Breaking News
light_mode
Trending Tags

Malimbong dan Madzilalang: Merunut Cahaya di Balik Tumpukan Ilmu

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month 7 jam yang lalu
  • visibility 49
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di zaman ketika ilmu melimpah dan akses pengetahuan terbuka lebar sepertinya makin Ada jarak yang antara mengetahui dan menjadi—jarak yang tak selalu bisa dijembatani oleh kecerdasan.
Ternyata tidak semua Ilmu menjadi jalan kebijaksanaan, ilmu yang tidak meneduhkan, sering kali hanya menjadi beban kesombongan.

Dalam tradisi lisan masyarakat Mandar, ada satu kata yang diucapkan dengan penuh hormat: Malimbong. Ia bukan pujian ringan, apalagi sanjungan kosong. Malimbong adalah pengakuan sosial atas keluasan pandangan, keluasan bacaan, dan ketajaman nalar seseorang. Ia menandai perjalanan intelektual yang panjang—tentang seseorang yang telah lama bergulat dengan teks, realitas, dan logika. Malimbong adalah kecakapan berpikir yang tampak dan bisa diukur.

Namun, di lorong-lorong batin yang lebih sunyi, masyarakat Mandar mengenal istilah lain yang jauh lebih hening, tetapi justru lebih berat bobotnya: Madzilalang. Bagi saya, Madzilalang adalah tahap ketika ilmu berhenti menjadi sekadar isi kepala, lalu menjelma menjadi sikap hidup. Di titik ini, pengetahuan tidak lagi berdiri sebagai data, tetapi telah bersemayam sebagai laku, sebagai cara hadir di dunia. Jika Malimbong bertanya seberapa luas yang kau ketahui, Madzilalang bertanya sejauh apa ilmu itu mengubahmu. Bukan lagi soal “tahu”, melainkan soal “menjadi”.
Orang yang sampai pada maqam Madzilalang biasanya teduh. Ilmunya tidak gaduh, tidak mencari sorotan, tidak merasa perlu membuktikan diri. Ia tidak sibuk menata kata agar terdengar pintar. Justru dari ketenangannya, kebijaksanaan memancar. Ia seperti cahaya: tidak berisik menjelaskan dirinya, tetapi kehadirannya membuat sekitar menjadi terang, arah menjadi jelas, dan orang lain merasa aman.

Diskusi dengan Kak Anchu tempo hari mengguncang kesadaran saya. Kita hidup di zaman ketika sekolah tinggi bukan lagi barang langka. Gelar akademik berderet, disiplin ilmu dikuasai, perdebatan dikelola dengan sangat lihai. Banyak di antara kita—tanpa ragu—layak disebut Malimbong. Namun, ada satu kegelisahan yang sulit disingkirkan: mengapa keluasan ilmu sering tidak berbanding lurus dengan keteduhan sikap?

Barangkali ini berat karena Madzilalang menuntut sesuatu yang lebih daripada kecerdasan yaitu penyelesaian terhadap ego. Pada tahap ini, seseorang mesti berdamai dengan kesombongan yang kerap bersembunyi di balik prestasi dan gelar. Ilmu tidak lagi dipakai untuk menaklukkan, mengalahkan, atau mendominasi. Yang memancar justru kesederhanaan, kasih sayang, dan kebijaksanaan yang hidup. Ilmu berubah orientasi: dari alat kuasa menjadi jalan pengabdian.

benang merahnya terlihat jelas bahwa Tanggung jawab ilmu tidak boleh berhenti di kepala atau di lisan. Ia harus melampaui kepentingan diri, lalu kembali kepada orientasi yang lebih luhur—kepada Yang Maha Pengasih. Ilmu sejati mesti diurus dengan cinta. Dan cinta, barangkali, adalah bentuk tindakan manusia yang paling dekat dengan kebenaran sejatinya.

Sayangnya, ilmu yang bernyawa seperti ini sering tersingkir oleh arus zaman yang serba material. Kita terlalu sibuk mengoleksi pengakuan, prestise, dan legitimasi formal, tetapi lupa merawat ruhani—hati yang seharusnya menjadi pusat dari seluruh pengetahuan. Padahal, ukuran paling nyata dari ilmu seseorang bukanlah kefasihan argumennya, melainkan dampak kehadirannya: apakah ia membuat orang lain merasa aman, lapang, dan damai.

Tulisan ini bukan sekadar refleksi, melainkan juga teguran bagi keangkuhan saya sendiri—yang kerap merasa tahu banyak, tetapi lalai mengenal diri, dan lupa kepada Dia yang menggenggam seluruh pengetahuan dan keberadaan ini.
Kita sering terlena. Negara mungkin terus bergerak maju, semakin dinamis dalam percaturan global. Tetapi tanpa Madzilalang, kita kehilangan ruh spiritualitas. Tak heran bila banyak aktor pembangunan lahir sebagai pribadi-pribadi yang sangat cakap—Malimbong—namun gagal menyentuh hati dan tak memiliki daya ubah yang sungguh-sungguh, sebab pesan tak terpancar, ilmu tidak pernah benar-benar menetap dalam jiwanya. Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Penulis : Alumni PascaSarjana Sosiologi Agama UIN SUKA

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Demokrasi (Harus) Menjadi Kebudayaan

    Demokrasi (Harus) Menjadi Kebudayaan

    • calendar_month Jumat, 5 Sep 2025
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Refleksi Temu Nasional (TUNAS) Jaringan GUSDURian 2025 Oleh : Pepi Al-Bayqunie (Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah) Di Indonesia, demokrasi kerap tampil meriah hanya saat pemilu. Angka, statistik, dan pesta politik menjadi hal yang paling mencolok. Namun, setelah hiruk pikuk itu usai, demokrasi sering kembali sepi. Ia menyusut menjadi prosedur […]

  • Puzzle Terakhir Demokrasi: Partisipasi Publik di Media Digital

    Puzzle Terakhir Demokrasi: Partisipasi Publik di Media Digital

    • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Indonesia sudah lama menerima demokrasi sebagai bentuk. bahkan sejak awal diproklamirkan, demokrasi diterima sebagai instrumen politik utama. Tetapi entah kenapa, selalu terasa ada yang kurang lengkap. Seolah ada satu puzzle yang hilang dan membuat demokrasi kita tak utuh. Yaitu partisipasi publik yang subtantif. Padahal, partisipasi publik adalah mandat utama demokrasi. Selama bertahun-tahun, partisipasi publik dalam […]

  • Presiden Prabowo Lantik Dewan Energi Nasional, Bahlil Tegaskan Babak Baru Kedaulatan Energi

    Presiden Prabowo Lantik Dewan Energi Nasional, Bahlil Tegaskan Babak Baru Kedaulatan Energi

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 128
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik keanggotaan Dewan Energi Nasional (DEN) dari unsur pemerintah dan pemangku kepentingan, Rabu (28/1/2026), di Istana Negara, Jakarta. Pelantikan ini menandai dimulainya babak baru dalam pengelolaan energi nasional yang lebih terarah, berdaulat, dan berkelanjutan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Harian DEN, Bahlil Lahadalia, menegaskan […]

  • Aktivis Bakal menggelar Aksi Demo, Desak Kejati dan Polda Gorontalo Tangkap Wahyudin Moridu

    Aktivis Bakal menggelar Aksi Demo, Desak Kejati dan Polda Gorontalo Tangkap Wahyudin Moridu

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Gelombang kritik terhadap praktik korupsi di tubuh elit politik Gorontalo semakin menguat. Aktivis muda Gorontalo, Kevin Lapendos, dengan lantang meminta Kejaksaan Tinggi (Kejati) dan Polda Gorontalo segera mengambil langkah hukum tegas terhadap Wahyudin Moridu, anggota legislatif Provinsi Gorontalo dari fraksi PDIP, yang diduga kuat terlibat dalam praktik korupsi saat masih menjabat sebagai anggota DPRD Boalemo […]

  • PKC PMII Gorontalo Bersama PWNU dan PMI Gelar Donor Darah Jelang HUT RI ke-80

    PKC PMII Gorontalo Bersama PWNU dan PMI Gelar Donor Darah Jelang HUT RI ke-80

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 33
    • 0Komentar

    Menyambut peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Gorontalo bersama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Gorontalo menggelar aksi donor darah di Kantor PWNU Gorontalo, Sabtu (16/8/2025). Ketua PKC PMII Gorontalo, Windy Olivia Dawa, menegaskan kegiatan ini bukan sekadar […]

  • Parkir di Gorontalo Kini Cukup Bayar Sekali Setahun, Ini Tarif Lengkapnya

    Parkir di Gorontalo Kini Cukup Bayar Sekali Setahun, Ini Tarif Lengkapnya

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 65
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kota Gorontalo resmi menerapkan program parkir berlangganan sebagai terobosan baru dalam pelayanan perparkiran. Melalui program ini, masyarakat cukup membayar satu kali untuk masa berlaku satu tahun, tanpa perlu lagi mengeluarkan biaya setiap kali memarkir kendaraan di tepi jalan umum. Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Gorontalo, Rahmanto Idji, menjelaskan bahwa kebijakan […]

expand_less