirinya Mirza Ghulam Ahmad pernah menyatakan keagungan derajat Rasulullah SAW dengan ungkapan “Saya laksana debu yang menempel di terompah Rasulullah SAW”. Bahkan ungkapan kecintaan lainnya beliau kepada Rasulullah “Siang dan malam aku bersimpuh bagai debu di jalan Kekasihku, Tanda apa lagi yang mengisyaratkan kehormatan dan rezeki terhormat.” (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; Ruhani Khazain, 1984). Ini menunjukan kecintaan pendiri dan jamaahnya kepada Nabi Muhammad SAW.

Tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh orang atau kelompok orang kepada ahmadiyah sebagai agama di luar Islam, kelompok yang sesat dan menyesatkan dan tidak bersyahadat kepada Nabi Muhammad SAW, adalah bentuk tipu muslihat yang sengaja dimainkan untuk menghalau gerakan dakwah dari Ahmadiyah. Umat Islam dicekoki dan diracuni pikirannya dengan tipu muslihat murahan dengan menjual ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi untuk melegitimasi pendapat mereka demi memperturutkan hawa nafsunya yang sedang bermasalah. Kelompok-kelompok pembenci ini suka berhalusinasi, menghayal dan bermimpi bak di siang bolong.

Jika mereka tidak pernah berhenti dengan menuduh Ahmadiyah sebagai aliran sesat, maka saya tidak akan pernah berhenti untuk membersamai saudara-saudara saya di Ahmadiyah untuk ikut membantu dan menjaga eksistensi mereka terutama di Gorontalo. Ahmadiyah, sekali lagi, bukanlah aliran yang sesat atau yang telah keluar dari Islam, karena mereka beriman kepada Allah, Nabi Muhammad, al-Qur’an, Malaikat dan hari penghabisan, qadha dan qadar.

Jika demikian, dimana letak kesesatan Ahmadiyah. Mereka berdakwah dengan santun dan penuh adab, mereka anti dengan aksi kekerasan dari kelompok mutasyaddid (islam garis keras). Mereka membaca al-Qur’an dengan baik, mereka menjalankan sunnah Rasulullah SAW, bahkan mereka rela menghidmatkan diri dan keluarganya (sejak masih dalam kandungan) untuk dakwah Islamiyyah., hal ini jarang terjadi di kelompok-kelompok agama lainnya.

Sebagai penutup dari tulisan sederhana ini, saya hendak mengatakan, jika ajaran-ajaran Ahmadiyah bersandar pada al-Qur’an dan Hadits Nabi, mengakui Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul, melaksanakan sunnah Nabi, mengajarkan kebaikan, maka saya adalah bagian dari keluarga besar Ahmadiyah.

Oleh: Dr. Samsi Pomalingo ,MA – (Akademisi di Universitas Negeri Gorontalo)

  • Penulis: Dr. Samsi Pomalingo, MA

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Arus Balik dari Sebuah Negeri yang Tidak Dibiarkan Berkuasa

    Arus Balik dari Sebuah Negeri yang Tidak Dibiarkan Berkuasa

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Suryadi R
    • visibility 526
    • 0Komentar

    “Biar aku ceritai kalian. Dahulu, di jaman kejayaan Majapahit, arus bergerak dari selatan ke utara, dari Nusantara ke Atas Angin.” Kalimat ini ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Arus Baliknya. Ia seakan memberi tahu dengan seksama bahwa kalimat itu tak hanya sekadar nostalgia sejarah. Tetapi merupakan sebuah pernyataan geopolitik yang tajam. Kalimat itu seolah menantang asumsi […]

  • Belum Genap 100 Hari Bekerja, Adhan Dambea dan Indra Gobel di Demo Kasus Korupsi

    Belum Genap 100 Hari Bekerja, Adhan Dambea dan Indra Gobel di Demo Kasus Korupsi

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 188
    • 0Komentar

    Terkait penanganan sejumlah kasus korupsi di Kota Gorontalo yang dinilai lamban, ratusan massa aksi seruduk Kantor Wali Kota Gorontalo, pada Senin (17/3/2025). Pemerintahan Wali Kota Adhan Dambea dan Wakil Wali Kota Indra Gobel diminta untuk tidak tinggal diam dalam penanganan kasus korupsi di Kota Gorontalo yang telah merugikan negara ratusan rupiah. Meski sibuk dalam penanganan […]

  • Proyek Sekolah Rakyat Jadi Sorotan dalam Reses Muhammad Dzikyan di Boalemo

    Proyek Sekolah Rakyat Jadi Sorotan dalam Reses Muhammad Dzikyan di Boalemo

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 206
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Proyek pembangunan Sekolah Rakyat berskala provinsi dengan nilai anggaran sekitar Rp134 miliar menjadi salah satu sorotan utama masyarakat dalam kegiatan reses Anggota DPRD Provinsi Gorontalo Daerah Pemilihan Pohuwato–Boalemo, Muhammad Dzikyan, di Desa Bongo Dua, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Jumat (6/2/2026). Dalam dialog bersama warga, sejumlah masyarakat mempertanyakan dampak langsung pembangunan tersebut terhadap perekonomian […]

  • Pemkot Gorontalo Siap Menggelar Festival Green Tumbilote, Berikut Kriteria Lomba yang didanai

    Pemkot Gorontalo Siap Menggelar Festival Green Tumbilote, Berikut Kriteria Lomba yang didanai

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 183
    • 0Komentar

    Pemerintah Kota (Pemkot) Gorontalo akan menggelar Festival Green Tumbilotohe yang akan dipusatkan di Lapangan Taruna Remaja Kota Gorontalo. Sejumlah lomba pada Festival Green Tumbilotohe tersebut diantaranya lomba Koko’o, Vokalia Religi, Lomba Hamparan lampu antar kecamatan, lomba jalan paling tumbilotohe, Doorprise grebek rumah dan Festival ribuan lampu. Kepada bakukabar.id, Kepala Dinas Pariwitasa, Pemuda dan Olahraga (Disparpora), […]

  • Di Meja Syukuran, Kita Menemukan Makna Indonesia

    Di Meja Syukuran, Kita Menemukan Makna Indonesia

    • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
    • account_circle Ir. Panji Sukma Nugraha S.T., M.M
    • visibility 91
    • 0Komentar

    Oleh: Ir. Panji Sukma Nugraha S.T., M.M Founder Pemuda Nusantara Foundantion Nulondalo.com – Setiap 17 Agustus, kita merayakan kemerdekaan dengan upacara, pengibaran bendera, perlombaan, dan berbagai kegiatan yang penuh semangat. Namun, di balik kemeriahan itu, ada bentuk perayaan yang jauh lebih sederhana, tetapi menyimpan makna kebangsaan yang dalam. Di desa-desa dan kampung-kampung, hingga tingkat RT, […]

  • Abu Sa’id al-Khudri dan Surah Al-Fatihah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #24)

    Abu Sa’id al-Khudri dan Surah Al-Fatihah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #24)

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 384
    • 0Komentar

    Nama lengkapnya Sa‘d bin Malik bin Sinan bin ‘Ubayd bin Tha‘labah al-Khazraji al-Anshari. Ia berasal dari suku Khazraj, salah satu dari dua suku besar Anshar di Madinah bersama suku Aus. Karena berasal dari keluarga Bani Khudrah di lingkungan Khazraj, ia dikenal dengan nisbah al-Khudri. Abu Sa’id lahir di Madinah sebelum kedatangan Nabi. Ayahnya, Malik bin […]

expand_less