Takjil Transparan, Anggaran Samar
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
- visibility 116
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sebagai akademisi akuntansi, saya sering bercanda kepada mahasiswa: “Neraca itu seperti timbangan amal. Kalau berat sebelah, berarti ada yang perlu diperbaiki.” Mereka tertawa, tapi saya tahu mereka paham. Dalam setiap transaksi ada nilai moral. Setiap rupiah yang keluar adalah keputusan etis.
Di bulan suci ini, mungkin kita perlu membuat laporan keuangan versi batin: berapa banyak sedekah dibanding belanja konsumtif? Berapa banyak waktu untuk tadarus dibanding scrolling diskon? Jangan sampai kita rajin mencatat pengeluaran untuk parcel, tapi lupa mencatat komitmen zakat.
Transparansi sejati bukan hanya soal angka, melainkan keberanian untuk diaudit oleh publik, oleh keluarga, dan tentu saja oleh Tuhan. Jika takjil saja bisa jujur menampilkan isinya, mengapa anggaran harus samar? Jika kolak bisa terang benderang, mengapa laporan penggunaan dana harus remang-remang?
Ramadhan mengajarkan bahwa lapar itu sementara, tetapi integritas itu selamanya. Maka mari kita jadikan bulan ini sebagai momentum memperjelas yang samar, memperbaiki yang timpang, dan menertawakan diri sendiri sebelum ditertawakan sejarah. Sebab dalam tradisi kebijaksanaan, humor adalah jalan halus menuju kesadaran.
Akhirnya, semoga takjil kita tetap transparan, anggaran kita makin terang, dan neraca kehidupan kita seimbang. Karena pada akhirnya, bukan hanya perut yang berbuka, tetapi juga mata hati yang terbuka. Dan siapa tahu, dengan sedikit humor dan banyak kejujuran, kita bisa membuktikan bahwa akuntansi bukan sekadar soal angka, melainkan soal amanah.
Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar