Breaking News
light_mode
Trending Tags

Nasi Kuning

  • account_circle Fadhil Hadju
  • calendar_month 11 jam yang lalu
  • visibility 71
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada yang bercerita tentang keponakannya yang meninggal, sebelum wafat anak itu sering cuci darah. Katanya, umurnya masih sangat muda. Baru 14 tahun. Dokter memvonisnya gagal ginjal. Baru tiga kali cuci darah, ajal telah menjemputnya. Sangat disayangkan, katanya. Padahal anak itu pintar. Juara kelas sejak SD sampai SMP. Ayahnya juga seorang dokter, yang tentu saja mampu menyekolahkannya hingga kuliah, seandainya dia berumur panjang. Tapi, kata bapak itu, sang khalilk tak memandang umur. Siapa saja yang dikehendakinya untuk pulang, maka harus pulang. Dengan cara apa pun yang dikehendaki-Nya.

“Acara doa arwahya sangat mewah. Ayahnya mengundang bupati, anggota dewan, bahkan dokter-dokter terkenal juga ada,” kudengar bapak itu bercerita. Berkepulan asap rokok sembari mereka bersenggama. Membuat lenganku mengipas-ngipas. Nia kurang suka dengan asap bau tembakau.

“Wah- tentu makanannya enak-enak ya, kan?” bapak dengan kumis tebal menimpali.

“Tentu! Mereka memesan katering tiga meja. Satu meja harganya tiga juta. Dan itu baru hari pertama doa arwah. Paling megahnya itu di hari ke tujuh, seperti sekarang. Mereka memotong satu ekor kambing. Dengan harapan agar semua yang hadir ikut mendoakan anak kesayangan mereka itu,”

“Wah.. wah.. megah sekali, ya” kumis bapak itu naik turun sambil bercerita.

“Oh iya. Pria tadi itu Paman Asyraf. Dia orang Muhammadiyah. Dia tidak ikut makan bersama. Tapi syukur alhamdulillah, ia ikut mendoakan almarhum ayah. Sebab mereka sudah seperti kakak adik sejak kecil. Ayah anak semata wayang oma. Jadi tidak punya teman. Paman Asyraflah yang jadi sahabatnya. Bahkan, yang mengantarkan ibu waktu mau lahirin aku itu paman,” Nia melanjutkan cerita.

“Memang kebaikan tidak mengenal latar belakang, Nia. Harusnya semua manusia bisa jadi begitu,” aku menimpali ceritanya.

Tak jauh dari bapak-bapak itu, sekumpulan ibu berbagai umur saling berbincang. Kudengar mereka mengobrol persoalan dapur. Salah satu ibu mengeluhkan kondisi dapur rumah besannya saat diacara yang sama. Hari ketiga doa arwah waktu itu, tuturnya. Ibu jilbab cokelat itu berkata kondisi keuangan anak mantunya saat itu lagi di bawah.

  • Penulis: Fadhil Hadju

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Laporan Langit

    Laporan Langit

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Masalahnya, banyak dari kita terjebak pada sistem pencatatan tunggal: single entry dunia saja. Yang penting saldo rekening bertambah, jabatan naik, proyek cair. Soal saldo akhirat? “Nanti saja diatur.” Padahal dalam logika akuntansi, laporan yang hanya mencatat satu sisi pasti tidak seimbang. Neraca hidup pun bisa timpang: aset dunia menumpuk, tetapi liabilitas moral menggunung. Di bulan […]

  • Wali Kota Palu Tinjau Titik Banjir di Tawaeli, Instruksikan Penanganan Menyeluruh

    Wali Kota Palu Tinjau Titik Banjir di Tawaeli, Instruksikan Penanganan Menyeluruh

    • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 196
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wali Kota Palu, H. Hadianto Rasyid, S.E., didampingi sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, meninjau langsung sejumlah titik banjir di wilayah Kecamatan Tawaeli, Minggu malam (11/1/2026). Peninjauan tersebut merupakan bentuk respons cepat Pemerintah Kota Palu terhadap dampak banjir yang merendam beberapa kawasan permukiman warga akibat curah hujan tinggi. Adapun lokasi yang dikunjungi […]

  • Komitmen Negara untuk Buruh; Refleksi Atas Pernyataan Mensestneg

    Komitmen Negara untuk Buruh; Refleksi Atas Pernyataan Mensestneg

    • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
    • account_circle Nurmawan Pakaya
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Setiap 1 Mei, jalan-jalan ibu kota terasa berbeda. Bukan karena kemacetan, tapi karena gema suara buruh yang menggema dari segala penjuru. Mereka datang bukan hanya membawa spanduk dan bendera serikat pekerja sebagai simbol solidaritas, tapi juga harapan yang terus menyala meski kadang redup oleh kenyataan. Hari Buruh Internasional selalu menjadi cermin tentang siapa kita sebagai […]

  • Temuan DPR di Jatim: Masih Ada Perusahaan Abai pada Perlindungan Ekosistem

    Temuan DPR di Jatim: Masih Ada Perusahaan Abai pada Perlindungan Ekosistem

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 166
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Komisi XII DPR RI menemukan masih adanya perusahaan yang dinilai belum serius dalam menjalankan tanggung jawab perlindungan lingkungan hidup. Temuan tersebut mengemuka saat kunjungan kerja DPR RI ke sejumlah perusahaan sektor energi dan industri di Jawa Timur. Anggota Komisi XII DPR RI Ratna Juwita Sari mengungkapkan, dari empat perusahaan yang diundang dalam agenda […]

  • UII Keluarkan Pernyataan Sikap, Soroti Politik Luar Negeri hingga Kebijakan Dalam Negeri

    UII Keluarkan Pernyataan Sikap, Soroti Politik Luar Negeri hingga Kebijakan Dalam Negeri

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 183
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Universitas Islam Indonesia (UII) menyampaikan pernyataan sikap resmi merespons perkembangan mutakhir praktik berbangsa dananiro, Selasa (3/3/2026). Pernyataan tersebut ditandatangani Rektor UII, Fathul Wahid, atas nama warga kampus. Dalam dokumen yang dirilis di Yogyakarta bertepatan dengan 一级ramadan 1447 H, UII menyesalkan sikap Pemerintah Republik Indonesia yang dinilai belum menunjukkan ketegasan memadai dalam menyikapi serangan […]

  • NU Gorontalo dan Kotak Macis

    NU Gorontalo dan Kotak Macis

    • calendar_month Senin, 13 Sep 2021
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 49
    • 0Komentar

    NU memang terlalu seksi bagi kalangan internal maupun eksternal atau bagi siapa saja yang memandangnya. Apalagi jika dipandang dari luar bangunan ke-NU-an dengan menggunakan frame subjektif, sosial dan politik. Dalam konteks ini, NU tidak hanya sekedar seksi tapi ternyata juga begitu mempesona. Maka tidak heran jika perebutan tampuk kepemimpinan di NU menjadi sesuatu yang sangat […]

expand_less