Breaking News
light_mode
Trending Tags

Al-Khat Seni Rupa Peradaban Islam

  • account_circle Muh. Ersyad Mamonto
  • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
  • visibility 128
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kaligrafi atau dalam Islam biasa dikenal dengan istilah al-khat mempunyai makna yang serupa di antara kedua istilah tersebut yaitu “tulisan indah”. Kaligrafi sangat erat dengan peradaban dunia Islam, selain memang sebagai produk budaya yang digunakan dalam pembakuan mushaf Qur’an, juga adanya pandangan ikonoklasme dalam Islam sehingga menempatkan kaligrafi sebagai sentrum seninya seni rupa Islam.

Ikonoklasme ini merupakan hasil dari warisan monotheis abrahamic sebelumnya (Yahudi dan Kristen) yang dilanjutkan oleh Islam—di Kristen pandangan ini mengalami perubahan secara radikal setelah bertemu dengan kebudayaan Yunani dan Romawi.

Nurcholis Madjid dalam Kaki Langit Peradaban Islam (1997) menguraikan bahwa, ikonoklasme merupakan pandangan tabu pada seni melukis makhluk bernyawa (binatang dan manusia). Hal ini tumbuh kuat dalam Islam sebelum pandangan tentang seni rupa Islam mengalami pembaharuan, terutama dengan pandangan dalam Islam tentang seni rupa yang tidak semata media untuk praktek menyekutukan Tuhan tapi lebih kepada estetikanya.

Ada dua pandangan besar dalam seni : Pertama, seni untuk seni. Yaitu pandangan yang menempatkan seni untuk kepentingan seni. Kedua, seni yang digunakan untuk kepentingan di luar seni. Misalnya, agama atau politik. Seni Islam lebih banyak diarahkan pada pandangan ke dua. Sebab di dalam Islam, segala tindak-laku kahidupan manusia berhubungan dengan  penghambaan kepada Tuhan dan punya konsekuensi jika dianggap beretentangan dengan hak tersebut.

Untuk itu, dalam posisi ini ikonoklasme merupakan bentuk kecurigaan pandangan monoteis terhadap rupa tiga dan dua dimensi yang berpotensi menggugurkan pandangan keesaan.

Adanya pandangan ikonoklasme ini, membuat kehati-hatian atau bahkan cenderung menyerang seni melukis binatang, manusia dan mematung. Sehingga pencarian seni rupa dalam Islam lebih banyak jatuh ke pola tumbuhan atau bentuk geometri ke dalam media yang tersedia. Hal itu biasa disebut dengan istilah arabesk atau bentuk lainnya yaitu kaligrafi.

Penemuan Kaligrafi (sebagai) Seninya, Seni Rupa Islam

Titik pijak kaligrafi sebagai seninya seni rupa Islam ditemukan saat proses kodifikasi Qur’an. Awalnya kaligrafi/al-khat yang berasal dari aksara arab, oleh bangsa arab yang nomaden pada waktu itu tidak terlalu begitu penting secara fungsi maupun estetika. Sebab, masa itu kecenderungan intelektualitas lebih kepada hafalan (tutur) tidak dengan aksara (tulisan).
Setelah Qur’an turun, memungkinkan untuk perubahan intelektualitas di Arab karena menggunakan aksara sebagai media syiar Islam (penyusunan mushaf).

Salah satu karya kaligrafi milik Perupa Gorontalo terletak di sebelah kanan dekat pintu Aula Kantor PWNU Gorontalo/bakukabar.id

Untuk masa sekarang, yang populer dikenal jenis-jenis kaligrafi dalam penulisan Qur’an secara fungsi maupun estetik,  biasa dikenal dengan al-Aqlam as-Sittah, (naskhi, tsuluts, raihani, tauqi’, muhaqaq dan riq’ah).

Harus diakui, awal proses penggunaan kaligrafi secara serius baru sebagai fungsi (penulisan Qur’an) dan masih kesusahan untuk dibaca oleh khlayak umum. Kitab Athlas al-Khath wa al-Khuthûth karya Habibullah Fada’ili yang dikutip Sirajudin A.R (2014) mengemukakan bahwa, masa awal kaligrafi untuk penulisan Qur’an baru digunakan jenis tulisan kufi tanpa tanda baca. Nanti setelah Abu al-Aswad al-Du’ali (w 69 H) dan penerus-penerusnya, kesulitan tersebut dapat teratasi, setelah diberikan tanda baca.

Estetika kaligrafi Islam sejatinya dirumuskan dari formula rasio, bentuk yang sederhana dengan proporsi yang tepat. Contohnya dalam jenis tulisan tsuluts, ada pandangan bahwa susunan huruf ini adalah bentukan dari golden ratio, dimana setiap 1/3 bagian (anatomi huruf) terdapat lengkungan yang proporsional, sehingga hal ini menimbulkan kesan estetika yang tinggi.

Kaligrafi Islam juga mempunyai ciri khas dalam mengukur proporsi setiap anatominya yaitu dengan titik mata pena atau tinggi huruf alif.

Penggunaan proporsi titik atau asas geometri ini dipandu kembali oleh Yaqut al-Musta’simi (w.698 H) dalam proses penetapan al-aqlam as-sittah. Yaqut mengembalikan hukum-hukum sebelumnya, yang ditetapkan oleh Ibn Muqlah dan Ibn Bawwab dikenal, juga dikenal dengan istilah al-Khat al-Mansub (kaligrafi berstandar) (Sirajudin, 2014).

Hingga kini kaligrafi Islam berkembang sangat pesat. Selain dipengaruhi oleh fungsinya dalam menuliskan Qur’an, dengan adanya kompetisi menulis kaligrafi di seluruh dunia melahirkan jenis dan gaya yang lebih kompleks dari sebelumnya.
Di Indonesia sendiri misalnya, seni ini (kaligrafi) ada berbagai jenis kompetisi dalam Musabaqah Khatil Qur’an (MKQ) terangkum dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang diperlombakan.

Dua karya kaligrafi yang berada tepat di pintu masuk Aula Kantor PWNU Gorontalo/bakukabar.id

Di antara yang paling baru adalah jenis lomba kaligrafi kontemporer. Jenis kaligrafi ini tidak lagi terkungkung dengan kebakuan kaidah al-Khat al-Mansub. Sebab kaligrafi jenis ini dipadukan dengan gaya seni rupa pada umumnya, seperti surealis, naturalis, abstrak dll. Sehingga tidak heran anatomi huruf bisa hadir dalam berbagai rupa.

Perkembangan ini secara umum menimbulkan dua pandangan dalam kaligrafi Islam. Pertama hadir sebagai fungsi untuk penulisan Qur’an. Penggunaan al-Khat al-Mansub lebih ditekankan dan lebih banyak dikhususkan pada jenis huruf naskhi dengan alasan mudah dibaca. Kedua, sebagai dekoratif. Misalnya jenis tulisan seperti tsuluts dengan proporsi huruf yang disusun atau ditumpuk, dengan ditambahkan tazinat (hiasan untuk mengisi ruang-ruang yang kosong agar proporsional) membuat tulisan ini lebih cocok sebagai dekorasi karena keindahannya dan susah dibaca.

Jenis kaligrafi yang belakangan muncul seperti kontemporer atau modern art yang membebaskan penggunaan gaya baku, juga membuatnya sulit untuk dibaca dan lebih kepada dekoratif.

Kuatnya arus pandangan kedua, kaligrafi sebagai dekoratif, mengisyaratkan bahwa, seni ini hadir dan berkembang sebagai sentrum seni rupanya Islam. Sebab, keindahan yang dihadirkan bisa dinikmati khalayak umum—karena tidak hanya untuk ibadah. Meski memang kaligrafi masih  berkaitan dengan ekspresi berketuhanan, namun dengan adanya berbagai gaya dan jenis kaligrafi dalam Islam bisa merangkum semua kalangan dan tidak terbatas pada skop agama.

Belakangan juga muncul kaligrafi kontemporer dihadirkan dalam ruang yang lebih progresif. Misalnya karya Mohamad Katili dari Gorontalo, yang memotret kerusakan lingkungan dengan ayat-ayat tentang itu.

Muh. Ersyad Mamonto

Ada dua karya : Pertama dengan judul “Al-Rum 41” (2017), yang memuat tentang keresahan manusia meruntuhkan batas nalar, batas laut dan daratan. Lukisan ini diilustrasikan dengan hutan mangrove yang gundul dengan tangan-tangan manusia yang merusaknya. Kedua, “Bulalo Limutu” (2018) dengan mengutip penggalan surat al-Anbiya ayat 30, yang artinya “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup”.

Lukisan ini memotret danau Limboto yang diwariskan dari generasi ke generasi, yang mengalami perubahan dan kerusakan lambat laun. Katili merupakan lukisan ini dengan relief yang mencatat tahun-tahun beserta keadaan danau limboto tiap-tiap masa dan perubahannya.

Kaligrafi kontemporer Katili ini, bisa dipandang sebagai warna yang lebih segar. Menunjukan optimisme seni rupa Islam yang berkembang pesat, dan peka dengan manusia dan alam. Tidak menutup kemungkinan kaligrafi sebagai seni rupanya Islam bisa menjadi wacana kuat yang lebih progresif dan tidak sekedar fungsinya dalam penulisan Qur’an atau bentuk dekoratif. Hal ini akan mengarahkan arus kaligrafi Islam sebagai seni rupa yang bergerak lebih dinamis.

(Peneliti di Inomasa Study Club)

  • Penulis: Muh. Ersyad Mamonto

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bantuan UEP dan PK Bukan untuk Dikonsumsi

    Bantuan UEP dan PK Bukan untuk Dikonsumsi

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie menegaskan pentingnya pemanfaatan bantuan sosial secara produktif, bukan konsumtif. Hal ini disampaikannya saat menyerahkan bantuan bahan pokok dalam program BLP3G di dua kecamatan di Kabupaten Boalemo, Rabu (2/7/2025). Selain program BLP3G, Idah menjelaskan bahwa Dinas Sosial Provinsi Gorontalo juga memiliki berbagai skema bantuan lainnya, salah satunya adalah Usaha […]

  • Ketua ISNU Gorontalo: NU Harus Jadi Pemain Utama dalam Ekonomi Syariah

    Ketua ISNU Gorontalo: NU Harus Jadi Pemain Utama dalam Ekonomi Syariah

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Gorontalo sekaligus Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, ST., MT., IPU., ASEAN.Eng, menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) harus menjadi pelaku utama dalam pengembangan ekonomi syariah, bukan hanya menjpesadi penonton. Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Eduart saat menjadi narasumber dalam Seminar Manajemen Bisnis bertema “MOU Kementerian Koperasi: […]

  • Kepala BNPB Tinjau Dampak Gempa M 7,6 di Manado, Pastikan Penanganan Darurat Berjalan Optimal

    Kepala BNPB Tinjau Dampak Gempa M 7,6 di Manado, Pastikan Penanganan Darurat Berjalan Optimal

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 212
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Suharyanto, meninjau langsung lokasi terdampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 di Manado, Jumat (3/4/2026). Dalam kunjungannya, Suharyanto meninjau kerusakan bangunan di kawasan Gedung KONI-Hall B serta permukiman warga guna memastikan langkah penanganan darurat telah berjalan optimal. Ia juga berdialog langsung dengan warga terdampak untuk mendengar kesaksian terkait detik-detik gempa […]

  • Yayasan Pendidikan Nulondalo Lipuu Keluarkan Pernyataan Sikap Atas Meninggalnya Mahasiswa UNG dalam Diksar Mapala Butoiyo Nusa

    Yayasan Pendidikan Nulondalo Lipuu Keluarkan Pernyataan Sikap Atas Meninggalnya Mahasiswa UNG dalam Diksar Mapala Butoiyo Nusa

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 102
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dunia pendidikan Gorontalo berduka setelah meninggalnya salah seorang mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG), almarhum Muhammad Jeksen, dalam kegiatan Pendidikan Dasar (Diksar) Mapala Butoiyo Nusa. Menanggapi peristiwa ini, Yayasan Pendidikan Nulondalo Lipuu mengeluarkan pernyataan sikap resmi yang disampaikan langsung oleh Ketua Yayasan, Abdul Kadir Lawero. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Peristiwa ini bukan hanya […]

  • Gubernur Gorontalo Sambut Hangat Kedatangan Jemaah Haji Kloter 28

    Gubernur Gorontalo Sambut Hangat Kedatangan Jemaah Haji Kloter 28

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyambut kepulangan Jemaah Haji Kloter 28 UPG asal Kota Gorontalo yang tiba Selasa, (2/7/2025). Jemaah kembali dengan jumlah utuh 393 orang dan disambut di Asrama Haji. “Alhamdulillah, berangkat 393 dan kembali juga 393. Artinya, dua kemungkinan yang biasa terjadi namun tidak terjadi di kloter ini, tidak ada yang wafat di Tanah […]

  • Alasan Nonjob 95 ASN di Sulbar Diungkap Badan Kepegawaian Negara, Layanan Kepegawaian Diblokir

    Alasan Nonjob 95 ASN di Sulbar Diungkap Badan Kepegawaian Negara, Layanan Kepegawaian Diblokir

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 368
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Humas BKN menyampaikan bahwa sebagai bentuk penegakan tata kelola manajemen ASN, Badan Kepegawaian Negara (BKN) mengambil langkah tegas terhadap kebijakan pembebasan jabatan (nonjob) yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat. Tercatat sebanyak 95 aparatur sipil negara (ASN) terdampak kebijakan tersebut, terdiri dari 51 Pejabat Administrator dan 44 Pejabat Pengawas yang dibebaskan dari jabatan strukturalnya. […]

expand_less