Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tubuh sebagai Ruang Iman, Pengetahuan dan Penyembuhan

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Senin, 1 Des 2025
  • visibility 166
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Membaca Ketegangan Agama, Kesehatan Modern, Dan Pengobatan Tradisional dengan perspektif Moderasi Beragama.

Mungkinkah gagasan moderasi beragama digunakan untuk membaca ilmu kesehatan? Saya menjawabnya, mungkin. Dengan segala kehati-hatian agar tidak terkesan memaksakan.

Ruang perjumpaan agama dan ilmu kesehatan adalah tubuh. Sebagaimana ilmu kesahatan, agama juga berbicara tentang tubuh. Bagaimana tubuh dirawat, disembuhkan, dilindungi, bahkan dimuliakan. Tubuh bukan sekadar ciptaan biologis; ia adalah amanah, anugerah, dan ruang tempat manusia mengalami spritualitas dan prophan melalui rasa sakit dan rasa sembuh.

Ilmu kesehatan modern sering memandang tubuh sebagai mekanisme. Agama melihat tubuh sebagai ciptaan. Pengobatan lokal melihat tubuh sebagai bagian dari alam. Masing-masing benar, tetapi masing-masing juga hanya sepotong. Ketika satu perspektif merasa paling benar, di situlah masalahnya dimulai. Pengobatan lokal disebut klenik. Ritual dianggap bid’ah. Doa diperlakukan seolah tidak punya fungsi apa pun selain spiritual belaka. Padahal manusia tidak hidup di dalam pembagian-pembagian itu; manusia hidup di tengah hubungan-hubungan yang saling mempengaruhi.

Dalam tradisi keagamaan, penyembuhan tidak pernah hanya urusan obat. Ia terkait dengan niat, dengan keberkahan, dengan pasrah, dengan hubungan seseorang dengan dirinya dan Tuhannya. Karena itu ada doa penyembuhan, air berkah, sedekah sebagai penolak bala, bahkan anjuran menjaga makanan sebagai bentuk ibadah. Sementara sains modern menggenapi semua itu dengan alat diagnosis, obat, teknologi, dan metode yang ketat. Dua dunia ini sesungguhnya tidak perlu saling meniadakan; keduanya bekerja untuk tujuan yang sama: menjaga hidup.

Masalah muncul ketika agama modern dan kesehatan modern membangun aliansi diam-diam dalam satu hal yang sama: kebutuhan akan kepastian mutlak. Apa yang tidak bisa diukur dianggap salah. Apa yang tidak masuk tafsir resmi dianggap sesat. Dan di antara keduanya, pengalaman manusia terjepit: ia tidak diberi ruang untuk percaya bahwa ada kesembuhan yang bekerja melalui dimensi batin, atau melalui relasi sosial, atau melalui ritual yang diwariskan turun-temurun.

Padahal banyak ritual keagamaan—yang oleh sebagian orang dianggap bid’ah—secara sosial justru berfungsi sebagai distribusi gizi. Ada makanan yang dibagikan, sedekah yang diberikan, dan kebersamaan yang dibangun. Mungkin orang tidak menyebutnya program kesehatan masyarakat, tetapi ia bekerja seperti itu: memperkuat imun melalui makanan, dukungan sosial, dan rasa aman emosional.

Temuan riset Masaru Emoto tentang air, sebagai unsur terbesar tubuh manusia, dapat merespons kata-kata, niat, dan doa menjadi relevan dalam konteks ini. Terlepas dari kelemahan metodologinya, gagasan Emoto menyinggung sesuatu yang secara spiritual telah lama dipahami masyarakat lokak: bahwa doa tidak hanya naik ke langit, tetapi juga kembali ke tubuh. Kata-kata yang baik menenangkan hati, dan hati yang tenang mengubah cara tubuh bekerja. Dan, air bisa menjadi mediumnya.

Inilah ruang di mana moderasi beragama menjadi jembatan. Bukan jembatan kompromi, tetapi jembatan pengertian. Moderasi membantu melihat bahwa kesehatan bukan hanya tentang apa yang terjadi di dalam darah dan organ, tetapi juga apa yang terjadi di dalam makna. Bahwa obat bekerja, tetapi begitu juga harapan. Bahwa antibiotik penting, tetapi begitu juga kehadiran orang yang dicintai. Bahwa rumah sakit diperlukan, tetapi begitu juga komunitas yang saling menjaga.

Dalam bahasa agama, tubuh dipahami sebagai tanda. Dalam bahasa sains, tubuh dipahami sebagai sistem. Dalam bahasa tradisi, tubuh dipahami sebagai bagian dari lingkungan. Moderasi beragama mengajak semua bahasa ini berbicara tanpa saling menenggelamkan. Ia tidak membubarkan perbedaan, tetapi memberi masing-masing ruang untuk duduk, mendengarkan, dan memberi makna.

Kesehatan modern dapat menyelamatkan nyawa, tetapi agama menyimpan cara untuk menjaga harapan. Pengobatan lokal menyimpan ingatan ekologis yang tidak dimiliki laboratorium, sementara sains menyimpan ketepatan yang tidak dimiliki tradisi. Ketika semuanya dipertemukan, tubuh manusia bukan lagi objek perebutan kebenaran, tetapi ruang perjumpaan iman, pengetahuan, dan pengalaman.

Mungkin, itulah inti paling sederhana dari moderasi beragama dalam dunia kesehatan: bahwa tidak ada satu jalan tunggal menuju penyembuhan. Penyembuhan tumbuh dari banyak sumber—dari obat, dari doa, dari perhatian, dari tradisi, dari teknologi, dari alam. Dari apa yang bisa diukur, dan dari apa yang hanya bisa dirasakan.

Moderasi beragama mengembalikan kita pada kerendahan hati di hadapan tubuh. Bahwa tubuh bukan milik sains, bukan milik agama, bukan milik tradisi. Tubuh adalah milik kehidupan itu sendiri.

(Penulis adalah Jamaah GUSDURian tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie
  • Editor: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Veteran Marinir Protes di Sidang Senat AS, Insiden Pengamanan Picu Perdebatan

    Veteran Marinir Protes di Sidang Senat AS, Insiden Pengamanan Picu Perdebatan

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 240
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sebuah insiden terjadi dalam sidang Senate Armed Services Committee di Washington D.C. pada 4 Maret 2026, ketika seorang veteran Marinir Amerika Serikat, Brian McGinnis, melakukan aksi protes terkait kemungkinan keterlibatan militer Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran. Dalam sidang tersebut, McGinnis berdiri dan meneriakkan penolakan terhadap potensi perang yang menurutnya dipicu oleh dukungan […]

  • Satgas Damai Cartenz Tangani Kasus Kekerasan di Paniai, Korban Dirawat Intensif

    Satgas Damai Cartenz Tangani Kasus Kekerasan di Paniai, Korban Dirawat Intensif

    • calendar_month Sabtu, 4 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 208
    • 0Komentar

    nulondalo.com–  Satgas Operasi Damai Cartenz bergerak cepat menangani kasus kekerasan terhadap seorang warga di Kali Enaro, Kampung Ekaitadi, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai, Jumat (3/4/2026). Korban berinisial S (55), yang berprofesi sebagai pengemudi ojek, ditemukan dalam kondisi terluka sekitar pukul 15.20 WIT oleh petugas kepolisian yang melintas di lokasi kejadian. Petugas bersama warga setempat segera […]

  • APPLI Sulteng Kecewa, Nasib Warga Pagimana Terkatung di Tangan Anwar Hafid

    APPLI Sulteng Kecewa, Nasib Warga Pagimana Terkatung di Tangan Anwar Hafid

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 445
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Aliansi Pemuda Peduli Lingkungan (APPLI) Sulawesi Tengah kembali menyoroti sikap dan perhatian Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, terhadap praktik pertambangan nikel yang dinilai bermasalah di Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai. Ketua APPLI Sulteng, Aulia Hakim, mengungkapkan kekecewaan masyarakat terhadap belum adanya tindak lanjut dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah atas rekomendasi DPRD Sulteng terkait konflik […]

  • Kecaman terhadap Lemahnya Kualitas Pengerjaan Jalan Trans Sulawesi di Kabupaten Maros

    Kecaman terhadap Lemahnya Kualitas Pengerjaan Jalan Trans Sulawesi di Kabupaten Maros

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 221
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — M. Arafah Alias Arpah, dari PP HPPMI Maros, menyampaikan keprihatinan serius sekaligus kecaman tegas terhadap kondisi Jalan Trans Sulawesi di wilayah Kabupaten Maros yang hingga saat ini terus mengalami kerusakan berulang, meskipun telah dilakukan penanganan oleh pihak terkait. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sejumlah titik jalan yang sebelumnya berlubang telah dilakukan penambalan, […]

  • Presiden Prabowo Dijadwalkan Hadiri Puncak PENAS Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo

    Presiden Prabowo Dijadwalkan Hadiri Puncak PENAS Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Valdi Pontoh
    • visibility 87
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dijadwalkan menghadiri puncak pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan ke-XVII yang akan berlangsung di Kabupaten Gorontalo pada 24 Juni 2026. Kepastian jadwal tersebut diperoleh setelah panitia pusat, panitia provinsi, dan panitia kabupaten menggelar rapat koordinasi bersama pada Kamis (11/6/2026). Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, menjelaskan bahwa rangkaian PENAS […]

  • Pasal Larangan Komunisme dan Marxisme dalam KUHP Baru Tuai Perhatian

    Pasal Larangan Komunisme dan Marxisme dalam KUHP Baru Tuai Perhatian

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 281
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Ketentuan mengenai larangan ajaran Komunisme dan Marxisme dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru kembali menjadi perhatian publik. Aturan tersebut tercantum dalam Pasal 188 KUHP, yang melarang setiap orang mengajarkan, menyebarkan, serta mengembangkan ajaran Komunisme, Marxisme, dan Leninisme dalam bentuk apa pun. Dalam pasal tersebut, pelanggaran terhadap ketentuan dimaksud dapat dikenai ancaman pidana […]

expand_less