Danau Limboto: Luka Ekologis yang Terabaikan
- account_circle Dadang Sudardja
- calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
- visibility 242
- print Cetak

Dadang Sudardja/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Setelah lima kali berkunjung ke Gorontalo, barulah pada kunjungan kali ini saya memiliki kesempatan dan waktu untuk menginjakkan kaki di Danau Limboto—sebuah nama yang sejak lama sangat akrab di ingatan saya. Danau ini pertama kali saya kenal ketika masih duduk di bangku SMP, sekitar tahun 1973, melalui pelajaran Ilmu Bumi. Saat itu, Danau Limboto diperkenalkan sebagai salah satu danau penting di Indonesia—bagian dari kebanggaan geografis negeri ini.
Kedatangan saya kali ini bukan sekadar kunjungan nostalgia, melainkan dalam rangka melakukan observasi lapangan dan pengumpulan data terkait kebencanaan ekologis yang kerap melanda Gorontalo, khususnya banjir akibat meluapnya sungai-sungai yang bermuara di Danau Limboto. Dari penuturan masyarakat setempat, banjir di kawasan ini dapat berlangsung selama berbulan-bulan. Bahkan, pernah terjadi genangan yang tidak surut hingga hampir satu tahun, menunjukkan bahwa krisis ekologis yang dihadapi bukan sekadar episodik namun berkepanjangan dan sistemik.
Kegiatan lapangan ini merupakan bagian dari Diklat Tanggap Darurat Bencana Ekologis yang diselenggarakan oleh WALHI Gorontalo. Bersama para peserta pelatihan, kami mengumpulkan data terkait ancaman bencana, tingkat kerentanan wilayah dan komunitas, serta potensi sumber daya yang tersedia. Seluruh data tersebut akan digunakan sebagai dasar penyusunan Rencana Kontinjensi dalam menghadapi bencana ekologis di kawasan Danau Limboto dan sekitarnya.
Danau Limboto bukan sekadar perairan alami. Ia adalah ruang hidup, sumber penghidupan, sekaligus penyangga ekologis bagi wilayah sekitarnya. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, danau ini kian menunjukkan tanda-tanda krisis ekologis yang sangat serius. Proses pendangkalan masif terjadi dengan laju sekitar 46,6 cm per tahun, sementara sedimen yang masuk mencapai jutaan ton setiap tahunnya, terutama dari 23 (dua puluh tiga) sub-DAS atau anak Sungai yang bermuara ke danau ini. Akibatnya, kedalaman rata-rata danau terus menurun, dan luas permukaan air yang tersisa semakin menyusut dari ribuan hektare menjadi sebagian kecil dari kondisi historisnya.
Pada puncaknya, Danau Limboto pernah menjadi salah satu dari 15 danau kritis di Indonesia, karena pendangkalan akibat sedimentasi yang sangat jelas terlihat. Penelitian geospasial bahkan menunjukkan bahwa luas danau telah menyusut secara drastis selama puluhan tahun terakhir, mencerminkan hilangnya fungsi ekologisnya sebagai penyangga hidrologis.
Kerusakan ini bukan sekadar gejala fisik di permukaan. Masalah seperti eutrofikasi hingga fase hipereutrofik, yang ditandai oleh pertumbuhan gulma air eceng gondok yang menutupi hingga puluhan persen permukaan danau, menunjukkan bahwa kualitas air dan struktur ekologisnya telah rusak parah. Proses eutrofikasi dan sedimentasi bukan hanya mengubah
bentuk danau, tetapi juga berdampak langsung pada keberlanjutan kehidupan ikan, mata pencaharian nelayan dan pembudidaya ikan, serta ketahanan pangan komunitas di sekitarnya.
Kerusakan Danau Limboto tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia merupakan akumulasi dari pembiaran panjang atas alih fungsi lahan di wilayah hulu, tata ruang yang abai terhadap daya dukung dan, daya tamping lingkungan. deforestasi, hingga pendekatan pembangunan yang lebih menekankan proyek fisik ketimbang pemulihan ekosistem. Normalisasi dan pengerukan dilakukan berulang kali, tetapi tanpa menyentuh akar persoalan: kerusakan DAS, sedimentasi terus meningkat, dan lemahnya perlindungan kawasan penyangga danau.
Bagi masyarakat di sekitar danau, kerusakan ini bukan sekadar isu lingkungan. Pendangkalan dan penyempitan danau meningkatkan risiko banjir musiman, menurunkan hasil tangkapan nelayan, mengikis ruang hidup warga, serta menggerus nilai budaya lokal yang melekat pada danau sebagai sumber kehidupan. Danau Limboto telah berubah dari sumber kehidupan menjadi sumber kerentanan—itulah wajah bencana ekologis yang bekerja secara perlahan, namun dampaknya sistemik dan berkepanjangan.
Dalam konteks krisis iklim, kerusakan Danau Limboto memperbesar kerentanan wilayah Gorontalo. Perubahan pola hujan, intensitas cuaca ekstrem, dan degradasi ekosistem saling berkelindan. Danau yang seharusnya berfungsi sebagai penyangga hidrologis justru kehilangan kemampuannya akibat rusaknya sistem ekologis. Sayangnya, kebijakan penanganan masih kerap bersifat sektoral, parsial, dan berorientasi jangka pendek.
Pengalaman lapangan dan diskusi bersama WALHI Gorontalo menunjukkan bahwa persoalan Danau Limboto bukan hanya soal teknis lingkungan, tetapi juga soal keadilan ekologis dan tata kelola. Komunitas di sekitar danau sering kali menjadi pihak yang paling terdampak, namun paling sedikit dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Padahal, membangun ketangguhan komunitas dalam menghadapi bencana ekologis mensyaratkan partisipasi aktif warga, penguatan pengetahuan lokal, dan keberanian negara untuk menata ulang arah kebijakan pembangunan.
Kerangka advokasi lingkungan yang didorong WALHI Gorontalo, menempatkan Danau Limboto sebagai isu strategis. Pemulihan danau tidak dapat dilepaskan dari rehabilitasi DAS secara menyeluruh, penegakan hukum terhadap pelanggaran tata ruang, penghentian alih fungsi lahan di kawasan lindung, serta perlindungan sempadan danau. Lebih dari itu, negara harus memastikan bahwa kebijakan pembangunan tidak lagi mengorbankan keselamatan ekologis dan sosial demi kepentingan jangka pendek.
Danau Limboto adalah cermin relasi manusia dengan alam. Jika luka ekologis ini terus diabaikan, maka yang hilang bukan hanya sebuah danau, tetapi juga ketahanan wilayah dan masa depan generasi Gorontalo. Menjaga Danau Limboto berarti menjaga kehidupan. Dan itu menuntut keberanian untuk berubah—dari pembiaran menuju pemulihan menyeluruh, dari proyek jangka pendek menuju keadilan ekologis dan tata kelola yang berkelanjutan.
Penulis: Ketua LPBI NU Jawa Barat | Ketua Dewan Nasional WALHI 2012–2016 | Direktur Yayasan Sahabat Nusantara. Anggota Dewan Sumber Daya Air Jawa Barat, Wakil Ketua Forum PRB, Pegiat lingkungan dan bencana.
- Penulis: Dadang Sudardja
- Editor: Dadang Sudardja

Saat ini belum ada komentar