Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tak Ada Yang Integratif Dari “Epistemologi Integratif” dalam Paradigma Makuta Ilmu: Itu Kesesatannya

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
  • visibility 959
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kekuatan Historiografi dalam Paradigma

Ketika Donald menyimpulkan bahwa argumen historis tidak cukup menunjukkan relevansinya terhadap “simbolisasi makuta dalam paradigma epistemologi Makuta Ilmu”, maka di titik itu ia telah mengingkari argumen kuncinya sendiri yang menjadi basis dari paradigma Makuta Ilmu. Di tulisan awal, Donald menulis dengan gamblang: “makuta adalah cerminan dari nilai-nilai luhur yang telah mengakar dalam tradisi intelektual masyarakat Gorontalo”. Kalimat ini justru menunjukkan aspek historis dari Makuta Ilmu yang, sadar atau tidak, diakui Donald sebagai hal yang esensial dan bukan komplementer dalam tawaran paradigmanya. Saya lantas mengkritisinya: makuta tidak sama sekali punya hubungan dengan tradisi intelektual Gorontalo. Saya bahkan menunjukkan menunjukkan fakta-fakta historis, perubahan dan dinamikanya. Jadi, kritik saya relevan dan atas dasar itulah saya memperdebatkannya. Sayangnya, Donald menganggap bahwa catatan-catatan yang saya berikan menambah kekayaan makna simbolis pada “Makuta Ilmu”. Padahal pandangan ini keliru. Saya menampakkan fakta-fakta itu untuk menunjukkan kelemahan makuta, dan karena itu lemah, maka ia tidak bisa menjadi basis argumentasi untuk menguatkan paradigma Makuta Ilmunya. 

Saya juga paham, ketika UIN Suka Yogyakarta mencetuskan paradigma jaring laba-laba, tidak berarti mereka harus mencari akar historis laba-laba di dalam kesultanan Yogyakarta. Atau ketika UIN Alauddin Makassar muncul dengan konsep “Sel-Cemara Keilmuan”, itu tidak berarti harus mencari di pohon cemara mana sel-sel keilmuan itu berada. Namun kasus ini berbeda dengan Makuta Ilmu yang ditawarkan Donald, di mana ia memulainya dengan aspek historiografi makuta: berakar pada tradisi intelektual Gorontalo. Pertanyaan penting yang saya ingin ajukan lagi: memang, di mana akarnya? Itu yang harusnya ia jawab, bukan malah meminta saya menunjukkan relevansi argumen historis makuta dan bagaimana ia valid terhadap gagasan paradigma epistemology “Makuta Ilmu”. Ini problem mendasar dari logika, yakni beban pembuktian (burden of proof): ketika seseorang mengajukan satu klaim, maka ia harus memberikan bukti-bukti valid yang mendukung argumentasinya. Ini persis ketika UIN Surakarta muncul dengan paradigma “Gunungan Ilmu”, mereka berhasil membuktikannya dalam akar kultur Jawa: poros kosmos, siklus awal dan akhir, hingga keselarasan hierarkis antara alam, manusia dan Yang Ilahiah. Dengan begitu, validlah paradigma “Gunungan Ilmu” tersebut sebagai paradigma epistemologi UIN Surakarta karena ia berangkat dari argument historis yang kuat.

Donald juga tidak perlu bersusah payah mengutip Kuhn kalau ternyata, interpretasinya terhadap perkembangan sains di dalam The Structure of Scientific Revolution (1962), juga keliru. Pertama, paradigma Kuhn bukan alat untuk mengamati masalah-masalah ilmiah, melainkan melihat: (1) apa yang boleh disebut masalah; (2) bagaimana cara menyelesaikannya; (3) bagaimana komunitas ilmiah bekerja. Itulah sebabnya, ketika mendefinisikan “paradigma” pada 30-40 halaman pertama bukunya, Kuhn menulis bahwa paradigma adalah “seperangkat contoh, nilai, dan praktik yang diakui bersama oleh suatu komunitas, yang menentukan apa yang dianggap sebagai masalah dan bagaimana masalah itu diselesaikan.” Di titik ini, Kuhn menaruh fenomena masyaraat sebagai hal esensial yang berkembang dalam sejarah sebagai yang riil dan tidak bisa disebut “sebatas representasi historis yang kaku”—sebagaimana tulis Donald. Justru, sejarah dalam perkembangan paradigma a la Kuhnian adalah titik kunci memahami bagaimana paradigma pengetahuan berkembang dan bersitegang melalui normal science 🡪 anomali dan krisis 🡪 revolusi ilmiah.  Makanya, bagi Kuhn, saintis itu bukan pemecah masalah (problem solver), melainkan pemecah teka-teki (puzzle solver).

  • Penulis: Tarmizi Abbas
  • Editor: Tarmizi Abbas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Karhutla Kalimantan Membara, Sakti dari Maros Desak Negara Perkuat Perlindungan Hutan dan Usut Tuntas Penyebab Kebakaran

    Karhutla Kalimantan Membara, Sakti dari Maros Desak Negara Perkuat Perlindungan Hutan dan Usut Tuntas Penyebab Kebakaran

    • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 101
    • 0Komentar

    Nulondalo.Com, MAROS — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda sejumlah wilayah Kalimantan menjadi perhatian publik, termasuk dari Sulawesi Selatan. Bukan semata karena luas wilayah yang terdampak, tetapi juga karena ancamannya terhadap lingkungan, satwa, masyarakat, kesehatan, dan kualitas udara. Sakti, seorang warga asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, turut menyuarakan keprihatinannya terhadap kondisi tersebut. Ia […]

  • Gus Yaqut Bantah Nikmati Dana Korupsi Kuota Haji

    Gus Yaqut Bantah Nikmati Dana Korupsi Kuota Haji

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 206
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas membantah tudingan bahwa dirinya menikmati dana dalam kasus dugaan korupsi kuota haji yang tengah ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pernyataan tersebut disampaikan Yaqut kepada awak media setelah keluar dari ruang pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (12/3/2025). Saat itu, ia terlihat telah mengenakan rompi oranye khas […]

  • Menakar Potensi dan Ancaman Kerusakan Wilayah Pesisir Bone Bolango

    Menakar Potensi dan Ancaman Kerusakan Wilayah Pesisir Bone Bolango

    • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
    • account_circle Iwan Miu
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Indonesia adalah negara maritim dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, dihuni oleh ribuan desa pesisir yang tersebar dari barat hingga timur nusantara. Desa-desa pesisir tidak hanya berperan sebagai penyangga ekologi, tetapi juga merupakan lumbung sumber daya alam, terutama di sektor kelautan dan perikanan. Namun, di balik potensi besar tersebut, desa pesisir menghadapi berbagai tantangan […]

  • Prabowo Bukanlah Gerindra di Gorontalo: Catatan Kritis Pada HUT Gerindra Ke-17

    Prabowo Bukanlah Gerindra di Gorontalo: Catatan Kritis Pada HUT Gerindra Ke-17

    • calendar_month Selasa, 26 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Oleh : Dr. Funco Tanipu., ST., M.A (Dosen Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo. Founder The Gorontalo Institute) Memperbincangkan Gerindra adalah juga memperbincangkan Jendral Prabowo Subianto, yang kini menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke – 8. Perjalanan Prabowo, termasuk Gerindra memang berlika-liku, jatuh bangun, dan “berdarah-darah”. Hingga karena konsistensi serta sikap yang […]

  • Longsor di Morowali Jadi Alarm Nasional, DPR Minta Pengawasan Lingkungan Diperketat

    Longsor di Morowali Jadi Alarm Nasional, DPR Minta Pengawasan Lingkungan Diperketat

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 302
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Peristiwa banjir dan tanah longsor di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dinilai sebagai alarm nasional atas lemahnya tata kelola lingkungan di kawasan industri tambang. Anggota Komisi IV DPR RI, Robert J. Kardinal, meminta pemerintah segera melakukan pembenahan dan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan lingkungan, khususnya di wilayah […]

  • KPA Kutuk Aksi Brutal Perusahaan MEG Serang Warga Rempang

    KPA Kutuk Aksi Brutal Perusahaan MEG Serang Warga Rempang

    • calendar_month Sabtu, 4 Jan 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) mengutuk keras aksi penyerangan warga Rempang oleh PT Makmur Elok Graha (MEG), pada Rabu (18/12/2024) sekitar pukul 00.50 WIB. Penyerangan oleh PT MEG buntut penolakan Proyek Strategis Nasional (PSN) oleh warga Rempang. “Aksi penyerangan kepada warga sedikitnya membuat delapan orang warga menjadi korban penembakan dan penganiayaan. Korban diantaranya mengalami luka sobek […]

expand_less