Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Sejarah Peringatan 1 Muharram: Dari Zaman Nabi hingga Tradisi Nusantara

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Kamis, 5 Jun 2025
  • visibility 178
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

1 Muharram merupakan hari pertama dalam kalender Hijriah yang menandai pergantian tahun baru Islam. Bagi umat Muslim, Muharram memiliki makna spiritual yang mendalam.

Tak hanya bulan yang penuh keutamaan, tetapi juga menjadi simbol perubahan, hijrah, dan refleksi keagamaan.

Bulan Muharram bukan sekadar awal tahun baru Islam, melainkan momentum spiritual yang sarat nilai-nilai keutamaan seperti taqwa, muhasabah, perjuangan moral, dan penghormatan terhadap kehidupan.

Ia mengajak umat Islam untuk memperkuat komitmen kepada Allah, menegakkan kebenaran, serta memperkuat solidaritas dan kedamaian sosial. Bagaimana sejarah peringatan 1 Muharram berkembang dari masa ke masa?

Awal Penetapan Kalender Hijriah

Sebelum kalender Hijriyah, umat Islam belum memiliki sistem penanggalan resmi. Surat-menyurat dan pencatatan peristiwa seringkali membingungkan karena tidak ada acuan waktu yang seragam.

Masalah ini muncul saat Abu Musa al-Ash’ari, gubernur Basrah, menerima surat dari Khalifah Umar yang tidak mencantumkan tahun, sehingga memicu usulan untuk menetapkan kalender resmi bagi umat Islam.

Kalender Hijriah ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab, sekitar tahun ke-17 Hijriah. Saat itu, muncul kebutuhan untuk menetapkan sistem penanggalan resmi dalam administrasi pemerintahan Islam.

Setelah musyawarah, disepakati bahwa peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah menjadi titik tolak perhitungan tahun.

“Hijrah adalah pemisah antara yang haq dan yang batil.”— Khalifah Umar bin Khattab (HR. Ahmad)

Walau penanggalan Hijriah baru disahkan di masa Umar, peristiwa hijrah sendiri terjadi pada bulan Rabiul Awal, bukan Muharram.

Namun, Muharram dipilih sebagai awal tahun karena berdekatan dengan bulan Dzulhijjah (musim haji), saat umat Islam memperbarui komitmen keagamaannya.

Keutamaan Bulan Muharram

Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram dalam Islam, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram…”
(QS. At-Taubah: 36)

Empat bulan haram itu adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan menjauhi segala bentuk kekerasan dan meningkatkan amal ibadah.

Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai “Syahrullah” (bulan Allah), menjadikannya satu dari empat bulan suci (al-asyhur al-hurum) dalam Islam.

Puasa pada tanggal 10 Muharram yang dikenal sebagai Hari Asyura sangat dianjurkan.

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Muharram.”— (HR. Muslim)

Hari Asyura juga memperingati berbagai peristiwa penting dalam sejarah para nabi, seperti keselamatan Nabi Musa dari kejaran Firaun dan tobat Nabi Adam.

Peringatan Muharram di Masa Awal Islam

Tradisi paling menonjol yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat di bulan Muharram adalah puasa pada hari Asyura (10 Muharram). Bahkan sebelum puasa Ramadan diwajibkan, puasa Asyura sudah dikenal dan dijalankan.

Dari Aisyah RA, ia berkata:
“Hari Asyura adalah hari yang biasa dipuasai oleh Quraisy pada masa Jahiliyah, dan Rasulullah SAW juga biasa berpuasa pada hari itu. Ketika beliau tiba di Madinah, beliau juga berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah puasa Ramadan diwajibkan, puasa Asyura menjadi sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) dan tidak lagi wajib.

Pada masa Nabi Muhammad SAW, 1 Muharram belum dijadikan hari perayaan tahunan seperti yang dikenal sekarang.

Namun puasa Asyura sangat dianjurkan. Setelah kewajiban puasa Ramadhan diturunkan, puasa Asyura menjadi sunah muakkadah (sangat dianjurkan).

Di masa Khulafaur Rasyidin dan pemerintahan Islam selanjutnya, bulan Muharram digunakan sebagai momen doa bersama, introspeksi diri, dan mengenang perjalanan hijrah Nabi.

Tragedi Karbala dan Peringatan Asyura

Tragedi Karbala adalah salah satu peristiwa paling memilukan dalam sejarah Islam, yang terjadi pada 10 Muharram tahun 61 Hijriah (680 Masehi), di sebuah tempat bernama Karbala, yang sekarang berada di Irak.

Peristiwa ini menjadi titik penting dalam perpecahan politik dan spiritual umat Islam, terutama antara kelompok Sunni dan Syiah.

Tokoh utama dalam tragedi ini adalah Imam Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, putra dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra.

Ia menolak membaiat Yazid bin Muawiyah, khalifah dari dinasti Umayyah, yang dianggap zalim dan tidak layak memimpin umat Islam. Penolakan ini berujung pada konfrontasi berdarah.

Bagi kalangan Syiah, tanggal 10 Muharram juga menjadi hari duka karena mengenang syahidnya cucu Nabi Muhammad, Imam Husain bin Ali dalam tragedi Karbala (tahun 61 H). Sejak saat itu, peringatan Muharram, terutama Hari Asyura, juga menjadi ajang mengenang nilai perjuangan dan pengorbanan.

“Setiap hari adalah Asyura, dan setiap tempat adalah Karbala.”— Ungkapan populer Syiah untuk mengingat semangat perjuangan Husain

Tradisi Peringatan Muharram di Nusantara

Di berbagai wilayah Nusantara, bulan Muharram diperingati dengan cara yang khas. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), misalnya, Muharram dijadikan bulan santunan anak yatim. Hal ini didasarkan pada semangat kasih sayang dan kepedulian sosial.

Di banyak wilayah Jawa, Muharram dikenal sebagai bulan Suro. Masyarakat membuat “bubur suro” sebagai simbol keselamatan dan berkah. Bubur ini biasanya dibagikan kepada tetangga dan fakir miskin. Diiringi dengan pengajian, doa bersama, dan tahlilan.

Warga melakukan ritual tolak bala dengan berbagai bentuk: Membuat sesaji atau hidangan yang dibagikan ke laut atau sungai. Pembacaan doa keselamatan agar terhindar dari bencana selama setahun ke depan.

Nilai Islam dan budaya lokal berpadu dalam semangat perlindungan dan pengharapan kepada Allah.

Berdasarkan hadis: “Aku dan orang yang mengasuh anak yatim kelak seperti ini di surga.” (HR. Bukhari)

Banyak masjid dan pesantren di Indonesia mengadakan santunan anak yatim pada 10 Muharram (Asyura). Kegiatan ini menjadi ajang solidaritas sosial yang tinggi dalam masyarakat.

“Salah satu amalan utama di bulan Muharram adalah menyantuni anak yatim. Ini sudah menjadi tradisi pesantren sejak dulu.” — KH. Abdul Wahab Chasbullah

Di Gorontalo, Sulawesi, masyarakat menggelar doa bersama dan makan kue khas Gorontalo, tradisi memasak dan berbagi makanan seperti kue apangi (apang colo), kue perahu, dan nasi kuning.

Di Aceh, ada tradisi Khanduri Asyura, yakni memasak bubur Asyura secara massal sebagai lambang kebersamaan.

Makna Reflektif Peringatan Muharram

Peringatan 1 Muharram bukanlah seremoni semata, melainkan ajakan untuk melakukan hijrah batin: berpindah dari gelap menuju terang, dari lalai menuju taat, dari ego menuju empati.

Ini menjadi relevan dalam kondisi umat hari ini yang memerlukan pembaruan moral dan spiritual.

“Hijrah adalah tentang perubahan diri, bukan hanya berpindah tempat. Inilah semangat 1 Muharram yang sejati.”— Syekh Nawawi al-Bantani, dalam tafsir Marah Labid

Peringatan 1 Muharram adalah warisan sejarah yang sarat makna. Ia mengajarkan nilai hijrah, keadilan, solidaritas, dan kemanusiaan.

Dari zaman Nabi hingga kini, Muharram terus hidup sebagai penanda pergantian waktu dan momentum spiritual untuk umat Islam di seluruh dunia.

  • Penulis: Djemi Radji
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kebakaran Hebat di Jalan Parwasal, Siantan Utara, Pontianak: Beberapa Rumah Terbakar, Pemadam Dikerahkan

    Kebakaran Hebat di Jalan Parwasal, Siantan Utara, Pontianak: Beberapa Rumah Terbakar, Pemadam Dikerahkan

    • calendar_month Kamis, 26 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 382
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Warga Jalan Parwasal, Siantan Utara, Pontianak, dikejutkan oleh kebakaran besar yang menghanguskan beberapa rumah di kawasan padat penduduk, Rabu (25/3/2026). Insiden ini terekam dalam video berdurasi 46 detik yang memperlihatkan kobaran api menyala terang dan cepat menyebar, menimbulkan kepanikan di antara warga. Video rekaman yang beredar di media sosial seperti Instagram dan Facebook […]

  • Konsep 4A Kunci Pengembangan Pariwisata Gorontalo  

    Konsep 4A Kunci Pengembangan Pariwisata Gorontalo  

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Empat ruang unsur kunci pengembangan pariwisata Provinsi Gorntalo dibedah sejumlah peneliti, praktisi dan awak media di halaman Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapppeda) Provinsi Gorontalo. Keempat ruang elemen kunci ini adalah ruang atraksi, ruang aksesibilitas, ruang amenitas, dan ruang ansilari. Empat komponen kunci dalam pengembangan pariwisata ini dikenal sebagai konsep 4A. Komponen ini meliputi atraksi […]

  • “Re-historiografi Gorontalo”

    “Re-historiografi Gorontalo”

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Dalam sebuah obrolan melalui whatsApp, sahabat saya Arief Abbas mencoba mengajak saya untuk membincang kembali Gorontalo, yang dimaksud adalah “Re-historigrafi Gorontalo”. Menurut Arief selama ini sejarah Gorontalo hanya menjelaskan Sultan Amai, Matolodulakiki, Raja Eyato dan beberapa lainnya. Bagi Arief banyak hal soal Gorontalo yang kurang diulas misalnya Wato, Dayango, Sejarah mengenai orang-orang tertindas/terpinggirkan dan lain […]

  • Islah PBNU Tercapai, Rais Aam dan Ketua Umum Sepakat Gelar Muktamar Bersama

    Islah PBNU Tercapai, Rais Aam dan Ketua Umum Sepakat Gelar Muktamar Bersama

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 215
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memasuki babak baru setelah tercapainya islah antara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Rekonsiliasi tersebut dicapai dalam pertemuan yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Kamis (25/12/2025). Pertemuan yang diprakarsai para Masyayikh dan Mustasyar PBNU itu […]

  • Alasan Nonjob 95 ASN di Sulbar Diungkap Badan Kepegawaian Negara, Layanan Kepegawaian Diblokir

    Alasan Nonjob 95 ASN di Sulbar Diungkap Badan Kepegawaian Negara, Layanan Kepegawaian Diblokir

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 701
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Humas BKN menyampaikan bahwa sebagai bentuk penegakan tata kelola manajemen ASN, Badan Kepegawaian Negara (BKN) mengambil langkah tegas terhadap kebijakan pembebasan jabatan (nonjob) yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat. Tercatat sebanyak 95 aparatur sipil negara (ASN) terdampak kebijakan tersebut, terdiri dari 51 Pejabat Administrator dan 44 Pejabat Pengawas yang dibebaskan dari jabatan strukturalnya. […]

  • Menggeser Stigma Negatif Wanita Bercadar

    Menggeser Stigma Negatif Wanita Bercadar

    • calendar_month Rabu, 26 Okt 2022
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Wanita bercadar kembali menjadi isu nasional setelah peristiwa penangkapan seorang wanita bersenjata oleh aparat keamanan di Istana Negara, pada Selasa, 26 Oktober 2022.  Berita ini viral di semua media cetak maupun media online. Oleh karena  wanita bersenjata ini mengenakan cadar dalam penampilannya, maka simbol “cadar” kembali menjadi sorotan yang mengiringi pemberitaan. Di media terdapat dua […]

expand_less