Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Mens Rea, Panji, dan Kegagalan Tawa: Komedi sebagai Medan Pertarungan Ideologi Kontemporer

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
  • visibility 438
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Apa yang terjadi dengan Panji, terutama melalui apa yang disebut sebagai panggung mens rea-nya, bukanlah sekadar polemik tentang kebebasan berekspresi atau batas kelucuan. Ia adalah simptom. Sebuah penanda diskursif bahwa komedi, dalam konfigurasi sosial-politik kontemporer, telah kehilangan kepolosannya. Komedi tidak lagi bekerja sebagai ruang relaksasi makna, melainkan sebagai arena serius tempat subjek, memori, dan kuasa saling berkelindan.

Komedi sejak lama dipahami sebagai ruang kritik yang paling lentur. Ia memungkinkan ujaran kritis beroperasi tanpa harus menyatakan diri sebagai kritik. Di dalamnya selalu tersedia mekanisme penyangkalan: alibi subjek. “Ini hanya bercanda” bukan sekadar strategi retoris individual, melainkan modus nalar yang dilembagakan—sebuah cara bagaimana ideologi mengucapkan dirinya tanpa harus mengaku sebagai ideologi.

Namun, peristiwa komedi juga tidak berdiri di ruang kosong. Ia selalu diucapkan oleh subjek tertentu, dari posisi tertentu, dan dalam medan historis tertentu. Panji tidak hadir sebagai subjek abstrak dan netral. Ia membawa sejarah posisi: pernah menjadi pendukung Anies, pernah menempatkan diri secara eksplisit dalam kontestasi politik. Ketika kemudian, dalam materi komedinya, ia “menyentuh” tubuh Gibran—baik sebagai gestur simbolik maupun perangkat humor—peristiwa itu segera ditarik ke dalam jaringan memori politik.

Di titik ini, kerja memori menjadi determinan. Lelucon tidak dibaca sebagai peristiwa singular, tetapi sebagai fragmen dari rangkaian diskursif yang lebih panjang. Yang bekerja bukan niat subjektif, melainkan arsip.

Michel Foucault memberi kita perangkat analitis yang presisi untuk membaca situasi ini. Dalam kerangka Foucauldian, kuasa tidak beroperasi terutama melalui represi, melainkan melalui produksi diskursus. Tubuh adalah lokasi strategis di mana diskursus itu dilekatkan. Tubuh politik—seperti tubuh Gibran—bukan tubuh biologis semata, melainkan tubuh yang telah diproduksi oleh relasi kuasa, simbol negara, genealogi kekuasaan, dan narasi legitimasi.

Maka, menyentuh tubuh tersebut, bahkan dalam bentuk lelucon, adalah praktik diskursif. Ia mengaktifkan relasi kuasa yang telah ada, bukan menciptakan makna dari nol. Dalam masyarakat yang beroperasi melalui arsip, gestur tidak pernah netral; ia selalu mengulang, menggeser, atau mengganggu diskursus yang telah mapan.

Di sinilah komedi mengalami pergeseran epistemologis. Dalam pengertian klasik, komedi adalah ruang tertawa, dengan hati yang tenang. Namun dalam rezim diskursif kontemporer, ruang ini kehilangan tempat. Ia dikendalikan oleh jejaring kuasa. Baik kuasa politik, maupun kuasa ekonomi yang bertepuk tangan atas setiap kontroversi. Dan, komedia adalah ruang membincang kontroversi dan produksi kontroversi yang paling aktif.

Slavoj Žižek memperdalam analisis ini dengan menunjukkan bahwa humor adalah bentuk ideologi yang paling efektif justru karena ia bekerja melalui kenikmatan. Lelucon memungkinkan subjek menikmati makna sekaligus menjaga jarak darinya. “Saya tidak serius” adalah mekanisme fantasi ideologis yang memungkinkan ujaran ideologis beredar tanpa harus dipertanggungjawabkan secara penuh.

Namun tidak semua makna bisa disublimasikan menjadi tawa. Komedi Panji menyisakan residu—sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa ditertawakan. Residu ini adalah apa yang oleh Žižek, melalui Lacan, disebut sebagai the Real: elemen yang gagal disimbolkan, yang terus kembali dan mengganggu kenikmatan. Dalam konteks ini, residu itu bersifat politis—ia lahir dari sejarah posisi, bukan dari isi lelucon semata.

Media sosial berfungsi sebagai akselerator kegagalan simbolisasi ini. Jika post-strukturalisme pernah mengumumkan kematian subjek, dunia digital justru memproduksi subjek yang tidak pernah bisa mati. Subjek hari ini hadir sebagai entitas yang terus diinterpelasi, dipanggil ulang oleh arsip digital, dan diposisikan sebagai tersangka permanen. Dalam bahasa Foucault, media sosial adalah arsip hidup—ruang di mana diskursus tidak pernah selesai, hanya berganti konteks.

Karena itu, kriminalisasi komedi—misalnya melalui pelaporan ke polisi—memang tampak konyol. Ia adalah bentuk over-identification kuasa. Negara harus melindungi bagian ini. Namun, mengklaim bahwa komedi sepenuhnya bebas dari konsekuensi politik adalah ilusi yang sama problematiknya.

Apa yang kita saksikan bukanlah matinya komedi, melainkan transformasi medan kerjanya. Komedi kini beroperasi dalam ruang yang jenuh memori, penuh arsip, dan sarat relasi kuasa. Tawa tidak lagi menjadi akhir, melainkan awal dari konflik makna.

Dalam konfigurasi ini, komedi tidak bisa lagi berpura-pura polos. Ia telah menjadi praktik diskursif yang sepenuhnya politis—bukan karena niatnya, tetapi karena kondisi kemungkinan yang memungkinkannya untuk diucapkan.

Komedi hari ini tidak gagal karena terlalu serius.

Ia menjadi serius karena dunia telah berhenti memberi ruang yang bebas bagi lelucon.

Penulis adalah Jamaah di Gusdurian, Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah



DUKUNG TIM NULONDALO DENGAN DONASI SEIKHLASNYA

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menag Nasaruddin Umar: Santri Harus Sukses Dunia, Tapi Jangan Tinggalkan Ibadah Sunnah

    Menag Nasaruddin Umar: Santri Harus Sukses Dunia, Tapi Jangan Tinggalkan Ibadah Sunnah

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 242
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa keberhasilan santri menembus berbagai profesi strategis tidak boleh menghilangkan identitas utamanya sebagai insan yang dekat dengan Tuhan. Pondasi ibadah dan spiritualitas, menurutnya, harus tetap menjadi ciri khas santri di mana pun berada. Penegasan tersebut disampaikan Menag saat memberikan sambutan pada perayaan Milad ke-20 Pondok Pesantren Madinatunnajah […]

  • Idiosinkrasi

    Idiosinkrasi

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 243
    • 0Komentar

    Sebagai individu, manusia sangat beragam. Tidak ada satu pun manusia yang identik, bahkan untuk yang kembar identik sekalipun. Setiap kita memiliki ke-khas-an sendiri-sendiri. Ada orang yang cara berpikirnya melompat-lompat namun kreatif. Ada yang pendiam, tetapi tajam membaca situasi. Ada yang bekerja lambat namun nyaris tidak pernah keliru. Pada banyak keadaan, kita menyebut mereka “unik”. Namun […]

  • Warga Paguyaman dan Paguyaman Pantai Juga Dapat Bantuan

    Warga Paguyaman dan Paguyaman Pantai Juga Dapat Bantuan

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Pangan Pemerintah Provinsi Gorontalo (BLP3G) juga telah dinikmati warga Kecamatan Paguyaman dan Paguyaman Pantai, Kabupaten Boalemo. Penyaluran bantuan ini dilakukan oleh Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah. Idah Syahidah menjelaskan kuota penerima BLP3G di tahun ini mengalami penyesuaian signifikan. Hal ini imbas dari efisiensi anggaran seluruh pemerintah daerah termasuk Provinsi Gorontalo. “Kalu tahun-tahun sebelumnya penerima bantuan […]

  • Demokrasi (Harus) Menjadi Kebudayaan

    Demokrasi (Harus) Menjadi Kebudayaan

    • calendar_month Jumat, 5 Sep 2025
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 205
    • 0Komentar

    Refleksi Temu Nasional (TUNAS) Jaringan GUSDURian 2025 Oleh : Pepi Al-Bayqunie (Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah) Di Indonesia, demokrasi kerap tampil meriah hanya saat pemilu. Angka, statistik, dan pesta politik menjadi hal yang paling mencolok. Namun, setelah hiruk pikuk itu usai, demokrasi sering kembali sepi. Ia menyusut menjadi prosedur […]

  • Raport Merah Ketua PKC PMII Sulawesi Selatan

    Raport Merah Ketua PKC PMII Sulawesi Selatan

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Rahmat Hidayat
    • visibility 1.351
    • 0Komentar

    Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sulawesi Selatan di bawah nahkoda Muhammad Afdal saat ini menghadapi persoalan serius dalam aspek kepemimpinan organisasi. Banyak kader menilai bahwa roda organisasi tidak lagi dijalankan dengan semangat tanggung jawab sebagaimana mestinya sebagai penggerak, pengarah, sekaligus penghubung bagi seluruh cabang PMII di Sulawesi Selatan. Kepemimpinan yang seharusnya […]

  • Lebaran Dua Versi

    Lebaran Dua Versi

    • calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 1.014
    • 0Komentar

    Seperti tahun-tahun sebelumnya, para santri menyempatkan diri berkumpul di rumah Kyai Saleh setelah Salat Ied. Segala jenis makanan khas Sulawesi Selatan terhidang rapi, menggoda selera. Ada barongko, kue cucur, pisang goreng, dan aneka lontong yang harum. Suasana hangat dan riuh rendah percakapan memenuhi ruang tamu, tapi tetap penuh tertib. Satu per satu, para santri sungkem, […]

expand_less