Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tahun Baru Hijriyah dan Ilusi Kebangkitan

  • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A.
  • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
  • visibility 132
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam konteks Indonesia, negeri yang memiliki jumlah Muslim terbesar di dunia. Masjid berdiri di hampir setiap sudut kampung. Pesantren tumbuh dalam jumlah puluhan ribu. Pengajian memenuhi ruang-ruang publik. Simbol-simbol agama hadir di mana-mana.

Namun, pada saat yang sama, korupsi tetap menjadi berita harian. Kebohongan menemukan rumah yang nyaman di media sosial. Kebencian diproduksi lebih cepat daripada pengetahuan. Kita rajin berbicara tentang moralitas, tetapi sering gagal menjadikannya sebagai kebiasaan.

Ada paradoks yang mengatakan: Kita semakin religius dalam ekspresi, tetapi belum tentu semakin etis dalam tindakan. Mungkin, karena selama ini kita terlalu sibuk memperbaiki dunia di luar diri kita, sementara dunia di dalam diri sendiri dibiarkan berantakan.

Dalam perspektif Ibn Asyur, krisis seperti ini berakar pada kegagalan reformasi individu. Dalam perspektif Ibnu Khaldun, krisis yang sama merupakan gejala melemahnya ‘ashabiyah atau solidaritas sosial.

Keduanya sebenarnya berbicara tentang hal yang sama dari sudut yang berbeda, kerusakan sosial selalu dimulai dari kerusakan karakter.

Padahal, al-Qur’an telah merumuskan hukum perubahan itu jauh sebelum teori-teori sosial modern lahir: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini adalah akselerasi peradaban yang dikemas dalam satu kalimat. Allah swt. menetapkan sunnah takwinyah yang bersifat universal dan tidak dapat diintervensi oleh siapapun, perubahan kolektif suatu bangsa hanya mungkin terjadi ketika individu-individu di dalamnya memulai perubahan dari dalam dirinya sendiri. Ini bukan ancaman, melainkan janji ilahi tentang mekanisme peradaban manusia.

Tetapi, zaman modern seolah-olah mengajukan sanggahan. Bukankah banyak orang baik justru terjebak dalam sistem yang buruk? Bukankah banyak individu sering menjadi korban struktur? Bukankah kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan tidak selalu lahir dari kelemahan karakter?

Mungkin, Pertanyaan-pertanyaan itu ada benarnya. Karena itu, Ibn Asyur menawarkan sintesis yang menarik. Ia tidak mempertentangkan antara reformasi individu dan reformasi sosial-struktural. Ia melihat keduanya sebagai dua sisi dari satu koin yang sama. Sintesisnya adalah, reformasi individu adalah syarat perlu (necessary condition), dan reformasi struktural adalah syarat cukup (sufficient condition). Keduanya harus berjalan beriringan dalam strategi yang ia sebut sebagai al-islah al-mutakamil — reformasi yang saling melengkapi dan saling memperkuat antara level individu dan level sosial-struktural. Dan, Indonesia membutuhkan keduanya.

Kita membutuhkan pendidik yang tidak hanya menghasilkan manusia pintar, tetapi juga manusia jujur. Kita membutuhkan birokrasi yang tidak hanya efisien, tetapi juga berintegritas. Kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara tentang nilai, tetapi bersedia menjadi teladan nilai itu sendiri.

Ibnu Khaldun menyebut proses ini sebagai upaya memperkuat kembali ‘ashabiyah kebangsaan. Sebab bangsa yang kehilangan rasa kebersamaan akan sulit mempertahankan peradabannya, betapapun melimpah sumber daya yang dimilikinya. Karena, peradaban tidak runtuh dalam satu malam. Ia juga tidak bangkit dalam satu pidato.

Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan terus-menerus. Seorang pegawai yang menolak suap, seorang guru yang mengajar dengan sungguh-sungguh, seorang ayah yang berlaku adil kepada anak-anaknya, seorang pemuda yang memilih membaca daripada menyebarkan fitnah atau hoaks.

Kita sering membayangkan kebangkitan sebagai sesuatu yang megah: gedung-gedung tinggi, kekuatan ekonomi, atau pengaruh politik global. Padahal, sejarah Islam memberikan kita gambaran yang berbeda. Baghdad, Cordoba, Persia, dan Kairo tidak menjadi pusat peradaban karena kekayaan semata. Mereka menjadi besar karena ilmu dihormati, integritas dijaga, dan kepentingan umum ditempatkan di atas kepentingan pribadi.

Maka, ketika Muharram datang, mungkin yang paling penting bukanlah berapa banyak obor yang kita nyalakan di jalan-jalan. Bukan pula seberapa megah perayaan Muharram digelar. Tetapi, seberapa besar keinginan dari dalam diri kita masing-masing untuk menciptakan perubahan. Dari yang kurang baik menjadi baik. Dari baik menjadi lebih baik.

Perubahan yang dimaksud adalah perubahan individu yang berusaha berlaku jujur dan adil serta memiliki integritas, dan perubahan sosial yang menciptakan kerukunan dan keharmonisan di tengah masyarakat sehingga solidaritas sosial terjalin, dan dengan itu, peradaban berkeadaban yang kita dambakan bersama dapat terealisasi.

Karena sejatinya, pergantian tahun tidak pernah menjamin perubahan manusia. Yang mengubah manusia bukan waktu. Melainkan, keberanian untuk mengevaluasi diri sebelum sejarah melakukannya atas nama kita.

Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk perayaan Tahun Baru Hijriyah, inilah pelajaran terbesar yang diwariskan Ibn Asyur dan Ibnu Khaldun kepada kita, bahwa kebangkitan peradaban tidak dimulai dari istana, tidak pula dari slogan-slogan besar. Ia dimulai dari manusia yang mau memperbaiki dirinya, lalu membangun solidaritas sosial yang melampaui kepentingan dirinya.

Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling sering memperingati hari bersejarah. Melainkan, bangsa yang mampu belajar dari peristiwa sejarah.

Bila setiap perayaan Tahun Baru hanya dirayakan sebagai momentum biasa, tanpa adanya perubahan individu dan kesadaran kolektif, maka, kebangkitan peradaban yang diidamkan dan diimpikan hanyalah ilusi belaka.

Penulis : Dosen Sirah Nabawiyah pada Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKU-MI) Alumni Dai Go AGlobal LD-PBNU 2025

  • Penulis: Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Aktivis Gorontalo Bongkar Dugaan Aleg Pohuwato Terlibat Tambang Ilegal

    Aktivis Gorontalo Bongkar Dugaan Aleg Pohuwato Terlibat Tambang Ilegal

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Polemik dugaan keterlibatan anggota DPRD Pohuwato, Yusuf Lawani, dalam aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI) kembali mencuat. Kali ini, sorotan tajam datang dari aktivis muda Gorontalo, Kevin Lapendos, yang menegaskan telah mengantongi bukti kuat atas dugaan tersebut. Sejak Juli 2025, Kevin bersama jaringan advokasinya melakukan penelusuran terkait aleg dari Fraksi Nasdem itu. Hasilnya, ia mengklaim menemukan […]

  • Pariwisata Bersinar: Bersih dari Narkoba dan Sampah

    Pariwisata Bersinar: Bersih dari Narkoba dan Sampah

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah mencanangkan gerakan Pariwisata Gorontalo Bersinar, sebuah kegiatan untuk mewujudkan destinasi wisata yang bersih dari narkoba dan bebas dari sampah. Kegiatan ini dirangkaikan dengan peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) dan dilaksanakan bersamaan dengan Car Free Day di sepanjang Jalan Panjaitan, Kota Gorontalo, Minggu (6/7/2025). “Gerakan Pariwisata Bersih Tanpa Narkoba ini […]

  • Gorontalo dan Imajinasi Baru Ketangguhan Bencana

    Gorontalo dan Imajinasi Baru Ketangguhan Bencana

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Dr. Husin Ali
    • visibility 970
    • 0Komentar

    Catatan Etnografis tentang Kepemimpinan, Dunia Usaha, dan Etika Merawat Kota Tulisan ini saya rampungkan di tengah malam—ketika jarum jam bergerak ke angka kecil di penghujung Januari, dan Februari 2026 mengintip dari balik kalender. Kota sedang senyap. Jalan-jalan lengang. Namun di kepala saya justru berdenyut percakapan, gestur, dan resonansi sosial yang belum ingin reda: bahwa saya […]

  • Lawan Perampasan Lahan, Warga Maba Sangaji Hadang Alat Berat Industri Tambang PT Position

    Lawan Perampasan Lahan, Warga Maba Sangaji Hadang Alat Berat Industri Tambang PT Position

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Sejumlah warga Desa Maba Sangaji, Halmahera Timur, Maluku Utara, yang juga merupakan pemilik sah lahan adat, melakukan aksi boikot terhadap aktivitas penambangan oleh PT Position pada 18 April 2025. Aksi ini dilakukan warga dengan mendatangi langsung lokasi penambangan di hutan adat Maba Sangaji sebagai bentuk perlawanan atas penyerobotan dan penggusuran lahan yang dinilai dilakukan secara […]

  • Wagub Gorontalo Temukan Tingginya Sisa Makanan Saat Sidak Dapur MBG di Bone Bolango

    Wagub Gorontalo Temukan Tingginya Sisa Makanan Saat Sidak Dapur MBG di Bone Bolango

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Valdi Pontoh
    • visibility 131
    • 0Komentar

    “Temuan terbesar kami adalah masih banyak makanan yang terbuang. Sayur bahkan bisa mencapai 23 kilogram dalam sehari. Ada juga nasi yang tersisa sangat banyak. Ini harus menjadi bahan evaluasi agar menu yang disajikan benar-benar sesuai dengan selera dan kebutuhan anak-anak tanpa mengurangi nilai gizinya,” kata Idah. Selain persoalan sisa makanan, tim juga menemukan sejumlah catatan […]

  • Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 Amankan Terduga Penyebar Propaganda KKB di Mimika

    Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 Amankan Terduga Penyebar Propaganda KKB di Mimika

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 216
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tim gabungan Satuan Tugas Operasi Damai Cartenz 2026 mengamankan seorang pria yang diduga terlibat dalam penyebaran propaganda dan provokasi melalui media sosial, Jumat (1/3/2026) sekitar pukul 15.00 WIT. Penindakan dilakukan di SP3 Trans DMT Utikini Tiga, Kuala Kencana, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, setelah aparat mengantongi bukti permulaan yang cukup atas aktivitas digital yang […]

expand_less