Breaking News
light_mode
Trending Tags

500 Tahun Ramadan di Gorontalo

  • account_circle Redaksi Nulondalo
  • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
  • visibility 46
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Praktek berpuasa bagi umat Islam selama bulan Ramadan telah berlangsung ribuan kali sejak era Nabi.

Khusus untuk kita di Gorontalo, puasa baru berlangsung sekitar 500 tahun. Hitungan “kasar” ini bermula dari tahun 1525 sejak Islam menjadi agama resmi di Gorontalo. Artinya, untuk Gorontalo sendiri, baru 500 kali puasa Ramadan dilangsungkan. Bagi peradaban lain, puasa Ramadan telah berlangsung lebih lama.

Pertanyaannya, jika Ramadan dianggap sebagai proses untuk menyucikan diri dan jiwa, apakah ada perubahan yang fundamental terjadi di Gorontalo selama 500 tahun ini?

Apakah puasa yang telah berlangsung selama 500 kali ini telah berhasil membawa perbaikan karakter bagi masyarakat Gorontalo secara umum? Dan jika misalnya (katakanlah) telah terjadi dari perbaikan karakter masyarakat tersebut, apakah berefek pada ; (1). Kemiskinan semakin berkurang. (2). Pengangguran semakin berkurang. (3). Ketimpangan semakin mengecil. (4). Lingkungan semakin asri. (5). Aktivitas keagamaan semakin meningkat. (6). Kriminalitas semakin berkurang. (7). Pelayanan publik semakin prima.

Apakah keberlangsungan puasa di bulan Ramadan selama 500 kali ini telah mencapai minimal 7 poin diatas? Ataukah, 7 poin diatas malah semakin minimal atau bahkan menurun?

Jika misalnya malah semakin memburuk, bagaimana kaitannya dengan puasa yang telah diulang-ulang selama 500 kali ini? Apakah puasa tidak memiliki kaitan yang signifikan dengan peningkatan kualitas masyarakat? Ataukah, puasa dianggap sebagai praktek yang terpisah dan tidak berkaitan dengan perubahan sosial?

Jika kita melihat data statistik tentang Gorontalo dalam beberapa dekade terakhir, sepertinya puasa tidak inheren dengan perubahan sosial. Bisa jadi, pada beberapa orang memang ada perubahan. Tapi pada masyarakat, sepertinya hal tersebut tidak linier.

Jika demikian keadaannya, apakah puasa sebagai salah satu instrumen untuk memperbaiki orang dan masyarakat masih “relevan” untuk dijadikan momentum perbaikan secara keseluruhan?

Bahwa puasa adalah salah satu syariat yang harus dijalankan adalah benar, dan bahkan sebuah kewajiban. Tetapi, mengapa perubahan sosial tidak menjadi lebih baik? Bukankah setiap perintahnya (melalui Nabi) adalah untuk memperbaiki akhlak budi pekerti dan peradaban itu sendiri, tetapi mengapa puasa sebagai salah satu instrumen perbaikan sepertinya tidak lagi “memadai” untuk menjadi instrumen perbaikan?

Pertanyaan lanjut, jika misalnya 500 kali puasa dianggap belum “memadai” untuk menjadi instrumen perbaikan, masih butuh berapa kali Ramadan lagi masyarakat Gorontalo secara keseluruhan agar kompak dan solid dalam menjadikan Ramadan sebagai proses refleksi dan koreksi kolektif demi terwujudnya jargon dan cita-cita (yang telah berulang-ulang menjadi judul spanduk) yakni Serambi Madinah.

Atau jangan-jangan puasa Ramadan sekedar hanya dijadikan ajang komodifikasi agenda-agenda yang bersifat seremonial : flyer ucapan puasa, pasang spanduk ucapan di tiap pagar masjid, story ayat-ayat suci beserta wajah elit di media sosial, story keutamaan tarawih dari malam pertama sampai terakhir, parade bukber komunitas, sahur on the road, lomba tumbilotohe dan berbagai atraksi yang seakan-akan religius.

Bahwa agenda-agenda tersebut adalah bagian dari menyemarakkan Ramadan bisa dimaklumi, tetapi seakan-akan yang hanya menjadi “bagian” malah dijadikan tujuan dari Ramadan itu sendiri.

Pun demikian jelang Idul Fitri, kegirangan beli baju baru, kursi di ruang tamu harus baru, mengecat, THR, bahkan di beberapa kalangan atraksi memakai sarung BHS agar tampak elit dibanding kaum miskin lain yang hanya bisa membeli sarung murah meriah di Pasar Senggol.

Hingga memasuki Idul Fitri yang hampir semua materi khotbah diisi oleh isak tangis saat Khatib menyampaikan tentang kehilangan orang tua dan sebagainya, dan selesai dari parade tangisan tersebut, kembali ke “setingan pabrik”. Tidak ada yang berubah.

Atau, jangan-jangan apa yang kita jalani dan praktekkan selama 500 tahun ini hanyalah seperti gambaran Rasulullah silam ; “hanya lapar dan haus”?

Tetapi, tentu saja Allah tak berdiam diri di singgasanaNya. Sebagaimana banyak peradaban-peradaban yang telah luluh lantak bahkan punah (mololopu) yang diakibatkan oleh pengabaian pada ketentuan dan aturanNya, maka apakah kita baru akan sadar dan bisa merefleksikan keadaan harus melalui proses “mololopu” tersebut agar kita bisa sadar dan disadarkan?

Ramadan masih beberapa hari lagi, kesempatan masih ada tentunya. Usia tak ada yang bisa menebak, apakah puasa tahun 2026 masih bisa diikuti, atau sudah menjadi bagian yang ditangisi pada saat khutbah Idul Fitri tahun 2026 nantinya? Semua terserah pada diri kita masing-masing. Petunjuk dan tanda telah ada, tergantung kita bagaimana membacanya dan merefleksikannya.

Penulis: Dr. Funco Tanipu, MA(Akademisi di Universitas Negeri Gorontalo)

  • Penulis: Redaksi Nulondalo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sedekah Tanpa Batas: Menag Dorong Filantropi Islam Universal

    Sedekah Tanpa Batas: Menag Dorong Filantropi Islam Universal

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 109
    • 0Komentar

    Nulondalo.com- Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memberikan penekanan khusus mengenai optimalisasi filantropi Islam dalam Sarasehan 99 Ekonom Syariah pada 24 Februari 2026. Menag mengajak umat Islam, khususnya kelompok kaya (aghniya), untuk tidak terjebak pada pemenuhan standar minimal kewajiban agama dalam pembayaran zakat, tapi memperluas kontribusinya melalui instrumen sedekah, infak, hibah, dan wakaf. Hal itu disampaikan […]

  • DPP Geninusa Gelar Buka Puasa Bersama, Pembina Febrina Tekankan Pentingnya Nalar Kritis Generasi Muda

    DPP Geninusa Gelar Buka Puasa Bersama, Pembina Febrina Tekankan Pentingnya Nalar Kritis Generasi Muda

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Nulondalo – Dewan Pengurus Pusat Gerakan Santripreneur Nusantara (DPP GENINUSA), menggelar buka puasa bersama dan berbagi takjil dengan ibu Febrina sebagai salah satu dewan pembina Geninusa di kediamannya, Jakarta Selatan, Jum’at 07 Maret 2025. Sebagai salah satu dewan pembina Geninusa, ibu Febrina juga memberikan pesan sebagai dorongan kepada pengurus DPP Geninusa. Harapannya geninusa harus tetap […]

  • Nasib Petani Hutan di Gorontalo: Harga Anjlok, Akses Pasar Sulit, Solusi Diharapkan dari Kolaborasi HKm Play Button photo_camera 7

    Nasib Petani Hutan di Gorontalo: Harga Anjlok, Akses Pasar Sulit, Solusi Diharapkan dari Kolaborasi HKm

    • calendar_month Minggu, 2 Nov 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 152
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nasib petani di kawasan penyangga Tahura BJ Habibie dan SM Nantu di Gorontalo tampaknya masih jauh dari sejahtera. Di tengah perjuangan mereka menanam dan merawat tanaman hingga masa panen, harga jual hasil pertanian kerap tidak berpihak pada mereka. Permasalahan ini kembali disoroti dalam Workshop bertema “Membangun Kolaborasi dan Memperkuat Jaringan Kemitraan Usaha untuk […]

  • Reses di Boalemo, Aleg DPRD Gorontalo Muhammad Dzikyan Serap Aspirasi Soal Bantuan Sosial hingga Lapangan Kerja Pemuda

    Reses di Boalemo, Aleg DPRD Gorontalo Muhammad Dzikyan Serap Aspirasi Soal Bantuan Sosial hingga Lapangan Kerja Pemuda

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 108
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Anggota DPRD Provinsi Gorontalo Daerah Pemilihan (Dapil) Pohuwato–Boalemo, Muhammad Dzikyan, menggelar kegiatan reses di Desa Bongo Dua, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo untuk menyerap berbagai aspirasi masyarakat, Jumat (6/2/2026). Dalam pertemuan tersebut, warga menyampaikan sejumlah persoalan mulai dari perubahan data bantuan sosial, kerusakan infrastruktur desa, hingga minimnya program pemberdayaan pemuda. Dzikyan yang juga Ketua […]

  • DPR Dorong Sinergi Pusat–Daerah Demi Jaminan Kesehatan Warga Kurang Mampu

    DPR Dorong Sinergi Pusat–Daerah Demi Jaminan Kesehatan Warga Kurang Mampu

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 37
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita Runtuwene mendorong penguatan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah guna memastikan jaminan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu tetap terlayani secara optimal dan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan Kunjungan Kerja Reses Komisi IX DPR RI bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan di Kantor Gubernur, Makassar, Jumat (20/2/2026). […]

  • Kolonialisme Digital

    Kolonialisme Digital

    • calendar_month 11 jam yang lalu
    • account_circle Sonny Madjid
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Setelah perang nilai tukar mata uang, bio farma-bio teknologi, narasi sistem global kini sudah masuk pada perang berbasis teknologi (cybernwar, big data, AI, dll). Pertanyaan besarnya adalah siapa yang menguasai teknologi, maka dia mengendalikan, apa kepentingannya, siapa yang diuntungkan? Kita semua tahu, penguasaan algoritma yang menyangkut infrastruktur data global, platform digital dikuasai segelintir korporasi dan […]

expand_less