Gegana Polda Jatim Temukan Black Powder dalam Kasus Ledakan Mercon di Ponorogo
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 55
- print Cetak

Personel Tim Gegana Satuan Brimob Polda Jawa Timur melakukan penyisiran dan sterilisasi lokasi ledakan mercon di Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, Senin (2/3/2026). Petugas memastikan tidak ada sisa bahan peledak jenis low explosive (black powder) yang tertinggal guna mencegah potensi ledakan susulan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com – Tim Gegana Satuan Brimob Polda Jawa Timur mengungkap temuan bahan peledak jenis low explosive atau black powder dalam penyelidikan kasus ledakan mercon di Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo.
Peristiwa yang terjadi pada Minggu (1/3/2026) tersebut menyebabkan seorang pelajar meninggal dunia, sementara dua korban lainnya mengalami luka bakar berat.
Sejak Senin (2/3/2026) pagi, petugas dengan perlengkapan lengkap menyisir lokasi kejadian yang telah dipasangi garis polisi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada sisa bahan berbahaya yang tertinggal serta mencegah potensi ledakan lanjutan di kawasan permukiman.
Ditemukan Belerang dan Potas
Komandan Detasemen (Danden) Gegana Satbrimob Polda Jatim, Dyan Vicky Sandi, menyampaikan bahwa dari hasil pemeriksaan awal ditemukan material berupa belerang dan potas atau yang dikenal sebagai booster kelengkeng. Kedua bahan tersebut lazim digunakan dalam pembuatan bubuk petasan tradisional.
“Investigasi dari Gegana, sementara yang kami temukan itu ada unsur belerang, kemudian ada potas atau booster kelengkeng. Jadi yang dibuat di sini dipastikan low explosive atau black powder,” ungkapnya di lokasi kejadian.
Selain itu, tim juga mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga merupakan sisa-sisa ledakan untuk dianalisis lebih lanjut. Barang bukti tersebut antara lain selongsong petasan, kemasan belerang, serta potas yang diduga menjadi bagian dari racikan bahan peledak.
Dugaan Percikan Api
Sandi menjelaskan bahwa tingkat bahaya bahan peledak tidak hanya bergantung pada jenisnya, melainkan juga pada jumlah serta tekanan yang dihasilkan saat reaksi terjadi. Secara ilmiah, volume bahan yang besar dapat memicu tekanan tinggi yang berakibat fatal.
“Jenis bahan peledak itu tidak tergantung jenisnya apa, tapi ketika jumlahnya besar, daya ledaknya tinggi. Impact-nya bisa membahayakan atau merenggut nyawa seseorang karena tekanan yang sangat tinggi,” tegasnya.
Berdasarkan olah tempat kejadian perkara (TKP) sementara, dugaan awal ledakan terjadi akibat percikan api saat proses pengolahan bahan. Namun kepastian penyebabnya masih menunggu hasil uji laboratorium forensik (Labfor) oleh penyidik Polres Ponorogo.
“Dugaan sementara mungkin ada percikan api. Tapi hasil investigasi dari penyidik Polres nanti dibawa ke labfor,” jelasnya.
Daya Ledak 2–5 Kilogram
Daya ledak diperkirakan bersumber dari bahan baku seberat antara 2 hingga 5 kilogram yang diracik di luar bangunan. Akibatnya, tekanan menyebar ke segala arah dan membentuk kawah sedalam kurang lebih 5 sentimeter di tanah.
“Mungkin 2–5 kilogram karena dibuat di luar rumah, tekanan ke luar menyebar dan kedalaman kawah ledakan sampai 5 sentimeter, itu sangat besar,” ujarnya.
Kepolisian juga menyoroti kemudahan masyarakat memperoleh bahan seperti belerang dan potas secara bebas di pasaran. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam pengawasan, terutama menjelang perayaan hari besar.
Polisi mengimbau masyarakat agar tidak mencoba membuat atau merakit bahan peledak serupa demi menghindari jatuhnya korban. Berdasarkan catatan tahun sebelumnya, terdapat 23 kasus ledakan petasan di Jawa Timur yang menimbulkan kerugian material dan korban jiwa.
Peristiwa di Ponorogo tersebut menelan tiga korban yang seluruhnya merupakan warga setempat. Satu orang meninggal dunia di lokasi kejadian, sementara dua lainnya masih menjalani perawatan intensif akibat luka bakar berat.
- Penulis: Tim Redaksi
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar