Bappeda Gorontalo Gelar FGD Bahas Optimalisasi Ruang Destinasi Pariwisata Unggulan 2025
- account_circle Rivaldi Bulilingo
- calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
- visibility 92
- print Cetak

Kepala BAPPEDA Wahyudin Katili membuka kegiatan FGD , jumat (17/10/2025) di kantor BAPPEDA Provinsi Gorontalo
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Optimalisasi Kebutuhan Ruang Destinasi Pariwisata Unggulan Provinsi Gorontalo 2025”, Jumat (17/10/2025), di kantor Bappeda Provinsi Gorontalo.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, tenaga ahli, akademisi, serta praktisi wisata. FGD ini merupakan bagian dari program prioritas Gubernur Gusnar Ismail dan Wakil Gubernur Idah Syahidah dalam pembangunan sektor destinasi pariwisata daerah.
Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo, Wahyudin Katili, mengatakan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wadah pertukaran gagasan serta meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan ke depan, khususnya di sektor pariwisata.
“Kami mulai menggagas hasil dari berbagai kajian yang merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, akademisi, dan praktisi. Melalui forum seperti ini, kita bisa melihat realita di lapangan secara lebih terbuka,” ujar Wahyudin.
Lebih lanjut, Wahyudin berharap FGD ini dapat melahirkan ide-ide baru yang bermanfaat bagi pengembangan destinasi wisata di Gorontalo.
“Melalui forum seperti ini, akan muncul banyak ide dalam bidang pariwisata. Kita bisa melakukan kilas balik terhadap apa yang telah dilakukan, sekaligus menentukan langkah ke depan agar tujuan pembangunan pariwisata dapat tercapai,” tambahnya.
Ia juga mendorong agar kegiatan serupa tidak hanya dilaksanakan di kantor pemerintahan, tetapi juga di perguruan tinggi atau lokasi lain yang bisa memunculkan gagasan baru dari berbagai kalangan.
“Harapannya, akademisi dan para pemangku kepentingan dapat lebih aktif menyuarakan pendapat. Kegiatan seperti ini sebaiknya tidak monoton hanya di kantor, melainkan bisa juga dilaksanakan di lingkungan kampus agar lebih dinamis,” katanya.
Wahyudin menegaskan, pembahasan tentang destinasi wisata tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pengelolaannya.
“Bukan hanya bagaimana destinasi itu dibangun, tetapi juga bagaimana pengelolaannya agar memiliki ciri khas yang memberikan pengalaman berkesan bagi wisatawan,” tutupnya
- Penulis: Rivaldi Bulilingo

Saat ini belum ada komentar