Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tubuh sebagai Ruang Iman, Pengetahuan dan Penyembuhan

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Senin, 1 Des 2025
  • visibility 187
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Membaca Ketegangan Agama, Kesehatan Modern, Dan Pengobatan Tradisional dengan perspektif Moderasi Beragama.

Mungkinkah gagasan moderasi beragama digunakan untuk membaca ilmu kesehatan? Saya menjawabnya, mungkin. Dengan segala kehati-hatian agar tidak terkesan memaksakan.

Ruang perjumpaan agama dan ilmu kesehatan adalah tubuh. Sebagaimana ilmu kesahatan, agama juga berbicara tentang tubuh. Bagaimana tubuh dirawat, disembuhkan, dilindungi, bahkan dimuliakan. Tubuh bukan sekadar ciptaan biologis; ia adalah amanah, anugerah, dan ruang tempat manusia mengalami spritualitas dan prophan melalui rasa sakit dan rasa sembuh.

Ilmu kesehatan modern sering memandang tubuh sebagai mekanisme. Agama melihat tubuh sebagai ciptaan. Pengobatan lokal melihat tubuh sebagai bagian dari alam. Masing-masing benar, tetapi masing-masing juga hanya sepotong. Ketika satu perspektif merasa paling benar, di situlah masalahnya dimulai. Pengobatan lokal disebut klenik. Ritual dianggap bid’ah. Doa diperlakukan seolah tidak punya fungsi apa pun selain spiritual belaka. Padahal manusia tidak hidup di dalam pembagian-pembagian itu; manusia hidup di tengah hubungan-hubungan yang saling mempengaruhi.

Dalam tradisi keagamaan, penyembuhan tidak pernah hanya urusan obat. Ia terkait dengan niat, dengan keberkahan, dengan pasrah, dengan hubungan seseorang dengan dirinya dan Tuhannya. Karena itu ada doa penyembuhan, air berkah, sedekah sebagai penolak bala, bahkan anjuran menjaga makanan sebagai bentuk ibadah. Sementara sains modern menggenapi semua itu dengan alat diagnosis, obat, teknologi, dan metode yang ketat. Dua dunia ini sesungguhnya tidak perlu saling meniadakan; keduanya bekerja untuk tujuan yang sama: menjaga hidup.

Masalah muncul ketika agama modern dan kesehatan modern membangun aliansi diam-diam dalam satu hal yang sama: kebutuhan akan kepastian mutlak. Apa yang tidak bisa diukur dianggap salah. Apa yang tidak masuk tafsir resmi dianggap sesat. Dan di antara keduanya, pengalaman manusia terjepit: ia tidak diberi ruang untuk percaya bahwa ada kesembuhan yang bekerja melalui dimensi batin, atau melalui relasi sosial, atau melalui ritual yang diwariskan turun-temurun.

Padahal banyak ritual keagamaan—yang oleh sebagian orang dianggap bid’ah—secara sosial justru berfungsi sebagai distribusi gizi. Ada makanan yang dibagikan, sedekah yang diberikan, dan kebersamaan yang dibangun. Mungkin orang tidak menyebutnya program kesehatan masyarakat, tetapi ia bekerja seperti itu: memperkuat imun melalui makanan, dukungan sosial, dan rasa aman emosional.

Temuan riset Masaru Emoto tentang air, sebagai unsur terbesar tubuh manusia, dapat merespons kata-kata, niat, dan doa menjadi relevan dalam konteks ini. Terlepas dari kelemahan metodologinya, gagasan Emoto menyinggung sesuatu yang secara spiritual telah lama dipahami masyarakat lokak: bahwa doa tidak hanya naik ke langit, tetapi juga kembali ke tubuh. Kata-kata yang baik menenangkan hati, dan hati yang tenang mengubah cara tubuh bekerja. Dan, air bisa menjadi mediumnya.

Inilah ruang di mana moderasi beragama menjadi jembatan. Bukan jembatan kompromi, tetapi jembatan pengertian. Moderasi membantu melihat bahwa kesehatan bukan hanya tentang apa yang terjadi di dalam darah dan organ, tetapi juga apa yang terjadi di dalam makna. Bahwa obat bekerja, tetapi begitu juga harapan. Bahwa antibiotik penting, tetapi begitu juga kehadiran orang yang dicintai. Bahwa rumah sakit diperlukan, tetapi begitu juga komunitas yang saling menjaga.

Dalam bahasa agama, tubuh dipahami sebagai tanda. Dalam bahasa sains, tubuh dipahami sebagai sistem. Dalam bahasa tradisi, tubuh dipahami sebagai bagian dari lingkungan. Moderasi beragama mengajak semua bahasa ini berbicara tanpa saling menenggelamkan. Ia tidak membubarkan perbedaan, tetapi memberi masing-masing ruang untuk duduk, mendengarkan, dan memberi makna.

Kesehatan modern dapat menyelamatkan nyawa, tetapi agama menyimpan cara untuk menjaga harapan. Pengobatan lokal menyimpan ingatan ekologis yang tidak dimiliki laboratorium, sementara sains menyimpan ketepatan yang tidak dimiliki tradisi. Ketika semuanya dipertemukan, tubuh manusia bukan lagi objek perebutan kebenaran, tetapi ruang perjumpaan iman, pengetahuan, dan pengalaman.

Mungkin, itulah inti paling sederhana dari moderasi beragama dalam dunia kesehatan: bahwa tidak ada satu jalan tunggal menuju penyembuhan. Penyembuhan tumbuh dari banyak sumber—dari obat, dari doa, dari perhatian, dari tradisi, dari teknologi, dari alam. Dari apa yang bisa diukur, dan dari apa yang hanya bisa dirasakan.

Moderasi beragama mengembalikan kita pada kerendahan hati di hadapan tubuh. Bahwa tubuh bukan milik sains, bukan milik agama, bukan milik tradisi. Tubuh adalah milik kehidupan itu sendiri.

(Penulis adalah Jamaah GUSDURian tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie
  • Editor: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polemik P-BMR Kian Memanas, Ersad Mamonto Soroti Epistemik dan Kuasa, KNPI Boltara Ancam Gabung Gorontalo

    Polemik P-BMR Kian Memanas, Ersad Mamonto Soroti Epistemik dan Kuasa, KNPI Boltara Ancam Gabung Gorontalo

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 370
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Isu pembentukan Provinsi Bolaang Mongondow Raya (P-BMR) kembali memantik perdebatan tajam di Sulawesi Utara. Setelah Muhamad Ersad Mamonto menyampaikan kritik konseptual terhadap fondasi historis dan relasi kuasa dalam wacana P-BMR, penolakan keras juga datang dari Ketua KNPI Bolaang Mongondow Utara (Boltara), Donal Palandi. Dalam responsnya terhadap tulisan Tyo Mokoagow berjudul: “Dekonstruksi PBMR”, Ersad […]

  • GUSDURian Ternate Mendukung Perjuangan Perempuan Pada Moment International Women’s Day 2025

    GUSDURian Ternate Mendukung Perjuangan Perempuan Pada Moment International Women’s Day 2025

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Nulondalo – Hari Internasional Perempuan (International Women’s Day / IWD) yang diperingati setiap 8 Maret menjadi pengingat bahwa perjuangan hak perempuan masih panjang. Tahun ini, IWD 2025 mengusung tema “Aksi Akselerasi”, yang menekankan percepatan pencapaian kesetaraan gender, terutama dalam ranah politik. Suwarno Djabar, Koordinator Gusdurian Ternate, menilai bahwa sejak IWD pertama kali diperingati pada 1911, […]

  • Komisi II DPRD Maros Minta Pemkab Optimalkan Capaian PBB-P2 Yang Dinilai Masih Rendah

    Komisi II DPRD Maros Minta Pemkab Optimalkan Capaian PBB-P2 Yang Dinilai Masih Rendah

    • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros — Menjelang berakhirnya tahun anggaran 2025, anggota Komisi II DPRD Maros, Arie Anugrah, mendesak Pemerintah Kabupaten Maros untuk lebih serius menggenjot pelunasan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2). Saat ini, realisasi pembayaran masih berada pada angka 84 persen, sementara waktu yang tersisa untuk menutup tahun hanya tinggal hitungan pekan. Arie menyebut […]

  • Momen Penuh Makna! Doa Bado Ketupat Jadi Pembuka Tradisi Lebaran Ketupat di Gorontalo

    Momen Penuh Makna! Doa Bado Ketupat Jadi Pembuka Tradisi Lebaran Ketupat di Gorontalo

    • calendar_month Minggu, 29 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 388
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tradisi Lebaran Ketupat di kawasan Kampung Jawa, Kabupaten Gorontalo, resmi dimulai dengan pelaksanaan doa Bado Ketupat yang berlangsung khidmat di Masjid Al Muttaqin, Sabtu (28/03/2026). Prosesi religius ini dihadiri langsung oleh Sofyan Puhi, didampingi Tonny S. Junus serta Sugondo Makmur. Kehadiran para pimpinan daerah ini menjadi simbol dukungan pemerintah terhadap pelestarian tradisi yang […]

  • Habis Gelap Ada yang Belum Terang: Kartini, Emansipasi dan Ilusi Kolonial

    Habis Gelap Ada yang Belum Terang: Kartini, Emansipasi dan Ilusi Kolonial

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 151
    • 0Komentar

    “Ibu Kita Kartini, putri sejati, wanita yang mulia dan harum namanya.” Begitulah yang terpatri di benak para anak-anak sekolah.  Lagunya kerap didendangkan, hari lahirnya ditetapkan sebagai emansipasi wanita dan kiprahnya dijadikan patokan gerakan perempuan di Indonesia.  Setiap tanggal 21 April, Kartini dan narasi tentangnya dilantangkan kembali. Kalau anda hidup dan sudah bisa memahami situasi pada masa orde […]

  • Video Diduga Libatkan Oknum Aleg Kabgor Viral, PKB Siapkan Sanksi Tegas

    Video Diduga Libatkan Oknum Aleg Kabgor Viral, PKB Siapkan Sanksi Tegas

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 183
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sebuah video yang diduga melibatkan oknum anggota legislatif Kabupaten Gorontalo dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kembali beredar dan viral di media sosial pada Februari 2026. Video tersebut disebut-sebut merupakan rekaman lama yang diunggah ulang hingga memicu sorotan publik. Dalam cuplikan yang beredar, terlihat seorang pria yang diduga anggota DPRD Kabupaten Gorontalo tengah melakukan […]

expand_less