Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Keutamaan Salat Isya Menurut Imam an-Nawawi

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
  • visibility 205
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Salat Isya adalah salah satu dari lima salat fardhu yang diwajibkan atas setiap Muslim. Waktunya berada di penghujung siang, ketika tubuh manusia telah letih dan condong pada istirahat. Dalam kondisi demikian, syariat tetap mendorong umat Islam untuk tetap menunaikan salat Isya, bahkan dengan jaminan keutamaan yang besar. Ulama besar mazhab Syafi’i, Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi (631–676 H), dalam karya-karyanya seperti Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim dan al-Adzkar, memberikan ulasan yang dalam mengenai fadhilah dan rahasia spiritual dari salat Isya.

Salah satu hadis yang menjadi dasar pembahasan Imam an-Nawawi adalah sabda Rasulullah:

“Salat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah salat Isya dan salat Subuh. Seandainya mereka mengetahui pahala yang ada di dalam keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.” – (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam an-Nawawi dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan: bahwa beratnya salat Isya disebabkan waktunya yang gelap dan ketika manusia cenderung lelah dan ingin beristirahat. Oleh karena itu, orang yang tetap menjaga salat Isya, terutama berjamaah, menunjukkan tanda keimanan yang tulus. Imam an-Nawawi menyatakan bahwa dorongan Nabi agar mendatangi salat Isya “walau dengan merangkak” merupakan indikasi dari nilai luar biasa besar yang dikandungnya.

Imam an-Nawawi menafsirkan bahwa kemalasan seseorang terhadap salat Isya terutama secara berjamaah merupakan ciri kemunafikan dalam makna syar’i. Ini bukan berarti secara langsung menyebut orang tersebut munafik, tetapi menjadi peringatan bahwa iman seseorang diuji pada momen-momen sulit seperti waktu Isya dan Subuh.

“Salat pada waktu ini menuntut pengorbanan nafsu, dan siapa yang sanggup menunaikannya dengan ringan hati, itulah tanda kebersihan jiwa dan kekuatan imannya.” (Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, Nawawi)

Dalam hadis sahih lainnya:

“Barangsiapa yang salat Isya berjamaah, maka seakan-akan ia salat separuh malam. Dan barangsiapa yang salat Subuh berjamaah, maka seolah-olah ia salat sepanjang malam.”– (HR. Muslim)

Imam an-Nawawi menegaskan bahwa hadis ini adalah bukti nyata betapa besar pahala salat berjamaah, khususnya Isya dan Subuh. Ia juga menunjukkan keutamaan spiritual: menjaga Isya berjamaah membangun kekuatan ruhani untuk mendekat kepada Allah sepanjang malam, meski tanpa qiyam.

Dalam beberapa kondisi, Nabi pernah mengakhirkan salat Isya hingga larut malam. Imam an-Nawawi dalam syarahnya menyatakan bahwa ini menunjukkan kelonggaran dalam waktu pelaksanaan, selama belum keluar dari waktunya. Bahkan, mengakhirkan salat Isya bisa menjadi ibadah tersendiri jika dilakukan dengan niat menunggu jamaah atau menghidupkan malam.

Dalam al-Adzkar, Imam an-Nawawi juga membahas tentang zikir dan doa setelah salat Isya. Ia menyebut bahwa waktu malam adalah saat yang sangat tepat untuk:

  • Berzikir kepada Allah,
  • Membaca doa-doa wirid,
  • Membaca Al-Qur’an.

Ini karena malam membawa ketenangan batin yang tidak didapatkan pada siang hari. Imam Nawawi menyebut bahwa:

“Waktu yang paling utama untuk zikir dan membaca Al-Qur’an adalah setelah Isya hingga terbit fajar.”– (al-Adzkar, Bab Fadhilah al-Lail)

Dari seluruh penjelasan Imam an-Nawawi, dapat disimpulkan bahwa salat Isya memiliki dimensi keimanan dan keruhanian yang sangat mendalam. Ia bukan hanya salat di waktu malam, tapi simbol ketulusan, kesungguhan, dan kekuatan iman seseorang. Menjaga salat Isya dengan sungguh-sungguh, terlebih berjamaah, merupakan bentuk pengabdian yang besar, bahkan bisa menyamai ibadah sepanjang malam.

  • Penulis: Djemi Radji
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cerita Gus Dur yang Berpulang Bersama Jenderal Salim

    Cerita Gus Dur yang Berpulang Bersama Jenderal Salim

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 837
    • 0Komentar

    Ada sebuah kisah yang sejatinya akan terdengar pada peringatan Haul ke-16 Gus Dur, yang diselenggarakan di Masjid At-Taqwa, Pambusuang, Polewali Mandar, 12 Februari 2026. Kisah itu semula hendak disampaikan oleh Mayjen TNI (Purn.) Salim S. Mengga. Namun, cerita sejarah tersebut tampaknya tidak akan pernah terucap, sebab Puang Salim, sapaan akrab beliau telah berpulang ke hadirat […]

  • Dari Pasar Ambuwa, Pesan Menjaga Alam dan Masa Depan Gorontalo

    Dari Pasar Ambuwa, Pesan Menjaga Alam dan Masa Depan Gorontalo

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 393
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Suasana Pasar Ambuwa di Desa Huntu Selatan, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Sabtu (6/6/2026), terasa berbeda dari biasanya. Pasar yang dikelola para seniman setempat itu tidak hanya menjadi ruang pertemuan berbagai komunitas, tetapi juga dikenal sebagai tempat menikmati beragam kuliner lokal khas Gorontalo. Pasar Ambuwa sengaja dipilih sebagai lokasi peringatan Hari Lingkungan Hidup […]

  • NU dan PR Kesenjangan Kultur dan Struktur (Bagian 1)

    NU dan PR Kesenjangan Kultur dan Struktur (Bagian 1)

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Abdullah Aniq Nawawi
    • visibility 1.117
    • 0Komentar

    Bukan rahasia umum bahwa di dalam Nahdlatul Ulama terdapat dua lapisan keanggotaan yang sering disebut sebagai NU struktural dan NU kultural. Yang pertama adalah NU struktural, yaitu mereka yang berada dalam kepengurusan organisasi secara formal. Kelompok ini biasanya menjadi representasi resmi NU dalam berbagai agenda kelembagaan, seperti pertemuan resmi, surat-menyurat, maupun kegiatan organisasi lainnya. NU […]

  • Asap di Pinggiran, Kenyamanan di Pusat: Rakyat selalu Menanggung nestapa dari ambisi kekuasaan

    Asap di Pinggiran, Kenyamanan di Pusat: Rakyat selalu Menanggung nestapa dari ambisi kekuasaan

    • calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Kebakaran hutan dan lahan menyelimuti beberapa wilayah di indonesia khususnya yg paling parah di Kalimantan, tapi yang terbakar bukan hanya vegetasi, melainkan juga hak warga atas udara bersih, kesehatan, dan penghidupan yang layak. Sekolah terganggu, aktivitas luar ruang dibatasi, warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk melindungi kesehatan, sementara mereka yang hidup dari tanah dan hutan […]

  • Apakah Kita Dididik untuk Bertanya atau Sekadar Manggut-Manggut?

    Apakah Kita Dididik untuk Bertanya atau Sekadar Manggut-Manggut?

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 303
    • 0Komentar

    Pendidikan seharusnya menjadi ruang paling aman bagi lahirnya gagasan, perdebatan, dan keberanian berpikir. Sayangnya, realitas di lapangan sering kali berbicara lain. Ruang belajar kita masih dibayangi oleh warisan feodal yang mengekang kebebasan berpikir. Murid dituntut manut, mahasiswa diminta tunduk, sementara guru atau dosen ditempatkan di atas altar otoritas yang tidak boleh dipertanyakan. Ujung-ujungnya, pendidikan gagal […]

  • Gerindra Gorontalo Klaim ‘Banjir’ Intelektual, Tarmizi Abbas: Siapakah Intelektual Itu?

    Gerindra Gorontalo Klaim ‘Banjir’ Intelektual, Tarmizi Abbas: Siapakah Intelektual Itu?

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 305
    • 0Komentar

    Benarkah Gerindra lagi panen tokoh intelektual serupa ciutan Juru Bicara Gerindra Gorontalo, Wahidin Ishak, di beberapa kanal media online 9 Maret 2025, baru-baru ini? Apa model dan bentuk intelektual yang dimaksud Wahidin itu juga tidak dijelaskan. Yang pasti, Jubir itu bilang: “Biasa-biasa jo. Mungkin karena Ketua GERINDRA cukup pintar maka para intelektual banyak yang ke […]

expand_less