Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Mahasiswa Akuntansi UNUSIA Menggugat Trans 7: Kritik atas Tayangan “Exposed Uncensored”

  • account_circle Rivaldi Bulilingo
  • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
  • visibility 164
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tayangan Exposed Uncensored yang disiarkan oleh Trans 7 menuai gelombang protes dari kalangan akademisi muda Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), khususnya mahasiswa Program Studi Akuntansi. Mereka menilai konten tersebut telah melampaui batas etika penyiaran dan mencederai nilai-nilai keagamaan serta budaya bangsa.

Asep Alfarizi Yulianto, mahasiswa Akuntansi UNUSIA semester V, menilai tayangan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk “sensasionalisme yang membahayakan.”

“Bukan hanya merendahkan sebuah instansi, tetapi juga pendidikan agama Islam, bahkan seorang pimpinan pesantren. Tayangan tersebut merendahkan nilai-nilai spiritual dan budaya, serta berpotensi memicu perpecahan di masyarakat,” tegas Asep, Selasa (15/10/2025), melalui rilis diterima bakukabar.id

Asep menambahkan, konten semacam itu menunjukkan kegagalan media dalam memahami tanggung jawab moral dan sosial penyiaran publik.

“Mereka gagal memahami etika penyiaran dan keberagaman yang seharusnya dijaga. Sikap seperti ini justru merusak kredibilitas lembaga media itu sendiri,” ujarnya.

Senada dengan itu, Sintia Nur Afifah, mahasiswa Akuntansi UNUSIA semester VII, menyatakan bahwa Exposed Uncensored merupakan bentuk pelecehan terhadap pesantren dan para kiai yang selama ini menjadi sumber nilai serta keteladanan bagi warga Nahdlatul Ulama (NU).

“Sebagai mahasiswa UNUSIA dan kader PMII, saya menilai tindakan itu tidak hanya melukai perasaan santri, tetapi juga merusak kehormatan tradisi keilmuan pesantren,” ungkap Sintia.

Ia menegaskan, media semestinya berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan justru merendahkan martabat lembaga keagamaan yang telah berkontribusi besar terhadap pembangunan moral dan sosial di Indonesia. Sintia pun mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) agar menindak tegas tayangan semacam itu supaya tidak menjadi preseden buruk bagi dunia jurnalistik nasional.

Kritik mahasiswa UNUSIA ini dinilai sebagai bentuk kesadaran baru di kalangan generasi muda Nahdlatul Ulama terhadap pentingnya menjaga kehormatan nilai-nilai keagamaan dan budaya dari komersialisasi media. Mereka menegaskan bahwa kebebasan berekspresi tidak boleh dijadikan alasan untuk melecehkan nilai-nilai luhur bangsa.

“Pers dan media televisi harus menjadi pilar moral yang mendidik, bukan menebar sensasi yang menyesatkan,” tutup Asep.

Sementara itu, Firyal Zulkarnain, mahasiswa Akuntansi UNUSIA semester V, menambahkan bahwa jika isi tayangan tersebut benar sesuai fakta yang terjadi, maka hal itu juga menunjukkan ketidaketisan seorang atasan dalam lembaga pesantren.

“Terlebih gelar kiai memiliki makna spiritual dan moral yang tinggi. Konten semacam itu berkontradiksi dengan pandangan masyarakat serta bertentangan dengan nilai-nilai Islam,” ujar Firyal.

Kritik keras dari mahasiswa UNUSIA ini diharapkan menjadi refleksi bagi industri penyiaran agar kembali menempatkan moralitas dan tanggung jawab sosial sebagai ruh utama dalam setiap tayangan publik.

  • Penulis: Rivaldi Bulilingo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Yang Barangkali Luput dalam Perbincangan soal Sadaka

    Yang Barangkali Luput dalam Perbincangan soal Sadaka

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 1.724
    • 1Komentar

    Alasan mengapa sadaka ramai diperbincangkan di kalangan masyarakat Gorontalo beberapa hari ini sederhana: memberatkan. Perbincangan ini juga bukan barang baru. Sebelumnya, jika jeli membaca timeline Facebook, Anda akan menemukan berbagai postingan yang membeberkan keluh-kesah warga soal praktik ini. Masa iya misalnya, kita yang sedang berduka, lalu harus memberi sejumlah uang pada para elit, pembesar, pemangku […]

  • Ketika Karamah dan Budaya Menyatu: Menelusuri Jejak Spiritualitas Islam Gorontalo Lewat Sosok Bapu Paci Nurjana

    Ketika Karamah dan Budaya Menyatu: Menelusuri Jejak Spiritualitas Islam Gorontalo Lewat Sosok Bapu Paci Nurjana

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle M. Fadhil Hadju
    • visibility 266
    • 0Komentar

    Di tanah Gorontalo, Islam tidak hanya dipeluk dalam syariat, tetapi juga dirawat dalam budaya. Dalam ritus seperti modikili, tahlilan, maulidan, dan doa arwah, agama dan adat saling menyatu. Di antara masyarakat yang memegang teguh warisan ini, terdapat satu nama yang tetap harum hingga hari ini: KH Yahya Podungge, atau yang lebih dikenal dengan Bapu Paci […]

  • Ratusan Santri Seblak Belajar Ekologi dan Toleransi di Festival Jagat

    Ratusan Santri Seblak Belajar Ekologi dan Toleransi di Festival Jagat

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 87
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM – JOMBANG – Ratusan santri tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) mengikuti rangkaian acara Fun Games dalam Festival Jagat di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, Jawa Timur, pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Agenda ini dirancang secara khusus sebagai ruang edukasi alternatif yang mengenalkan isu ekologi, etika digital, hingga nilai-nilai karakter bangsa […]

  • Tenggeyamo, Sidang Isbat ala Gorontalo menentukan Awal Ramadan dan 1 Syawal

    Tenggeyamo, Sidang Isbat ala Gorontalo menentukan Awal Ramadan dan 1 Syawal

    • calendar_month Rabu, 5 Mar 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 197
    • 0Komentar

    Tradisi Tenggeyamo diketahui ada sejak zaman kesultanan Gorontalo dan hingga kini masih digelar setiap tahun. Sebelum penetapan, biasanya agenda diawali dengan ceramah tentang asal-muasal bulan Ramadan sambil menunggu hasil sidang isbat dari pemerintah dalam menentukan awal Ramadan dan 1 Syawal. Gelaran Tanggeyamo biasanya dilakukan di rumah adat atau di rumah dinas kepala daerah di Gorontalo. […]

  • Di Tengah Kasus OTT Kuansing, Menhut Buka Suara soal Amplop yang Ditinggalkan Bupati

    Di Tengah Kasus OTT Kuansing, Menhut Buka Suara soal Amplop yang Ditinggalkan Bupati

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 177
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni akhirnya buka suara terkait kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang menjerat Bupati Kuantan Singingi (Kuansing). Di tengah proses penyidikan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Menhut mengungkap adanya sebuah amplop yang ditinggalkan sang bupati usai melakukan audiensi di Kementerian Kehutanan. Raja Juli Antoni menegaskan dukungan penuhnya terhadap langkah […]

  • Pemkot Gorontalo Larang Petasan Saat Malam Tahun Baru 2026

    Pemkot Gorontalo Larang Petasan Saat Malam Tahun Baru 2026

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 331
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Pemerintah Kota Gorontalo secara resmi melarang penggunaan petasan saat perayaan malam pergantian tahun 2025 ke 2026. Larangan tersebut ditegaskan langsung oleh Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea. Pernyataan itu disampaikan Wali Kota Adhan saat diwawancarai pewarta usai apel malam pada kegiatan wisata akhir tahun yang digelar Pemkot Gorontalo di Pantai Bolihutuo, Kecamatan Botumoito, Kabupaten […]

expand_less