Ketika Lampu-Lampu Dinyalakan: Tumbilo Tohe dan Spirit Menjemput Lailatul Qadar
- account_circle Dr. Hj. Misnawaty S. Nuna
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 102
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam konteks Tumbilo Tohe, lampu-lampu yang dinyalakan menjadi simbol bahwa masyarakat Gorontalo tidak ingin membiarkan malam-malam akhir Ramadhan berlalu dalam kegelapan.
Mereka ingin menghadirkan cahaya, baik cahaya fisik di jalan menuju masjid, maupun cahaya spiritual di dalam hati.
Tradisi ini sekaligus menjadi pesan bahwa jalan menuju ibadah harus selalu dipermudah dan diterangi, agar manusia semakin dekat dengan Allah swt.
Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah i’tikaf, yaitu berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam sebuah hadits disebutkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ
Kāna Rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wasallam ya‘takifu al-‘asyra al-awākhira min Ramaḍhān
Artinya:
Rasulullah ﷺ senantiasa melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
(HR. Bukhari dan Muslim)
I’tikaf merupakan bentuk kesungguhan spiritual seorang mukmin dalam memaksimalkan akhir Ramadan.
Ia menjadi momen untuk memperbanyak shalat malam, membaca Al-qur’an, berdzikir, dan berdoa.
Dalam konteks ini, tradisi Tumbilo Tohe memiliki makna sosial yang sangat kuat.
Lampu-lampu yang dinyalakan di jalan menuju masjid menjadi simbol ajakan kolektif kepada masyarakat untuk menghidupkan malam-malam akhir Ramadhan.
- Penulis: Dr. Hj. Misnawaty S. Nuna

Saat ini belum ada komentar