Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Rajab dan Kepulangan yang Sunyi: Bayi, Pohon, dan Rahmat Tuhan

  • account_circle Afidatul Asmar
  • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
  • visibility 240
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Rajab selalu datang dengan sunyi yang disengaja. Ia tidak meminta sorak, hanya ruang untuk merenung. Di bulan inilah sebuah budaya tentang kematian bayi di Toraja yang belum tumbuh gigi dan “dipulangkan” ke pohon mengajak kita menimbang ulang makna hidup, iman, dan kemanusiaan.

Rajab adalah bulan yang tidak riuh. Ia berdiri tenang di antara kalender hijriah, seolah sengaja memberi jeda sebelum manusia berlari lebih jauh. Dalam tradisi Islam, Rajab dimuliakan sebagai bulan haram, bulan untuk menahan diri, memperbanyak istighfar, dan melunakkan hati. Pada ruang sunyi itulah sebuah budaya tentang tradisi kematian bayi di Tana Toraja menemukan maknanya.

Bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi, dalam tradisi Toraja, tidak dikuburkan sebagaimana orang dewasa. Ia ditempatkan di batang pohon Tarra melalui ritual Passiliran. Bayi itu tidak disebut “meninggal”, melainkan “pulang”. Pohon menjadi rahim kedua; getahnya dimaknai sebagai susu. Alam melanjutkan peran yang tak sempat dituntaskan manusia.

Bagi nalar modern, praktik ini kerap dianggap eksotis, bahkan problematik. Namun Rajab mengajarkan satu kebijaksanaan penting: tidak semua perbedaan harus disikapi dengan penghakiman. Sebagian justru perlu dibaca dengan empati.

Dalam Islam, hidup dan mati berada dalam ketetapan Allah yang penuh hikmah (QS. Al-Hadid: 22). Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (HR. Bukhari–Muslim). Bayi yang wafat tidak menanggung dosa sosial, tidak memikul beban sejarah. Bahkan dalam hadis lain disebutkan bahwa anak yang meninggal dapat menjadi syafaat bagi orang tuanya (HR. Ahmad). Artinya, kematian bayi bukan ruang hukuman, melainkan lanskap rahmat.

Di titik inilah Passiliran menemukan resonansi etiknya. Meski berbeda bentuk dengan penguburan Islam, pesan kemanusiaannya sejalan: memuliakan jiwa yang masih suci dan menerima kematian sebagai kepulangan, bukan sekadar kehilangan.

Kajian antropologi menunjukkan bahwa hampir semua kebudayaan memiliki ritual khusus bagi kematian bayi. Mary Douglas menyebutnya sebagai upaya masyarakat menempatkan peristiwa “antara” belum sepenuhnya hidup sosial, namun telah pergi. Victor Turner menyebutnya fase liminalitas, ruang simbolik yang sarat makna. Dalam Passiliran, pohon Tarra bukan benda mati, tetapi makhluk hidup yang tumbuh. Seiring batangnya membesar, tumbuh pula keyakinan bahwa jiwa bayi menyatu dengan ritme alam.

Psikologi modern membaca ritual semacam ini sebagai proses meaning-making dalam menghadapi duka. Ritual membantu keluarga berdamai dengan kehilangan, memberi struktur emosi, dan mencegah duka jatuh ke kehampaan. Maka Passiliran bekerja bukan hanya secara spiritual, tetapi juga psikososial.

Islam sendiri menempatkan penguburan di tanah sebagai praktik normatif. Al-Qur’an menyebut tanah sebagai asal penciptaan dan tempat kembali manusia (QS. Thaha: 55). Tanah adalah simbol kerendahan dan kepasrahan. Namun Islam juga menekankan bahwa hakikat pemakaman bukan pada medium fisiknya, melainkan pada pemuliaan jenazah dan niat penghormatan. Bayi yang wafat dipandang suci; ruhnya berada dalam rahmat Allah.

Dari sini, dakwah budaya menemukan jalannya. Islam tidak hadir untuk menertawakan tradisi, tetapi meluruskannya secara tauhid. Pohon Tarra dan tanah sama-sama ciptaan Allah. Keduanya hanyalah simbol. Yang menerima kembali jiwa bayi bukan pohon dan bukan tanah, melainkan Allah Yang Maha Pengasih. Dakwah bekerja bukan dengan palu vonis, melainkan dengan cahaya makna.

Sejarah Islam mencatat bahwa para sahabat Nabi pun mengalami kehilangan anak. Rasulullah SAW tidak meniadakan kesedihan mereka. Beliau menangis, namun tidak larut. Islam mengajarkan keseimbangan: berduka tanpa putus asa, ikhlas tanpa meniadakan rasa. Etika inilah yang, secara kultural, juga tampak dalam Passiliran: tanpa ratapan berlebihan, tanpa dramatika hanya penerimaan.

Dalam perjalanan perenungan penulis berpandangan antropologi dan dakwah dapat menemukan jalan dengan cara yang pelan dan menyentuh: bahwa yang paling religius sering kali bukan yang paling lantang, melainkan yang paling lembut menjaga kehidupan. Pohon Tarra berdiri dalam sunyi seperti itu tanpa khutbah, tanpa fatwa namun menghadirkan pelajaran tentang kasih.

Rajab, pada akhirnya, bukan sekadar nama bulan. Ia adalah undangan untuk menepi dan menimbang ulang. Budaya tentang bayi yang belum bergigi itu bukan hanya kisah Toraja, tetapi cermin nurani kita bersama: sudahkah kita memuliakan kehidupan, bahkan ketika ia hanya singgah sebentar?

Bulan Rajab ini, barangkali kita tidak perlu banyak jawaban. Cukup keberanian untuk diam sejenak, mendengar, dan belajar dari kepulangan yang sunyi namun penuh rahmat. Karena dakwah yang paling dalam sering lahir bukan dari penghakiman, melainkan dari empati yang menjaga iman dan kemanusiaan tetap sejalan.

Bulan Rajab ini, barangkali kita juga diajak untuk menata ulang cara beragama: tidak tergesa menilai, tidak sibuk mengoreksi, dan tidak mudah mengklaim kebenaran secara sepihak. Rajab mengajarkan jeda bahwa iman yang matang tumbuh dari kesanggupan memahami kenyataan hidup orang lain, termasuk kenyataan budaya yang membingkai duka dan kehilangan. Dari sana, dakwah menemukan wajahnya yang paling bersahabat: hadir sebagai penerang jalan, bukan sebagai hakim yang berdiri di garis akhir.

Kepulangan bayi yang sunyi itu entah melalui tanah atau pohon mengingatkan kita bahwa hidup manusia, betapapun singkat, selalu layak dimuliakan. Agama dan budaya, bila dipertemukan dengan niat yang jernih, dapat saling menjaga agar kemanusiaan tidak kehilangan arah dan iman tidak kehilangan kelembutan. Maka Rajab bukan hanya bulan yang dimuliakan, tetapi juga kesempatan untuk belajar menjadi manusia yang lebih rendah hati: yang berani diam, mendengar, dan percaya bahwa rahmat Tuhan sering kali bekerja dalam cara-cara yang tidak berisik, namun menenangkan.

Penulis : Dosen & Peneliti Bidang Antropologi Dakwah Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Parepare/ Alumni PPNK LEMHANNAS RI

  • Penulis: Afidatul Asmar
  • Editor: Afidatul Asmar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemerintah Jelaskan Penurunan Kuota Bansos Akibat Efisiensi

    Pemerintah Jelaskan Penurunan Kuota Bansos Akibat Efisiensi

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie menjelaskan bahwa kuota penerima Bantuan Langsung Pangan Pemerintah Provinsi Gorontalo (BLP3G) pada tahun 2025 mengalami penyesuaian signifikan. Kebijakan ini diambil sebagai imbas dari efisiensi anggaran yang harus diterapkan oleh seluruh pemerintah daerah, termasuk di Provinsi Gorontalo. Hal ini disampaikan Wagub Idah saat menyerahkan bantuan BLP3G di dua kecamatan […]

  • Dosa karena Sombong Sulit Diampuni, KH. Muhyidin Zeni Ungkap Perbedaannya Play Button

    Dosa karena Sombong Sulit Diampuni, KH. Muhyidin Zeni Ungkap Perbedaannya

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 269
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wakil Rais Syuriyah PWNU Gorontalo, KH. Muhyidin Zeni, menegaskan bahwa dosa yang bersumber dari kesombongan memiliki dampak spiritual yang jauh lebih berbahaya dibanding dosa yang lahir dari dorongan syahwat. Hal ini disampaikan dalam pengajian rutin yang tayang di Nutizen TV, yang disadur dari Kitab Nashoihul Ibad karya Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani yang berisi […]

  • Jaringan Bandar Narkoba Ishak Kembali Terbongkar, Dua Orang Ditangkap di Kutai Barat

    Jaringan Bandar Narkoba Ishak Kembali Terbongkar, Dua Orang Ditangkap di Kutai Barat

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 141
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri kembali mengembangkan pengungkapan jaringan peredaran narkotika milik bandar narkoba Ishak di wilayah Kutai Barat. Dalam pengembangan tersebut, penyidik menangkap dua tersangka berinisial Mery Christine Kiling dan Marselus Vernandus pada Selasa (12/5/2026). Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Eko Hadi Santoso, mengatakan kedua tersangka diduga merupakan bagian dari […]

  • Secara Resmi, Imam Nahrawi ditetapkan Sebagai Ketua Dewan Pembina DPP GENINUSA 

    Secara Resmi, Imam Nahrawi ditetapkan Sebagai Ketua Dewan Pembina DPP GENINUSA 

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Santripreneur Nusantara (DPP GENINUSA) mengadakan rapat pengurus yang menghasilkan keputusan penting dalam struktur kepengurusan organisasi pada tanggal 21 februari 2025, hotel gred said Jakarta. Pada rapat DPP GENINUSA itu secara resmi menetapkan Bapak Imam Nahrowi (mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia periode 2014-2019) sebagai Ketua Dewan Pembina DPP GENINUSA. Ketum […]

  • Kompetisi Renang Provinsi Gorontalo Digelar di Lahilote

    Kompetisi Renang Provinsi Gorontalo Digelar di Lahilote

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Staf Ahli Gubernur bidang Kemasyarakatan dan SDM Yosef P Koton mewakili Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail memberikan sambutan dan membuka lomba Renang “Pinguin Aquatic Fun Swimming Competition Series 2 tahun 2025” di kolam Renang Lahilote Kota Gorontalo, Sabtu (28/7/2025). Kegiatan ini dihadiri Kepala Dinas Pemuda dan OIahraga Provinsi Gorontalo,  Pengurus klub renang se-Provinsi Gorontalo, pelatih, ofisial […]

  • Ketua DPD FKPR Desak BK DPRD Provinsi Gorontalo Jangan jadi pelindung kode etik

    Ketua DPD FKPR Desak BK DPRD Provinsi Gorontalo Jangan jadi pelindung kode etik

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 125
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketua DPD Forum Kaum Pembela Rakyat (FKPR) Kota Gorontalo, Ikbal Ka’u, kembali menyuarakan kritik keras terhadap kinerja Badan Kehormatan (BK) DPRD Provinsi Gorontalo. Dalam pernyataannya, ia menilai BK DPRD seolah-olah menjalankan fungsi pengawasan etik secara tebang pilih. Ikbal menyampaikan apresiasi bahwa BK DPRD mampu menyelesaikan persoalan terkait ucapan kontroversial anggota DPRD, Wahyu Moridu, […]

expand_less