Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Bukber oleh Funco Tanipu

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
  • visibility 310
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Asal muasalnya, bukber atau buka puasa bersama dilaksanakan di tiap masjid saat Ramadan. Lambat laun, perkembangannya menjadi lebih transformatif. Bukber bukan saja soal tradisi buka puasa sebagai bagian dari ritus Ramadan. Bukber hari ini berkembang menjadi praktik sosio-religius yang modern.

Jika kita pantau dari timeline media sosial seperti Facebook, Instagram, WhatsApp dan berbagai story media sosial, bukber adalah praktik “mengingat”. Kita sebut sebagai praktik mengingat karena lebih banyak bukber dilaksanakan oleh komunitas “masa lalu” yang dihadirkan pada hari ini. Bisa kita lihat bukber alumni SD, SMP, SMA, kuliah, satu kos, sepermainan.

Bukber terjadi karena dirangkai oleh ingatan pada masa lalu. Ada memori yang hendak dibangkitkan untuk dikenang dan dirayakan sambil tertawa dengan bahagia. Bukber konteks ini berhenti pada sekedar mengingat.

Selain itu, bukber juga terjadi karena alasan-alasan kekinian, misalnya satu kantor, se-organisasi, se-profesi, keluarga dan bahkan satu hobi serta karena kepentingan politis. Bukber dalam konteks ini diikat oleh kepentingan kekinian, kepentingannya untuk merawat harmoni agar masa depan bisa lebih solid.

Bukber selalu ditutup oleh foto bersama dan juga selfie. Bahkan di beberapa komunitas, mulai digunakan spanduk sebagai penanda komunitas tersebut. Misalnya angkatan sekolah, tahun lulus atau brand komunitas tersebut.

Tujuannya adalah mengikat memori klasik untuk solidaritas yang lebih kuat. Namun, bukber tidak bisa berhenti pada praktik konsumsi semata, atau sekedar mengingat memori, tapi mesti lebih transformatif. Bukber mesti menjadi ajang untuk menjalin solidaritas kebatinan untuk kebangkitan umat dan bangsa.

Di tengah banyaknya derita yang dialami bangsa ini dan di tengah jutaan kaum miskin yang tidak bisa mengikuti praktik bukber yang diadakan selama ini, sudah semestinya bukber sebagai praktik berkumpul menjadi ajang untuk memupuk kebaikan.

Bukber transformatif adalah bukber yang memiliki agenda kebangsaan dan keumatan. Bukber mesti menjadi momentum untuk menggalang solidaritas pada kaum miskin dan korban rezim.

Sehingga, pada konteks itu, buka puasa di bulan Ramadan tidak sekedar menjadi praktik kuliner yang bersifat privat. Bukber bukan lagi ajang kontestasi, tapi sebagai praktik keagamaan yang berdampak pada kebangkitan umat secara kolektif.

Habib Umar bin Hafidz dalam bukunya “Amal Pemusnah Kebaikan”, Habib Umar menyampaikan bahwa salah satu penyebab kehancuran terbesar bagi anak Adam adalah nafsu terhadap makanan (syahwat al-bathn).

Karena nafsu tersebut, Adam dan Hawa dikeluarkan dari negeri kedamaian. Nafsu ini akan diikuti oleh nafsu birahi (syahwat al-farj), lalu dibuntuti oleh nafsu pada kedudukan dan harta, lalu diikuti oleh bentuk kebebalan dan kebencian.

Kemudian lahir darinya penyakit pamer, bangga dan sombong. Ini yang kemudian menyebabkan tingkat kezaliman dan kemungkaran. Semua hal ini adalah buah dari kelalaian dalam mengendalikan lambung dan mencegahnya dari kekenyangan.

Tujuan dari penjagaan ketiga nafsu itu untuk pengendalian. Apa-apa yang menjadi praktik kita selama ini masih bisa dikendalikan secara sadar, dikelola dan hingga berdampak positif pada bangkitnya umat Islam, bukan pada arah yang sebaliknya; kehancuran.

Penulis : Dr. Funco Tanipu, MA – (Akademisi di Universitas Negeri Gorontalo)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Setan Diikat, Fraud Berlanjut?

    Setan Diikat, Fraud Berlanjut?

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
    • visibility 520
    • 0Komentar

    Konon, setiap Ramadhan setan-setan dibelenggu. Informasi ini begitu populer, bahkan lebih populer daripada promo diskon sirup menjelang buka puasa. Tapi pertanyaannya, kalau setan sudah diikat, kenapa praktik fraud masih saja merajalela? Apakah setannya lolos dari sistem pengendalian internal? Atau jangan-jangan, yang perlu diaudit bukan setan, tapi niat dan sistem kita? Dalam tradisi pesantren ala Nahdlatul […]

  • Polres Pohuwato Amankan Mobil Pengangkut Puluhan Galon Solar Bersubsidi di Buntulia

    Polres Pohuwato Amankan Mobil Pengangkut Puluhan Galon Solar Bersubsidi di Buntulia

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • account_circle Ikbal
    • visibility 211
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Jajaran Polres Pohuwato mengamankan satu unit kendaraan yang diduga digunakan untuk mengangkut bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar di Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, Kamis (11/6/2026). Pengungkapan kasus tersebut bermula saat personel Polres Pohuwato melaksanakan patroli rutin di wilayah Kecamatan Buntulia. Dalam kegiatan itu, petugas menemukan sebuah kendaraan Suzuki Carry pikap […]

  • Gusnar Bongkar 3 Agenda Besar Gorontalo, HMI Diminta Jadi Motor Perjuangan

    Gusnar Bongkar 3 Agenda Besar Gorontalo, HMI Diminta Jadi Motor Perjuangan

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 307
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, mengajak seluruh kader dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) untuk ikut memperjuangkan tiga program strategis pemerintah provinsi. Ajakan tersebut disampaikan saat kegiatan Halal Bihalal KAHMI/HMI – FORHATI/KOHATI yang turut dihadiri Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, di Aula Rumah Jabatan Gubernur, Rabu (8/4/2026). Tiga program yang dimaksud yakni perluasan […]

  • Camat Bontoa Kukuhkan 25 Anggota Paskibraka Kecamatan Bontoa Tahun 2026

    Camat Bontoa Kukuhkan 25 Anggota Paskibraka Kecamatan Bontoa Tahun 2026

    • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Bontoa — Camat Bontoa, Muh. Maudu, S.Hut., M.Si., secara resmi mengukuhkan anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, pada 16 Agustus 2026. Prosesi pengukuhan berlangsung di Aula Kantor Camat Bontoa. Sebanyak 25 pelajar putra dan putri terbaik dari SMA/MA se-Kecamatan Bontoa dikukuhkan setelah melalui proses seleksi dan pelatihan intensif selama […]

  • Langit Mahal Gorontalo; Harga Tiket Mencekik, Membisu Pemerintah & Sebuah Pertanyaan untuk Presiden Prabowo

    Langit Mahal Gorontalo; Harga Tiket Mencekik, Membisu Pemerintah & Sebuah Pertanyaan untuk Presiden Prabowo

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 170
    • 0Komentar

    oleh : Suci Priyanti Kartika Chanda Sari., S.H.,M.H. Bagi sebuah provinsi kepulauan seperti Gorontalo, transportasi udara bukanlah kemewahan, melainkan urat nadi esensial yang menyambungkan denyut ekonomi, sosial, dan bahkan spiritual warganya dengan seluruh nusantara. Jalur udara adalah jembatan bagi para perantau untuk kembali ke pelukan keluarga, koridor bagi pelajar untuk menimba ilmu, kanal bagi pelaku […]

  • Dugaan Kelalaian Medis RS Multazam Disorot, DPRD dan Dinkes Minta Perbaikan Layanan

    Dugaan Kelalaian Medis RS Multazam Disorot, DPRD dan Dinkes Minta Perbaikan Layanan

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 174
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Dugaan kelalaian medis di Rumah Sakit (RS) Multazam Gorontalo menjadi perhatian publik setelah terungkap adanya perubahan metode persalinan dari yang semula direncanakan menggunakan Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS) menjadi operasi caesar konvensional tanpa persetujuan pasien. Pihak RS Multazam mengakui adanya perubahan metode tindakan medis tersebut. Namun hingga kini, belum terdapat sanksi hukum […]

expand_less