I’tikaf: Kontemplasi dan Reorientasi Diri
- account_circle Dr. Hj. Misnawaty S. Nuna
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 47
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Reorientasi adalah upaya sadar untuk memperbaiki arah hidup yang mungkin telah melenceng.
Jika selama ini dunia menjadi pusat gravitasi pikiran kita, maka melalui i’tikaf, kita menggeser pusat tersebut kembali kepada Allah (Tauhid).
Proses reorientasi ini melibatkan tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa.
Penyakit-penyakit hati seperti riya, dengki, dan kecintaan pada materi yang berlebihan mulai dikikis.
Seseorang yang beri’tikaf belajar untuk menyusun kembali skala prioritasnya.
Ia menyadari bahwa kesuksesan di mata manusia tidak ada artinya jika tidak disertai kesuksesan di mata Tuhan.
Tekad (azam) yang kuat dibangun di atas sajadah, menjadi komitmen bahwa saat ia keluar dari pintu masjid nanti, ia akan menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih sabar, dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Agar proses transformasi diri ini berjalan optimal, i’tikaf tidak boleh dilakukan secara asal-asalan.
Secara formal, i’tikaf menuntut niat yang tulus, dilakukan di masjid, serta dalam keadaan suci dari hadas besar.
Namun, secara substansial, keberhasilan i’tikaf sangat bergantung pada adab yang dijalankan.
Peserta i’tikaf dianjurkan untuk melakukan “diet bicara” dan “diet digital”.
Mengurangi interaksi sosial yang tidak perlu dan meminimalkan penggunaan perangkat elektronik adalah kunci untuk menjaga kekhusyukan.
- Penulis: Dr. Hj. Misnawaty S. Nuna

Saat ini belum ada komentar