Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Bukber oleh Funco Tanipu

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
  • visibility 266
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Asal muasalnya, bukber atau buka puasa bersama dilaksanakan di tiap masjid saat Ramadan. Lambat laun, perkembangannya menjadi lebih transformatif. Bukber bukan saja soal tradisi buka puasa sebagai bagian dari ritus Ramadan. Bukber hari ini berkembang menjadi praktik sosio-religius yang modern.

Jika kita pantau dari timeline media sosial seperti Facebook, Instagram, WhatsApp dan berbagai story media sosial, bukber adalah praktik “mengingat”. Kita sebut sebagai praktik mengingat karena lebih banyak bukber dilaksanakan oleh komunitas “masa lalu” yang dihadirkan pada hari ini. Bisa kita lihat bukber alumni SD, SMP, SMA, kuliah, satu kos, sepermainan.

Bukber terjadi karena dirangkai oleh ingatan pada masa lalu. Ada memori yang hendak dibangkitkan untuk dikenang dan dirayakan sambil tertawa dengan bahagia. Bukber konteks ini berhenti pada sekedar mengingat.

Selain itu, bukber juga terjadi karena alasan-alasan kekinian, misalnya satu kantor, se-organisasi, se-profesi, keluarga dan bahkan satu hobi serta karena kepentingan politis. Bukber dalam konteks ini diikat oleh kepentingan kekinian, kepentingannya untuk merawat harmoni agar masa depan bisa lebih solid.

Bukber selalu ditutup oleh foto bersama dan juga selfie. Bahkan di beberapa komunitas, mulai digunakan spanduk sebagai penanda komunitas tersebut. Misalnya angkatan sekolah, tahun lulus atau brand komunitas tersebut.

Tujuannya adalah mengikat memori klasik untuk solidaritas yang lebih kuat. Namun, bukber tidak bisa berhenti pada praktik konsumsi semata, atau sekedar mengingat memori, tapi mesti lebih transformatif. Bukber mesti menjadi ajang untuk menjalin solidaritas kebatinan untuk kebangkitan umat dan bangsa.

Di tengah banyaknya derita yang dialami bangsa ini dan di tengah jutaan kaum miskin yang tidak bisa mengikuti praktik bukber yang diadakan selama ini, sudah semestinya bukber sebagai praktik berkumpul menjadi ajang untuk memupuk kebaikan.

Bukber transformatif adalah bukber yang memiliki agenda kebangsaan dan keumatan. Bukber mesti menjadi momentum untuk menggalang solidaritas pada kaum miskin dan korban rezim.

Sehingga, pada konteks itu, buka puasa di bulan Ramadan tidak sekedar menjadi praktik kuliner yang bersifat privat. Bukber bukan lagi ajang kontestasi, tapi sebagai praktik keagamaan yang berdampak pada kebangkitan umat secara kolektif.

Habib Umar bin Hafidz dalam bukunya “Amal Pemusnah Kebaikan”, Habib Umar menyampaikan bahwa salah satu penyebab kehancuran terbesar bagi anak Adam adalah nafsu terhadap makanan (syahwat al-bathn).

Karena nafsu tersebut, Adam dan Hawa dikeluarkan dari negeri kedamaian. Nafsu ini akan diikuti oleh nafsu birahi (syahwat al-farj), lalu dibuntuti oleh nafsu pada kedudukan dan harta, lalu diikuti oleh bentuk kebebalan dan kebencian.

Kemudian lahir darinya penyakit pamer, bangga dan sombong. Ini yang kemudian menyebabkan tingkat kezaliman dan kemungkaran. Semua hal ini adalah buah dari kelalaian dalam mengendalikan lambung dan mencegahnya dari kekenyangan.

Tujuan dari penjagaan ketiga nafsu itu untuk pengendalian. Apa-apa yang menjadi praktik kita selama ini masih bisa dikendalikan secara sadar, dikelola dan hingga berdampak positif pada bangkitnya umat Islam, bukan pada arah yang sebaliknya; kehancuran.

Penulis : Dr. Funco Tanipu, MA(Akademisi di Universitas Negeri Gorontalo)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Organisasi Masyarakat Sipil Gorontalo Mengecam Represi Aparat dalam Aksi 1 September

    Organisasi Masyarakat Sipil Gorontalo Mengecam Represi Aparat dalam Aksi 1 September

    • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Sejumlah organisasi masyarakat sipil di Provinsi Gorontalo menyampaikan pernyataan sikap bersama terkait pembubaran paksa dan penangkapan demonstran dalam aksi yang digelar di kawasan perlimaan Kota Gorontalo, Senin (1/9/2025). Mereka mengecam keras tindakan represif aparat yang dinilai sebagai bentuk pengingkaran terhadap prinsip demokrasi. Dalam rilis yang diterima bakukabar.id, Rabu (3/9/2025 itu meyebut, aksi yang awalnya berjalan […]

  • Eco-Nasionalisme: Merawat Tanah-Air, Merawat Indonesia

    Eco-Nasionalisme: Merawat Tanah-Air, Merawat Indonesia

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Kita begitu fasih merayakan nasionalisme dalam bentuk seremoni dan simbol. Setiap tanggal 17 Agustus, kita berdiri tegap menyanyikan Indonesia Raya, mengibarkan bendera Merah Putih di halaman rumah, sekolah, dan kantor pemerintahan. Di media sosial, foto bendera yang dikibarkan di puncak gunung atau latar kemenangan atlet nasional menjadi penanda kebanggaan kolektif. Di ruang-ruang publik, nasionalisme dipentaskan lewat […]

  • Setan Diikat, Fraud Berlanjut?

    Setan Diikat, Fraud Berlanjut?

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
    • visibility 452
    • 0Komentar

    Konon, setiap Ramadhan setan-setan dibelenggu. Informasi ini begitu populer, bahkan lebih populer daripada promo diskon sirup menjelang buka puasa. Tapi pertanyaannya, kalau setan sudah diikat, kenapa praktik fraud masih saja merajalela? Apakah setannya lolos dari sistem pengendalian internal? Atau jangan-jangan, yang perlu diaudit bukan setan, tapi niat dan sistem kita? Dalam tradisi pesantren ala Nahdlatul […]

  • Kunjungan ke Maros, Mendes PDTT Serahkan Penghargaan Tokoh Peduli Desa kepada 8 Bupati

    Kunjungan ke Maros, Mendes PDTT Serahkan Penghargaan Tokoh Peduli Desa kepada 8 Bupati

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 250
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros – Komitmen pemerintah daerah dalam membangun dan memberdayakan desa kembali mendapat apresiasi di tingkat nasional. Sebanyak delapan bupati, termasuk Bupati Maros Chaidir Syam, menerima penghargaan Tokoh Peduli Desa dari Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI). Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDTT), Yandri Susanto, pada kegiatan Saba Desa […]

  • Tarawih Tanpa Manipulasi

    Tarawih Tanpa Manipulasi

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 297
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu menghadirkan fenomena tahunan yang menarik untuk diamati dengan kacamata akuntansi: masjid penuh, saf rapat, parkir meluber, dan sandal kadang tertukar sebuah metafora kecil tentang risiko pengendalian internal. Namun yang paling menarik adalah tarawih: ibadah malam yang khusyuk, sekaligus ladang potensial “manipulasi spiritual”. Dalam dunia akuntansi, manipulasi bisa terjadi ketika laporan keuangan disusun bukan […]

  • Annanguru Syahid; Orang Pambusuang Harus Berterima Kasih ke Gus Dur

    Annanguru Syahid; Orang Pambusuang Harus Berterima Kasih ke Gus Dur

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 424
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Polewali Mandar— Malam itu, langit Pambusuang tampak pekat. Rinai hujan turun perlahan, seolah menyapa tanah yang basah dengan kelembutan. Usai salat Magrib, meski langit masih gelap, hujan mulai reda. Di depan Masjid At-Taqwa, panggung berukuran 4 x 4 meter ditata dengan cermat. Pengeras suara yang sejak sore terbungkus terpal dibuka, sementara beberapa ruas jalan […]

expand_less