Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tahun Baru Hijriyah dan Ilusi Kebangkitan

  • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A.
  • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
  • visibility 254
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam konteks Indonesia, negeri yang memiliki jumlah Muslim terbesar di dunia. Masjid berdiri di hampir setiap sudut kampung. Pesantren tumbuh dalam jumlah puluhan ribu. Pengajian memenuhi ruang-ruang publik. Simbol-simbol agama hadir di mana-mana.

Namun, pada saat yang sama, korupsi tetap menjadi berita harian. Kebohongan menemukan rumah yang nyaman di media sosial. Kebencian diproduksi lebih cepat daripada pengetahuan. Kita rajin berbicara tentang moralitas, tetapi sering gagal menjadikannya sebagai kebiasaan.

Ada paradoks yang mengatakan: Kita semakin religius dalam ekspresi, tetapi belum tentu semakin etis dalam tindakan. Mungkin, karena selama ini kita terlalu sibuk memperbaiki dunia di luar diri kita, sementara dunia di dalam diri sendiri dibiarkan berantakan.

Dalam perspektif Ibn Asyur, krisis seperti ini berakar pada kegagalan reformasi individu. Dalam perspektif Ibnu Khaldun, krisis yang sama merupakan gejala melemahnya ‘ashabiyah atau solidaritas sosial.

Keduanya sebenarnya berbicara tentang hal yang sama dari sudut yang berbeda, kerusakan sosial selalu dimulai dari kerusakan karakter.

Padahal, al-Qur’an telah merumuskan hukum perubahan itu jauh sebelum teori-teori sosial modern lahir: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini adalah akselerasi peradaban yang dikemas dalam satu kalimat. Allah swt. menetapkan sunnah takwinyah yang bersifat universal dan tidak dapat diintervensi oleh siapapun, perubahan kolektif suatu bangsa hanya mungkin terjadi ketika individu-individu di dalamnya memulai perubahan dari dalam dirinya sendiri. Ini bukan ancaman, melainkan janji ilahi tentang mekanisme peradaban manusia.

Tetapi, zaman modern seolah-olah mengajukan sanggahan. Bukankah banyak orang baik justru terjebak dalam sistem yang buruk? Bukankah banyak individu sering menjadi korban struktur? Bukankah kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan tidak selalu lahir dari kelemahan karakter?

Mungkin, Pertanyaan-pertanyaan itu ada benarnya. Karena itu, Ibn Asyur menawarkan sintesis yang menarik. Ia tidak mempertentangkan antara reformasi individu dan reformasi sosial-struktural. Ia melihat keduanya sebagai dua sisi dari satu koin yang sama. Sintesisnya adalah, reformasi individu adalah syarat perlu (necessary condition), dan reformasi struktural adalah syarat cukup (sufficient condition). Keduanya harus berjalan beriringan dalam strategi yang ia sebut sebagai al-islah al-mutakamil — reformasi yang saling melengkapi dan saling memperkuat antara level individu dan level sosial-struktural. Dan, Indonesia membutuhkan keduanya.

Kita membutuhkan pendidik yang tidak hanya menghasilkan manusia pintar, tetapi juga manusia jujur. Kita membutuhkan birokrasi yang tidak hanya efisien, tetapi juga berintegritas. Kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara tentang nilai, tetapi bersedia menjadi teladan nilai itu sendiri.

Ibnu Khaldun menyebut proses ini sebagai upaya memperkuat kembali ‘ashabiyah kebangsaan. Sebab bangsa yang kehilangan rasa kebersamaan akan sulit mempertahankan peradabannya, betapapun melimpah sumber daya yang dimilikinya. Karena, peradaban tidak runtuh dalam satu malam. Ia juga tidak bangkit dalam satu pidato.

Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan terus-menerus. Seorang pegawai yang menolak suap, seorang guru yang mengajar dengan sungguh-sungguh, seorang ayah yang berlaku adil kepada anak-anaknya, seorang pemuda yang memilih membaca daripada menyebarkan fitnah atau hoaks.

Kita sering membayangkan kebangkitan sebagai sesuatu yang megah: gedung-gedung tinggi, kekuatan ekonomi, atau pengaruh politik global. Padahal, sejarah Islam memberikan kita gambaran yang berbeda. Baghdad, Cordoba, Persia, dan Kairo tidak menjadi pusat peradaban karena kekayaan semata. Mereka menjadi besar karena ilmu dihormati, integritas dijaga, dan kepentingan umum ditempatkan di atas kepentingan pribadi.

Maka, ketika Muharram datang, mungkin yang paling penting bukanlah berapa banyak obor yang kita nyalakan di jalan-jalan. Bukan pula seberapa megah perayaan Muharram digelar. Tetapi, seberapa besar keinginan dari dalam diri kita masing-masing untuk menciptakan perubahan. Dari yang kurang baik menjadi baik. Dari baik menjadi lebih baik.

Perubahan yang dimaksud adalah perubahan individu yang berusaha berlaku jujur dan adil serta memiliki integritas, dan perubahan sosial yang menciptakan kerukunan dan keharmonisan di tengah masyarakat sehingga solidaritas sosial terjalin, dan dengan itu, peradaban berkeadaban yang kita dambakan bersama dapat terealisasi.

Karena sejatinya, pergantian tahun tidak pernah menjamin perubahan manusia. Yang mengubah manusia bukan waktu. Melainkan, keberanian untuk mengevaluasi diri sebelum sejarah melakukannya atas nama kita.

Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk perayaan Tahun Baru Hijriyah, inilah pelajaran terbesar yang diwariskan Ibn Asyur dan Ibnu Khaldun kepada kita, bahwa kebangkitan peradaban tidak dimulai dari istana, tidak pula dari slogan-slogan besar. Ia dimulai dari manusia yang mau memperbaiki dirinya, lalu membangun solidaritas sosial yang melampaui kepentingan dirinya.

Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling sering memperingati hari bersejarah. Melainkan, bangsa yang mampu belajar dari peristiwa sejarah.

Bila setiap perayaan Tahun Baru hanya dirayakan sebagai momentum biasa, tanpa adanya perubahan individu dan kesadaran kolektif, maka, kebangkitan peradaban yang diidamkan dan diimpikan hanyalah ilusi belaka.

Penulis : Dosen Sirah Nabawiyah pada Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKU-MI) Alumni Dai Go AGlobal LD-PBNU 2025

  • Penulis: Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tubuh sebagai Ruang Iman, Pengetahuan dan Penyembuhan

    Tubuh sebagai Ruang Iman, Pengetahuan dan Penyembuhan

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 220
    • 0Komentar

    Membaca Ketegangan Agama, Kesehatan Modern, Dan Pengobatan Tradisional dengan perspektif Moderasi Beragama. Mungkinkah gagasan moderasi beragama digunakan untuk membaca ilmu kesehatan? Saya menjawabnya, mungkin. Dengan segala kehati-hatian agar tidak terkesan memaksakan. Ruang perjumpaan agama dan ilmu kesehatan adalah tubuh. Sebagaimana ilmu kesahatan, agama juga berbicara tentang tubuh. Bagaimana tubuh dirawat, disembuhkan, dilindungi, bahkan dimuliakan. Tubuh […]

  • Dari Langit ke Bumi: Pesan Agung Salat Menggema di Masjid Nurul Jama’ah Taipa

    Dari Langit ke Bumi: Pesan Agung Salat Menggema di Masjid Nurul Jama’ah Taipa

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 332
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Peristiwa agung Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW kembali diperingati dengan penuh kekhusyukan oleh umat Islam di Dusun Taipa, Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros. Peringatan yang berlangsung di Masjid Nurul Jama’ah Taipa, Minggu malam, 4 Januari 2026, menjadi momentum spiritual untuk menguatkan kembali komitmen umat dalam menjaga salat sebagai fondasi kehidupan […]

  • Tabungan Emas Nasabah mencapai 1,4 Ton, Pegadaian Kanwil IX Jakarta Menjamin Keamanan Investasi Layanan Bank Emas

    Tabungan Emas Nasabah mencapai 1,4 Ton, Pegadaian Kanwil IX Jakarta Menjamin Keamanan Investasi Layanan Bank Emas

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Emas telah lama menjadi instrumen investasi yang aman dan menguntungkan. Seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap emas, Pegadaian menghadirkan Layanan Bank Emas yaitu sebuah layanan yang memungkinkan masyarakat melakukan transaksi dan investasi emas dengan lebih mudah, aman, dan terpercaya. Bank Emas merupakan salah satu inisiatif pemerintah yang terhimpun dalam Asta Cita Prabowo-Gibran dengan tujuan hilirisasi […]

  • Mahasiswa PKUMI Jakarta Kunjungi KBRI Kairo, Perkuat Peran sebagai Duta Bangsa

    Mahasiswa PKUMI Jakarta Kunjungi KBRI Kairo, Perkuat Peran sebagai Duta Bangsa

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 259
    • 0Komentar

    Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Kairo, Moh. Nur Salim, menekankan pentingnya menjaga kesungguhan dan disiplin dalam menempuh studi. Ia mengingatkan bahwa proses belajar harus dijalani dengan komitmen kuat agar memberikan manfaat maksimal, baik bagi diri sendiri maupun bagi Indonesia. Sementara itu, Atase Pendidikan KBRI Kairo, Abdul Muta’ali, menyoroti pentingnya menempuh jalur pendidikan secara […]

  • Dugaan Pemerkosaan Mahasiswi, PMII Ternate Minta UNUTARA Bertindak Transparan dan Berkeadilan

    Dugaan Pemerkosaan Mahasiswi, PMII Ternate Minta UNUTARA Bertindak Transparan dan Berkeadilan

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle Ikbal Kau
    • visibility 287
    • 0Komentar

    Ia menegaskan, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual serta Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 telah memberikan landasan hukum yang jelas bagi perguruan tinggi dalam mencegah dan menangani kasus kekerasan seksual. Karena itu, Jumra meminta Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) UNUTARA segera memproses laporan yang ada sesuai ketentuan […]

  • Kopra Institute Desak Bupati dan BKD Periksa Sekda Morotai Soal Dugaan Judol

    Kopra Institute Desak Bupati dan BKD Periksa Sekda Morotai Soal Dugaan Judol

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 309
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maluku Utara – Dugaan kasus yang menyeret Sekretaris Daerah (Sekda) Pulau Morotai, Muhammad Umar Ali, terus menguat. Komite Perjuangan Rakyat (Kopra Institute) meminta Bupati dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) tidak tinggal diam. Direktur Kopra Institute, Faisal Habeba, menegaskan bahwa dugaan yang mencuat, khususnya terkait praktik judi online (judol), harus segera ditindaklanjuti secara serius. “Ini […]

expand_less