Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tahun Baru Hijriyah dan Ilusi Kebangkitan

  • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A.
  • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
  • visibility 253
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam konteks Indonesia, negeri yang memiliki jumlah Muslim terbesar di dunia. Masjid berdiri di hampir setiap sudut kampung. Pesantren tumbuh dalam jumlah puluhan ribu. Pengajian memenuhi ruang-ruang publik. Simbol-simbol agama hadir di mana-mana.

Namun, pada saat yang sama, korupsi tetap menjadi berita harian. Kebohongan menemukan rumah yang nyaman di media sosial. Kebencian diproduksi lebih cepat daripada pengetahuan. Kita rajin berbicara tentang moralitas, tetapi sering gagal menjadikannya sebagai kebiasaan.

Ada paradoks yang mengatakan: Kita semakin religius dalam ekspresi, tetapi belum tentu semakin etis dalam tindakan. Mungkin, karena selama ini kita terlalu sibuk memperbaiki dunia di luar diri kita, sementara dunia di dalam diri sendiri dibiarkan berantakan.

Dalam perspektif Ibn Asyur, krisis seperti ini berakar pada kegagalan reformasi individu. Dalam perspektif Ibnu Khaldun, krisis yang sama merupakan gejala melemahnya ‘ashabiyah atau solidaritas sosial.

Keduanya sebenarnya berbicara tentang hal yang sama dari sudut yang berbeda, kerusakan sosial selalu dimulai dari kerusakan karakter.

Padahal, al-Qur’an telah merumuskan hukum perubahan itu jauh sebelum teori-teori sosial modern lahir: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini adalah akselerasi peradaban yang dikemas dalam satu kalimat. Allah swt. menetapkan sunnah takwinyah yang bersifat universal dan tidak dapat diintervensi oleh siapapun, perubahan kolektif suatu bangsa hanya mungkin terjadi ketika individu-individu di dalamnya memulai perubahan dari dalam dirinya sendiri. Ini bukan ancaman, melainkan janji ilahi tentang mekanisme peradaban manusia.

Tetapi, zaman modern seolah-olah mengajukan sanggahan. Bukankah banyak orang baik justru terjebak dalam sistem yang buruk? Bukankah banyak individu sering menjadi korban struktur? Bukankah kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan tidak selalu lahir dari kelemahan karakter?

Mungkin, Pertanyaan-pertanyaan itu ada benarnya. Karena itu, Ibn Asyur menawarkan sintesis yang menarik. Ia tidak mempertentangkan antara reformasi individu dan reformasi sosial-struktural. Ia melihat keduanya sebagai dua sisi dari satu koin yang sama. Sintesisnya adalah, reformasi individu adalah syarat perlu (necessary condition), dan reformasi struktural adalah syarat cukup (sufficient condition). Keduanya harus berjalan beriringan dalam strategi yang ia sebut sebagai al-islah al-mutakamil — reformasi yang saling melengkapi dan saling memperkuat antara level individu dan level sosial-struktural. Dan, Indonesia membutuhkan keduanya.

Kita membutuhkan pendidik yang tidak hanya menghasilkan manusia pintar, tetapi juga manusia jujur. Kita membutuhkan birokrasi yang tidak hanya efisien, tetapi juga berintegritas. Kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara tentang nilai, tetapi bersedia menjadi teladan nilai itu sendiri.

Ibnu Khaldun menyebut proses ini sebagai upaya memperkuat kembali ‘ashabiyah kebangsaan. Sebab bangsa yang kehilangan rasa kebersamaan akan sulit mempertahankan peradabannya, betapapun melimpah sumber daya yang dimilikinya. Karena, peradaban tidak runtuh dalam satu malam. Ia juga tidak bangkit dalam satu pidato.

Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan terus-menerus. Seorang pegawai yang menolak suap, seorang guru yang mengajar dengan sungguh-sungguh, seorang ayah yang berlaku adil kepada anak-anaknya, seorang pemuda yang memilih membaca daripada menyebarkan fitnah atau hoaks.

Kita sering membayangkan kebangkitan sebagai sesuatu yang megah: gedung-gedung tinggi, kekuatan ekonomi, atau pengaruh politik global. Padahal, sejarah Islam memberikan kita gambaran yang berbeda. Baghdad, Cordoba, Persia, dan Kairo tidak menjadi pusat peradaban karena kekayaan semata. Mereka menjadi besar karena ilmu dihormati, integritas dijaga, dan kepentingan umum ditempatkan di atas kepentingan pribadi.

Maka, ketika Muharram datang, mungkin yang paling penting bukanlah berapa banyak obor yang kita nyalakan di jalan-jalan. Bukan pula seberapa megah perayaan Muharram digelar. Tetapi, seberapa besar keinginan dari dalam diri kita masing-masing untuk menciptakan perubahan. Dari yang kurang baik menjadi baik. Dari baik menjadi lebih baik.

Perubahan yang dimaksud adalah perubahan individu yang berusaha berlaku jujur dan adil serta memiliki integritas, dan perubahan sosial yang menciptakan kerukunan dan keharmonisan di tengah masyarakat sehingga solidaritas sosial terjalin, dan dengan itu, peradaban berkeadaban yang kita dambakan bersama dapat terealisasi.

Karena sejatinya, pergantian tahun tidak pernah menjamin perubahan manusia. Yang mengubah manusia bukan waktu. Melainkan, keberanian untuk mengevaluasi diri sebelum sejarah melakukannya atas nama kita.

Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk perayaan Tahun Baru Hijriyah, inilah pelajaran terbesar yang diwariskan Ibn Asyur dan Ibnu Khaldun kepada kita, bahwa kebangkitan peradaban tidak dimulai dari istana, tidak pula dari slogan-slogan besar. Ia dimulai dari manusia yang mau memperbaiki dirinya, lalu membangun solidaritas sosial yang melampaui kepentingan dirinya.

Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling sering memperingati hari bersejarah. Melainkan, bangsa yang mampu belajar dari peristiwa sejarah.

Bila setiap perayaan Tahun Baru hanya dirayakan sebagai momentum biasa, tanpa adanya perubahan individu dan kesadaran kolektif, maka, kebangkitan peradaban yang diidamkan dan diimpikan hanyalah ilusi belaka.

Penulis : Dosen Sirah Nabawiyah pada Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKU-MI) Alumni Dai Go AGlobal LD-PBNU 2025

  • Penulis: Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kopma Unhas Fair 2025: Menakar Peluang Ekonomi Menuju Indonesia Emas 2045

    Kopma Unhas Fair 2025: Menakar Peluang Ekonomi Menuju Indonesia Emas 2045

    • calendar_month Selasa, 16 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 209
    • 0Komentar

    Nulondalo.com—Koperasi Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Kopma Unhas) kembali menunjukkan perannya sebagai ruang belajar dan inkubator gagasan ekonomi mahasiswa melalui penyelenggaraan Kopma Unhas Fair 2025, yang digelar pada Sabtu, 13 Desember 2025 di Unhas TV. Mengusung tema “Ekonomi Kolektif, Generasi Inovatif”, kegiatan tahunan ini menjadi refleksi semangat Kopma Unhas dalam membangun kesadaran ekonomi berbasis kebersamaan sekaligus mendorong […]

  • Nusron Wahid Targetkan Semua Rumah Ibadah Bersertipikat: “Jangan Sampai Ada yang Belum”

    Nusron Wahid Targetkan Semua Rumah Ibadah Bersertipikat: “Jangan Sampai Ada yang Belum”

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 268
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Upaya penyelesaian sertipikasi tanah wakaf dan rumah ibadah di Indonesia terus diperkuat dengan melibatkan peran strategis tokoh-tokoh keagamaan. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid menegaskan komitmennya untuk mempercepat sertipikasi aset keagamaan demi memberikan kepastian hukum dan mencegah konflik di masa mendatang. “Karena itu Bapak-bapak sekalian, hari ini kita […]

  • Pangkep undercover, Sisi gelap Pangkep Pemerintah dan Aparat tutup Mata

    Pangkep undercover, Sisi gelap Pangkep Pemerintah dan Aparat tutup Mata

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Nulondalo.com–PANGKEP — Gemerlap lampu hiburan dari sejumlah kafe dan warung kopi di sepanjang Jalan Poros Makassar–Parepare, Kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, menjadi pemandangan yang lazim ketika malam tiba. Namun, di balik aktivitas tersebut, muncul informasi mengenai dugaan praktik yang patut mendapat perhatian serius aparat penegak hukum dan pemerintah daerah. Tim investigasi Perserikatan Journalist Siber Indonesia […]

  • Beragama di Era Algoritma: Cepat Yakin, Lambat Memahami

    Beragama di Era Algoritma: Cepat Yakin, Lambat Memahami

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle Alam Khaerul Hidayat
    • visibility 438
    • 0Komentar

    Lewat beberapa perbincangan santai ala tongkrongan dengan teman, saya menemukan satu celah pembahasan yang menarik sekaligus perlu diluruskan. Kami memang tumbuh dari latar belakang yang tidak sepenuhnya sama. Bahkan, jika dilihat dari kecenderungan wacananya, mereka hampir mendekati kelompok yang hendak saya bahas. Namun beruntungnya, keduanya tetap berada pada posisi yang moderat dan terbuka untuk berdialog. […]

  • Presiden Prabowo Lantik Dewan Energi Nasional, Bahlil Tegaskan Babak Baru Kedaulatan Energi

    Presiden Prabowo Lantik Dewan Energi Nasional, Bahlil Tegaskan Babak Baru Kedaulatan Energi

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 334
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik keanggotaan Dewan Energi Nasional (DEN) dari unsur pemerintah dan pemangku kepentingan, Rabu (28/1/2026), di Istana Negara, Jakarta. Pelantikan ini menandai dimulainya babak baru dalam pengelolaan energi nasional yang lebih terarah, berdaulat, dan berkelanjutan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Harian DEN, Bahlil Lahadalia, menegaskan […]

  • Pendaftaran Calon Ketua Umum BPD HIPMI Papua Tengah Periode 2025–2028 Resmi Dibuka 

    Pendaftaran Calon Ketua Umum BPD HIPMI Papua Tengah Periode 2025–2028 Resmi Dibuka 

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Panitia Pelaksana Musyawarah Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Papua Tengah Ke-I secara resmi membuka pendaftaran Bakal Calon Ketua Umum untuk masa bakti 2025–2028. Proses pendaftaran ini menjadi bagian penting dari rangkaian menuju Musyawarah Daerah (MUSDA) BPD HIPMI Papua Tengah yang akan memilih figur pemimpin untuk memperkuat peran pengusaha muda dalam pembangunan ekonomi daerah. Sebagai […]

expand_less