I’tikaf: Kontemplasi dan Reorientasi Diri
- account_circle Dr. Hj. Misnawaty S. Nuna
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 36
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DI Tengah Kebisingan Dunia, di era modern yang serba cepat ini, manusia sering kali terjebak dalam labirin rutinitas yang melelahkan.
Tekanan pekerjaan, tuntutan sosial, dan paparan informasi digital yang tak henti-hentinya membuat jiwa sering kali kehilangan jangkar spiritualnya.
Kehidupan dunia yang hiruk-pikuk ini, jika tidak diimbangi dengan waktu untuk berhenti sejenak, akan menggiring seseorang pada kekosongan batin dan hilangnya arah tujuan hidup yang hakiki.
Dalam khazanah Islam, terdapat sebuah instrumen spiritual yang luar biasa untuk mengatasi fenomena ini, yaitu I’tikaf.
Secara harfiah, i’tikaf berarti menetap atau tinggal di suatu tempat.
Namun, secara substansi, ia adalah sebuah perjalanan ke dalam diri (introspeksi) yang dilakukan dengan cara berdiam diri di dalam masjid.
I’tikaf hadir sebagai bentuk “jeda suci” untuk melakukan kontemplasi, sebuah perenungan mendalam tentang eksistensi diri, dan reorientasi upaya menata kembali kompas kehidupan agar tetap selaras dengan keridaan Allah SWT.
- Penulis: Dr. Hj. Misnawaty S. Nuna

Saat ini belum ada komentar