Abdullah bin Salam: Seorang Rabbi yang Mengenali Kebenaran (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #23)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
- visibility 118
- print Cetak

Ilustrasi suasana di Madinah ketika Abdullah bin Salam, seorang rabbi Yahudi yang dikenal alim dan dihormati kaumnya, menyatakan keislamannya setelah bertemu Nabi Muhammad. Keputusan tersebut membuat sebagian tokoh Yahudi yang sebelumnya memujinya berubah sikap dan menolaknya.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam riwayat yang disebutkan dalam Sunan al-Tirmidzi, Abdullah bin Salam menceritakan kesan pertamanya ketika melihat Nabi Muhammad. Ia mengatakan bahwa ketika wajah Nabi terlihat olehnya, ia segera merasa bahwa wajah itu bukan wajah seorang pendusta. Kesan pertama itu meninggalkan pengaruh yang kuat dalam dirinya.
Pada kesempatan itu pula Nabi menyampaikan beberapa nasihat kepada orang-orang yang berkumpul. Di antara kalimat yang terkenal dari khutbah awal Nabi di Madinah adalah ajakan untuk menyebarkan salam, memberi makan orang lain, menjaga hubungan kekerabatan, dan melaksanakan salat pada malam hari ketika orang lain sedang tidur. Nasihat itu sederhana tetapi memiliki kedalaman moral yang kuat.
Abdullah bin Salam kemudian menemui Nabi secara pribadi. Ia mengajukan beberapa pertanyaan yang menurutnya hanya dapat dijawab oleh seorang nabi. Dalam riwayat yang terdapat dalam Sahih al-Bukhari, ia menanyakan tiga hal: tanda pertama hari kiamat, makanan pertama yang akan dimakan oleh penghuni surga, dan sebab kemiripan anak dengan ayah atau ibunya.
Nabi Muhammad menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Setelah mendengar jawaban itu, Abdullah bin Salam menyatakan keislamannya. Ia mengakui bahwa penjelasan tersebut sesuai dengan pengetahuan yang ia temukan dalam tradisi kitab yang ia pelajari sebelumnya.
Namun Abdullah bin Salam mengetahui bahwa kaumnya mungkin tidak akan menerima keputusannya dengan mudah. Ia meminta Nabi memanggil para tokoh Yahudi Madinah dan menanyakan pendapat mereka tentang dirinya sebelum mereka mengetahui bahwa ia telah memeluk Islam.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar