Breaking News
light_mode
Trending Tags

Halal Bi Halal: Silaturrahmi Yang Membentuk “Kita”

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
  • visibility 102
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Setiap lebaran tiba, ada satu momen yang selalu kita tunggu dengan antusias: Halal Bi Halal. Di banyak keluarga muslim Indonesia, tradisi ini berarti keliling dari rumah ke rumah, bersalaman, dan menyantap hidangan yang sensasi rasanya tak pernah gagal. Tapi lebih dari itu, ada suasana hangat yang selalu hadir: perasaan diterima kembali, (setelah) apapun yang terjadi sebelumnya.

Tradisi ini bermula dari Kyai Wahab Hasbullah, yang menawarkan istilah “Halal Bi Halal” kepada Bung Karno sebagai cara menyatukan kembali bangsa yang terpecah usai Agresi Militer Belanda. Sejak itu, ia menjadi bagian dari kehidupan nasional, melampaui sekat agama, kelas sosial, dan bahkan ideologi. Di kantor-kantor pemerintah, sekolah, hingga komunitas diaspora Indonesia di luar negeri, Halal Bi Halal terus hidup.

Halal Bi Halal adalah pesan budaya yang terus-menerus dikodekan dan dibaca ulang. Ketika Kyai Wahab dan Bung Karno pertama kali memakainya, ia adalah isyarat rekonsiliasi—usaha menyatukan yang retak. Namun pesan itu kemudian dibaca secara berbeda oleh tiap generasi. Bagi sebagian orang, ia adalah bentuk ibadah sosial. Bagi yang lain, ia adalah ruang pertemuan yang penuh basa-basi. Dan bagi sebagian yang lain lagi, ia menjadi rutinitas simbolik yang diikuti tanpa banyak bertanya.

Di kalangan keluarga, ia jadi ajang saling maaf dan mempererat ikatan darah. Di lingkungan pemerintahan, ia bisa menjadi momen rekonsiliasi simbolik, kadang juga panggung pencitraan. Di organisasi keagamaan, ia bisa dimaknai sebagai ruang konsolidasi atau unjuk kekuatan. Dan di komunitas lintas iman, ia tumbuh menjadi jembatan dialog dan pertemuan budaya.

Semua itu sah. Karena Halal Bi Halal memang lentur. Ia bisa dibaca ulang, ditafsir ulang, disesuaikan dengan kepentingan masing-masing. Tapi justru karena itulah ia bertahan. Tradisi ini hidup karena ia tidak memaksa satu makna tunggal. Ia membiarkan orang membacanya sesuai konteks mereka, tapi tetap mengarah pada satu tujuan: menyambung yang sempat terputus dan mempertebal ikatan yang mungkin menipis.

Bagi saya pribadi, Halal Bi Halal adalah cara kita merawat kebersamaan dalam keragaman. Ia bukan hanya praktik keislaman, tapi praktik kebangsaan. Di tengah dunia yang gampang terbakar oleh perbedaan tafsir, Halal Bi Halal mengajak kita untuk duduk, bukan debat; menyapa, bukan mencurigai. Ia adalah bentuk moderasi yang tumbuh dari kebiasaan, bukan teori. Dari laku, bukan retorika.

Di ruang ini kita belajar bahwa menjadi bagian dari bangsa ini bukan soal menyamakan semua hal. Tapi soal menyediakan ruang bagi beragam makna untuk tetap bisa duduk bersama. Halal Bi Halal mengajarkan itu, dari ruang tamu rumah-rumah kecil, sampai aula megah tempat para tokoh bersalaman.

Lewat Halal Bi Halal, kita merasakan menjadi Indonesia bukan karena simbol-simbol besar, tetapi karena hal-hal kecil: kue lebaran yang dibawa ke tetangga, salam dari kolega lintas agama, panggilan reuni di café, atau undangan dadakan ke rumah guru yang lama tak ditemui. Ia adalah momen di mana agama, budaya, dan kebangsaan bercampur dalam satu ruang yang cair.

Tentu saja, tidak semua luka sembuh dengan berjabat tangan. Tidak semua konflik usai dengan “maaf dan batin”. Tapi mungkin Halal Bi Halal tak pernah berniat menyelesaikan semuanya. Ia tidak menyimpan janji besar, tapi menawarkan jembatan kecil. Ia bukan solusi struktural, tapi ruang batiniah tempat kita belajar memahami, meski sejenak, bahwa hidup bersama itu bukan tentang kesamaan, tapi tentang keberanian untuk saling sapa.

Dan mungkin di sanalah kekuatan Halal Bi Halal—dalam kesederhanaannya, dalam simbolismenya yang diam-diam, ia terus membentuk kita. Tahun demi tahun, salam demi salam. Seperti Indonesia itu sendiri: tidak sempurna, tapi terus kita rawat bersama.

Oleh : Pepi Albayqunie (Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ramadhan Yang Robek

    Ramadhan Yang Robek

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Oleh : Asrul G.H. Lasapa – (Pegiat Dakwah Gorontalo) Puasa merupakan kawah candradimuka yang menjadi tempat melatih dan menggembleng seseorang agar memiliki mental spiritual yang agung dan mulia. Ritual puasa tidak hanya sekedar penampakan simbolitas permukaan yang nyata berupa tidak makan, minum dan hubungan seksual semata, tetapi puasa adalah kemampuan pengendalian jiwa dari keterpurukan emosional. […]

  • Sidak Subuh di SPPG Boalemo, Wagub Gorontalo Temukan Sejumlah Pelanggaran Higienitas MBG

    Sidak Subuh di SPPG Boalemo, Wagub Gorontalo Temukan Sejumlah Pelanggaran Higienitas MBG

    • calendar_month Rabu, 17 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 179
    • 0Komentar

    nulondalo.com -Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie selaku Ketua Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Provinsi Gorontalo kembali melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Rabu pagi (17/12/2025). Kali ini, sidak dilakukan di SPPG Desa Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo. Tepat pukul 04.30 Wita, Wagub Idah bersama Tim Satgas MBG […]

  • Pseudo-Ramadan

    Pseudo-Ramadan

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 120
    • 0Komentar

    Ramadan akan segera berlalu. Bagai seorang perempuan, Ramadan tampak anggun dan suci. Ramadan cermin dari sebuah cahaya yang menyinari jiwa yang membutuhkan cahaya. Hanya jiwa yang suci yang dapat diterangi cahaya itu. Dalam Ramadan berisi deretan ritus persembahan bagi yang merasa harus menyembah. Salah satu aktifitas itu adalah puasa. Bukan saja untuk menahan haus dan […]

  • Camat Maros Baru Apresiasi Proposal Aniversary Kiwal Garuda Hitam: Maros Siap Jadi Tuan Rumah photo_camera 2

    Camat Maros Baru Apresiasi Proposal Aniversary Kiwal Garuda Hitam: Maros Siap Jadi Tuan Rumah

    • calendar_month Sabtu, 6 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kiwal Garuda Hitam Kecamatan Maros Baru melakukan kunjungan resmi ke Kantor Camat Maros Baru dalam rangka menyampaikan proposal pelaksanaan Aniversary Kiwal Garuda Hitam dimana Kabupaten Maros sebagai tuan rumah di kegiatan tersebut. Ketua PAC Maros Baru menyampaikan bahwa kedatangan mereka merupakan bagian dari proses koordinasi dan komunikasi […]

  • Laporan Langit

    Laporan Langit

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 109
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu menghadirkan audit tahunan yang paling jujur: audit hati. Bedanya dengan audit laporan keuangan, auditor Ramadhan tidak bisa diajak negosiasi, tidak bisa diundang buka puasa bersama, dan tidak mengenal istilah “koreksi minor”. Ia langsung tembus ke niat. Dalam bahasa akuntansi, Ramadhan mengajarkan kita satu sistem pencatatan paling canggih: double entry dunia–akhirat. Dalam akuntansi modern, […]

  • Akuntan Langit

    Akuntan Langit

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Di bulan Ramadhan, banyak orang tiba-tiba rajin menghitung. Ada yang menghitung jumlah rakaat tarawih, ada yang menghitung hari menuju Lebaran, dan ada pula yang sibuk menghitung diskon di pusat perbelanjaan. Namun, di balik semua hitung-hitungan itu, ada satu sistem akuntansi yang jauh lebih canggih daripada software keuangan mana pun: akuntansi langit. Jika akuntan di dunia […]

expand_less