Nasi Kuning
- account_circle Fadhil Hadju
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 74
- print Cetak

Suasana doa arwah hari ketujuh di rumah keluarga almarhum, para tamu duduk bersama menikmati hidangan nasi kuning dan lauk tradisional sambil memanjatkan doa dalam nuansa hangat penuh kebersamaan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Kebanyakan sih tetangga sekitar rumah. Tapi ada juga teman-teman kantornya ayah. Mereka semua pasti kenal. Kebaikan ayah sering dibicarakan orang-orang. Semasa hidup saja, sewaktu aku SMP, hampir setiap hari ayah pasti menerima tamu dari orang-orang kantor. Ada yang mengantar kue, ikan, sayur-sayuran, dan lain-lain. Aku tidak bisa ingat semuanya. Tapi itulah kebaikan ayah yang aku ingat,” ia bercerita dengan mata berkaca-kaca.
Aku terdiam mendengar kisah itu. Menurutku ayah Nia orang yang luar biasa. Selalu dihormati. Kata orang-orang, beliau selalu dimintai pendapatnya saat masyarakat berselisih tentang satu hal. Bahkan pernah jadi ketua takmir masjid yang letaknya di dekat rumah Nia. Bahkan menjabat dua periode. Masyarakat senang dengannya. Bantuan-bantuan ke masjid terus mengalir. Membuat masyarakat semakin senang dengan ayah Nia. Mungkin itu sebabnya banyak yang hadir di acara doa arwah beliau ini.
- Penulis: Fadhil Hadju

Saat ini belum ada komentar