Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Rajab dan Kepulangan yang Sunyi: Bayi, Pohon, dan Rahmat Tuhan

  • account_circle Afidatul Asmar
  • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
  • visibility 278
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Rajab selalu datang dengan sunyi yang disengaja. Ia tidak meminta sorak, hanya ruang untuk merenung. Di bulan inilah sebuah budaya tentang kematian bayi di Toraja yang belum tumbuh gigi dan “dipulangkan” ke pohon mengajak kita menimbang ulang makna hidup, iman, dan kemanusiaan.

Rajab adalah bulan yang tidak riuh. Ia berdiri tenang di antara kalender hijriah, seolah sengaja memberi jeda sebelum manusia berlari lebih jauh. Dalam tradisi Islam, Rajab dimuliakan sebagai bulan haram, bulan untuk menahan diri, memperbanyak istighfar, dan melunakkan hati. Pada ruang sunyi itulah sebuah budaya tentang tradisi kematian bayi di Tana Toraja menemukan maknanya.

Bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi, dalam tradisi Toraja, tidak dikuburkan sebagaimana orang dewasa. Ia ditempatkan di batang pohon Tarra melalui ritual Passiliran. Bayi itu tidak disebut “meninggal”, melainkan “pulang”. Pohon menjadi rahim kedua; getahnya dimaknai sebagai susu. Alam melanjutkan peran yang tak sempat dituntaskan manusia.

Bagi nalar modern, praktik ini kerap dianggap eksotis, bahkan problematik. Namun Rajab mengajarkan satu kebijaksanaan penting: tidak semua perbedaan harus disikapi dengan penghakiman. Sebagian justru perlu dibaca dengan empati.

Dalam Islam, hidup dan mati berada dalam ketetapan Allah yang penuh hikmah (QS. Al-Hadid: 22). Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (HR. Bukhari–Muslim). Bayi yang wafat tidak menanggung dosa sosial, tidak memikul beban sejarah. Bahkan dalam hadis lain disebutkan bahwa anak yang meninggal dapat menjadi syafaat bagi orang tuanya (HR. Ahmad). Artinya, kematian bayi bukan ruang hukuman, melainkan lanskap rahmat.

Di titik inilah Passiliran menemukan resonansi etiknya. Meski berbeda bentuk dengan penguburan Islam, pesan kemanusiaannya sejalan: memuliakan jiwa yang masih suci dan menerima kematian sebagai kepulangan, bukan sekadar kehilangan.

Kajian antropologi menunjukkan bahwa hampir semua kebudayaan memiliki ritual khusus bagi kematian bayi. Mary Douglas menyebutnya sebagai upaya masyarakat menempatkan peristiwa “antara” belum sepenuhnya hidup sosial, namun telah pergi. Victor Turner menyebutnya fase liminalitas, ruang simbolik yang sarat makna. Dalam Passiliran, pohon Tarra bukan benda mati, tetapi makhluk hidup yang tumbuh. Seiring batangnya membesar, tumbuh pula keyakinan bahwa jiwa bayi menyatu dengan ritme alam.

Psikologi modern membaca ritual semacam ini sebagai proses meaning-making dalam menghadapi duka. Ritual membantu keluarga berdamai dengan kehilangan, memberi struktur emosi, dan mencegah duka jatuh ke kehampaan. Maka Passiliran bekerja bukan hanya secara spiritual, tetapi juga psikososial.

Islam sendiri menempatkan penguburan di tanah sebagai praktik normatif. Al-Qur’an menyebut tanah sebagai asal penciptaan dan tempat kembali manusia (QS. Thaha: 55). Tanah adalah simbol kerendahan dan kepasrahan. Namun Islam juga menekankan bahwa hakikat pemakaman bukan pada medium fisiknya, melainkan pada pemuliaan jenazah dan niat penghormatan. Bayi yang wafat dipandang suci; ruhnya berada dalam rahmat Allah.

Dari sini, dakwah budaya menemukan jalannya. Islam tidak hadir untuk menertawakan tradisi, tetapi meluruskannya secara tauhid. Pohon Tarra dan tanah sama-sama ciptaan Allah. Keduanya hanyalah simbol. Yang menerima kembali jiwa bayi bukan pohon dan bukan tanah, melainkan Allah Yang Maha Pengasih. Dakwah bekerja bukan dengan palu vonis, melainkan dengan cahaya makna.

Sejarah Islam mencatat bahwa para sahabat Nabi pun mengalami kehilangan anak. Rasulullah SAW tidak meniadakan kesedihan mereka. Beliau menangis, namun tidak larut. Islam mengajarkan keseimbangan: berduka tanpa putus asa, ikhlas tanpa meniadakan rasa. Etika inilah yang, secara kultural, juga tampak dalam Passiliran: tanpa ratapan berlebihan, tanpa dramatika hanya penerimaan.

Dalam perjalanan perenungan penulis berpandangan antropologi dan dakwah dapat menemukan jalan dengan cara yang pelan dan menyentuh: bahwa yang paling religius sering kali bukan yang paling lantang, melainkan yang paling lembut menjaga kehidupan. Pohon Tarra berdiri dalam sunyi seperti itu tanpa khutbah, tanpa fatwa namun menghadirkan pelajaran tentang kasih.

Rajab, pada akhirnya, bukan sekadar nama bulan. Ia adalah undangan untuk menepi dan menimbang ulang. Budaya tentang bayi yang belum bergigi itu bukan hanya kisah Toraja, tetapi cermin nurani kita bersama: sudahkah kita memuliakan kehidupan, bahkan ketika ia hanya singgah sebentar?

Bulan Rajab ini, barangkali kita tidak perlu banyak jawaban. Cukup keberanian untuk diam sejenak, mendengar, dan belajar dari kepulangan yang sunyi namun penuh rahmat. Karena dakwah yang paling dalam sering lahir bukan dari penghakiman, melainkan dari empati yang menjaga iman dan kemanusiaan tetap sejalan.

Bulan Rajab ini, barangkali kita juga diajak untuk menata ulang cara beragama: tidak tergesa menilai, tidak sibuk mengoreksi, dan tidak mudah mengklaim kebenaran secara sepihak. Rajab mengajarkan jeda bahwa iman yang matang tumbuh dari kesanggupan memahami kenyataan hidup orang lain, termasuk kenyataan budaya yang membingkai duka dan kehilangan. Dari sana, dakwah menemukan wajahnya yang paling bersahabat: hadir sebagai penerang jalan, bukan sebagai hakim yang berdiri di garis akhir.

Kepulangan bayi yang sunyi itu entah melalui tanah atau pohon mengingatkan kita bahwa hidup manusia, betapapun singkat, selalu layak dimuliakan. Agama dan budaya, bila dipertemukan dengan niat yang jernih, dapat saling menjaga agar kemanusiaan tidak kehilangan arah dan iman tidak kehilangan kelembutan. Maka Rajab bukan hanya bulan yang dimuliakan, tetapi juga kesempatan untuk belajar menjadi manusia yang lebih rendah hati: yang berani diam, mendengar, dan percaya bahwa rahmat Tuhan sering kali bekerja dalam cara-cara yang tidak berisik, namun menenangkan.

Penulis : Dosen & Peneliti Bidang Antropologi Dakwah Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Parepare/ Alumni PPNK LEMHANNAS RI

  • Penulis: Afidatul Asmar
  • Editor: Afidatul Asmar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAI DDI Maros, Dr. Haeruddin HR, S.H.I., M.H., Jadi Narasumber Rakor MUI Kabupaten Maros

    Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAI DDI Maros, Dr. Haeruddin HR, S.H.I., M.H., Jadi Narasumber Rakor MUI Kabupaten Maros

    • calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 141
    • 0Komentar

    MAROS, NULONDALO.COM – Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam Institut Agama Islam (IAI) DDI Maros, Dr. Haeruddin HR, S.H.I., M.H., menjadi narasumber dalam kegiatan Rapat Koordinasi (Rakor) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Maros yang digelar di Desa Borikamase, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, Selasa, 8 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi […]

  • Menyambut Tahun Baru Masehi dengan Dzikir Sunyi, Pesan KH. Abdul Ghofur Nawawi Sebelum Wafat Play Button

    Menyambut Tahun Baru Masehi dengan Dzikir Sunyi, Pesan KH. Abdul Ghofur Nawawi Sebelum Wafat

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 370
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pergantian tahun Masehi kerap identik dengan hiruk-pikuk perayaan, kembang api, dan berbagai euforia yang melibatkan keramaian. Namun, dalam sebuah pengajian penuh makna, almaghfurlah KH. Abdul Ghofur Nawawi justru mengajak jamaah untuk menyambut pergantian tahun dengan cara yang berbeda: dzikir sederhana, sunyi, dan penuh kesadaran spiritual. Kiai Ghofur mengisahkan bahwa amalan ini merupakan ijazah […]

  • Tauhid dalam gangguan Kapitalisme: Mengapa Iran Selalu bikin imperium Global Gatal?

    Tauhid dalam gangguan Kapitalisme: Mengapa Iran Selalu bikin imperium Global Gatal?

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 403
    • 0Komentar

    Tauhid sering kita bayangkan sebagai urusan langit: satu Tuhan, selesai. Padahal dalam sejarah, Tauhid justru harus berbuah sebagai sikap sosial di bumi, sikap menolak tunduk pada apa pun selain Tuhan. Begitu kalimat lā ilāha illā Allāh diucapkan dengan sungguh-sungguh, seharusnya runtuh pula semua klaim ketuhanan palsu: raja, pasar, modal, dan imperium. Berguru pada Tauhid ala […]

  • BBM Subsidi dalam Timbangan Fikih: Antara Hak, Amanah, dan Kebocoran Subsidi Rakyat

    BBM Subsidi dalam Timbangan Fikih: Antara Hak, Amanah, dan Kebocoran Subsidi Rakyat

    • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Oleh: Mansur Martam NULONDALO.COM – Ada sesuatu yang paradoks di balik panjangnya antrean BBM bersubsidi. Di satu sisi, masyarakat datang ke SPBU dengan satu kebutuhan sederhana: mengisi bahan bakar untuk melanjutkan kehidupan—pergi bekerja, mengantar anak, membawa hasil pertanian, melaut, berdagang, atau menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari. Di sisi lain, muncul cerita tentang kendaraan yang berulang kali […]

  • Pemkot–BPSDM Gorontalo Gelar Pelatihan PBJ Pemerintah

    Pemkot–BPSDM Gorontalo Gelar Pelatihan PBJ Pemerintah

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Pemerintah Kota Gorontalo bekerja sama dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Gorontalo memulai Pelatihan Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) Pemerintah. Kegiatan ini berlangsung di Kelas NKRI BPSDM Provinsi Gorontalo ini sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas aparatur dalam memahami dan mengimplementasikan proses pengadaan barang dan jasa secara profesional, transparan, dan akuntabel. “Pada hari […]

  • PWNU Gorontalo Gelar Rapat Syuriyah–Tanfidziyah, Bahas Polemik di Tubuh PBNU 24 detik Play Button photo_camera 6

    PWNU Gorontalo Gelar Rapat Syuriyah–Tanfidziyah, Bahas Polemik di Tubuh PBNU

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 340
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo menggelar Rapat Syuriyah dan Tanfidziyah diperluas dengan menghadirkan jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Gorontalo. Pertemuan ini berlangsung pada Ahad, 30 November 2025, bertempat di Kantor PWNU Gorontalo Jalan Samratulangi, Kota Gorontalo. Rapat tertutup tersebut digelar untuk membahas dinamika dan polemik yang tengah terjadi […]

expand_less