Breaking News
light_mode
Trending Tags

Malimbong dan Madzilalang: Merunut Cahaya di Balik Tumpukan Ilmu

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
  • visibility 173
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di zaman ketika ilmu melimpah dan akses pengetahuan terbuka lebar sepertinya makin Ada jarak yang antara mengetahui dan menjadi—jarak yang tak selalu bisa dijembatani oleh kecerdasan.
Ternyata tidak semua Ilmu menjadi jalan kebijaksanaan, ilmu yang tidak meneduhkan, sering kali hanya menjadi beban kesombongan.

Dalam tradisi lisan masyarakat Mandar, ada satu kata yang diucapkan dengan penuh hormat: Malimbong. Ia bukan pujian ringan, apalagi sanjungan kosong. Malimbong adalah pengakuan sosial atas keluasan pandangan, keluasan bacaan, dan ketajaman nalar seseorang. Ia menandai perjalanan intelektual yang panjang—tentang seseorang yang telah lama bergulat dengan teks, realitas, dan logika. Malimbong adalah kecakapan berpikir yang tampak dan bisa diukur.

Namun, di lorong-lorong batin yang lebih sunyi, masyarakat Mandar mengenal istilah lain yang jauh lebih hening, tetapi justru lebih berat bobotnya: Madzilalang. Bagi saya, Madzilalang adalah tahap ketika ilmu berhenti menjadi sekadar isi kepala, lalu menjelma menjadi sikap hidup. Di titik ini, pengetahuan tidak lagi berdiri sebagai data, tetapi telah bersemayam sebagai laku, sebagai cara hadir di dunia. Jika Malimbong bertanya seberapa luas yang kau ketahui, Madzilalang bertanya sejauh apa ilmu itu mengubahmu. Bukan lagi soal “tahu”, melainkan soal “menjadi”.
Orang yang sampai pada maqam Madzilalang biasanya teduh. Ilmunya tidak gaduh, tidak mencari sorotan, tidak merasa perlu membuktikan diri. Ia tidak sibuk menata kata agar terdengar pintar. Justru dari ketenangannya, kebijaksanaan memancar. Ia seperti cahaya: tidak berisik menjelaskan dirinya, tetapi kehadirannya membuat sekitar menjadi terang, arah menjadi jelas, dan orang lain merasa aman.

Diskusi dengan Kak Anchu tempo hari mengguncang kesadaran saya. Kita hidup di zaman ketika sekolah tinggi bukan lagi barang langka. Gelar akademik berderet, disiplin ilmu dikuasai, perdebatan dikelola dengan sangat lihai. Banyak di antara kita—tanpa ragu—layak disebut Malimbong. Namun, ada satu kegelisahan yang sulit disingkirkan: mengapa keluasan ilmu sering tidak berbanding lurus dengan keteduhan sikap?

Barangkali ini berat karena Madzilalang menuntut sesuatu yang lebih daripada kecerdasan yaitu penyelesaian terhadap ego. Pada tahap ini, seseorang mesti berdamai dengan kesombongan yang kerap bersembunyi di balik prestasi dan gelar. Ilmu tidak lagi dipakai untuk menaklukkan, mengalahkan, atau mendominasi. Yang memancar justru kesederhanaan, kasih sayang, dan kebijaksanaan yang hidup. Ilmu berubah orientasi: dari alat kuasa menjadi jalan pengabdian.

benang merahnya terlihat jelas bahwa Tanggung jawab ilmu tidak boleh berhenti di kepala atau di lisan. Ia harus melampaui kepentingan diri, lalu kembali kepada orientasi yang lebih luhur—kepada Yang Maha Pengasih. Ilmu sejati mesti diurus dengan cinta. Dan cinta, barangkali, adalah bentuk tindakan manusia yang paling dekat dengan kebenaran sejatinya.

Sayangnya, ilmu yang bernyawa seperti ini sering tersingkir oleh arus zaman yang serba material. Kita terlalu sibuk mengoleksi pengakuan, prestise, dan legitimasi formal, tetapi lupa merawat ruhani—hati yang seharusnya menjadi pusat dari seluruh pengetahuan. Padahal, ukuran paling nyata dari ilmu seseorang bukanlah kefasihan argumennya, melainkan dampak kehadirannya: apakah ia membuat orang lain merasa aman, lapang, dan damai.

Tulisan ini bukan sekadar refleksi, melainkan juga teguran bagi keangkuhan saya sendiri—yang kerap merasa tahu banyak, tetapi lalai mengenal diri, dan lupa kepada Dia yang menggenggam seluruh pengetahuan dan keberadaan ini.
Kita sering terlena. Negara mungkin terus bergerak maju, semakin dinamis dalam percaturan global. Tetapi tanpa Madzilalang, kita kehilangan ruh spiritualitas. Tak heran bila banyak aktor pembangunan lahir sebagai pribadi-pribadi yang sangat cakap—Malimbong—namun gagal menyentuh hati dan tak memiliki daya ubah yang sungguh-sungguh, sebab pesan tak terpancar, ilmu tidak pernah benar-benar menetap dalam jiwanya. Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Penulis : Alumni PascaSarjana Sosiologi Agama UIN SUKA

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kecelakaan Adu Banteng di KM 58 Samarinda–Bontang, Korban Sempat Terjebak di Dalam Mobil

    Kecelakaan Adu Banteng di KM 58 Samarinda–Bontang, Korban Sempat Terjebak di Dalam Mobil

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 110
    • 0Komentar

    nulondalo.com–  Kecelakaan lalu lintas terjadi di KM 58 jalur Samarinda–Bontang, Kalimantan Timur, pada Minggu (1/3/2026). Dua mobil, masing-masing berwarna hitam dan perak, terlibat tabrakan adu banteng dengan kondisi kendaraan mengalami kerusakan parah. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan bagian depan kedua mobil ringsek berat. Sejumlah korban tampak terjebak di dalam kendaraan dan harus dievakuasi […]

  • UMP Gorontalo 2026 Naik Jadi Rp3,4 Juta, Pekerja Sambut Harapan Baru, Pengusaha Lakukan Penyesuaian

    UMP Gorontalo 2026 Naik Jadi Rp3,4 Juta, Pekerja Sambut Harapan Baru, Pengusaha Lakukan Penyesuaian

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 99
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Provinsi Gorontalo resmi menetapkan Upah Minimum Provinsi (UMP) Gorontalo tahun 2026 sebesar Rp3.405.144 per bulan. Keputusan tersebut diumumkan langsung oleh Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail pada Senin, 22 Desember 2025, di Rumah Dinas Gubernur. Penetapan UMP ini mengalami kenaikan sekitar Rp183 ribu atau 5,7 persen dibandingkan UMP 2025 yang berada di angka Rp3.221.731. […]

  • Breaking News : Prabowo Serukan Perang Terhadap Sampah

    Breaking News : Prabowo Serukan Perang Terhadap Sampah

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 244
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Prabowo Subianto menyerukan perang terhadap sampah dan meminta seluruh kepala daerah, kementerian, serta lembaga negara untuk serius menangani persoalan lingkungan. Seruan tersebut disampaikan Prabowo saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintahan Pusat dan Daerah di Sentul, Bogor, Senin (2/2/2026). Dalam arahannya, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia saat ini berada dalam kondisi darurat sampah. […]

  • Karya “Benang Pluralisme” Perupa Gorontalo Bikin Sinta Nuriyah Terpukau di Temu Nasional GUSDURian

    Karya “Benang Pluralisme” Perupa Gorontalo Bikin Sinta Nuriyah Terpukau di Temu Nasional GUSDURian

    • calendar_month Selasa, 11 Okt 2022
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 17
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Senyuman bahagia tak terbendung dari wajah Sinta Nuriyah Wahid saat berada di atas panggung megah Temu Nasional GUSDURian 2022 di Surabaya. Momen tersebut terjadi ketika ia menerima sebuah karya seni dari perupa Gorontalo, Akbar Hidayat. Karya berjudul “Benang Pluralisme” itu dibuat dari susunan benang dan paku yang membentuk wajah Abdurrahman Wahid atau Gus […]

  • Dua Pilot Tewas, Pesawat Smart Air PK-SNR Ditembak KKB di Papua

    Dua Pilot Tewas, Pesawat Smart Air PK-SNR Ditembak KKB di Papua

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 72
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 membenarkan peristiwa penembakan terhadap pesawat Smart Air dengan nomor registrasi PK-SNR yang terjadi di wilayah Danawage/Koroway Batu, Papua, Rabu (11/2/2026). Insiden tersebut diduga dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Kasatgas Operasi Damai Cartenz 2026, Brigjen Pol. Faizal Ramdani, menyampaikan bahwa peristiwa tersebut mengakibatkan korban jiwa. Dua korban yang […]

  • Permohonan Dispensasi Nikah di Gorontalo Tinggi, Dinas PPPA Ajak Pemberdayaan dan Edukasi

    Permohonan Dispensasi Nikah di Gorontalo Tinggi, Dinas PPPA Ajak Pemberdayaan dan Edukasi

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Nulondalo.com — Permohonan dispensasi nikah di Provinsi Gorontalo sepanjang tahun 2025 tercatat ratusan kasus meskipun pemerintah dan lembaga terkait terus memperkuat pencegahan pernikahan usia anak. Berdasarkan data Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Gorontalo, sampai pertengahan Desember 2025 terdapat total 524 permohonan dispensasi nikah dari seluruh kabupaten/kota di Gorontalo. Jumlah ini menunjukkan bahwa fenomena pernikahan di bawah […]

expand_less