Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tak Ada Yang Integratif Dari “Epistemologi Integratif” dalam Paradigma Makuta Ilmu: Itu Kesesatannya

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
  • visibility 1.045
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lantas bagaimana ini bertaut dengan makuta? Sedari awal, saya telah menyebut hal tersebut, bahwa hanya karena ia diletakan di kepala, bukan berarti makuta memiliki koherensi dengan tradisi intelektual masyarakat Gorontalo. Tradisi intelektual itu dibangun berdasarkan berbagai ketegangan-ketegangan di dalam sejarah perkembangan peradaban Gorontalo yang pada akhirnya melahirkan pandangan dunia, kebudayaan dan tradisi masyarakat lokal yang berubah-ubah. Dengan mengunci berbagai ketegangan ini lewat makuta—yang jelas-jelas telah dilepaskan dari makna asalinya di dalam struktur kebudayaan Gorontalo dan mengalami reifikasi sebagai objek dan simbol—maka yang terjadi sebetulnya adalah reduksionisme epistemik, alih-alih penjelasan komprehensif tentang teo-antropo-kosmosentris sebagaimana ingin dipertahankan Donald.

Falasi Genetik dan Ketegangan Antarpilar

Pada saat yang sama, falasi genetik yang disematkan kepada saya juga salah alamat. Ketika menyatakan bahwa “makuta adalah campur tangan Islam (jalur Ternate) dan Belanda” serta “makuta telah ada sejak zaman Eyato sebagai busana adat”, sebenarnya saya melakukan kritik genealogis dan sumber, bahwa: (1) makuta tidak lepas dari cara kolonial mengidentifikasi posisi seseorang lewat benda dan simbol; (2) makuta tidak ditemukan dalam kanon S.R. Nur yang secara komprehensif dan menjadi rujukan ultim ketika membahas tata hukum adat di masa Eyato. Dua hal ini sah dan bukan falasi genetik. Bagi pembaca yang bingung, falasi genetik itu sederhananya begini:

  • Karena klaim A bersumber dari X yang salah, maka A sudah pasti salah.

Atau jika rumus ini diekstrapolasi ke dalam pernyataan:

  • Karena antropologi digunakan oleh pemerintah kolonial, maka semua pengetahuan antropologi tidak valid.

Antropologi tidak serta merta invalid hanya karena ia digunakan para penjajah. Toh saya juga menggunakan kerangka analisis antropologi untuk membongkar narasi kolonial dalam Dayango, juga kok! Bedanya, kolonial menyebut Dayango sebagai praktik animis, saya menyebutnya Islami. Dalam kaitannya dengan makuta, saya juga tidak mengatakan bahwa itu tidak valid. Makuta itu ada dan riil. Dalam naskah Tata Cara Adat Gorontalo tahun 2007, itu bahkan tertulis “makuta diperkenalkan oleh Islam dan Kolonial … dengan mengganti Paluwala dari kerangka daun dan ranting”. Artinya, makuta memang ada. Yang justru saya problematisasi dan menyebutnya keliru adalah makuta tidak valid disebut sebagai “simbol pengetahuan” apalagi “berakar pada tradisi intelektual masyarakat Gorontalo” karena sejak awal, ia adalah cara kolonial dan Islam untuk mengidentifikasi dan menstratifikasi masyarakat dalam status sosial dan kuasa yang berbeda. Selanjutnya, makuta invalid karena sebagai paradigma epistemologi, tiap-tiap pilar yang Anda ajukan itu bersitegang satu-sama lain dan tidak mungkin didialogkan sebab secara kategorikal, ketiganya kontradiktif satu sama lain. Di titik ini, di mana letak falasi genetiknya?

  • Penulis: Tarmizi Abbas
  • Editor: Tarmizi Abbas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Karhutla Kalimantan Membara, Sakti dari Maros Desak Negara Perkuat Perlindungan Hutan dan Usut Tuntas Penyebab Kebakaran

    Karhutla Kalimantan Membara, Sakti dari Maros Desak Negara Perkuat Perlindungan Hutan dan Usut Tuntas Penyebab Kebakaran

    • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 178
    • 0Komentar

    Nulondalo.Com, MAROS — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda sejumlah wilayah Kalimantan menjadi perhatian publik, termasuk dari Sulawesi Selatan. Bukan semata karena luas wilayah yang terdampak, tetapi juga karena ancamannya terhadap lingkungan, satwa, masyarakat, kesehatan, dan kualitas udara. Sakti, seorang warga asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, turut menyuarakan keprihatinannya terhadap kondisi tersebut. Ia […]

  • Pameran Seni “Sangkut Paut” Kolaborasi dan kreativitas dalam Residensi MTN Lab Gorontalo

    Pameran Seni “Sangkut Paut” Kolaborasi dan kreativitas dalam Residensi MTN Lab Gorontalo

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 170
    • 0Komentar

    Pameran seni bertajuk “Sangkut Paut” resmi dibuka, Selasa (25/11/2025) di Hartdisk Studio, Bone Bolango. Pameran ini merupakan hasil proses kreativitas dari program MTN Lab Residence Gorontalo, yang menghadirkan 29 seniman dan 8 kurator dalam kerja kolaboratif selama dua minggu terakhir. Residensi ini memperlihatkan bagaimana gagasan tumbuh ketika praktik seni dirawat melalui kedekatan—antara seniman, kurator, ruang […]

  • Pelecehan Seksual: Kuasa dan Keberanian Melawan Atas Nama Siri

    Pelecehan Seksual: Kuasa dan Keberanian Melawan Atas Nama Siri

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Akhir-akhir ini kita memang sering dikejutkan dengan berbagai berita mencengangkan. Dari pajak yang naik berlipat-lipat, hingga sewa tempat tinggal anggota dewan terhormat yang berjumlah 50 juta perbulan. Dan kita lagi lagi dikejutkan dengan viralnya berita seorang rektor perguruan tinggi ternama di Indonesia Timur yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap seorang perempuan bawahannya. Berita pelecehan seksual semacam […]

  • Doktor Misbah Sampaikan Pesan Kemaritiman Berbasis Al-Quran di Hadapan Wapres Gibran

    Doktor Misbah Sampaikan Pesan Kemaritiman Berbasis Al-Quran di Hadapan Wapres Gibran

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 267
    • 0Komentar

    Dalam kesempatan itu, Doktor Misbah turut memaparkan peran ASPEKSINDO dalam mendukung visi Indonesia sebagai poros maritim dunia melalui program Sekolah Duta Maritim Indonesia (SDMI). Menurutnya, selama empat angkatan berjalan, SDMI telah menyeleksi generasi muda dari berbagai wilayah Indonesia untuk mendapatkan beasiswa penuh pendidikan kemaritiman. “Di empat angkatan ini Pak Wapres, ASPEKSINDO menyeleksi generasi bangsa di […]

  • Bantah Tudingan Pecah Belah Masyarakat, Tokoh Mananggu Desak Danramil Periksa Babinsa

    Bantah Tudingan Pecah Belah Masyarakat, Tokoh Mananggu Desak Danramil Periksa Babinsa

    • calendar_month Minggu, 4 Okt 2026
    • account_circle Faisal Husuna
    • visibility 442
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM – MANANGGU – Sejumlah tokoh masyarakat di Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo, dituduh sebagai pemecah belah masyarakat. Hal tersebut ditulis dalam unggahan akun anonim di media sosial Facebook yang memuat sejumlah nama tokoh masyarakat. “Peringatan keras! Hati-hati dengan kelompok ini, Raimon Tulen, Ferdy Bobihu, Hais Hamzah, Noldi Biya, Febriyanto Dunggio,” “Sering melakukan serangan, tuduhan, komentar […]

  • Senyum Manis Wahid Yasin, Pendonor Darah Peringati Hari Kemerdekaan

    Senyum Manis Wahid Yasin, Pendonor Darah Peringati Hari Kemerdekaan

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Faisal husuna
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Senyum manis Wahid Yasin, salah satu peserta donor darah, mewarnai kegiatan bakti sosial memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia yang digelar PKC PMII Gorontalo bekerja sama dengan PWNU Gorontalo dan PMI Provinsi Gorontalo, Sabtu (16/8/2025). Wahid mengaku, ini adalah pengalaman pertamanya mendonorkan darah. Perasaan campur aduk sempat menghantui, antara deg-degan, ragu-ragu, namun juga ingin […]

expand_less