Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Halal Bi Halal: Silaturrahmi Yang Membentuk “Kita”

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
  • visibility 188
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Setiap lebaran tiba, ada satu momen yang selalu kita tunggu dengan antusias: Halal Bi Halal. Di banyak keluarga muslim Indonesia, tradisi ini berarti keliling dari rumah ke rumah, bersalaman, dan menyantap hidangan yang sensasi rasanya tak pernah gagal. Tapi lebih dari itu, ada suasana hangat yang selalu hadir: perasaan diterima kembali, (setelah) apapun yang terjadi sebelumnya.

Tradisi ini bermula dari Kyai Wahab Hasbullah, yang menawarkan istilah “Halal Bi Halal” kepada Bung Karno sebagai cara menyatukan kembali bangsa yang terpecah usai Agresi Militer Belanda. Sejak itu, ia menjadi bagian dari kehidupan nasional, melampaui sekat agama, kelas sosial, dan bahkan ideologi. Di kantor-kantor pemerintah, sekolah, hingga komunitas diaspora Indonesia di luar negeri, Halal Bi Halal terus hidup.

Halal Bi Halal adalah pesan budaya yang terus-menerus dikodekan dan dibaca ulang. Ketika Kyai Wahab dan Bung Karno pertama kali memakainya, ia adalah isyarat rekonsiliasi—usaha menyatukan yang retak. Namun pesan itu kemudian dibaca secara berbeda oleh tiap generasi. Bagi sebagian orang, ia adalah bentuk ibadah sosial. Bagi yang lain, ia adalah ruang pertemuan yang penuh basa-basi. Dan bagi sebagian yang lain lagi, ia menjadi rutinitas simbolik yang diikuti tanpa banyak bertanya.

Di kalangan keluarga, ia jadi ajang saling maaf dan mempererat ikatan darah. Di lingkungan pemerintahan, ia bisa menjadi momen rekonsiliasi simbolik, kadang juga panggung pencitraan. Di organisasi keagamaan, ia bisa dimaknai sebagai ruang konsolidasi atau unjuk kekuatan. Dan di komunitas lintas iman, ia tumbuh menjadi jembatan dialog dan pertemuan budaya.

Semua itu sah. Karena Halal Bi Halal memang lentur. Ia bisa dibaca ulang, ditafsir ulang, disesuaikan dengan kepentingan masing-masing. Tapi justru karena itulah ia bertahan. Tradisi ini hidup karena ia tidak memaksa satu makna tunggal. Ia membiarkan orang membacanya sesuai konteks mereka, tapi tetap mengarah pada satu tujuan: menyambung yang sempat terputus dan mempertebal ikatan yang mungkin menipis.

Bagi saya pribadi, Halal Bi Halal adalah cara kita merawat kebersamaan dalam keragaman. Ia bukan hanya praktik keislaman, tapi praktik kebangsaan. Di tengah dunia yang gampang terbakar oleh perbedaan tafsir, Halal Bi Halal mengajak kita untuk duduk, bukan debat; menyapa, bukan mencurigai. Ia adalah bentuk moderasi yang tumbuh dari kebiasaan, bukan teori. Dari laku, bukan retorika.

Di ruang ini kita belajar bahwa menjadi bagian dari bangsa ini bukan soal menyamakan semua hal. Tapi soal menyediakan ruang bagi beragam makna untuk tetap bisa duduk bersama. Halal Bi Halal mengajarkan itu, dari ruang tamu rumah-rumah kecil, sampai aula megah tempat para tokoh bersalaman.

Lewat Halal Bi Halal, kita merasakan menjadi Indonesia bukan karena simbol-simbol besar, tetapi karena hal-hal kecil: kue lebaran yang dibawa ke tetangga, salam dari kolega lintas agama, panggilan reuni di café, atau undangan dadakan ke rumah guru yang lama tak ditemui. Ia adalah momen di mana agama, budaya, dan kebangsaan bercampur dalam satu ruang yang cair.

Tentu saja, tidak semua luka sembuh dengan berjabat tangan. Tidak semua konflik usai dengan “maaf dan batin”. Tapi mungkin Halal Bi Halal tak pernah berniat menyelesaikan semuanya. Ia tidak menyimpan janji besar, tapi menawarkan jembatan kecil. Ia bukan solusi struktural, tapi ruang batiniah tempat kita belajar memahami, meski sejenak, bahwa hidup bersama itu bukan tentang kesamaan, tapi tentang keberanian untuk saling sapa.

Dan mungkin di sanalah kekuatan Halal Bi Halal—dalam kesederhanaannya, dalam simbolismenya yang diam-diam, ia terus membentuk kita. Tahun demi tahun, salam demi salam. Seperti Indonesia itu sendiri: tidak sempurna, tapi terus kita rawat bersama.

Oleh : Pepi Albayqunie (Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Eks Pelatih Kanada, John Herdman, Ditunjuk Latih Timnas Indonesia

    Eks Pelatih Kanada, John Herdman, Ditunjuk Latih Timnas Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 346
    • 0Komentar

    nulondalo.com – PSSI resmi menunjuk John Herdman sebagai pelatih Tim Nasional Indonesia. Pengumuman tersebut disampaikan pada Sabtu (3/1/2026). John Herdman merupakan pelatih asal Inggris yang memiliki pengalaman panjang di level internasional. Ia dikenal luas lewat kiprahnya bersama Timnas Kanada, baik di sektor putra maupun putri. Dalam rekam jejak kepelatihannya, Herdman mencatat prestasi penting dengan membawa […]

  • Kapitalisme Modern Menghendaki Kita Egois dan Rapuh

    Kapitalisme Modern Menghendaki Kita Egois dan Rapuh

    • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 237
    • 0Komentar

    Benteng penangkalnya adalah kebersamaan yang organik, melalui praktik-praktik hidup yang tidak transaksional, tapi didalamnya ada redistribusi kasih sayang, melalui relasi dan ritual yang belum disentuh oleh logika akumulasi. Sungai tidak meminum airnya sendiri. Pohon tidak memakan buah yang tumbuh di dahannya. Matahari tidak menikmati cahaya yang dipancarkannya. Bunga pun tidak mencium harum yang disebarkannya. Alam […]

  • CIMB Niaga dan IIJ Luncurkan Sustainability Journalism Fellowship 2026, Sediakan Dana Rp200 Juta untuk Jurnalis

    CIMB Niaga dan IIJ Luncurkan Sustainability Journalism Fellowship 2026, Sediakan Dana Rp200 Juta untuk Jurnalis

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 340
    • 0Komentar

    nulondalo.com – PT Bank CIMB Niaga Tbk bekerja sama dengan Indonesian Institute of Journalism (IIJ) meluncurkan program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship (SJF) 2026, sebuah inisiatif yang membuka kesempatan bagi jurnalis Indonesia untuk mengembangkan ide keberlanjutan yang berdampak bagi masyarakat dan lingkungan. Program ini juga mendapat dukungan dari Global Reporting Initiative (GRI), organisasi internasional yang […]

  • Pasar Modal Bergejolak, DPR Soroti Mundurnya Dirut BEI

    Pasar Modal Bergejolak, DPR Soroti Mundurnya Dirut BEI

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 252
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gejolak pasar modal yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami trading halt selama dua hari berturut-turut berujung pada pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman. Langkah tersebut mendapat sorotan sekaligus apresiasi dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Anggota Komisi XI DPR RI, M. Hasanuddin Wahid, menilai keputusan Iman Rachman […]

  • Sidak Subuh di SPPG Boalemo, Wagub Gorontalo Temukan Sejumlah Pelanggaran Higienitas MBG

    Sidak Subuh di SPPG Boalemo, Wagub Gorontalo Temukan Sejumlah Pelanggaran Higienitas MBG

    • calendar_month Rabu, 17 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 279
    • 0Komentar

    nulondalo.com -Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie selaku Ketua Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Provinsi Gorontalo kembali melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Rabu pagi (17/12/2025). Kali ini, sidak dilakukan di SPPG Desa Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo. Tepat pukul 04.30 Wita, Wagub Idah bersama Tim Satgas MBG […]

  • Vatikan Tolak Bergabung dalam Board of Peace, Berbeda Sikap dengan Indonesia

    Vatikan Tolak Bergabung dalam Board of Peace, Berbeda Sikap dengan Indonesia

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 267
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Vatikan secara resmi menolak tawaran untuk bergabung dalam Board of Peace (BoP) guna menjaga netralitas diplomatik Takhta Suci di tengah berbagai konflik global yang sedang berlangsung. Keputusan ini menandai perbedaan sikap yang cukup mencolok dengan Indonesia yang sebelumnya telah menyatakan kesiapan untuk berpartisipasi aktif dalam inisiatif tersebut. Penolakan itu ditegaskan melalui pernyataan resmi […]

expand_less