Ketika Lampu-Lampu Dinyalakan: Tumbilo Tohe dan Spirit Menjemput Lailatul Qadar
- account_circle Dr. Hj. Misnawaty S. Nuna
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 101
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Seolah-olah lampu itu berkata:
“Wahai manusia, jangan biarkan malam ini berlalu tanpa ibadah.”
Puncak dari semangat ibadah pada akhir Ramadan adalah pencarian Lailatul Qadar.
Allah berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Innā anzalnāhu fī laylatil-qadr.
Wa mā adrāka mā laylatul-qadr.
Laylatul-qadri khairun min alfi syahri.
Artinya:
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-qur’an) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.
(QS. Al-Qadr: 1–3)
Dalam hadits Rasulullah ﷺ bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Taḥarrāw laylatal-qadri fil-witri minal-‘asyri al-awākhiri min Ramaḍhān.
Artinya:
Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadhan.
(HR. Bukhari)
Karena itulah masyarakat Gorontalo secara turun-temurun memeriahkan malam 27 Ramadhan dengan menyalakan lampu-lampu sebagai bentuk kegembiraan dan harapan untuk menyambut malam yang mulia tersebut.
- Penulis: Dr. Hj. Misnawaty S. Nuna

Saat ini belum ada komentar