Gusdur Dalam Memori Mbak Yenny dan Gus Mus
- account_circle Riski Hidayat
- calendar_month Jumat, 19 Des 2025
- visibility 78
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Riski Hidayat, Mahasiswa Pasca Sarjana UAC Mojokerto
Tulisan ini Merupakan Refleksi Penulis pada saat Menghadiri Acara Peringatan Haul Gus Dur ke 16 dan Tasyakuran Penganugrahan Gelar Pahlawan Nasional K.H Abdurrahman Wahid di Tebu Ireng Pada 17 Desember 2025.
Berangkat dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Mbak Yenny Wahid. Apa yang membuat Gus Dur begitu istimewa hingga saat ini masih diziarahi dan dibicarakan oleh banyak orang, bahkan tidak sedikit masyarakat yang menangis saat membicarakan sosok guru bangsa ini.
Menurut putri kedua Gus Dur ini, yang membuat Gus Dur begitu istimewa adalah ketulusan dan keikhlasan beliau dalam mengembankan mandat yang diterimanya, entah sebagai ulama, akademisi, ataupun pemimpin.
“Kalau dari hasil pengamatan saya, Gus Dur itu Istimewa, karna beliau adalah orang yang ikhlas, ikhlas berjuang untuk kepentingan orang banyak, terutama orang-orang yang terzolimi. Untuk mereka, kaum mustadafin, Gus Dur selalu paling di depan. Gus Dur berjuang bukan untuk gagah-gagahan, tidak pernah berjuang untuk mendapatkan posisi”
Mbak Yenny juga menjelaskan bahwa Gus Dur adalah orang yang sangat komitmen dengan prinsip hidupnya, dan salah satu prinsip yang dipegang oleh Gus Dur adalah Aforisme Syekh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary dalam kitab al-Hikam.
ادفن وجودك في أرض الخمول، فما نبت مما لم يُدفن لا يتم نتاجه
“Tanamlah eksistensimu di dalam tanah yang tidak dikenal, sebab sesuatu yang tumbuh dari biji yang tak ditanam, maka tidak akan berbuah matang”
Kata “al-Dafnu” yang dipilih oleh Syekh Ibnu ‘Athaillah adalah sebuah Kinayah agar tidak menampakkan diri dan lebih mengutamakan tersembunyi daripada terkenal. Sementara kata “al-Khumul” menunujukkan sikap merendahkan diri dalam berbagai kedudukan. Dengan kata lain, Gus Dur telah selesai dengan hasrat dan ambisi popularitas, kemasyhuran dan pencitraan.
Agak berbeda dengan Mbak Yenny, Gus Mus, sebagai orang yang kenal dekat dengan Gus Dur, mencoba menjawab dari perspektif yang lain. Dalam pandangan Gus Mus, manusia yang dicintai oleh Allah itu ada dua tipe: ada yang dicintai karena upaya (dengan cara menjalankan kefarduan serta kesunnahannya), dan ada yang dicintai karena memang dipilih oleh Allah Swt sendiri.
Gus Dur tampaknya masuk tipe yang ke dua, sebab Ia tidak memiliki amaliah atau wiridan tertentu yang membuat ia dicintai oleh Allah Swt, “Wong sembahyangnya ya biasa-biasa saja” ujar Gus Mus. Ini lah keistimewaan Gus Dur, ia dicintai oleh banyak orang karena Allah Swt mencintainya.
“Ada yang menyebut Gus Dur itu dicintai banyak orang karena humanismenya, demokrasinya, toleransinya, tapi menurut saya, ya, memang beliau dicintai oleh Allah Swt”
Apa yang disampaikan oleh Gus Mus sesui dengan yang disabdakan oleh nabi Muhammad Saw. Sebab jika seorang hamba telah dicintai oleh sang pencipta, maka semua ciptaannya juga mencintai hambanya.
إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ قَالَ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ قَالَ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ
”Sesungguhnya apabila Allah telah mencintai seseorang, maka Dia akan memanggil malaikat Jibril seraya berseru: Hai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai si fulan. Oleh karena itu, cintailah dia. Rasulullah bersabda: Akhirnya orang tersebut pun dicintai Jibril. Setelah itu, Jibril berseru di atas langit: Sesungguhnya Allah Swt mencintai si fulan. OIeh karena itu, cintailah dia. Kemudian para penghuni langit pun mulai mencintai fulan. Rasulullah bersabda: Setelah itu para penghuni bumi juga mencintainya”
Gus Dur Adalah Orang Yang Sudah Selesai Dengan Dirinya
Bagi Gus Dur, semua mandat yang ia emban, bukan alat untuk mencari ketenaran apalagi kedudukan. Cerita bagaimana Gus Dur tidak memiliki dompet, meminjam uang untuk membeli bakso, berpindah-pindah kontrakan, dan telat membayar tagihan uang sekolah anaknya adalah bukti bahwa Gus Dur telah selesai dengan keduniaan. Mandat yang ia emban semata-mata hanya untuk menegakkan kebenaran dan melindungi kaum yang lemah. Itu lah kenapa, Gus Dur diterima di golongan manapun, karena ia tidak pernah membeda-bedakan, baginya semua manusia adalah sama.
Gus Dur mungkin cerminan pemimpin yang hari ini sulit ditemukan, ia rela diri dan keluarganya menanggung kepahitan hidup, tapi tidak dengan rakyatnya. Jika menyangkut keadilan, ia lantang memperjuangkan. Di dalam kamus Gus Dur tidak ada kata repot. Mungkin ini lah yang melatari Gus Mus sampai pada kesimpulan, bahwa Gus Gur adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya.
- Penulis: Riski Hidayat
- Editor: Risman lutfi

Saat ini belum ada komentar