Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kontroversi Abah Aos dan Ujian Akidah Umat di Era Media Sosial

  • account_circle Nur Shollah Bek
  • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
  • visibility 227
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Menimbang Klaim Spiritual dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan Akal Sehat”

Nama Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul—yang dikenal luas sebagai Abah Aos—kembali menjadi pusat perhatian publik. Tokoh spiritual Tarekat Qodiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) asal Ciamis, Jawa Barat ini menuai gelombang kritik dari berbagai kalangan umat Islam akibat sejumlah pernyataan yang beredar luas di media sosial dan dinilai menyimpang dari prinsip dasar akidah Islam.

Dalam beberapa video yang viral, Abah Aos menyebut Anies Baswedan sebagai Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu, sementara pihak yang tidak sejalan dengan pandangannya dilabeli sebagai “Dajjal”. Dalam video lain, ia bahkan menyebut Rocky Gerung sebagai Rasulullah yang membawa kebenaran. Pernyataan ini jelas bukan perkara ringan, karena menyentuh fondasi paling mendasar dalam Islam, yaitu finalitas kenabian.

Al-Qur’an dengan tegas menyatakan:

“Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi (khataman nabiyyin).”
(QS. Al-Ahzab: 40)

Ayat ini bersifat qath’i (pasti), tidak membuka ruang tafsir untuk munculnya nabi atau rasul baru setelah Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW juga bersabda:

“Sesungguhnya akan ada tiga puluh pendusta besar di umatku, masing-masing mengaku sebagai nabi, padahal aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelahku.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Maka setiap klaim yang menyematkan gelar rasul atau membawa misi kerasulan setelah Nabi Muhammad SAW—baik secara literal maupun simbolik—tetap berada dalam wilayah penyimpangan akidah.

Kontroversi berikutnya adalah pernyataan bahwa ibadah umrah tidak harus dilakukan ke Mekkah, melainkan bisa dilaksanakan di tempat lain. Pandangan ini bertentangan dengan nash Al-Qur’an dan ijma’ ulama. Allah SWT berfirman:

“Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 196)

Ayat ini dipahami oleh para ulama dengan penjelasan hadits-hadits Nabi SAW yang menegaskan bahwa Ka’bah di Masjidil Haram adalah pusat ibadah haji dan umrah. Rasulullah SAW bersabda:

“Shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu shalat di masjid lain kecuali Masjidil Haram.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini justru menegaskan kemuliaan Masjidil Haram, bukan sebaliknya. Pernyataan yang menyebut shalat sunnah di Masjidil Haram sebagai “shalat munafik” bukan hanya tanpa dasar, tetapi juga bertentangan dengan keutamaan yang ditetapkan langsung oleh Rasulullah SAW.

Lebih jauh, klaim Abah Aos tentang kepemilikan Hajar Aswad “dari langit” yang berbeda dengan Hajar Aswad di Ka’bah semakin menambah kebingungan umat. Dalam sejarah Islam, Hajar Aswad memang disebut berasal dari surga, sebagaimana hadits Nabi SAW:

“Hajar Aswad turun dari surga, warnanya lebih putih dari susu, lalu dosa-dosa anak Adam menjadikannya hitam.”
(HR. Tirmidzi)

Namun hadits ini tidak pernah dipahami oleh ulama sebagai legitimasi bagi klaim kepemilikan Hajar Aswad secara personal di luar Ka’bah. Klaim sepihak semacam ini justru membuka pintu manipulasi simbol-simbol suci agama.

Pernyataan lain yang menimbulkan kegaduhan adalah pengkafiran terhadap umat Islam Indonesia yang memakai peci hitam, serta klaim bahwa yang benar adalah peci merah putih. Dalam Islam, standar keimanan tidak pernah ditentukan oleh simbol budaya semacam itu. Allah SWT berfirman:

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Takwa, bukan warna peci, bukan simbol lahiriah, adalah ukuran kemuliaan di sisi Allah. Rasulullah SAW bahkan memperingatkan bahaya mudah mengkafirkan sesama Muslim:

“Apabila seseorang berkata kepada saudaranya: ‘Wahai kafir’, maka ucapan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah dua kali memanggil Abah Aos untuk klarifikasi terkait pernyataan-pernyataan tersebut, namun tidak dipenuhi. Rencana pemanggilan ketiga menunjukkan bahwa persoalan ini tidak bisa dipandang sebagai perbedaan ijtihad biasa, melainkan menyangkut penyimpangan serius dalam akidah dan praktik keberagamaan.

Dalam tradisi tasawuf dan tarekat yang otentik, para masyayikh justru dikenal sangat berhati-hati dalam berbicara. Imam Junaid al-Baghdadi—tokoh besar tasawuf—pernah berkata, “Semua jalan tertutup kecuali jalan yang mengikuti Rasulullah SAW.” Tasawuf sejati bukanlah jalan klaim sensasional, melainkan jalan pengendalian hawa nafsu, adab, dan kepatuhan total kepada syariat.

Kasus Abah Aos menjadi ujian besar bagi umat Islam Indonesia di era media sosial. Viralitas sering kali mengalahkan validitas. Klaim spiritual yang bombastis mudah memikat sebagian umat yang haus figur karismatik, namun miskin filter keilmuan. Karena itu, Rasulullah SAW telah mengingatkan:

“Barang siapa di antara kalian hidup setelahku, maka akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Pada akhirnya, umat Islam dituntut untuk kembali kepada Al-Qur’an, sunnah, ijma’ ulama, dan akal sehat yang tercerahkan. Agama bukan panggung sensasi, dan spiritualitas bukan alat legitimasi klaim kebenaran sepihak. Jika rambu-rambu ini ditinggalkan, maka agama berpotensi diseret ke jurang penyimpangan yang justru merusak tujuan utama Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis adalah warga Nahdlatul Ulama, yang biasa disapa Wan Noorbek

  • Penulis: Nur Shollah Bek
  • Editor: Nur Shollah Bek

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polantas Agama dan Keagamaan, Sebuah Refleksi 78 Tahun Kemenag RI

    Polantas Agama dan Keagamaan, Sebuah Refleksi 78 Tahun Kemenag RI

    • calendar_month Rabu, 3 Jan 2024
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 29
    • 0Komentar

    Tidak bisa dipungkiri bahwa keragaman merupakan karakter utama bangsa Indonesia. Karakter inilah yang membedakannya dengan bangsa lain yang cenderung homogen. Mengorganisir keragaman bukanlah sesuatu yang mudah. Mengorganisir keragaman membutuhkan metode dan strategi khusus. Tidak mudah menyamakan persepsi tentang kedamaian dan perdamaian. Tidak mudah memberi arti  betapa berharganya nilai-nilai persaudaraan. Tidak mudah memberikan pemahaman tentang pentingnya […]

  • Organisasi Masyarakat Sipil Gorontalo Mengecam Represi Aparat dalam Aksi 1 September

    Organisasi Masyarakat Sipil Gorontalo Mengecam Represi Aparat dalam Aksi 1 September

    • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Sejumlah organisasi masyarakat sipil di Provinsi Gorontalo menyampaikan pernyataan sikap bersama terkait pembubaran paksa dan penangkapan demonstran dalam aksi yang digelar di kawasan perlimaan Kota Gorontalo, Senin (1/9/2025). Mereka mengecam keras tindakan represif aparat yang dinilai sebagai bentuk pengingkaran terhadap prinsip demokrasi. Dalam rilis yang diterima bakukabar.id, Rabu (3/9/2025 itu meyebut, aksi yang awalnya berjalan […]

  • Layanan Imigrasi Menunjang Terbentuknya Embarkasi Haji Gorontalo

    Layanan Imigrasi Menunjang Terbentuknya Embarkasi Haji Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 79
    • 0Komentar

    Kota Gorontalo, – Sekretaris Daerah Provinsi Gorontalo, Sofian Ibrahim, menyatakan dukungan penuh terhadap penguatan layanan imigrasi dan pemasyarakatan di daerah. Hal ini disampaikannya saat mendampingi kunjungan kerja Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan di Kantor Imigrasi Kelas I Gorontalo, Senin (30/6/2025). Kehadirannya menjadi momentum penting dalam mempercepat reformasi kelembagaan dan pelayanan publik, khususnya di sektor keimigrasian […]

  • UII Keluarkan Pernyataan Sikap, Soroti Politik Luar Negeri hingga Kebijakan Dalam Negeri

    UII Keluarkan Pernyataan Sikap, Soroti Politik Luar Negeri hingga Kebijakan Dalam Negeri

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 163
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Universitas Islam Indonesia (UII) menyampaikan pernyataan sikap resmi merespons perkembangan mutakhir praktik berbangsa dananiro, Selasa (3/3/2026). Pernyataan tersebut ditandatangani Rektor UII, Fathul Wahid, atas nama warga kampus. Dalam dokumen yang dirilis di Yogyakarta bertepatan dengan 一级ramadan 1447 H, UII menyesalkan sikap Pemerintah Republik Indonesia yang dinilai belum menunjukkan ketegasan memadai dalam menyikapi serangan […]

  • Prahara Republik Merah Putih (Fakta dan Imajinasi di Jantung Negeri)

    Prahara Republik Merah Putih (Fakta dan Imajinasi di Jantung Negeri)

    • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Penulis : Asrul G.H. Lasapa (Da’i dan Pemerhati Sosial Keagamaan) Suasana semakin genting. Pergerakan massa sudah tidak terkendali. Teriakan demi teriakan menggelinding hingga ke petala langit. Suara dentuman benda keras menghantam genteng dan kaca bangunan megah seakan berlomba dengan suara letusan senjata aparat keamanan. Kobaran api semakin membara. Gumpalan asap hitam membumbung pekat ke angkasa […]

  • Ceramah Ramadan di Al Markaz: Kakanwil Sulsel Tekankan Akhlak Bertetangga

    Ceramah Ramadan di Al Markaz: Kakanwil Sulsel Tekankan Akhlak Bertetangga

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Nulondalo-Makassar. Memasuki pertengahan bulan suci Ramadan, Rabu 4 Maret 2026 atau 15 Ramadhan 1447 H, masjid Al Markaz Al Islami Makassar kembali dipadati ribuan jamaah Tarawih. Malam itu terasa istimewa, sebab Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulsel, H. Ali Yafid, didaulat menyampaikan tauziah bertema “Akhlak Bertetangga” sebuah pesan sederhana namun menjadi fondasi kerukunan hidup […]

expand_less