Peringati Maulid Nabi 1447 H, Pesantren Salafiyah Syafiiyah Angkat Tema Pembelaan Kaum Mustadh’afin
- account_circle Djemi Radji
- calendar_month Kamis, 4 Sep 2025
- visibility 22
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ribuan santri dan warga Nahdlatul Ulama dari berbagai wilayah di Kabupaten Pohuwato bakal memadati Aula Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Desa Banuroja, Kecamatan Randangan, Kamis malam (4/9/2025), dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H.
Mengusung tema “Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam Membela Kaum Mustadh’afin dan Menjaga Stabilitas Sosial”, kegiatan ini tak hanya menjadi ajang perayaan spiritual, tetapi juga ruang refleksi mendalam atas misi kemanusiaan dan sosial yang diemban Rasulullah.
Pengasuh Pondok Pesantren, KH. Abdullah Aniq Nawawi, MA, kepada awak media ini menyampaikan, bahwa peringatan Maulid ini menekankan bahwa salah satu keteladanan utama Nabi Muhammad SAW adalah keberpihakannya kepada kaum lemah dan miskin (mustadh’afin).
“Dalam Maulid Barzanji disebutkan bahwa Nabi sangat mencintai kaum miskin dan senang duduk bersama mereka. Beliau tidak pernah menghina orang fakir, apalagi sampai membuat kebijakan yang menyengsarakan mereka,” ungkap Gus Aniq, sapaan akrabnya.
Misi Sosial Nabi: Melawan Jahiliyah dan Ketidakadilan
Lebih lanjut, Gus Aniq mengutip hadits riwayat Imam Ahmad, yang memuat penuturan sahabat Ja’far bin Abi Thalib saat menjelaskan kondisi masyarakat jahiliyah pra-Islam: menyembah berhala, memakan bangkai, berbuat keji, memutus tali silaturahmi, menyakiti tetangga, dan yang kuat menindas yang lemah.
“Misi kerasulan Nabi Muhammad adalah mengeluarkan umat dari kondisi itu. Jadi kalau hari ini kita masih melihat ada negara atau komunitas yang membiarkan yang kuat menindas yang lemah, maka itu ciri-ciri jahiliyah modern yang perlu segera diubah,” tegasnya.
Gus Aniq juga menyoroti bagaimana Nabi Muhammad SAW menjaga stabilitas sosial-politik dengan pendekatan yang penuh hikmah. Meskipun beliau seorang pemimpin tertinggi baik secara agama maupun politik namun Nabi tidak otoriter dalam mengambil keputusan.
“Peradaban Islam dibangun atas asas musyawarah. Nabi bahkan sering mengalah pada pendapat mayoritas sahabatnya, meski beliau merasa pendapatnya lebih tepat. Ini menunjukkan beliau tidak anti kritik dan sangat terbuka terhadap masukan,” terang Gus Aniq.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai inilah yang perlu diteladani oleh umat Islam, khususnya para pemimpin di segala level, agar keadilan sosial dan kestabilan politik bisa benar-benar terwujud dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
- Penulis: Djemi Radji
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar