Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Jurnal Penutup

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
  • visibility 338
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Masalahnya, kita seringkali lebih rajin membuat jurnal umum daripada jurnal penutup. Tiap hari kita catat dosa dengan rapi: marah pagi, gibah siang, iri sore, dan mungkin sedikit riya di malam hari. Semua tercatat, bahkan tanpa perlu software akuntansi. Ironisnya, kita jarang sekali melakukan closing. Seolah-olah kita ini perusahaan yang tidak pernah tutup buku, padahal umur manusia itu bukan entitas going concern tanpa batas.

Di sinilah Ramadhan datang seperti auditor yang agak “NU banget”—tidak galak, tapi nyeletuknya dalam. Kalau kata humor khas pesantren, “Puasa itu bukan sekadar menahan lapar, tapi juga menahan laporan yang tidak benar.” Sebab sering kali yang kita sajikan dalam “laporan keimanan” itu sudah dimanipulasi. Kita tampilkan aset kebaikan yang sebenarnya belum kita miliki, sementara kewajiban moral kita sembunyikan di catatan kaki yang tidak pernah dibaca.

Humor ala Gus Dur mungkin akan berkata: “Tuhan itu tidak butuh laporan kita, tapi kita yang butuh diperiksa.” Maka jurnal penutup dalam konteks Ramadhan bukan sekadar ritual spiritual, melainkan audit eksistensial. Kita diminta jujur, bukan kepada auditor eksternal, tapi kepada diri sendiri—yang seringkali lebih mudah kita tipu daripada orang lain.

Coba bayangkan kalau hidup ini benar-benar diaudit dengan standar akuntansi keimanan. Kita akan menemukan banyak akun yang “overstated”—merasa sudah baik padahal belum, merasa sudah ikhlas padahal masih berharap dilihat. Sebaliknya, ada juga akun yang “understated”—amal kecil yang kita anggap remeh, padahal justru bernilai besar di hadapan Tuhan.

Ramadhan mengajarkan kita satu hal penting: bahwa tidak semua yang terlihat besar itu signifikan, dan tidak semua yang kecil itu tidak berarti. Dalam akuntansi, ini seperti konsep materialitas. Dalam kehidupan, ini seperti senyum kepada tetangga yang mungkin nilainya lebih besar daripada ceramah panjang yang disiarkan langsung.

Jurnal penutup juga mengandung makna reset. Setelah semua akun ditutup, kita memulai periode baru dengan saldo nol—bukan nol dalam arti kosong, tapi nol dalam arti bersih. Inilah yang dalam bahasa agama disebut fitrah. Maka Idul Fitri bukan sekadar hari raya, melainkan laporan posisi keuangan spiritual yang baru: bersih dari dosa, ringan dari beban, dan—semoga—kaya akan keikhlasan.

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Petuah yang Disangka Mantra

    Petuah yang Disangka Mantra

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 518
    • 0Komentar

    Petuah ini sesungguhnya menyampaikan pesan tentang akuntabilitas. Bukan akuntabilitas birokrasi atau instansi, melainkan akuntabilitas pribadi manusia terhadap Tuhan, alam, sesama, dan dirinya sendiri. Nilai ini menjadi laku hidup orang Mandar dalam relasi mereka dengan dunia. Darmawan Mas’ud menafsirkan petuah tersebut sebagai pengetahuan tentang pentingnya menginternalisasi nilai kebaikan. Relasi vertikal manusia dengan alam melahirkan manusia yang […]

  • Ketua Umum MUI Ajak Bangsa Perkuat Persatuan dan Doa Hadapi Dinamika Global

    Ketua Umum MUI Ajak Bangsa Perkuat Persatuan dan Doa Hadapi Dinamika Global

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 223
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Iskandar, mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat persatuan nasional serta meningkatkan ikhtiar spiritual di tengah dinamika geopolitik dan geoekonomi global yang terus berkembang. Hal tersebut disampaikan Anwar usai menghadiri kegiatan silaturahmi antara Presiden dan para kiai serta tokoh organisasi kemasyarakatan Islam di Istana Kepresidenan Jakarta pada […]

  • Runtuhnya Masyarakat Sipil?

    Runtuhnya Masyarakat Sipil?

    • calendar_month Minggu, 29 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 342
    • 0Komentar

    Perubahan paling mencolok terjadi di era digital. Ruang publik tidak lagi dimediasi oleh forum-forum fisik seperti kampus, diskusi terbuka, atau organisasi massa, melainkan oleh platform media sosial yang serba cepat dan cenderung dangkal. Kritik tetap hadir, bahkan mungkin lebih ramai dari sebelumnya, tetapi dalam bentuk yang berbeda: buzzing. Kritik menjadi viral, namun tidak selalu substansial. […]

  • Membaca Nahdlatul Ulama Gorontalo Pasca Konferwil Kelima

    Membaca Nahdlatul Ulama Gorontalo Pasca Konferwil Kelima

    • calendar_month Selasa, 11 Okt 2022
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 124
    • 0Komentar

    Konferensi Wilayah (Konferwil) ke-V Nahdlatul Ulama (NU) Gorontalo telah digelar pada 27 Oktober 2022 di Asrama Haji Gorontalo. Dalam proses pelaksanaannya, sejumlah catatan prosedural sempat menjadi perbincangan di kalangan internal. Namun tulisan ini tidak bermaksud mengurai seluruh polemik tersebut. Catatan ini lebih merupakan ajakan kepada para nahdliyin untuk membaca arah perjalanan NU Gorontalo lima tahun […]

  • Aktivis Bakal menggelar Aksi Demo, Desak Kejati dan Polda Gorontalo Tangkap Wahyudin Moridu

    Aktivis Bakal menggelar Aksi Demo, Desak Kejati dan Polda Gorontalo Tangkap Wahyudin Moridu

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Gelombang kritik terhadap praktik korupsi di tubuh elit politik Gorontalo semakin menguat. Aktivis muda Gorontalo, Kevin Lapendos, dengan lantang meminta Kejaksaan Tinggi (Kejati) dan Polda Gorontalo segera mengambil langkah hukum tegas terhadap Wahyudin Moridu, anggota legislatif Provinsi Gorontalo dari fraksi PDIP, yang diduga kuat terlibat dalam praktik korupsi saat masih menjabat sebagai anggota DPRD Boalemo […]

  • Yayasan As Salam Terpadu Tenjo Buka PMBM 2026/2027, Siapkan Generasi Unggul Berbasis Nilai Islam

    Yayasan As Salam Terpadu Tenjo Buka PMBM 2026/2027, Siapkan Generasi Unggul Berbasis Nilai Islam

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 228
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Yayasan As Salam Terpadu Tenjo resmi membuka Penerimaan Murid Baru Madrasah (PMBM) untuk Tahun Pelajaran 2026/2027. Pendaftaran dibuka mulai Maret hingga Juli 2026 untuk tiga jenjang pendidikan, yakni Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Pembukaan PMBM ini merupakan bagian dari komitmen yayasan dalam memperluas akses pendidikan Islam yang berkualitas, […]

expand_less