Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Konflik Tanpa Ujung di Rumah Besar NU: Setelah Napak Tilas, Lalu Apa?

  • account_circle Nur Shollah
  • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
  • visibility 318
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sekian tahun terakhir, ruang publik—terutama media sosial—nyaris tak pernah sepi dari pemberitaan konflik internal PBNU. Isu demi isu datang silih berganti, seolah membentuk mata rantai yang tak kunjung terputus. Dimulai dari polemik nasab Ba‘alawi, perdebatan tambang, wacana pencopotan Ketua Umum PBNU, rapat pleno penunjukan Penjabat Ketum, rapat musytasyar di Ploso dan Tebuireng, dinamika Haul Gus Dur, Musyawarah Kubro dan Islah di Lirboyo, hingga kini “Napak Tilas Pendirian Jam’iyah Nahdlatul Ulama” kembali menjadi tajuk utama. Pertanyaannya: setelah ini, berita apa lagi yang akan menyusul?

Bagi warga Nahdliyin di akar rumput, rentetan konflik ini menimbulkan kelelahan psikologis dan kebingungan arah. NU yang dikenal sebagai jam’iyah diniyyah ijtima’iyyah—penjaga tradisi keagamaan dan perekat sosial—kini kerap tampil dalam bingkai pertarungan wacana elit. Substansi khidmah keumatan, dakwah kultural, dan pemberdayaan sosial kerap tertutupi oleh hiruk-pikuk pernyataan, bantahan, dan saling klaim legitimasi.

Napak tilas pendirian NU sejatinya adalah momentum reflektif. Ia mengajak kembali pada ruh kelahiran jam’iyah: adab kepada guru, kesinambungan sanad keilmuan, dan keberanian bersikap demi maslahat umat. Ketika As’ad Syamsul Arifin membawa amanat isyarah dari Syekhona Kholil Bangkalan kepada KH. Hasyim Asy’ari, yang dihadirkan bukan sekadar simbol tongkat dan tasbih, melainkan pesan spiritual: mendirikan organisasi harus dilandasi keikhlasan, ketaatan pada ilmu, dan kesediaan menahan ego.

Namun, ketika napak tilas berubah menjadi arena tafsir politik dan legitimasi kekuasaan, nilai sakralnya tereduksi. Sejarah tidak lagi menjadi cermin kebijaksanaan, melainkan alat pembenar posisi. Pada titik inilah warga NU patut bertanya: apakah kita sedang merawat warisan ulama, atau justru memperebutkannya?

Konflik nasab, misalnya, semestinya diletakkan pada koridor ilmiah dan adab keilmuan. Al-Qur’an mengingatkan, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” (QS. Al-Hujurat: 13). Ukuran kemuliaan bukan klaim garis keturunan, melainkan ketakwaan dan akhlak. Ketika nasab dipolitisasi, ia kehilangan fungsi edukatif dan berubah menjadi sumber perpecahan.

Begitu pula isu tambang dan relasi kekuasaan. Kritik dan kontrol adalah keniscayaan dalam organisasi besar. Namun, jika perbedaan sikap dikelola dengan logika saling menjatuhkan, NU berisiko kehilangan marwah sebagai penengah moral bangsa. Padahal, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari dan Muslim). Pesan ini relevan bagi siapa pun yang memegang amanah kepemimpinan.

Lalu, apa yang akan muncul setelah napak tilas? Jika pola yang sama terus berulang—isu dilempar, opini dipanaskan, massa digiring—maka publik hanya akan menunggu “episode” berikutnya tanpa kejelasan resolusi. Yang dibutuhkan bukan agenda sensasional, melainkan keberanian untuk menutup bab konflik dengan islah yang tulus dan bermartabat.

NU lahir dari perbedaan, tetapi dibesarkan oleh kebijaksanaan. Perbedaan pendapat adalah rahmat bila dikelola dengan adab; ia menjadi bencana bila dijadikan komoditas. Sudah saatnya PBNU dan seluruh elemen Nahdliyin mengembalikan orientasi pada khidmah: pendidikan, dakwah, ekonomi umat, dan persatuan bangsa.

Jika napak tilas hanya menjadi panggung seremonial tanpa perubahan sikap, maka pertanyaan “selanjutnya akan ada berita apa lagi?” akan terus bergema. Namun bila ia dijadikan titik balik untuk merawat akhlak organisasi dan menata ulang kepemimpinan dengan rendah hati, mungkin untuk pertama kalinya setelah sekian lama, publik akan membaca berita yang menyejukkan: NU kembali pada jati dirinya—teduh, bijak, dan mempersatukan.

Penulis adalah warga Nahdlatul Ulama, yang biasa disapa Wan Noorbek

  • Penulis: Nur Shollah
  • Editor: Nur Shollah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ayam Masih Mendominasi Populasi Ternak di Indonesia, Tembus 3,92 Miliar Ekor

    Ayam Masih Mendominasi Populasi Ternak di Indonesia, Tembus 3,92 Miliar Ekor

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 298
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Indonesia tercatat memiliki populasi hewan ternak yang sangat besar pada 2025. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ayam menjadi jenis ternak yang paling mendominasi dengan jumlah mencapai 3,92 miliar ekor. Berdasarkan publikasi yang dirilis melalui platform IndonesiaBaik.id, populasi ayam tersebut mencakup ayam bukan ras (buras) atau ayam kampung, ayam ras pedaging, […]

  • Media Thailand Sebut SEA Games ke-33 Ajang Paling Terlupakan dalam Sejarah

    Media Thailand Sebut SEA Games ke-33 Ajang Paling Terlupakan dalam Sejarah

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 268
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Surat kabar ternama Thailand, Thairath, secara terbuka mengakui bahwa SEA Games ke-33 yang digelar di negaranya sendiri merupakan salah satu ajang olahraga paling buruk penyelenggaraannya dan “tidak layak dikenang” dalam sejarah pesta olahraga Asia Tenggara. Dalam artikelnya yang berjudul “SEA Games yang Tidak Layak Dikenang”, Thairath memisahkan secara tegas antara prestasi atlet dan […]

  • Sekretaris Komisi Fatwa MUI: Bulan Sya’ban Momentum Persiapan Menuju Ramadhan

    Sekretaris Komisi Fatwa MUI: Bulan Sya’ban Momentum Persiapan Menuju Ramadhan

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 289
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Miftahul Huda, menyampaikan bahwa bulan Sya’ban merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadhan, baik dari sisi fisik, spiritual, maupun finansial. Hal tersebut disampaikan Kiai Miftah saat ditemui MUI Digital di Kantor MUI, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (29/1/2026). Menurutnya, persiapan […]

  • UMP Gorontalo 2026 Naik Jadi Rp3,4 Juta, Pekerja Sambut Harapan Baru, Pengusaha Lakukan Penyesuaian

    UMP Gorontalo 2026 Naik Jadi Rp3,4 Juta, Pekerja Sambut Harapan Baru, Pengusaha Lakukan Penyesuaian

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 283
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Provinsi Gorontalo resmi menetapkan Upah Minimum Provinsi (UMP) Gorontalo tahun 2026 sebesar Rp3.405.144 per bulan. Keputusan tersebut diumumkan langsung oleh Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail pada Senin, 22 Desember 2025, di Rumah Dinas Gubernur. Penetapan UMP ini mengalami kenaikan sekitar Rp183 ribu atau 5,7 persen dibandingkan UMP 2025 yang berada di angka Rp3.221.731. […]

  • Supremasi Sipil dan Ancaman Normalisasi Militerisasi

    Supremasi Sipil dan Ancaman Normalisasi Militerisasi

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 271
    • 0Komentar

    Ketika kita berbicara tentang negara demokrasi modern, pemisahan peran antar institusi keamanan sebenarnya bukan sekadar soal administrasi negara atau pembagian tugas birokratis. Ia adalah fondasi dasar dari negara hukum. Dalam prinsip demokrasi modern, urusan kriminalitas, ketertiban publik, dan keamanan domestik berada di tangan kepolisian serta otoritas sipil. Sementara militer dibentuk untuk menghadapi ancaman eksternal dan […]

  • IPO Lesu di Kuartal I 2026, Bursa Efek Indonesia Catat 12 Perusahaan dalam Pipeline

    IPO Lesu di Kuartal I 2026, Bursa Efek Indonesia Catat 12 Perusahaan dalam Pipeline

    • calendar_month Minggu, 29 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 360
    • 0Komentar

    Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Seluruh data dan proyeksi terkait IPO, termasuk yang disampaikan oleh Bursa Efek Indonesia, dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi pasar. Investor disarankan melakukan analisis mandiri dan/atau berkonsultasi dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan investasi. nulondalo.com – Aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO) di pasar modal Indonesia […]

expand_less