Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tubuh sebagai Ruang Iman, Pengetahuan dan Penyembuhan

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Senin, 1 Des 2025
  • visibility 210
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Membaca Ketegangan Agama, Kesehatan Modern, Dan Pengobatan Tradisional dengan perspektif Moderasi Beragama.

Mungkinkah gagasan moderasi beragama digunakan untuk membaca ilmu kesehatan? Saya menjawabnya, mungkin. Dengan segala kehati-hatian agar tidak terkesan memaksakan.

Ruang perjumpaan agama dan ilmu kesehatan adalah tubuh. Sebagaimana ilmu kesahatan, agama juga berbicara tentang tubuh. Bagaimana tubuh dirawat, disembuhkan, dilindungi, bahkan dimuliakan. Tubuh bukan sekadar ciptaan biologis; ia adalah amanah, anugerah, dan ruang tempat manusia mengalami spritualitas dan prophan melalui rasa sakit dan rasa sembuh.

Ilmu kesehatan modern sering memandang tubuh sebagai mekanisme. Agama melihat tubuh sebagai ciptaan. Pengobatan lokal melihat tubuh sebagai bagian dari alam. Masing-masing benar, tetapi masing-masing juga hanya sepotong. Ketika satu perspektif merasa paling benar, di situlah masalahnya dimulai. Pengobatan lokal disebut klenik. Ritual dianggap bid’ah. Doa diperlakukan seolah tidak punya fungsi apa pun selain spiritual belaka. Padahal manusia tidak hidup di dalam pembagian-pembagian itu; manusia hidup di tengah hubungan-hubungan yang saling mempengaruhi.

Dalam tradisi keagamaan, penyembuhan tidak pernah hanya urusan obat. Ia terkait dengan niat, dengan keberkahan, dengan pasrah, dengan hubungan seseorang dengan dirinya dan Tuhannya. Karena itu ada doa penyembuhan, air berkah, sedekah sebagai penolak bala, bahkan anjuran menjaga makanan sebagai bentuk ibadah. Sementara sains modern menggenapi semua itu dengan alat diagnosis, obat, teknologi, dan metode yang ketat. Dua dunia ini sesungguhnya tidak perlu saling meniadakan; keduanya bekerja untuk tujuan yang sama: menjaga hidup.

Masalah muncul ketika agama modern dan kesehatan modern membangun aliansi diam-diam dalam satu hal yang sama: kebutuhan akan kepastian mutlak. Apa yang tidak bisa diukur dianggap salah. Apa yang tidak masuk tafsir resmi dianggap sesat. Dan di antara keduanya, pengalaman manusia terjepit: ia tidak diberi ruang untuk percaya bahwa ada kesembuhan yang bekerja melalui dimensi batin, atau melalui relasi sosial, atau melalui ritual yang diwariskan turun-temurun.

Padahal banyak ritual keagamaan—yang oleh sebagian orang dianggap bid’ah—secara sosial justru berfungsi sebagai distribusi gizi. Ada makanan yang dibagikan, sedekah yang diberikan, dan kebersamaan yang dibangun. Mungkin orang tidak menyebutnya program kesehatan masyarakat, tetapi ia bekerja seperti itu: memperkuat imun melalui makanan, dukungan sosial, dan rasa aman emosional.

Temuan riset Masaru Emoto tentang air, sebagai unsur terbesar tubuh manusia, dapat merespons kata-kata, niat, dan doa menjadi relevan dalam konteks ini. Terlepas dari kelemahan metodologinya, gagasan Emoto menyinggung sesuatu yang secara spiritual telah lama dipahami masyarakat lokak: bahwa doa tidak hanya naik ke langit, tetapi juga kembali ke tubuh. Kata-kata yang baik menenangkan hati, dan hati yang tenang mengubah cara tubuh bekerja. Dan, air bisa menjadi mediumnya.

Inilah ruang di mana moderasi beragama menjadi jembatan. Bukan jembatan kompromi, tetapi jembatan pengertian. Moderasi membantu melihat bahwa kesehatan bukan hanya tentang apa yang terjadi di dalam darah dan organ, tetapi juga apa yang terjadi di dalam makna. Bahwa obat bekerja, tetapi begitu juga harapan. Bahwa antibiotik penting, tetapi begitu juga kehadiran orang yang dicintai. Bahwa rumah sakit diperlukan, tetapi begitu juga komunitas yang saling menjaga.

Dalam bahasa agama, tubuh dipahami sebagai tanda. Dalam bahasa sains, tubuh dipahami sebagai sistem. Dalam bahasa tradisi, tubuh dipahami sebagai bagian dari lingkungan. Moderasi beragama mengajak semua bahasa ini berbicara tanpa saling menenggelamkan. Ia tidak membubarkan perbedaan, tetapi memberi masing-masing ruang untuk duduk, mendengarkan, dan memberi makna.

Kesehatan modern dapat menyelamatkan nyawa, tetapi agama menyimpan cara untuk menjaga harapan. Pengobatan lokal menyimpan ingatan ekologis yang tidak dimiliki laboratorium, sementara sains menyimpan ketepatan yang tidak dimiliki tradisi. Ketika semuanya dipertemukan, tubuh manusia bukan lagi objek perebutan kebenaran, tetapi ruang perjumpaan iman, pengetahuan, dan pengalaman.

Mungkin, itulah inti paling sederhana dari moderasi beragama dalam dunia kesehatan: bahwa tidak ada satu jalan tunggal menuju penyembuhan. Penyembuhan tumbuh dari banyak sumber—dari obat, dari doa, dari perhatian, dari tradisi, dari teknologi, dari alam. Dari apa yang bisa diukur, dan dari apa yang hanya bisa dirasakan.

Moderasi beragama mengembalikan kita pada kerendahan hati di hadapan tubuh. Bahwa tubuh bukan milik sains, bukan milik agama, bukan milik tradisi. Tubuh adalah milik kehidupan itu sendiri.

(Penulis adalah Jamaah GUSDURian tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie
  • Editor: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Formatur Ketua Umum Karang Taruna Desa Majannang Desak Aparat Usut Tuntas Dugaan Pencabulan Anak, Minta Penanganan Transparan

    Formatur Ketua Umum Karang Taruna Desa Majannang Desak Aparat Usut Tuntas Dugaan Pencabulan Anak, Minta Penanganan Transparan

    • calendar_month Minggu, 26 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 269
    • 0Komentar

    Nulondalo.Com, MAROS – Dugaan tindak pidana kekerasan seksual terhadap seorang anak di bawah umur yang diduga terjadi di Dusun Taipa, Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, menjadi perhatian masyarakat. Informasi mengenai dugaan kasus tersebut telah berkembang di tengah warga selama beberapa pekan. Berdasarkan informasi yang beredar, korban disebut telah menjalani proses visum sebagai bagian […]

  • Janji Plasma yang Tertunda: Mengurai Polemik Petani dan Tanggung Jawab Perusahaan di Pohuwato

    Janji Plasma yang Tertunda: Mengurai Polemik Petani dan Tanggung Jawab Perusahaan di Pohuwato

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Tri Gunawan Sidiki
    • visibility 1.142
    • 0Komentar

    Aksi damai yang dilakukan oleh masyarakat petani plasma desa binaan di wilayah barat Kabupaten Pohuwato bukan sekadar ekspresi kekecewaan, melainkan cermin dari kesabaran panjang yang mulai mencapai batasnya. Di tengah ketidakpastian yang telah berlangsung hampir satu dekade, masyarakat tetap memilih jalan yang bermartabat untuk menyuarakan haknya. Ini adalah bentuk kedewasaan sosial yang patut diapresiasi, sekaligus […]

  • Gelar Konsolidasi, Gus Yayan Optimis Kader PKB Gorontalo Duduki Posisi Strategis 2029

    Gelar Konsolidasi, Gus Yayan Optimis Kader PKB Gorontalo Duduki Posisi Strategis 2029

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Gorontalo, menggelar sosialisasi hasil Muktamar PKB Tahun 2024 serta Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Simpel dan SMS PKB di Hotel Grand Q, Kota Gorontalo, 15/02/25. Dalam sambutannya, Ketua DPW PKB Gorontalo Muhammad Dzikyan menegaskan, bahwa PKB terus bergerak maju untuk menjadikan partai ini sebagai kekuatan politik modern, […]

  • Program Bergizi? Coba Tanyakan ke 20 Ribu Siswa Keracunan

    Program Bergizi? Coba Tanyakan ke 20 Ribu Siswa Keracunan

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 247
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijanjikan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ternyata menimbulkan persoalan serius. Sejak diluncurkan pada Januari 2025, ribuan siswa di berbagai daerah mengalami keracunan akibat menu MBG yang banyak menggunakan makanan olahan (Ultra Processed Food/UPF). Hingga 23 Desember 2025, korban keracunan tercatat mencapai lebih dari […]

  • Gelar Pengukuhan, Indonesia Menuju Pusat Ulama Dunia melalui PKUMI

    Gelar Pengukuhan, Indonesia Menuju Pusat Ulama Dunia melalui PKUMI

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 180
    • 0Komentar

    Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) kembali mencatat sejarah penting dalam mencetak generasi ulama berwawasan global. Pada momentum penuh khidmat ini, PKUMI secara resmi mengukuhkan para kader ulama yang terdiri dari 18 mahasiswa program S3, 32 mahasiswa program S2, serta 32 mahasiswa program S2 PKUP. Para peserta berasal dari berbagai penjuru Nusantara, mencerminkan kekayaan budaya, […]

  • KNPI Bone Bolango Gelar Rembuk Pemuda : Dorong Kolaborasi Membangun Daerah

    KNPI Bone Bolango Gelar Rembuk Pemuda : Dorong Kolaborasi Membangun Daerah

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 258
    • 0Komentar

    Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bone Bolango menggelar Rembuk Pemuda bertema “Kolaborasi Pemuda dalam Membangun Daerah” pada Sabtu, (15/11/2025) , di Resto Onato by Swiss 18. Kegiatan ini menjadi ruang temu dan dialog bagi berbagai elemen pemuda untuk memperkuat peran strategis mereka dalam pembangunan daerah. Rembuk pemuda tersebut dihadiri oleh seluruh unsur kepemudaan, mulai […]

expand_less