Kalau Punya Empat Orang Tua, Siapa yang Harus Dibakti? Begini Jawaban Menyejukkan Gus Aniq
- account_circle Djemi Radji
- calendar_month Minggu, 21 Des 2025
- visibility 122
- print Cetak

KH. Abdullah Aniq Nawawi, MA/ Foto: Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com – Ketika keluarga berubah bentuk, orang tua bercerai, lalu masing-masing menikah lagi yang sering kebingungan bukan hanya orang dewasa, tetapi juga anak. Mereka tumbuh dengan ayah kandung, ibu kandung, sekaligus ayah tiri dan ibu tiri. Lalu pertanyaan muncul: bagaimana cara berbakti dalam keluarga seperti itu?
Pertanyaan itulah yang dibahas KH. Abdullah Aniq Nawawi, MA dalam pengajian bertema “Berbakti Pada Orang Tua” yang tayang di kanal Youtube Pesantren Salafiyah Syafiiyah pada 2023 lalu.
Jawabannya sederhana, tetapi terasa seperti pelukan bagi siapa pun yang mendengarnya.
“Birrul walidain, tetap. Anak tetap wajib berbakti kepada ayah kandung dan ibu kandung. Menghormati ayah tiri dan ibu tiri juga dianjurkan, karena keduanya punya peran dalam kehidupan anak,” ujar Gus Aniq.
Tidak ada istilah “tiri” dalam fikih
Gus Aniq menyampaikan hal menarik: dalam fikih, sebenarnya istilah bapak tiri dan ibu tiri tidak ada. Yang dipakai adalah: Istri dari ayah (Zaujatu al-ab) dan Suami dari ibu (Zawju al-umm)
Meski istilahnya berbeda, nilai kehormatan terhadap mereka tetap dijaga.
Masalah yang sering bikin bingung: mahram dan batal wudu. Topik orang tua tiri biasanya bersinggungan dengan hukum mahram. Di sinilah banyak orang keliru. Gus Aniq meluruskannya dengan bahasa mudah dipahami.
“Jika ayah tiri belum pernah berhubungan dengan ibu kandung, maka belum menjadi mahram, sentuhan masih bisa membatalkan wudu, dan secara teori keduanya masih boleh menikah jika kelak cerai”, terangnya.
Jika sudah terjadi hubungan, lanjut Gus Aniq, maka statusnya menjadi mahram selamanya (muabbad).
” Artinya, sentuhan tidak membatalkan wudu dan haram menikah selamanya sama seperti hubungan dengan ayah kandung”, paparnya.
Penjelasan ini disampaikan tanpa menghakimi, tetapi seolah memahami kenyataan keluarga modern yang makin beragam.
Kalau perintah orang tua berbeda, siapa yang didahulukan?
Di banyak rumah tangga, anak kerap terjebak di tengah dua permintaan. Gus Aniq memberikan panduan jernih. Kalau masih bisa dilakukan dua-duanya, laksanakan.
Kalau tidak bisa, perintah ibu didahulukan.
Bukan untuk merendahkan posisi ayah, tetapi untuk menegaskan ajaran Rasul bahwa keridhaan ibu menjadi pintu besar bagi keridhaan Allah.
Soal doa? Tidak perlu dibatasi
Satu bagian yang paling menyentuh adalah ketika ada yang bertanya apakah doa harus ditujukan kepada empat orang tua sekaligus. Gus Aniq menjawab tanpa ragu:
“Doakan semuanya. Mendoakan orang lain tidak mengurangi apa pun dari kita. Bahkan malaikat akan mendoakan kita balik.”
Di era ketika bentuk keluarga tidak selalu linear seperti dulu, banyak orang memikul bingkai keluarga yang lebih kompleks daripada yang dibayangkan kitab pelajaran sekolah. Namun penjelasan Gus Aniq menunjukkan satu hal, bahwa agama tidak datang untuk membebani, tetapi untuk memberi jalan pulang.
Berbakti itu bukan sekadar tentang struktur keluarga, tetapi tentang cinta, penghormatan, dan kebaikan hati di mana pun kita ditempatkan oleh takdir.
- Penulis: Djemi Radji
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar