Gus Yahya: Muktamar PBNU Bisa Digelar Kapan Saja Asal Penuhi Syarat Konstitusional
- account_circle Redaksi Nulondalo
- calendar_month Jumat, 12 Des 2025
- visibility 53
- print Cetak

KH. Yahya Cholil Staquf saat memberikan arahan pada Rapat Koordinasi Strategis terkait penyaluran bantuan kemanusiaan di Aceh, Sumatera Utara dan Barat di Gedung PBNU
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com – Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan usulan percepatan pelaksanaan Muktamar PBNU selama seluruh ketentuan konstitusional organisasi dipenuhi.
Gus Yahya menyatakan, Muktamar sebagai forum permusyawaratan tertinggi NU bisa digelar kapan saja, bahkan “besok pagi”, asalkan dipimpin oleh dua pemegang mandat tertinggi organisasi, yakni Rais Aam PBNU dan Ketua Umum PBNU.
“Muktamar mau cepat, mau lambat, tidak ada masalah, tapi syarat harus dipenuhi. Yaitu bahwa muktamar dipimpin oleh Rais Aam dan Ketua Umum,” ujar Gus Yahya di Kantor PBNU, Jakarta, Kamis (11/12/2025).
Ia menegaskan Muktamar tidak dapat diselenggarakan oleh satu pihak saja. Kehadiran Rais Aam dan Ketua Umum bersifat mutlak untuk menjamin legalitas dan kesempurnaan forum.
“Mau cepat mari, mau besok pagi ya sudah. Yang penting muktamar ini benar. Jangan yang cacat, yang kurang sempurna,” katanya.
Gus Yahya juga mengajak seluruh pihak menyepakati mekanisme bersama agar Muktamar berjalan sah dan menghindari polemik internal.
“Sudahlah, daripada nanti muktamar bermasalah, ya mari bareng-bareng saja. Kita persiapkan muktamar bersama-sama,” ujarnya.
Gus Yahya mengingatkan bahwa pengabaian terhadap aturan organisasi justru akan membawa NU mundur dari pakem kelembagaan yang dirumuskan para pendiri.
“Kalau tatanan organisasi ini diabaikan, maka itu mundur satu abad, mundur sampai ke era sebelum NU didirikan,” tegasnya.
Ia memastikan PBNU siap merampungkan seluruh dinamika internal menjelang Muktamar dan menegaskan bahwa solusi terbaik adalah bekerja bersama.
“Enggak ada jalan keluar selain bersama-sama. Mari bermuktamar bersama. Supaya selesai muktamar, selesai semua.”
PBNU Versi Pleno: Percepatan untuk Kembalikan Siklus Normal
Sebelumnya, PBNU melalui rapat pleno pada 9–10 Desember 2025 telah menyepakati percepatan untuk mengembalikan siklus Muktamar ke jadwal normal sebelum pandemi Covid-19.
Rais Syuriyah PBNU, Prof Mohammad Nuh, menyampaikan bahwa Muktamar ke-34 di Lampung sempat mundur akibat pandemi, sehingga masa kepemimpinan ikut bergeser. Momentum tahun 2026 dinilai tepat untuk mengembalikan siklus.
“Ini bukan percepatan Muktamar, tetapi mengembalikan siklus seperti sebelum Covid-19,” ujar Prof Nuh dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (10/12/2025).
Ia menambahkan peringatan 100 tahun NU pada 31 Januari 2026 menjadi momen penting konsolidasi organisasi yang akan dirangkai dengan Konbes dan Munas Alim Ulama sebagai bagian dari persiapan menuju Muktamar 2026.
Prof Nuh memastikan rapat pleno berlangsung sah sesuai AD/ART dengan kehadiran 55,39 persen peserta.
Pj Ketua Umum PBNU: Fokus Konsolidasi dan Persiapan Muktamar
Penjabat Ketua Umum PBNU, KH Zulfa Mustofa, menyatakan pihaknya akan segera bekerja menjalankan keputusan pleno, termasuk menyiapkan Konbes, Munas Alim Ulama, dan agenda menuju Muktamar.
PBNU kubu Zulfa juga mengimbau seluruh struktur organisasi menjaga kekompakan dan tetap fokus melayani warga NU, khususnya di tengah bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ketegangan internal PBNU saat ini dipicu oleh keputusan Dewan Syuriah yang memberhentikan Gus Yahya dari posisi Ketua Umum dan menunjuk KH Zulfa Mustofa sebagai Penjabat Ketum.
Gus Yahya menolak keputusan tersebut dan menegaskan bahwa pergantian ketua umum hanya sah bila diputuskan melalui Muktamar PBNU.
- Penulis: Redaksi Nulondalo

Saat ini belum ada komentar