Breaking News
light_mode
Trending Tags

Mens Rea, Panji, dan Kegagalan Tawa: Komedi sebagai Medan Pertarungan Ideologi Kontemporer

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
  • visibility 250
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Apa yang terjadi dengan Panji, terutama melalui apa yang disebut sebagai panggung mens rea-nya, bukanlah sekadar polemik tentang kebebasan berekspresi atau batas kelucuan. Ia adalah simptom. Sebuah penanda diskursif bahwa komedi, dalam konfigurasi sosial-politik kontemporer, telah kehilangan kepolosannya. Komedi tidak lagi bekerja sebagai ruang relaksasi makna, melainkan sebagai arena serius tempat subjek, memori, dan kuasa saling berkelindan.

Komedi sejak lama dipahami sebagai ruang kritik yang paling lentur. Ia memungkinkan ujaran kritis beroperasi tanpa harus menyatakan diri sebagai kritik. Di dalamnya selalu tersedia mekanisme penyangkalan: alibi subjek. “Ini hanya bercanda” bukan sekadar strategi retoris individual, melainkan modus nalar yang dilembagakan—sebuah cara bagaimana ideologi mengucapkan dirinya tanpa harus mengaku sebagai ideologi.

Namun, peristiwa komedi juga tidak berdiri di ruang kosong. Ia selalu diucapkan oleh subjek tertentu, dari posisi tertentu, dan dalam medan historis tertentu. Panji tidak hadir sebagai subjek abstrak dan netral. Ia membawa sejarah posisi: pernah menjadi pendukung Anies, pernah menempatkan diri secara eksplisit dalam kontestasi politik. Ketika kemudian, dalam materi komedinya, ia “menyentuh” tubuh Gibran—baik sebagai gestur simbolik maupun perangkat humor—peristiwa itu segera ditarik ke dalam jaringan memori politik.

Di titik ini, kerja memori menjadi determinan. Lelucon tidak dibaca sebagai peristiwa singular, tetapi sebagai fragmen dari rangkaian diskursif yang lebih panjang. Yang bekerja bukan niat subjektif, melainkan arsip.

Michel Foucault memberi kita perangkat analitis yang presisi untuk membaca situasi ini. Dalam kerangka Foucauldian, kuasa tidak beroperasi terutama melalui represi, melainkan melalui produksi diskursus. Tubuh adalah lokasi strategis di mana diskursus itu dilekatkan. Tubuh politik—seperti tubuh Gibran—bukan tubuh biologis semata, melainkan tubuh yang telah diproduksi oleh relasi kuasa, simbol negara, genealogi kekuasaan, dan narasi legitimasi.

Maka, menyentuh tubuh tersebut, bahkan dalam bentuk lelucon, adalah praktik diskursif. Ia mengaktifkan relasi kuasa yang telah ada, bukan menciptakan makna dari nol. Dalam masyarakat yang beroperasi melalui arsip, gestur tidak pernah netral; ia selalu mengulang, menggeser, atau mengganggu diskursus yang telah mapan.

Di sinilah komedi mengalami pergeseran epistemologis. Dalam pengertian klasik, komedi adalah ruang tertawa, dengan hati yang tenang. Namun dalam rezim diskursif kontemporer, ruang ini kehilangan tempat. Ia dikendalikan oleh jejaring kuasa. Baik kuasa politik, maupun kuasa ekonomi yang bertepuk tangan atas setiap kontroversi. Dan, komedia adalah ruang membincang kontroversi dan produksi kontroversi yang paling aktif.

Slavoj Žižek memperdalam analisis ini dengan menunjukkan bahwa humor adalah bentuk ideologi yang paling efektif justru karena ia bekerja melalui kenikmatan. Lelucon memungkinkan subjek menikmati makna sekaligus menjaga jarak darinya. “Saya tidak serius” adalah mekanisme fantasi ideologis yang memungkinkan ujaran ideologis beredar tanpa harus dipertanggungjawabkan secara penuh.

Namun tidak semua makna bisa disublimasikan menjadi tawa. Komedi Panji menyisakan residu—sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa ditertawakan. Residu ini adalah apa yang oleh Žižek, melalui Lacan, disebut sebagai the Real: elemen yang gagal disimbolkan, yang terus kembali dan mengganggu kenikmatan. Dalam konteks ini, residu itu bersifat politis—ia lahir dari sejarah posisi, bukan dari isi lelucon semata.

Media sosial berfungsi sebagai akselerator kegagalan simbolisasi ini. Jika post-strukturalisme pernah mengumumkan kematian subjek, dunia digital justru memproduksi subjek yang tidak pernah bisa mati. Subjek hari ini hadir sebagai entitas yang terus diinterpelasi, dipanggil ulang oleh arsip digital, dan diposisikan sebagai tersangka permanen. Dalam bahasa Foucault, media sosial adalah arsip hidup—ruang di mana diskursus tidak pernah selesai, hanya berganti konteks.

Karena itu, kriminalisasi komedi—misalnya melalui pelaporan ke polisi—memang tampak konyol. Ia adalah bentuk over-identification kuasa. Negara harus melindungi bagian ini. Namun, mengklaim bahwa komedi sepenuhnya bebas dari konsekuensi politik adalah ilusi yang sama problematiknya.

Apa yang kita saksikan bukanlah matinya komedi, melainkan transformasi medan kerjanya. Komedi kini beroperasi dalam ruang yang jenuh memori, penuh arsip, dan sarat relasi kuasa. Tawa tidak lagi menjadi akhir, melainkan awal dari konflik makna.

Dalam konfigurasi ini, komedi tidak bisa lagi berpura-pura polos. Ia telah menjadi praktik diskursif yang sepenuhnya politis—bukan karena niatnya, tetapi karena kondisi kemungkinan yang memungkinkannya untuk diucapkan.

Komedi hari ini tidak gagal karena terlalu serius.

Ia menjadi serius karena dunia telah berhenti memberi ruang yang bebas bagi lelucon.

Penulis adalah Jamaah di Gusdurian, Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bahas Sejumlah Isu, PWNU Gorontalo Gagas Bahtsul Masail Se-Suluttenggo

    Bahas Sejumlah Isu, PWNU Gorontalo Gagas Bahtsul Masail Se-Suluttenggo

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo akan menggelar Bahtsul Masail yang melibatkan tiga wilayah, yakni Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo (Suluttenggo) pada Ahad, 23 Februari 2025 besok. Acara yang digagas oleh Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Gorontalo ini menjadi tonggak sejarah baru dalam mengintegrasikan diskusi ilmiah antar wilayah di kawasan Sulawesi. Ketua LBM PWNU […]

  • Alasan Ridwan Kamil Kerap Menyebut Nama Aura Kasih dalam Pantun

    Alasan Ridwan Kamil Kerap Menyebut Nama Aura Kasih dalam Pantun

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 95
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nama Ridwan Kamil kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah pantun lama yang menyebut nama penyanyi Aura Kasih viral di media sosial. Pantun-pantun tersebut kemudian memicu spekulasi warganet terkait hubungan personal antara keduanya. Isu ini mencuat setelah akun-akun gosip mengunggah jejak digital Ridwan Kamil yang beberapa kali menyelipkan nama Aura Kasih dalam pantun, baik […]

  • Ramadhan Yang Robek

    Ramadhan Yang Robek

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Oleh : Asrul G.H. Lasapa – (Pegiat Dakwah Gorontalo) Puasa merupakan kawah candradimuka yang menjadi tempat melatih dan menggembleng seseorang agar memiliki mental spiritual yang agung dan mulia. Ritual puasa tidak hanya sekedar penampakan simbolitas permukaan yang nyata berupa tidak makan, minum dan hubungan seksual semata, tetapi puasa adalah kemampuan pengendalian jiwa dari keterpurukan emosional. […]

  • Api yang Tak Pernah Padam: Menjaga Tujuan, Merawat Sejarah, dan Menyemai Masa Depan Himpunan Mahasiswa Islam

    Api yang Tak Pernah Padam: Menjaga Tujuan, Merawat Sejarah, dan Menyemai Masa Depan Himpunan Mahasiswa Islam

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle Dr. Husin Ali
    • visibility 273
    • 0Komentar

    Tujuh puluh sembilan tahun bukanlah bilangan kecil dalam kalender sebuah organisasi. Ia adalah rangkuman dari denyut generasi, dari tarikan napas para mahasiswa yang datang silih berganti, membawa kecemasan zamannya masing-masing, sekaligus memikul harapan bangsa yang tak pernah sederhana. Pada usia inilah HMI berdiri hari ini—bukan sekadar sebagai organisasi kemahasiswaan, melainkan sebagai sekolah peradaban yang telah […]

  • Presiden Prabowo Rencanakan Tahun Baru di Lokasi Bencana Sumatra, Jakarta Gelar Perayaan Tanpa Kembang Api

    Presiden Prabowo Rencanakan Tahun Baru di Lokasi Bencana Sumatra, Jakarta Gelar Perayaan Tanpa Kembang Api

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 87
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Prabowo Subianto berencana menghabiskan malam pergantian tahun 2025 menuju 2026 di wilayah Sumatra yang terdampak banjir bandang dan longsor. Hal tersebut disampaikan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi usai konferensi pers penanganan bencana di Landasan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (29/12/2025). “Direncanakan begitu (tahun baru ke Sumatra),” ujar Prasetyo Hadi, […]

  • Membagun Peradaban Islam yang tak Islami

    Membagun Peradaban Islam yang tak Islami

    • calendar_month Jumat, 14 Jun 2019
    • account_circle Aljunaid Bakari
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Kota Gorontalo sebagai ibu kota provinsi merupakan kota yang terus berkembang. Perkembangannya terbilang cukup masif, terutama sejak resmi memisahkan diri dari Provinsi Sulawesi Utara pada tahun 2002. Sebagaimana kota-kota berkembang pada umumnya, arah pengembangan Kota Gorontalo sangat dipengaruhi oleh sense of place—sebuah imaji kolektif yang menjadi inspirasi pembangunan wilayah. Di banyak kota di Indonesia, sense […]

expand_less