Instrumen Penaklukan Tanpa Mesiu: Pengetahuan, Kekuasaan, dan Politik Global
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month 12 jam yang lalu
- visibility 113
- print Cetak

Muhammad Kamal/ Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ketika model seperti ini diterima sebagai kebenaran ilmiah, pilihan-pilihan lain otomatis dipinggirkan. Sistem ekonomi alternatif dianggap tidak efisien, tidak rasional, atau sekadar bentuk keterbelakangan yang belum selesai. Dominasi ideologi tidak lagi dipaksakan secara kasar; ia bekerja melalui legitimasi akademik yang terlihat objektif.
Inilah yang membuat imperialisme modern jauh lebih licin dibanding kolonialisme lama. Ia tidak selalu memaksa, tetapi membuat banyak negara merasa sedang memilih secara bebas—padahal pilihan yang tersedia sudah dibingkai sebelumnya. Bantuan pembangunan, program pendidikan, beasiswa, hingga konsultasi kebijakan sering menjadi jalur masuk bagi kerangka berpikir tersebut.
Pola yang sama masih dapat dilihat dalam politik ekonomi global hari ini, terutama dalam sektor teknologi digital. Dalam dua dekade terakhir, istilah seperti ekonomi inovasi, ekosistem startup, dan kompetisi digital menjadi bahasa yang hampir universal dalam kebijakan ekonomi. Negara-negara berkembang berlomba membuka pasar digital mereka dengan harapan menarik investasi dan mempercepat transformasi teknologi.
di balik bahasa yang terdengar progresif itu, struktur kekuasaan global tetap terlihat. Infrastruktur digital dunia masih sangat bergantung pada perusahaan teknologi besar Amerika seperti Google, Meta, dan Microsoft. Platform, sistem komputasi awan, hingga ekosistem data global sebagian besar berada dalam jaringan yang mereka kuasai.
Negara-negara berkembang memang didorong untuk menjadi inovatif, tetapi standar inovasi itu sendiri ditentukan oleh pusat-pusat teknologi di Silicon Valley. Banyak negara akhirnya masuk ke dalam ekonomi digital global sebagai pasar, pengguna teknologi, dan produsen data, sementara kendali terhadap infrastruktur digital tetap berada di tempat lain.
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar