Breaking News
light_mode
Trending Tags

Konflik Tanpa Ujung di Rumah Besar NU: Setelah Napak Tilas, Lalu Apa?

  • account_circle Nur Shollah
  • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
  • visibility 204
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sekian tahun terakhir, ruang publik—terutama media sosial—nyaris tak pernah sepi dari pemberitaan konflik internal PBNU. Isu demi isu datang silih berganti, seolah membentuk mata rantai yang tak kunjung terputus. Dimulai dari polemik nasab Ba‘alawi, perdebatan tambang, wacana pencopotan Ketua Umum PBNU, rapat pleno penunjukan Penjabat Ketum, rapat musytasyar di Ploso dan Tebuireng, dinamika Haul Gus Dur, Musyawarah Kubro dan Islah di Lirboyo, hingga kini “Napak Tilas Pendirian Jam’iyah Nahdlatul Ulama” kembali menjadi tajuk utama. Pertanyaannya: setelah ini, berita apa lagi yang akan menyusul?

Bagi warga Nahdliyin di akar rumput, rentetan konflik ini menimbulkan kelelahan psikologis dan kebingungan arah. NU yang dikenal sebagai jam’iyah diniyyah ijtima’iyyah—penjaga tradisi keagamaan dan perekat sosial—kini kerap tampil dalam bingkai pertarungan wacana elit. Substansi khidmah keumatan, dakwah kultural, dan pemberdayaan sosial kerap tertutupi oleh hiruk-pikuk pernyataan, bantahan, dan saling klaim legitimasi.

Napak tilas pendirian NU sejatinya adalah momentum reflektif. Ia mengajak kembali pada ruh kelahiran jam’iyah: adab kepada guru, kesinambungan sanad keilmuan, dan keberanian bersikap demi maslahat umat. Ketika As’ad Syamsul Arifin membawa amanat isyarah dari Syekhona Kholil Bangkalan kepada KH. Hasyim Asy’ari, yang dihadirkan bukan sekadar simbol tongkat dan tasbih, melainkan pesan spiritual: mendirikan organisasi harus dilandasi keikhlasan, ketaatan pada ilmu, dan kesediaan menahan ego.

Namun, ketika napak tilas berubah menjadi arena tafsir politik dan legitimasi kekuasaan, nilai sakralnya tereduksi. Sejarah tidak lagi menjadi cermin kebijaksanaan, melainkan alat pembenar posisi. Pada titik inilah warga NU patut bertanya: apakah kita sedang merawat warisan ulama, atau justru memperebutkannya?

Konflik nasab, misalnya, semestinya diletakkan pada koridor ilmiah dan adab keilmuan. Al-Qur’an mengingatkan, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” (QS. Al-Hujurat: 13). Ukuran kemuliaan bukan klaim garis keturunan, melainkan ketakwaan dan akhlak. Ketika nasab dipolitisasi, ia kehilangan fungsi edukatif dan berubah menjadi sumber perpecahan.

Begitu pula isu tambang dan relasi kekuasaan. Kritik dan kontrol adalah keniscayaan dalam organisasi besar. Namun, jika perbedaan sikap dikelola dengan logika saling menjatuhkan, NU berisiko kehilangan marwah sebagai penengah moral bangsa. Padahal, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari dan Muslim). Pesan ini relevan bagi siapa pun yang memegang amanah kepemimpinan.

Lalu, apa yang akan muncul setelah napak tilas? Jika pola yang sama terus berulang—isu dilempar, opini dipanaskan, massa digiring—maka publik hanya akan menunggu “episode” berikutnya tanpa kejelasan resolusi. Yang dibutuhkan bukan agenda sensasional, melainkan keberanian untuk menutup bab konflik dengan islah yang tulus dan bermartabat.

NU lahir dari perbedaan, tetapi dibesarkan oleh kebijaksanaan. Perbedaan pendapat adalah rahmat bila dikelola dengan adab; ia menjadi bencana bila dijadikan komoditas. Sudah saatnya PBNU dan seluruh elemen Nahdliyin mengembalikan orientasi pada khidmah: pendidikan, dakwah, ekonomi umat, dan persatuan bangsa.

Jika napak tilas hanya menjadi panggung seremonial tanpa perubahan sikap, maka pertanyaan “selanjutnya akan ada berita apa lagi?” akan terus bergema. Namun bila ia dijadikan titik balik untuk merawat akhlak organisasi dan menata ulang kepemimpinan dengan rendah hati, mungkin untuk pertama kalinya setelah sekian lama, publik akan membaca berita yang menyejukkan: NU kembali pada jati dirinya—teduh, bijak, dan mempersatukan.

Penulis adalah warga Nahdlatul Ulama, yang biasa disapa Wan Noorbek

  • Penulis: Nur Shollah
  • Editor: Nur Shollah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dugaan Kriminalisasi Warga di Kasus Tambang Banggai Tuai Kritik Aktivis Lingkungan

    Dugaan Kriminalisasi Warga di Kasus Tambang Banggai Tuai Kritik Aktivis Lingkungan

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 197
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Aktivitas pertambangan yang dilakukan PT Pantas Indomining di Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, kembali menuai sorotan publik. Kali ini, isu dugaan kriminalisasi terhadap warga yang memprotes aktivitas tambang memicu kritik dari kalangan aktivis lingkungan. Aliansi Pemuda Peduli Lingkungan (APPLI) Sulawesi Tengah melalui ketuanya, Aulia Hakim, menyampaikan bahwa masyarakat setempat sejak awal telah […]

  • Perjalanan Spiritual Nabi

    Perjalanan Spiritual Nabi

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Ilham Sopu
    • visibility 237
    • 0Komentar

    Kita kini berada di penghujung bulan Rajab, bulan ketujuh dalam kalender Hijriah, sebuah bulan yang dimuliakan dan sarat dengan pesan persiapan ruhani. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Rajab adalah bulan menanam, Sya‘ban bulan menyiram dan memelihara, sementara Ramadhan adalah bulan memetik hasil. Maka, akhir Rajab seharusnya menjadi ruang muhasabah: sejauh mana benih-benih kebaikan telah kita […]

  • pesawat ATR

    Badan Pesawat ATR 42-500 Ditemukan di Gunung Bulusaraung, Evakuasi Lewat Jalur Pendakian

    • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 233
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tim SAR gabungan menemukan badan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di kawasan Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan. Saat ini, petugas memfokuskan upaya pada persiapan jalur evakuasi dengan mempertimbangkan medan yang berat dan berisiko. Kepala Seksi Operasi Basarnas, Andi Sultan, mengatakan jalur pendakian dipilih sebagai opsi terbaik […]

  • Viral Pria Diduga Curi Paket Kurir di Pancoran, Polisi Telusuri Identitas Pelaku

    Viral Pria Diduga Curi Paket Kurir di Pancoran, Polisi Telusuri Identitas Pelaku

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 231
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sebuah video yang memperlihatkan aksi seorang pria diduga mencuri paket milik kurir viral di media sosial. Peristiwa tersebut disebut terjadi di kawasan Kampung Pulo Kalibata, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, dan terekam kamera CCTV milik warga. Video rekaman itu diunggah akun Instagram @jabodetabek24info pada Selasa (3/2/2026). Dalam tayangan tersebut, terduga pelaku terlihat berjalan santai […]

  • Kevin Lapendos Soroti Dugaan Wacana Dialog Seluruh Unsur Pimpinan Forkopimda Gorontalo, Menjelang Satu Tahun Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.”

    Kevin Lapendos Soroti Dugaan Wacana Dialog Seluruh Unsur Pimpinan Forkopimda Gorontalo, Menjelang Satu Tahun Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.”

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Pemuda Gorontalo Kevin Lapendos kembali mengeluarkan pernyataan kritisnya terhadap dugaan wacana kegiatan dialog publik Forkopimda Provinsi Gorontalo yang disebut-sebut akan digelar pada 20 Oktober 2025, bertepatan dengan peringatan satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Isu yang beredar menyebutkan, kegiatan tersebut akan dihadiri seluruh unsur pimpinan Forkopimda dan diarahkan untuk menyampaikan dukungan penuh terhadap berbagai program […]

  • Pemkot Gorontalo Data 433 Guru Ngaji, Wali Kota Instruksikan Penyesuaian Jumlah dengan Santri

    Pemkot Gorontalo Data 433 Guru Ngaji, Wali Kota Instruksikan Penyesuaian Jumlah dengan Santri

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Pemerintah Kota Gorontalo melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) saat ini tengah memverifikasi dan mengantongi data jumlah guru ngaji yang mengajar di TPA dan TPQ di seluruh wilayah kota. Berdasarkan laporan terbaru, tercatat ada 433 guru ngaji yang aktif mengajar, Minggu  (24/8/2025 Data tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bagian Kesra, Sukamto, dalam Rapat Koordinasi […]

expand_less