Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tak Ada Yang Integratif Dari “Epistemologi Integratif” dalam Paradigma Makuta Ilmu: Itu Kesesatannya

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
  • visibility 1.047
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tulisan Donald Tungkagi berjudul Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas (9/1) di nulondalo.com., sebagai tanggapan atas tulisan saya (8/1) setidaknya memuat tiga poin utama, yakni: (1) penjelasan historiografis makuta problematik karena tidak cukup valid dalam simbol makuta dalam paradigma epistemologi Makuta Keilmuan; (2) ketegangan antarpilar itu produktif, alih-alih saling menegasikan satu sama lain; (3) Makuta Ilmu berangkat dari epistemologi dekolonial. Jika mau diperas dalam satu kalimat, Donald berkesimpulan bahwa kritik saya gagal memahami Makuta Ilmu sebagai paradigma pengetahuan yang sebenarnya tetap relevan dan integral satu sama lain meski penuh ketegangan, sebab paradigma tersebut secara praksis adalah jembatan antarpilar: Tuhan, manusia (adat) dan alam semesta (theo-antropo-kosmosentris).

Tulisan ini adalah tanggapan terhadap kritik atas kritik Donald pada tulisan saya sebelumnya. Fokus saya dalam tulisan juga akan saya padatkan menjadi tiga bagian. Pertama terletak pada ketidakonsistenan klaim Donald soal makuta yang sebenarnya diakuinya sendiri berakar pada tradisi intelektual masyarakat Gorontalo, namun tiba-tiba menjadi tidak relevan dan valid ketika menjadi dasar paradigma Makuta Ilmu. Kedua adalah kontradiksi inheren antarpilar di dalam paradigma Makuta Ilmu yang dipaksakan dengan menghadirkan jembatan sebagaimana muncul di dalam paradigma integrasi-interkoneksi yang, bagi saya, justru menciptakan keselarasan semu. Ketiga adalah penggunaan dekolonisasi pengetahuan semena-mena; seakan-akan ketika Makuta Ilmu bisa berbicara soal pengetahuan lokal, maka ia telah representatif dan bisa diterima begitu saja, padahal, justru ia akan berakhir pada posisi kolonial.

Namun sebelum melompat terlalu jauh, saya ingin mengklarifikasi beberapa hal. Pertama, ketika saya memproblematisasi tawaran Makuta Ilmu sebagai sebuah paradigma, tidak serta merta saya memproblematisasi visi eksplisit UIN Smart, melainkan mengkritisi argumentasinya, terutama klaim bahwa ia “persis sama”. Ini juga ingin menunjukkan bahwa Makuta Ilmu bukan satu-satunya tawaran, melainkan hanya salah satu—itupun dengan basis argumentasi yang sangat lemah. Karena itu, saya menghadirkan dekolonialitas sebagai alternatif. Kedua, saya memang tidak menyentuh falsafah adati hula-hula to sara’a, sara’a hula-hula to Qur’ani itu dengan sadar, tetapi bukan berarti kritik saya itu selektif dan abai. Justru karena itu akan membawa diskusi terlalu jauh, terlebih saya sendiri skeptis terhadap keberadaannya. Ketiga, persoalan saya bukan pada nama, melainkan pada kerangka konseptualnya. Dengan demikian, perdebatan soal kritik terhadap trademark akademik UIN Smart menjadi tidak relevan. Terakhir, saya sepakat bahwa kritik harus dibalas dengan kritik, bukan satir atau nyinyir.

  • Penulis: Tarmizi Abbas
  • Editor: Tarmizi Abbas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPR RI Beberkan 4 Masalah Krusial Pascabencana di Sumatra, Ini yang Paling Mendesak

    DPR RI Beberkan 4 Masalah Krusial Pascabencana di Sumatra, Ini yang Paling Mendesak

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 323
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Satuan Tugas Pemulihan Pascabencana (Galapana) DPR RI mengungkap empat permasalahan krusial yang masih menghambat penanganan dan pemulihan bencana di sejumlah wilayah Sumatra. Temuan tersebut merupakan hasil koordinasi intensif Satgas Galapana DPR RI selama 1–5 Januari 2025 di daerah terdampak. Hal itu disampaikan perwakilan Satgas Galapana DPR RI, TA Khalid, dalam Rapat Koordinasi Satgas […]

  • Polemik HTI Gorut Kian Memanas, KNPI Sorot Dugaan Overload hingga Tuntut Evaluasi Manajemen

    Polemik HTI Gorut Kian Memanas, KNPI Sorot Dugaan Overload hingga Tuntut Evaluasi Manajemen

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 414
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Polemik operasional perusahaan HTI di Gorontalo Utara kian memanas. Kritik terhadap aktivitas angkutan kayu yang diduga bermuatan berlebih (overload) memicu sorotan publik, termasuk dari Komite Nasional Pemuda Indonesia Gorontalo. Ketua KNPI Gorontalo Utara, Yowan Sukarna, menilai aktivitas operasional perusahaan tersebut berdampak pada kerusakan infrastruktur jalan dan berpotensi mengancam keselamatan masyarakat. “Ini bukan sekadar […]

  • Islam Moderat di Persimpangan Jalan

    Islam Moderat di Persimpangan Jalan

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Alam Khaerul Hidayat
    • visibility 403
    • 0Komentar

    Di tengah riuhnya perbincangan tentang agama di ruang publik Indonesia, istilah Islam moderat seolah menemukan momentumnya. Ia hadir sebagai penyeimbang di antara tarikan ekstrem yang kerap mengeras dalam wajah keberagamaan kita di satu sisi konservatisme yang eksklusif, di sisi lain liberalisme yang kadang kehilangan pijakan nilai. Dalam konteks masyarakat yang majemuk, gagasan ini terasa penting, […]

  • Sekali lagi, Tentang Tudingan Ijazah Palsu

    Sekali lagi, Tentang Tudingan Ijazah Palsu

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 187
    • 0Komentar

    Roy Suryo sejak awal bersuara lantang soal dugaan kejanggalan dalam ijazah mantan presiden Joko Widodo. Ia bahkan menyatakan bahwa foto dalam ijazah tersebut bukanlah Jokowi, melainkan sepupunya. Sebelumnya ada Bambang Tri Mulyono, ada Rismon Sianipar, ada Dr Tifa sebagai pihak yang terus memperkarakan keaslian ijazah Jokowi. Mereka yakin betul sedang memperjuangkan “kebenaran”—bukan hanya soal selembar […]

  • Maulid, Haul Masyayikh hingga Tasyakuran Muktamar NU ke-35 Warnai Kebersamaan Nahdliyin Kabupaten Gorontalo

    Maulid, Haul Masyayikh hingga Tasyakuran Muktamar NU ke-35 Warnai Kebersamaan Nahdliyin Kabupaten Gorontalo

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 276
    • 0Komentar

    KABUPATEN GORONTALO, NULONDALO.COM – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Gorontalo menggelar Ta’dim Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan Haul Masyayikh Thoriqoh Naqsabandiyah Kholidiyah Mujaddadiyah serta tasyakuran suksesnya Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Kegiatan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin, Sidomukti, Kecamatan Mootilango, Kabupaten Gorontalo, Selasa malam (9/9/2026). Ta’dim Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut […]

  • Ketika Guru PAI SD Tak Fasih Baca Al-Qur’an, Ke Mana Arah Pendidikan Agama?

    Ketika Guru PAI SD Tak Fasih Baca Al-Qur’an, Ke Mana Arah Pendidikan Agama?

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle Turmuji Jafar
    • visibility 604
    • 0Komentar

    Oleh: Turmuji Jafar, Mahasiswa Pascasarjana UAC Mojokerto Mengawali tahun baru kita di suguhi dengan catatan merah oleh Kementerian Agama (Kemenang) dari hasil asesmen Pendidikan Agama Islam (PAI) akhir tahun 2025, menunjukkan data sebanyak 58,26 persen guru agama Islam tingkatan sekolah dasar (SD) di Indonesia belum fasih dalam membaca Al-Qur’an. Temuan ini berdasarkan asesmen terhadap 160.143 […]

expand_less