Misteri Emas Molalahu dan Keserakahan yang Terus Berulang
- account_circle Momy Hunowu
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 46
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sebagai salah seorang warganegara yang terlahir di tanah Molalahu, saya terkejut membaca postingan yang dibagikan warganet di media sosial, menyayat hati. Tentang aktivitas liar, mencabik-cabik bumi tanah leluhur. Kabar itu seketika menjadi viral. Berbagai komentar penolakan berseliweran di jagad maya, seturut viralnya 100 ribu rupiah ongkos naik bentor pada acara Penas Tani dan Nelayan Ke 7 di Kota Limboto. Sungguh menyesakkan dada. Betapa keramahan orang Gorontalo telah ternodai, seturut kedamaian warga kampung tua Molamahu (Molalahu Mulolo) yang dihuni oleh kaum tani pekerja keras itu diam-diam dijamah tangan-tangan serakah pemburu harta karun.
Sekelompok orang tak dikenal, tiba-tiba membangun pondok di hulu sungai berikut 1 unit cangkul raksasa, lengkap dengan peralatan penambangan, mengaduk-aduk tanah hingga mengeruhkan sungai. Dari situlah warga curiga dan mencium gelagat tak sedap. Pasti ada sesuatu di ujung sana. Kekhawatiran akan air bah yang sering menyapa tangga rumah akan naik levelnya ke langit-langit rumah warga semakin mencekam. Kabar menyesakkan itu segera direspon pemerintah kecamatan pulubala. Sehari setelah pembukaan Penas ke 7, Tim dengan komposisi Tripika dipandu warga setempat bergegas menelusuri jalan berliku, jalan setapak nan licin, naik turun gunung, menyebrang dan menelusuri sungai berbatu. Sungguh menguras tenaga, hingga akhirnya menjangkau lokasi tersembunyi. Sehari kemudian Ketua BPD yang super enerjik itu mengeluarkan surat pernyataan penolakan yang ditandatangani di atas materai 10 ribu. Tak tinggal diam, pak Kades Molamahu, mantan aktivis mahasiswa Unsrat itu segera menyurat kepada Bupati Gorontalo dengan tembusan pihak-pihak terkait.
Upaya-upaya mengeruk kandungan emas di perut bumi Molamahu (Molalahu mulolo) sudah banyak dilakukan. Bukan hanya warga pribumi, melainkan pula warga asing. Baik warga dari daerah lain maupun dari negara nun jauh di sana. Ada kejadian menakjubkan sekaligus mengerikan pada setiap upaya diam-diam mengeruk kandungan emas itu. Ada yang meninggal secara tragis di tempat, ada yang wafat tak lama kemudian, dan bisa jadi kekalahan Belanda melawan pribumi Gorontalo lantaran berusaha mengeruk kandungan emas yang terjaga secara misterius itu.
Saya sudah mengisahkan kejadian-kejadian tersebut secara lengkap pada buku Linula Molalahu: Sejarah, Tradisi dan Kearifan (2020). Ada 2 bagian dalam buku itu yang mengisahkan tentang emas di Molalahu; 1) Molalahu Negeri Emas dan 2) Misteri Jejak Belanda. Berikut kutipannya dengan beberapa penyesuaian.
Molalahu Negeri Emas
Molalahu berasal dari kata lalalalahu artinya menguning, warna atau cahaya yang memantul dari bongkahan emas yang konon dijaga oleh sang putri. Sejak saat itu penamaan Molalahu menjadi melekat pada wilayah ini. Kekayaan alam Molalahu yang tiada taranya ini berlokasi di kedalaman air sungai, di dua tempat yang berbeda; to lilo loowohu dan to lilo hutu-hutuhu. Uniknya, di tempat kedua sebesar alat kukuran kelapa (dudangata). Konon orang-orang terdahulu mencoba menarik bongkahan emas itu dengan berbagai cara, termasuk mengikatnya dengan rantai dan menariknya beramai-ramai dengan menggunakan kerbau. Sayangnya, bongkahan emas seolah tidak bergeming, walhasil malah rantainya yang putus dan para penariknya tewas di tempat. Itulah kenapa, hingga kini bongkahan emas itu tak terjamah.
Rupanya, hasrat manusia untuk memiliki bongkahan emas itu sudah terjadi dari generasi ke generasi. Sejak zaman dahulu kala, zaman penjajahan hingga yang belakangan terjadi. Paling tidak menurut catatan warga Molalahu, terjadi dua kejadian yang memilukan belum lama ini. Selain gagal memperoleh emas, tak ayal menjadikan mereka menjadi tumbal. Meski tak mati di tempat, tetapi kematian menyusul mereka beberapa lama kemudian.
Sekitar tahun 1995, praktik penambangan dilakukan oleh warga dari negeri Selatan. Upaya ini mereka lakukan bertahun-tahun, keluarga ini menetap di wilayah Onggamo (masina lo botu), sebuah dusun yang berjarak sekitar 8 km dengan area emas. Kejadian-kejadian aneh sekaligus misterius mengiringi upaya penambangan bongkahan emas ini. Pada saat mendekati area sungai di mana emas tersembunyi, lelaki bersama rekan-rekan penambang lainnya melihat dua kerbau ditelan arus persis di area bongkahan emas berada. Mereka menyangka kerbau itu hanyut atau melawan arus, setelah diperiksa baik ke hulu maupun ke hilir, sepasang kerbau yang awalnya berkelahi itu tak ditemukan lagi. Takjub, ngeri dan perasaan lainnya terkalahkan oleh hasrat ingin memiliki bongkahan emas.
Sayangnya, kelompok penambang emas dengan menggunakan alat-alat tambang yang relatif canggih ini gagal menyentuh bongkahan emas, selanjutnya mereka menambang di sekitar aliran sungai dan menemukan serpihan-serpihan kecil emas yang tak seberapa nilainya. Praktik penambangan liar itu ternyata berdampak pada makin keruhnya aliran sungai yang menjadi kebutuhan warga di sepanjang daerah aliran sungai. Tak ayal, mereka didatangi sekelompok pemuda dari salah satu LSM lokal Forum Pemuda Peduli Desa (FPPD) didampingi camat dan kepala desa Kuyu Djafar (1999-2003). Mereka meminta para penambang menghentikan kegiatannya. Gagal merengkuh bongkahan emas itu, keluarga inipun pindah ke daerah lain dan terdengar kabar burung sang kepala rombongan yang beristri perempuan Jawa itu telah menemui ajal di tempat barunya SulawesiTengah.
Catatan sebelumnya yang dituturkan warga Molalahu adalah upaya yang dilakukan seseorang yang berkulit hitam (Kasopa). Demikian warga menyebut penambang ini. Konon kulitnya berwarna hitam logam, diduga berasal dari Negeri Cendrawasih. Terkenal sebagai penambang ulung. Diawali dengan melakukan survey dengan mengajak warga pribumi, ada keanehan mengiringi kegiatan penambangan ini. Dengan mata kepala sendiri, warga lokal yang menjadi penunjuk jalan menuturkan bahwa dari dalam air tempat bongkahan emas itu berada, keluar dua ekor ular sebesar lengan orang dewasa.
Kedua ular itu diyakini warga sebagai penjaga bongkahan emas. Selain kedua ular, warga juga melihat para wanita cantik berkulit putih (ta hula) berkeliaran di sekitar sungai di mana bongkahan emas itu berada. Wanita-wanita itu sesekali muncul dan kemudian hilang (he mooli). Rupanya lelaki Kasopa itu tak gentar, dengan ritual tertentu, sang pawang emas ini melakukan pengambilan emas berdasarkan pengalamannya bertahun-tahun. Melalui ritual tertentu, saat yang dipilihnya adalah pada tengah malam. Sekitar jam dua dini hari. Tak ada rasa gentarnya sedikitpun, padahal lokasi itu berada di tengah hutan. Lelaki Kasopa ini menyelam dengan membawa kain putih ke dalam air. Benar saja, tidak lama kemudian lelaki ini berhasil membawa bongkahan emas sebesar buah pepaya terbungkus kain putih.
Dengan wajah berseri-seri, lelaki ini meletakkan bungkusan kain putih itu ke daratan. lalu diikuti beberapa warga menuruni gunung. Mereka bergegas menuju kampung. Dalam pikiran warga yang mengikutinya, sebentar lagi lelaki ini akan kaya raya jika sekiranya emas sebesar pepaya ini ditimbang dan mencapai berat 5 kg. Warga yang turut mendampingi lelaki itu berhayal akan kecipratan berkah. Tak lama lagi akan menjadi pemuda Crazy Rich di Molalahu.
Sayangnya, setelah bungkusan putih itu dibuka dan hendak dibawa ke toko emas untuk dijual, bongkahan itu telah berubah menjadi batu. Setengah percaya setengah tidak, si orang hitam membolak-balikkan bongkahan emas itu. Matanya dibuka lebar-lebar. Bongkahan yang tadinya berwarna kemilau kini redup dan berwarna abu-abu. Betapa kecewanya sang penakluk emas pertama dan satu-satunya ini. Kekayaan yang telah terpampang di hadapannya, seketika lenyap. Saking kecewanya, orang Kasopa itu mengumpat-umpat warga lokal sebagai pembohong.
Usut punya usut, rupanya orang hitam ini sengaja diundang warga untuk menambang bongkahan emas ini karena dianggap sebagai pawang emas. Banyak cacatan keberhasilan yang diperolehnya selama menjadi penambang di daerahnya. Kali ini dia benar-benar dibuat malu. Setelah kejadian itu, sang pawang tak berniat untuk kembali ke area di mana emas itu berada, sebagai gantinya, lelaki itu pulang kampung dan tersiar kabar telah wafat tak sebeberapa lama sepulang dari Molalahu.
Selain orang hitam, warga juga menyebut ada pemburu emas dari luar negeri. Dua negara yang disebut-sebut warga adalah Kanada dan Australia. Warga Kanada datang melakukan survey didampingi warga lokal (Sukardi Abdul dan Yunus Polahi) sekitar tahun 1987. Berdasarkan hasil survey, tidak ditemukan adanya titik-titik penambangan yang menjanjikan. Akibatnya warga Kanada segera balik kanan. Sementara dari Australia disebut-sebut warga bernama Gordon, seorang bos emas. Entah mengapa tidak berhasil, padahal menurut hasil survey yang dilakukannya, kandungan emas di Molalahu sangat melimpah, bahkan hingga menjangkau wilayah Sumalata Kabupaten Gorontalo Utara.
Demikianlah, bongkahan emas itu tetap menjadi misterius. Ada keyakinan sebagian orang, emas itu suatu saat bisa diambil. Suatu masa akan diserahkan oleh sang penunggu emas. Dengan syarat dan ketentuan berlaku. Ada persyaratan yang harus dipenuhi. Persyaratan yang sulit diterima logika dan nurani warga. Katanya, emas itu akan menjadi milik warga jika warga berani memberikan tumbal seorang perempuan cantik berkulit putih (ta hula). Tetapi itu tak mungkin dilakukan warga Molalahu. Siapa yang ihklas menjadikan putrinya menjadi tumbal hanya untuk sebuah kekayaan materi? Kecuali orang-orang yang telah silau oleh harta kekayaan. Wallahu a’lam bishawab.
(BERSAMBUNG).
- Penulis: Momy Hunowu

Saat ini belum ada komentar