Takjil Transparan, Anggaran Samar
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
- visibility 117
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Secara teori, Ramadhan adalah bulan pengendalian diri. Dalam perspektif akuntansi manajemen, ini momentum penguatan budgeting dan pengendalian internal. Namun praktiknya sering terbalik: masjid mengumumkan laporan infak dengan rapi dan transparan, sementara laporan pengeluaran pribadi hanya tersimpan di notifikasi mobile banking yang kita abaikan.
Ada ironi yang jenaka sekaligus getir. Takjil di depan masjid gratis dan terbuka, siapa pun boleh ambil. Tetapi ketika bicara anggaran publik, sering kali yang terbuka hanya seremoni, bukan detail realisasi. Kita hafal jadwal buka puasa, tapi lupa jadwal audit. Kita semangat berbagi kurma, tetapi enggan berbagi data.
Padahal dalam Islam, akuntabilitas bukan konsep asing. Al-Qur’an sudah menyinggung pencatatan utang piutang secara rinci. Ayat terpanjang dalam kitab suci itu bicara tentang administrasi, bukan sekadar spiritualitas. Artinya, iman dan laporan keuangan tidak boleh dipisahkan. Takjil boleh manis, tapi anggaran harus logis.
Humor ala NU mengajarkan keseimbangan. Jangan terlalu kaku seperti auditor yang kehilangan selera humor, tapi jangan terlalu cair seperti es buah yang kebanyakan air. Transparansi bukan sekadar menampilkan angka, melainkan menjelaskan makna di balik angka. Kalau pengurus takmir masjid bisa memajang laporan pemasukan dan pengeluaran di papan pengumuman, masa kita tak bisa memajang rencana anggaran keluarga di dinding kulkas?
Sering kali, problem bukan pada kurangnya dana, tetapi pada kaburnya prioritas. Dalam istilah akuntansi, ini soal misalokasi sumber daya. Kita rela antre panjang demi takjil viral, tapi enggan antre dalam barisan disiplin menabung. Kita hitung pahala tarawih, tetapi tidak menghitung rasio utang terhadap pendapatan.
Ramadhan seharusnya menjadi laboratorium integritas. Transparansi takjil mengajarkan bahwa yang terlihat harus sesuai dengan isi. Jangan sampai kemasannya premium, isinya angin. Begitu pula anggaran: jangan sampai judulnya “pembangunan umat”, realisasinya “pembangunan citra”.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar