Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Mens Rea, Panji, dan Kegagalan Tawa: Komedi sebagai Medan Pertarungan Ideologi Kontemporer

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
  • visibility 439
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Apa yang terjadi dengan Panji, terutama melalui apa yang disebut sebagai panggung mens rea-nya, bukanlah sekadar polemik tentang kebebasan berekspresi atau batas kelucuan. Ia adalah simptom. Sebuah penanda diskursif bahwa komedi, dalam konfigurasi sosial-politik kontemporer, telah kehilangan kepolosannya. Komedi tidak lagi bekerja sebagai ruang relaksasi makna, melainkan sebagai arena serius tempat subjek, memori, dan kuasa saling berkelindan.

Komedi sejak lama dipahami sebagai ruang kritik yang paling lentur. Ia memungkinkan ujaran kritis beroperasi tanpa harus menyatakan diri sebagai kritik. Di dalamnya selalu tersedia mekanisme penyangkalan: alibi subjek. “Ini hanya bercanda” bukan sekadar strategi retoris individual, melainkan modus nalar yang dilembagakan—sebuah cara bagaimana ideologi mengucapkan dirinya tanpa harus mengaku sebagai ideologi.

Namun, peristiwa komedi juga tidak berdiri di ruang kosong. Ia selalu diucapkan oleh subjek tertentu, dari posisi tertentu, dan dalam medan historis tertentu. Panji tidak hadir sebagai subjek abstrak dan netral. Ia membawa sejarah posisi: pernah menjadi pendukung Anies, pernah menempatkan diri secara eksplisit dalam kontestasi politik. Ketika kemudian, dalam materi komedinya, ia “menyentuh” tubuh Gibran—baik sebagai gestur simbolik maupun perangkat humor—peristiwa itu segera ditarik ke dalam jaringan memori politik.

Di titik ini, kerja memori menjadi determinan. Lelucon tidak dibaca sebagai peristiwa singular, tetapi sebagai fragmen dari rangkaian diskursif yang lebih panjang. Yang bekerja bukan niat subjektif, melainkan arsip.

Michel Foucault memberi kita perangkat analitis yang presisi untuk membaca situasi ini. Dalam kerangka Foucauldian, kuasa tidak beroperasi terutama melalui represi, melainkan melalui produksi diskursus. Tubuh adalah lokasi strategis di mana diskursus itu dilekatkan. Tubuh politik—seperti tubuh Gibran—bukan tubuh biologis semata, melainkan tubuh yang telah diproduksi oleh relasi kuasa, simbol negara, genealogi kekuasaan, dan narasi legitimasi.

Maka, menyentuh tubuh tersebut, bahkan dalam bentuk lelucon, adalah praktik diskursif. Ia mengaktifkan relasi kuasa yang telah ada, bukan menciptakan makna dari nol. Dalam masyarakat yang beroperasi melalui arsip, gestur tidak pernah netral; ia selalu mengulang, menggeser, atau mengganggu diskursus yang telah mapan.

Di sinilah komedi mengalami pergeseran epistemologis. Dalam pengertian klasik, komedi adalah ruang tertawa, dengan hati yang tenang. Namun dalam rezim diskursif kontemporer, ruang ini kehilangan tempat. Ia dikendalikan oleh jejaring kuasa. Baik kuasa politik, maupun kuasa ekonomi yang bertepuk tangan atas setiap kontroversi. Dan, komedia adalah ruang membincang kontroversi dan produksi kontroversi yang paling aktif.

Slavoj Žižek memperdalam analisis ini dengan menunjukkan bahwa humor adalah bentuk ideologi yang paling efektif justru karena ia bekerja melalui kenikmatan. Lelucon memungkinkan subjek menikmati makna sekaligus menjaga jarak darinya. “Saya tidak serius” adalah mekanisme fantasi ideologis yang memungkinkan ujaran ideologis beredar tanpa harus dipertanggungjawabkan secara penuh.

Namun tidak semua makna bisa disublimasikan menjadi tawa. Komedi Panji menyisakan residu—sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa ditertawakan. Residu ini adalah apa yang oleh Žižek, melalui Lacan, disebut sebagai the Real: elemen yang gagal disimbolkan, yang terus kembali dan mengganggu kenikmatan. Dalam konteks ini, residu itu bersifat politis—ia lahir dari sejarah posisi, bukan dari isi lelucon semata.

Media sosial berfungsi sebagai akselerator kegagalan simbolisasi ini. Jika post-strukturalisme pernah mengumumkan kematian subjek, dunia digital justru memproduksi subjek yang tidak pernah bisa mati. Subjek hari ini hadir sebagai entitas yang terus diinterpelasi, dipanggil ulang oleh arsip digital, dan diposisikan sebagai tersangka permanen. Dalam bahasa Foucault, media sosial adalah arsip hidup—ruang di mana diskursus tidak pernah selesai, hanya berganti konteks.

Karena itu, kriminalisasi komedi—misalnya melalui pelaporan ke polisi—memang tampak konyol. Ia adalah bentuk over-identification kuasa. Negara harus melindungi bagian ini. Namun, mengklaim bahwa komedi sepenuhnya bebas dari konsekuensi politik adalah ilusi yang sama problematiknya.

Apa yang kita saksikan bukanlah matinya komedi, melainkan transformasi medan kerjanya. Komedi kini beroperasi dalam ruang yang jenuh memori, penuh arsip, dan sarat relasi kuasa. Tawa tidak lagi menjadi akhir, melainkan awal dari konflik makna.

Dalam konfigurasi ini, komedi tidak bisa lagi berpura-pura polos. Ia telah menjadi praktik diskursif yang sepenuhnya politis—bukan karena niatnya, tetapi karena kondisi kemungkinan yang memungkinkannya untuk diucapkan.

Komedi hari ini tidak gagal karena terlalu serius.

Ia menjadi serius karena dunia telah berhenti memberi ruang yang bebas bagi lelucon.

Penulis adalah Jamaah di Gusdurian, Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah



DUKUNG TIM NULONDALO DENGAN DONASI SEIKHLASNYA

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penulis yang Hidup dan Mati di Era AI

    Penulis yang Hidup dan Mati di Era AI

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 320
    • 0Komentar

    Dunia penulisan sedang mengalami turbulensi seiring dengan munculnya Artificial Intelligence (AI). Penulis-penulis baru berbasis AI bermunculan. Para penulis konvensional mulai merasakan ruang yang dulu mereka kuasai tak lagi eksklusif. Dunia yang sebelumnya otentik dan terbentuk melalui proses panjang kini  ditantang dengan hadirnya tulisan-tulisan yang lahir dari mesin. Lebih cepat secara proses, lebih rapi secara struktur, dan lebih massif […]

  • “Syariatisasi” Yang Tidak Seimbang

    “Syariatisasi” Yang Tidak Seimbang

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Abdullah Aniq Nawawi
    • visibility 439
    • 0Komentar

    Saya sangat bersyukur beberapa hari terkahir ini jagat maya cukup sesak dengan diskusi fikih terkait kurban presiden. Ini menarik bagi saya, karena daripada beranda medsos penuh dengan gosip murahan, lebih baik dipenuhi dengan adu argumen fikih. Salah satu yang cukup menarik perhatian publik adalah pertanyaan “apakah APBN bisa disamakan dengan Baitul Mal?” Hemat saya jawabannya […]

  • Pemkot Gorontalo Larang Petasan Saat Malam Tahun Baru 2026

    Pemkot Gorontalo Larang Petasan Saat Malam Tahun Baru 2026

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 328
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Pemerintah Kota Gorontalo secara resmi melarang penggunaan petasan saat perayaan malam pergantian tahun 2025 ke 2026. Larangan tersebut ditegaskan langsung oleh Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea. Pernyataan itu disampaikan Wali Kota Adhan saat diwawancarai pewarta usai apel malam pada kegiatan wisata akhir tahun yang digelar Pemkot Gorontalo di Pantai Bolihutuo, Kecamatan Botumoito, Kabupaten […]

  • Mobil Damkar Sempat Terhambat Parkiran Motor Warga Saat Kebakaran di Kompleks Asrama Haji

    Mobil Damkar Sempat Terhambat Parkiran Motor Warga Saat Kebakaran di Kompleks Asrama Haji

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 317
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Proses pemadaman kebakaran rumah di Kelurahan Bulotadaa Barat, Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo pada Minggu (15/3/2026) dini hari sempat mengalami kendala. Mobil pemadam kebakaran milik BPBD Kota Gorontalo dilaporkan kesulitan menuju titik api karena akses jalan dipenuhi kendaraan milik warga. Peristiwa kebakaran tersebut terjadi di Perumahan Wahana Ceria yang berada di kawasan kompleks Asrama […]

  • Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 Amankan Terduga Penyebar Propaganda KKB di Mimika

    Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 Amankan Terduga Penyebar Propaganda KKB di Mimika

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 273
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tim gabungan Satuan Tugas Operasi Damai Cartenz 2026 mengamankan seorang pria yang diduga terlibat dalam penyebaran propaganda dan provokasi melalui media sosial, Jumat (1/3/2026) sekitar pukul 15.00 WIT. Penindakan dilakukan di SP3 Trans DMT Utikini Tiga, Kuala Kencana, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, setelah aparat mengantongi bukti permulaan yang cukup atas aktivitas digital yang […]

  • Izin Pinjam Pakai Mandek, PC PMII Barru Tagih Kepastian Sekda Soal Eks Kantor Kesbangpol

    Izin Pinjam Pakai Mandek, PC PMII Barru Tagih Kepastian Sekda Soal Eks Kantor Kesbangpol

    • calendar_month Selasa, 29 Sep 2026
    • account_circle Muh. Akbar.
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Nulondalo.Com,  BARRU — Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kabupaten Barru menyoroti belum diterbitkannya surat izin pinjam pakai aset daerah yang rencananya akan digunakan sebagai sekretariat organisasi tersebut.  Aset yang dimaksud merupakan bekas Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Barru. Menurut PC PMII Barru, bangunan tersebut sebelumnya telah dijanjikan untuk dapat digunakan […]

expand_less