Akademisi dan Ulama Soroti Pengadaan MacBook Rp25 Juta untuk Anggota DPRD Gorontalo
- account_circle Redaksi Nulondalo
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 56
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Meski demikian, penjelasan tersebut belum sepenuhnya meredam kritik publik.
Sejumlah kalangan menilai bahwa pengadaan perangkat dengan nilai anggaran yang relatif besar perlu dipertimbangkan secara lebih matang, terutama jika dikaitkan dengan kondisi ekonomi masyarakat dan semangat efisiensi belanja pemerintah yang saat ini tengah digaungkan secara nasional.
Salah satu kritik datang dari akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo, Eka Putra Santoso. Melalui pernyataannya, ia mempertanyakan urgensi penggunaan MacBook Air sebagai perangkat kerja anggota DPRD.
“Ini serius? MacBook untuk DPRD sebenarnya buat apa? Mau buat jurnal ilmiah? Atau? Nda bisa apa pakai duit pribadi? Kan gajinya besar,” tulis Eka.
Menurutnya, pengadaan tersebut berpotensi menimbulkan kesan adanya kesenjangan antara fasilitas yang diperoleh pejabat publik dengan kondisi para pekerja di sektor pendidikan yang harus berupaya sendiri untuk memenuhi kebutuhan perangkat kerja mereka.
Dosen Politik Islam ini membandingkan situasi yang dialami banyak dosen dan guru yang harus menabung bahkan mencicil untuk membeli laptop yang digunakan dalam menjalankan tugas akademik maupun administrasi sehari-hari.
“Kalau begini, tukaran jo, kami buat perda, DPRD buat jurnal ilmiah. Mampu bos?” sindirnya.
Pernyataan itu kemudian mendapat perhatian luas di media sosial dan menjadi bagian dari diskusi publik mengenai prioritas penggunaan anggaran daerah.
Sorotan serupa datang dari kalangan ulama. Ulama Gorontalo, KH. Abdullah Aniq Nawawi, menilai bahwa pemilihan merek dan spesifikasi laptop dengan harga relatif tinggi kurang tepat dilakukan pada saat masyarakat masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi.
- Penulis: Redaksi Nulondalo
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar