Instrumen Penaklukan Tanpa Mesiu: Pengetahuan, Kekuasaan, dan Politik Global
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month 12 jam yang lalu
- visibility 112
- print Cetak

Muhammad Kamal/ Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Melalui bahasa pembangunan, negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin ditempatkan dalam posisi sebagai “murid sejarah”. Mereka dianggap membutuhkan bimbingan teknis, bantuan ekonomi, dan transfer pengetahuan dari Barat. Kolonialisme tidak lagi memakai bahasa penaklukan, tetapi berganti dengan istilah yang terdengar lebih bersahabat: modernisasi, pembangunan, dan kerja sama internasional.
Maka konsep pembangunan sering kali bukan sekadar proyek ekonomi. Ia juga merupakan proyek ideologis. Melalui bahasa pembangunan, kapitalisme global memperoleh legitimasi moral. Model ekonomi Barat dipresentasikan seolah-olah sebagai jalur sejarah yang alamiah, sesuatu yang pada akhirnya harus ditempuh semua bangsa jika ingin disebut modern.
Dengan cara ini, pengetahuan mulai berfungsi bukan hanya untuk memahami dunia, tetapi juga untuk menata dunia sesuai kepentingan tertentu.
Peran kalangan akademik dalam proses tersebut tidak bisa diabaikan. Pada dekade 1950-an dan 1960-an, berbagai universitas di Amerika menjadi pusat produksi teori modernisasi. Para ilmuwan sosial merumuskan model perkembangan masyarakat yang menggambarkan sejarah sebagai perjalanan dari kondisi tradisional menuju masyarakat industri modern. Kerangka ini kemudian dipakai dalam berbagai program pembangunan internasional.
Salah satu gagasan yang paling berpengaruh datang dari ekonom Amerika Walt Whitman Rostow, yang mempopulerkan teori tentang tahapan pertumbuhan ekonomi. Dalam model ini, setiap negara dianggap bergerak melalui serangkaian tahap menuju masyarakat konsumsi massal—tahap yang secara implisit direpresentasikan oleh masyarakat Amerika sendiri. Teori tersebut tampak seperti analisis ekonomi biasa, tetapi dampak politiknya sangat besar. Ia menjadikan pengalaman Barat sebagai standar universal perkembangan sejarah.
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar