Nasi Kuning
- account_circle Fadhil Hadju
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 72
- print Cetak

Suasana doa arwah hari ketujuh di rumah keluarga almarhum, para tamu duduk bersama menikmati hidangan nasi kuning dan lauk tradisional sambil memanjatkan doa dalam nuansa hangat penuh kebersamaan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Mereka harus mengutang sana-sini untuk memberi makan para tamu yang hadir. Padahal aku dengar sebelum itu mereka sudah punya utang di rentenir,” ucapnya pelan mendekati berbisik di tengah obrolan. Ibu-ibu yang lain serius mendengarkan.
“Itu masih mendingan. Waktu ayah suamiku meninggal, kami terpaksa jual cincin kawin. Kata suami, ini bantuan terakhir yang bisa dia kasih untuk ayahnya. Saya tidak bisa bilang tidak. Emas itu laku tiga juta. Kami pakai uangnya sampai hari ke tiga. Itu pun tidak cukup. Di hari ke empat sampai ke tujuh kami tidak mengundang keluarga dari jauh. Hanya tetangga sekitar. Itu pun kami mengundang dengan undangan mulut ke beberapa tetangga saja. Keuangan tidak mampu buat beli makanan yang banyak,” ibu jilbab hijau menimpali cerita ibu jilbab cokelat.
Aku masuk ke ruangan tadi. Kuambil segelas kopi yang dihidangkan hangat-hangat. Saat menyeruput, aku terperanjat. Kampret! Kukira kopi itu hangat. Ternyata panas. Baru diseduh dari dapur. Gelasnya yang plastik buatku mengira itu hangat. Wajahku memerah. Malu dilihat ibu-ibu tadi. Bajuku kecokelatan di kerahnya, terkena ludahan. Nia membantuku menghilangkan noda kopi itu. Tapi semakin di gosok, semakin besar bekasnya. Tapi akhirnya kering juga, namun bekasnya masih ada. Aku terpaksa mengenakan jaket yang kusimpan di bagasi motor. Menutupi kemeja.
“Bapak dan ibu sekalian, terimakasih atas kehadirannya. Kami berharap bapak dan ibu turut mendoakan almarhum suami saya. Semoga Allah Subhana Wata’ala menerima amalnya semasa hidup di dunia,” ibunya Nia menyampaikan kepada para tamu yang hadir.
“Amiin..” semua yang hadir kompak berseraya.
“Tapi yang hadir ini semuanya kenal sama ayahmu, ya Nia?” tanyaku padanya dengan pelan. Takut di dengar tamu-tamu.
- Penulis: Fadhil Hadju

Saat ini belum ada komentar