Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tahun Baru Hijriyah dan Ilusi Kebangkitan

  • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A.
  • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
  • visibility 186
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam konteks Indonesia, negeri yang memiliki jumlah Muslim terbesar di dunia. Masjid berdiri di hampir setiap sudut kampung. Pesantren tumbuh dalam jumlah puluhan ribu. Pengajian memenuhi ruang-ruang publik. Simbol-simbol agama hadir di mana-mana.

Namun, pada saat yang sama, korupsi tetap menjadi berita harian. Kebohongan menemukan rumah yang nyaman di media sosial. Kebencian diproduksi lebih cepat daripada pengetahuan. Kita rajin berbicara tentang moralitas, tetapi sering gagal menjadikannya sebagai kebiasaan.

Ada paradoks yang mengatakan: Kita semakin religius dalam ekspresi, tetapi belum tentu semakin etis dalam tindakan. Mungkin, karena selama ini kita terlalu sibuk memperbaiki dunia di luar diri kita, sementara dunia di dalam diri sendiri dibiarkan berantakan.

Dalam perspektif Ibn Asyur, krisis seperti ini berakar pada kegagalan reformasi individu. Dalam perspektif Ibnu Khaldun, krisis yang sama merupakan gejala melemahnya ‘ashabiyah atau solidaritas sosial.

Keduanya sebenarnya berbicara tentang hal yang sama dari sudut yang berbeda, kerusakan sosial selalu dimulai dari kerusakan karakter.

Padahal, al-Qur’an telah merumuskan hukum perubahan itu jauh sebelum teori-teori sosial modern lahir: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini adalah akselerasi peradaban yang dikemas dalam satu kalimat. Allah swt. menetapkan sunnah takwinyah yang bersifat universal dan tidak dapat diintervensi oleh siapapun, perubahan kolektif suatu bangsa hanya mungkin terjadi ketika individu-individu di dalamnya memulai perubahan dari dalam dirinya sendiri. Ini bukan ancaman, melainkan janji ilahi tentang mekanisme peradaban manusia.

Tetapi, zaman modern seolah-olah mengajukan sanggahan. Bukankah banyak orang baik justru terjebak dalam sistem yang buruk? Bukankah banyak individu sering menjadi korban struktur? Bukankah kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan tidak selalu lahir dari kelemahan karakter?

Mungkin, Pertanyaan-pertanyaan itu ada benarnya. Karena itu, Ibn Asyur menawarkan sintesis yang menarik. Ia tidak mempertentangkan antara reformasi individu dan reformasi sosial-struktural. Ia melihat keduanya sebagai dua sisi dari satu koin yang sama. Sintesisnya adalah, reformasi individu adalah syarat perlu (necessary condition), dan reformasi struktural adalah syarat cukup (sufficient condition). Keduanya harus berjalan beriringan dalam strategi yang ia sebut sebagai al-islah al-mutakamil — reformasi yang saling melengkapi dan saling memperkuat antara level individu dan level sosial-struktural. Dan, Indonesia membutuhkan keduanya.

Kita membutuhkan pendidik yang tidak hanya menghasilkan manusia pintar, tetapi juga manusia jujur. Kita membutuhkan birokrasi yang tidak hanya efisien, tetapi juga berintegritas. Kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara tentang nilai, tetapi bersedia menjadi teladan nilai itu sendiri.

Ibnu Khaldun menyebut proses ini sebagai upaya memperkuat kembali ‘ashabiyah kebangsaan. Sebab bangsa yang kehilangan rasa kebersamaan akan sulit mempertahankan peradabannya, betapapun melimpah sumber daya yang dimilikinya. Karena, peradaban tidak runtuh dalam satu malam. Ia juga tidak bangkit dalam satu pidato.

Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan terus-menerus. Seorang pegawai yang menolak suap, seorang guru yang mengajar dengan sungguh-sungguh, seorang ayah yang berlaku adil kepada anak-anaknya, seorang pemuda yang memilih membaca daripada menyebarkan fitnah atau hoaks.

Kita sering membayangkan kebangkitan sebagai sesuatu yang megah: gedung-gedung tinggi, kekuatan ekonomi, atau pengaruh politik global. Padahal, sejarah Islam memberikan kita gambaran yang berbeda. Baghdad, Cordoba, Persia, dan Kairo tidak menjadi pusat peradaban karena kekayaan semata. Mereka menjadi besar karena ilmu dihormati, integritas dijaga, dan kepentingan umum ditempatkan di atas kepentingan pribadi.

Maka, ketika Muharram datang, mungkin yang paling penting bukanlah berapa banyak obor yang kita nyalakan di jalan-jalan. Bukan pula seberapa megah perayaan Muharram digelar. Tetapi, seberapa besar keinginan dari dalam diri kita masing-masing untuk menciptakan perubahan. Dari yang kurang baik menjadi baik. Dari baik menjadi lebih baik.

Perubahan yang dimaksud adalah perubahan individu yang berusaha berlaku jujur dan adil serta memiliki integritas, dan perubahan sosial yang menciptakan kerukunan dan keharmonisan di tengah masyarakat sehingga solidaritas sosial terjalin, dan dengan itu, peradaban berkeadaban yang kita dambakan bersama dapat terealisasi.

Karena sejatinya, pergantian tahun tidak pernah menjamin perubahan manusia. Yang mengubah manusia bukan waktu. Melainkan, keberanian untuk mengevaluasi diri sebelum sejarah melakukannya atas nama kita.

Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk perayaan Tahun Baru Hijriyah, inilah pelajaran terbesar yang diwariskan Ibn Asyur dan Ibnu Khaldun kepada kita, bahwa kebangkitan peradaban tidak dimulai dari istana, tidak pula dari slogan-slogan besar. Ia dimulai dari manusia yang mau memperbaiki dirinya, lalu membangun solidaritas sosial yang melampaui kepentingan dirinya.

Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling sering memperingati hari bersejarah. Melainkan, bangsa yang mampu belajar dari peristiwa sejarah.

Bila setiap perayaan Tahun Baru hanya dirayakan sebagai momentum biasa, tanpa adanya perubahan individu dan kesadaran kolektif, maka, kebangkitan peradaban yang diidamkan dan diimpikan hanyalah ilusi belaka.

Penulis : Dosen Sirah Nabawiyah pada Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKU-MI) Alumni Dai Go AGlobal LD-PBNU 2025

  • Penulis: Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • IKAMI Sulsel Gelar Sarasehan Ramadan di Istiqlal, Perkuat Solidaritas Diaspora Bugis-Makassar photo_camera 2

    IKAMI Sulsel Gelar Sarasehan Ramadan di Istiqlal, Perkuat Solidaritas Diaspora Bugis-Makassar

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 327
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Jakarta-Suasana Ramadan yang penuh berkah terasa hangat di Aula PKUMI, Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Lebih dari 200 peserta yang terdiri dari politisi, akademisi, pengusaha, ulama, serta mahasiswa asal Sulawesi Selatan di DKI Jakarta berkumpul dalam kegiatan buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar IKAMI Sulsel. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan santunan kepada […]

  • Khabbab bin al Arat, Sang Guru Ngaji Yang Teguh Iman (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #9)

    Khabbab bin al Arat, Sang Guru Ngaji Yang Teguh Iman (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #9)

    • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 355
    • 0Komentar

    Suatu ketika, Umar, yang belum memeluk Islam, mendengar suara bacaan Qur’an dari rumah adiknya. Saat ia masuk untuk melihat apa yang terjadi, Khabbab sedang membacakan Al‑Qur’an. Kejadian ini disebut-sebut sebagai salah satu cikal bakal yang menyentuh hati Umar, membuatnya tertarik mempelajari Islam lebih jauh, dan kemudian memeluk agama ini secara resmi. Perlu dicatat bahwa narasi […]

  • Tambang Diduga Ilegal di Maros Masih Beroperasi, PERJOSI Tantang Ketegasan Aparat

    Tambang Diduga Ilegal di Maros Masih Beroperasi, PERJOSI Tantang Ketegasan Aparat

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 287
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Aktivitas tambang yang diduga ilegal di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, kembali menuai sorotan publik. Hingga Senin (25/05/2026), sejumlah titik tambang di wilayah Kecamatan Mandai dan Moncongloe disebut masih terus beroperasi meski mendapat keluhan warga terkait dugaan kerusakan lingkungan dan dampak terhadap keselamatan masyarakat sekitar. Berdasarkan pantauan di lapangan, aktivitas pengerukan tanah masih […]

  • Langit Mahal Gorontalo; Harga Tiket Mencekik, Membisu Pemerintah & Sebuah Pertanyaan untuk Presiden Prabowo

    Langit Mahal Gorontalo; Harga Tiket Mencekik, Membisu Pemerintah & Sebuah Pertanyaan untuk Presiden Prabowo

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 157
    • 0Komentar

    oleh : Suci Priyanti Kartika Chanda Sari., S.H.,M.H. Bagi sebuah provinsi kepulauan seperti Gorontalo, transportasi udara bukanlah kemewahan, melainkan urat nadi esensial yang menyambungkan denyut ekonomi, sosial, dan bahkan spiritual warganya dengan seluruh nusantara. Jalur udara adalah jembatan bagi para perantau untuk kembali ke pelukan keluarga, koridor bagi pelajar untuk menimba ilmu, kanal bagi pelaku […]

  • Auditor Langit

    Auditor Langit

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
    • visibility 395
    • 0Komentar

    Nah, dalam kehidupan manusia, Ramadhan seperti periode interim audit sebelum laporan tahunan diserahkan pada hari pengadilan akhirat. Bedanya, auditor langit tidak perlu melakukan sampling. Semua diperiksa. Tidak ada istilah materialitas. Semua dihitung. Tidak ada window dressing. Semua terlihat. Kalau auditor kantor menemukan “creative accounting”, auditor langit justru menemukan “creative excuses” dari manusia. Misalnya: seseorang berpuasa […]

  • Pertemuan Penuh Makna! Ini Harapan Besar dari Safari Idulfitri di Gorontalo

    Pertemuan Penuh Makna! Ini Harapan Besar dari Safari Idulfitri di Gorontalo

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 323
    • 0Komentar

    Kehadiran para pemangku kepentingan ini semakin memperkuat nuansa kebersamaan dan semangat kolaborasi. Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sofyan Puhi menegaskan bahwa Safari Idulfitri bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia menyebut momen ini sebagai ruang penting untuk mempererat koordinasi lintas pemerintahan, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan ke depan. “Melalui momentum ini, kita memperkuat komunikasi dan menyatukan langkah […]

expand_less