Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ramadan: Bulan Ketercelupan Ontologis dalam Sibghah Ilahi

  • account_circle Redaksi Nulondalo
  • calendar_month Minggu, 30 Mar 2025
  • visibility 67
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Prolog: Warna yang Mengubah Jiwa

Bayangkan selembar kain putih yang dicelupkan ke dalam larutan pewarna. Semakin lama ia terendam, semakin pekat warna yang menyatu dengan serat kain itu. Begitu pula dengan manusia di bulan Ramadan, ia tercelup dalam keheningan ibadah, dalam doa yang mendalam, dalam puasa yang meluruhkan kerak-kerak duniawi.

Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah ketercelupan ontologis, di mana jiwa manusia menyerap esensi ilahi dan terlahir kembali dengan warna spiritual yang lebih dalam. Dalam perspektif Islam, konsep ini dikenal sebagai sibghah, suatu celupan ilahiah yang mengubah hakikat seseorang.

Namun, ketercelupan ini tidak terjadi secara instan. Seperti seorang seniman yang mencelupkan kuasnya berulang kali ke dalam warna untuk menciptakan lukisan yang hidup, manusia pun harus melalui proses panjang yang mencakup refleksi, pengendalian diri, dan kesadaran penuh terhadap makna keberadaannya.

Ramadan menjadi laboratorium spiritual di mana seseorang diuji bukan hanya dalam menahan lapar dan dahaga, tetapi juga dalam mengendalikan ego dan hawa nafsu. Dalam momen-momen keheningan saat sahur dan berbuka, dalam tarawih yang menghidupkan malam, dalam sedekah yang melapangkan hati—di sanalah terjadi transformasi mendalam yang mengakar ke dalam jiwa.

Lebih dari sekadar ibadah, Ramadan mengajarkan manusia untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Ia mengajarkan kita bahwa manusia bukan sekadar makhluk biologis yang membutuhkan makanan dan minuman, tetapi juga entitas spiritual yang harus dipelihara dengan ibadah dan kepedulian terhadap sesama. Dengan setiap detik yang dilewati dalam bulan suci ini, manusia semakin larut dalam warna ilahi, meninggalkan jejak-jejak duniawi, dan berusaha meraih pencerahan yang lebih tinggi.

Ramadan dan Celupan Ilahi: Menyelami Makna Sibghah

Dalam Al-Qur’an, sibghah disebut dalam QS. Al-Baqarah: 138:
“Celupan Allah, dan siapakah yang lebih baik sibghah-nya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya kami menyembah.”

Para ulama menafsirkan sibghah sebagai pewarnaan jiwa manusia dengan nilai-nilai ketuhanan. Ibnu Katsir mengartikannya sebagai bentuk ketundukan total kepada Allah, sementara Fakhruddin Al-Razi mengaitkannya dengan perubahan esensial yang membentuk karakter spiritual seseorang. Dalam tafsir Raghib Al-Isfahani, sibghah adalah kondisi tetap yang muncul setelah manusia menyerap hakikat ilahi.

Murtadha Muthahhari menafsirkan sibghah sebagai proses internalisasi nilai-nilai ketuhanan yang tidak hanya berdampak pada aspek spiritual individu, tetapi juga membentuk pola pikir dan perilaku sosialnya. Baginya, Ramadan adalah waktu di mana manusia mengalami “pencelupan ulang” dalam sifat-sifat Tuhan, sehingga keluar dari bulan ini dengan kepribadian yang lebih sempurna.

Sementara itu, Allamah Thabaththabai dalam tafsirnya menekankan bahwa sibghah adalah kondisi ontologis yang menunjukkan hubungan erat antara manusia dan Tuhan. Ramadan, dalam perspektifnya, adalah saat ketika manusia bisa mencapai tingkat eksistensi yang lebih tinggi, di mana kesadaran akan kehadiran Tuhan menjadi lebih dominan daripada keterikatan pada dunia material.

Jika demikian, Ramadan adalah proses pencelupan yang memungkinkan manusia menyerap warna ketuhanan secara lebih dalam. Puasa, shalat malam, tilawah Al-Qur’an, dan refleksi diri bukan sekadar ibadah formal, melainkan medium untuk meresapkan sifat-sifat ilahi ke dalam eksistensi manusia. Sebagaimana kain yang berubah warna setelah dicelupkan, manusia yang menjalani Ramadan dengan kesadaran penuh akan keluar dari bulan ini dengan diri yang berbeda.

Ramadan sebagai Ketercelupan Ontologis

Ketercelupan dalam spiritualitas Ramadan bukan hanya metafora, tetapi juga realitas eksistensial. Puasa, misalnya, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan proses pembebasan diri dari kecenderungan material yang menghalangi seseorang mencapai kesadaran ruhani. Dalam perspektif filsafat Islam, ini merupakan bentuk transformasi ontologis, yaitu perubahan hakikat manusia dari tingkat keberadaan yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi.

Selain itu, Ramadan juga berfungsi sebagai momen penghapusan ego, di mana manusia menanggalkan identitas-identitas superfisialnya dan kembali kepada fitrah murni yang lebih dekat dengan Tuhan. Dalam ketercelupan ini, manusia belajar untuk tidak lagi dikendalikan oleh hawa nafsu, melainkan diarahkan oleh nur ilahi yang membimbing setiap langkahnya. Dengan kata lain, Ramadan menjadi wadah untuk mengaktifkan potensi ruhani yang selama ini terpendam di bawah lapisan kesibukan duniawi.
Lebih jauh lagi, ketercelupan ontologis ini tidak hanya berdampak pada individu secara personal, tetapi juga pada tatanan sosial. Ramadan menciptakan suasana kolektif yang penuh dengan kepedulian, empati, dan solidaritas.

Dalam kesadaran spiritual yang mendalam, manusia melihat dirinya sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang lebih besar, di mana setiap tindakan memiliki resonansi moral dan spiritual. Dengan demikian, ketercelupan dalam Ramadan bukan hanya membentuk individu yang lebih baik, tetapi juga komunitas yang lebih harmonis dan penuh kasih sayang.

Ramadan dan Identitas Spiritual: Warna yang Bertahan

Ketercelupan dalam warna ilahi selama Ramadan bukanlah sesuatu yang bersifat sementara. Sebagaimana pewarna alami yang menyerap hingga ke dalam serat kain, perubahan spiritual yang terjadi selama bulan suci ini seharusnya meresap dalam keseharian manusia. Ramadan bukan hanya tentang berpuasa sebulan penuh, tetapi tentang bagaimana pengalaman itu membentuk karakter seseorang setelahnya. Seorang yang telah merasakan kedalaman ibadah dan refleksi dalam Ramadan seharusnya membawa serta pengalaman itu ke dalam sebelas bulan berikutnya.

Transformasi spiritual yang terjadi dalam Ramadan menciptakan identitas baru bagi manusia, di mana kesadaran akan kehadiran Tuhan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidupnya. Ibadah yang dilakukan bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan yang muncul dari kesadaran batin yang lebih tinggi. Puasa, shalat, dan amal kebaikan menjadi ekspresi dari jiwa yang telah tersentuh oleh warna ilahi. Dalam pandangan ini, sibghah bukan hanya perubahan sementara, tetapi fondasi bagi pola hidup yang lebih suci dan bermakna.

Mempertahankan warna ilahi ini bukanlah hal yang mudah. Setelah Ramadan berakhir, manusia akan kembali berhadapan dengan distraksi duniawi yang dapat mengikis perubahan yang telah terjadi. Oleh karena itu, penting bagi seseorang untuk senantiasa menjaga intensitas hubungan spiritualnya. Dzikir, doa, dan kebiasaan baik yang diperoleh selama Ramadan harus dijaga agar warna ilahi yang telah menyatu dengan jiwanya tidak memudar. Sebagaimana seorang seniman yang terus memperkuat warna dalam lukisannya, manusia pun harus terus memperbarui ketercelupannya dalam spiritualitas agar tetap berada dalam cahaya kebenaran.

Ketika Ramadan berlalu, pertanyaannya bukanlah apakah seseorang telah berhasil menyelesaikan puasanya, tetapi apakah dirinya telah benar-benar berubah? Sebab Ramadan bukan hanya bulan yang datang dan pergi, tetapi jejak yang mengubah perjalanan manusia dalam mendekati Tuhan. Ramadan adalah celupan yang tidak hanya mewarnai sejenak, tetapi harus meresap dalam kehidupan sehari-hari. Jika benar-benar terserap, warna itu tidak akan pudar, melainkan terus menerangi jalan menuju kebenaran dan kedekatan dengan Tuhan.

Catatan: Istilah Ketercelupan Ontologis saya kutip dari diksi yang sering dilontarkan oleh Kanda Prof. Mohammad Sabri Ar

Oleh : Dr. Sabara NuruddinPeneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

  • Penulis: Redaksi Nulondalo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PKB Gorontalo Segera Konsolidasi, Sosialisasikan Hasil Muktamar 2024 dan Perkuat Struktur Partai   

    PKB Gorontalo Segera Konsolidasi, Sosialisasikan Hasil Muktamar 2024 dan Perkuat Struktur Partai  

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Meski Pemilu masih cukup lama, namun kesiapan-kesiapan harus dimantapkan partai Politik jika ingin meraih kemenangan. Salah satu strategi yang penting untuk dilakukan adalah terus mengkonsolidasikan struktur partai hingga akar rumput. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) terus mengkonsolidasikan kekuatan politiknya. Salah satu strategi partai besutan Cak Imin atau Muhaimin Iskandar itu dengan mensosialisasikan […]

  • Jalan Tol Berbayar Tapi Tak Standar, Yasti Mokoagow: BUJT Bisa Dipidana

    Jalan Tol Berbayar Tapi Tak Standar, Yasti Mokoagow: BUJT Bisa Dipidana

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 191
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Anggota Komisi V DPR RI Yasti Soepredjo Mokoagow menegaskan bahwa pengelola jalan tol atau Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang mengabaikan Standar Pelayanan Minimum (SPM) dapat dikenai sanksi pidana. Penegasan itu disampaikan menyusul masih banyaknya ruas tol berbayar yang dinilai tidak memenuhi standar pelayanan sebagaimana diamanatkan undang-undang. “Saya harus ingatkan bahwa abai atau […]

  • IKPM-HT Yogyakarta Bedah Riset Transmigrasi Maba Utara Jelang Dialog Publik di UGM

    IKPM-HT Yogyakarta Bedah Riset Transmigrasi Maba Utara Jelang Dialog Publik di UGM

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 260
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Yogyakarta – Ikatan Komunikasi Pelajar Mahasiswa Halmahera Timur (IKPM-HT) Yogyakarta menggelar diskusi internal untuk membedah riset mendalam mengenai kondisi Transmigrasi di Maba Utara, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, Jum’at (2/1/2026). Agenda pembacaan riset ini merupakan langkah strategis organisasi dalam mematangkan data dan substansi sebelum dibawa ke forum Dialog Publik bersama Pusat Studi Pedesaan […]

  • Going Concern Ibadah

    Going Concern Ibadah

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Dalam dunia akuntansi, ada satu asumsi yang membuat laporan keuangan bisa tidur nyenyak setiap akhir tahun: going concern. Artinya, entitas diasumsikan akan terus berlanjut usahanya, tidak bangkrut besok pagi, dan tidak bubar jalan setelah RUPS bubar. Nah, dalam konteks Ramadhan, saya kira kita juga perlu satu asumsi serupa: going concern ibadah. Jangan sampai ibadah kita […]

  • Hari Keempat Pencarian ATR 42-500, Tim SAR Sisir Tebing Curam Bulusaraung dengan 9 SRU

    Hari Keempat Pencarian ATR 42-500, Tim SAR Sisir Tebing Curam Bulusaraung dengan 9 SRU

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, PANGKEP — Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, memasuki hari keempat, Selasa (20/1/2026). Tim SAR gabungan terus mengintensifkan penyisiran di medan ekstrem dengan mengerahkan sembilan Search and Rescue Unit (SRU). Koordinator Misi SAR Makassar, […]

  • WALHI Tolak Perpanjangan MoU Pemerintah–Freeport, Dinilai Perpanjang Krisis Ekologis di Papua

    WALHI Tolak Perpanjangan MoU Pemerintah–Freeport, Dinilai Perpanjang Krisis Ekologis di Papua

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 103
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai perpanjangan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Indonesia dan Freeport-McMoRan Inc terkait kelanjutan operasi PT Freeport Indonesia (PTFI) hingga seumur cadangan tembaga dan emas di Papua sebagai kebijakan yang berpotensi melanjutkan krisis ekologis dan kemanusiaan di Tanah Papua. Penilaian tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Boy Jerry Even […]

expand_less