Antara Tadarus dan Transferan
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month 20 jam yang lalu
- visibility 68
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./ Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan selalu menghadirkan dua hal yang paling ditunggu umat beriman Indonesia: pahala berlipat dan THR berlipat harap. Di satu sisi, kita khusyuk membaca ayat-ayat suci, di sisi lain kita khusyuk membuka aplikasi mobile banking. Antara doa dan dompet, antara tadarus dan transferan di situlah drama “THR vs Taqwa” dimulai.
THR, atau Tunjangan Hari Raya, secara akuntansi adalah kewajiban jangka pendek pemberi kerja yang harus diakui sebelum jatuh tempo Lebaran. Secara psikologis, ia adalah harapan jangka panjang keluarga. Begitu notifikasi masuk, wajah yang tadinya teduh karena puasa mendadak bercahaya seperti laporan keuangan yang baru saja diaudit tanpa temuan.
Namun pertanyaannya sederhana: apakah THR memperkuat taqwa, atau justru menggoyangnya? Dalam perspektif akuntansi, setiap tambahan penghasilan adalah potensi arus kas masuk (cash inflow). Tetapi dalam perspektif tasawuf ala pesantren, setiap tambahan rezeki adalah potensi ujian. Di sinilah kita belajar bahwa laporan laba rugi belum tentu sejalan dengan laporan amal rugi.
Humor ala Nahdlatul Ulama mengajarkan kita satu hal penting: hidup ini jangan terlalu tegang, nanti seperti neraca yang tidak balance—tekanan darah naik. Seperti dawuh almarhum Gus Dur, “Tuhan tidak perlu dibela.” Mungkin kalau konteksnya THR, beliau akan bilang, “Taqwa tidak perlu ditunggu cair.”
Fenomena yang sering terjadi adalah sindrom “euforia likuiditas.” Begitu THR cair, tiba-tiba semua kebutuhan tampak darurat: baju baru syar’i edisi limited, kue kering yang harganya seperti saham blue chip, hingga tiket mudik yang lebih fluktuatif dari kurs rupiah. Dalam teori perilaku akuntansi, ini disebut bias konsumtif musiman. Dalam bahasa ibu-ibu komplek: “Mumpung ada.”
Padahal Ramadhan adalah bulan pengendalian diri. Ironis jika selama 29 hari kita mampu menahan lapar dan dahaga, tetapi tumbang hanya dalam 29 menit di marketplace. Di sinilah THR berhadapan langsung dengan taqwa. Satu mengajak belanja, satu mengajak muhasabah.
Secara normatif, THR semestinya menjadi instrumen keberkahan sosial. Ia bisa menjadi momentum memperkuat zakat, infak, dan sedekah. Dalam konsep akuntansi syariah, distribusi kekayaan bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi mekanisme pemerataan spiritual. Saldo rekening boleh bertambah, tetapi yang lebih penting adalah saldo akhirat.
Sayangnya, tidak sedikit yang memperlakukan THR seperti dana abadi pribadi. Perencanaan keuangan keluarga seringkali kalah oleh perencanaan pencitraan saat silaturahim. Kita ingin terlihat sukses di depan saudara, padahal cicilan masih berjamaah menunggu di belakang layar.
Di sinilah pentingnya manajemen arus kas Ramadhan. Minimal ada tiga pos yang perlu dicatat: konsumsi, sosial, dan tabungan. Jika THR habis hanya untuk konsumsi, itu namanya arus kas tanpa arah. Jika sebagian dialokasikan untuk sosial, itu namanya arus kas penuh berkah. Jika masih ada sisa untuk tabungan, itu namanya mukjizat setelah diskon.
Taqwa, dalam konteks ini, adalah kemampuan mengendalikan preferensi jangka pendek demi kemaslahatan jangka panjang. Dalam istilah akuntansi, taqwa adalah prinsip kehati-hatian (prudence). Tidak semua yang mampu dibeli harus dibeli. Tidak semua yang diskon harus dimenangkan.
Humor ala Gus Dur seringkali menyentil tanpa menyakiti. Bayangkan jika beliau melihat fenomena THR hari ini. Mungkin beliau akan tersenyum dan berkata, “Yang paling cepat habis itu bukan THR, tapi kesabaran melihat harga tiket mudik.” Kita tertawa, tetapi juga tersadar.
Ramadhan mengajarkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh tebalnya amplop, tetapi oleh luasnya empati. THR hanyalah instrumen. Ia bisa menjadi jalan menuju syukur, atau jalan tol menuju pemborosan. Semua tergantung pada “niat transaksi” kita.
Sebagai akademisi akuntansi, saya sering mengatakan kepada mahasiswa: angka itu netral, manusialah yang memberi makna. Begitu pula THR. Ia hanyalah angka di laporan keuangan. Yang membuatnya bernilai ibadah adalah bagaimana ia dibelanjakan dan dibagikan.
Maka, “THR vs Taqwa” sejatinya bukan pertarungan. Ia adalah dialog batin. THR bertanya, “Akan kau pakai untuk apa aku?” Taqwa menjawab, “Untuk apa pun, pastikan Allah ridha.”
Akhirnya, mari kita jadikan THR bukan sekadar Tunjangan Hari Raya, tetapi “Tambahan Hati yang Religius.” Jika setelah menerima THR kita semakin dermawan, semakin bijak, dan semakin sederhana, maka kita lulus ujian likuiditas Ramadhan.
Sebab pada akhirnya, yang akan diaudit bukan hanya laporan keuangan kita, tetapi juga laporan kehidupan kita. Dan percayalah, di hadapan Auditor Yang Maha Teliti, tidak ada rekayasa kreatif yang bisa lolos.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar